
*
*
Dalam cincin ruang, Asta dapat melihat jelas pergerakan orang yang hendak mencelakainya. Yang awal mulanya gemetar, kini menjadi berdebar, lebih ke bersemangat karena ia punya kartu as yang menurutnya sangat membantu.
Membantu dirinya, dan menyulitkan lawan. Karena dengan dirinya menghilang, lawan kesulitan menemukan dirinya, sedangkan dirinya bisa dengan mudah keluar dari cincin ruang, dan langsung membunuh lawan dalam sekali tembakan dan tebasan.
"Huh! Mau bermain denganku?! Keluarlah! Aku tidak ada waktu untuk bermain sekarang!" Pekik lawan kesal. Matanya menyusuri seluruh ruangan dengan tajam Ia bahkan tidak melepaskan sofa dan merobeknya dengan pisau. Menembak lemari, lalu membukanya memeriksa setiap sudut ruangan.
Karena tidak kunjung menemukan, akhirnya ia menendang meja yang sebelumnya Asta hancurkan dengan marah. "Awas kau ****** sialan! Jika sampai aku menemukanmu, maka aku tidak akan segan menyiksamu!" Pekiknya semakin marah, matanya bahkan memerah karena emosi. Urat di lehernya juga menonjol.
Asta tersenyum sinis, melihat lawan yang berjalan ke arah pintu, ia keluar tepat di belakang lawan, tangannya yang sudah siap sedia memegang belati yang ukurannya lebih penjang dari belati biasanya, langsung menebas leher lawan.
Tapi karna ia baru pertama kali menebas, belati sempat tersangkut, membuat lawan hanya bisa berteriak kesakitan di tempat. Ia juga sempat melawan tapi tidak ada gunanya, karena Asta langsung menebasnya sekaligus pada percobaan kedua.
"Huh, sialan! Huek!" Ucap Asta, yang kemudian muntah atas tindakannya sendiri. "Menjijikkan, juga membuatku gemetar." Ucap Asta seraya melap mulutnya dengan kain, lalu minum air untuk membersihkan mulutnya. Meski gemetar, ia tetap mengambil kain, dan menutupi mayat yang barusan dibunuhnya.
Setelahnya, ia segera ke depan dan mengecek orang yang berusaha melindunginya. Menatap tubuhnya yang tergelatak, Asta meringis, dan memejamkan matanya sesaat. Tidak tertolong, dahinya bahkan meninggalkan lubang. Tiba-tiba membuat Asta merasa sangat tidak nyaman.
Ia kembali mengambil kain dan menutupinya, kedua matanya memerah, menahan tangis yang hendak keluar. Ia harus bisa menahan diri, baru dua orang, dan dirinya masih harus berhadapan dengan para penghianat lainnya.
__ADS_1
Terlebih, jika disini saja ada penghianat, apalagi di sisi Clode dan Xabiru? Ia harus segera pergi, perasaannya tidak enak tentang Xabiru.
"Clode, halo? Kau disana?!" Tanya Asta seraya berjalan menuruni tangga, satu tangannya memegang belati berdarah, dan tangan lainnya menekan tombol di earpiece yang baru saja dipakainya. "Clode, bagaimana kondisi Xabiru? Ada penghianat disini, aku takut mereka sudah tahu jika Xabiru menyusup. Aku baru saja membunuh penghianat disini." Ucap Asta tidak memberi Clode waktu menjawab.
"Nona, cari tempat aman. Tuan muda baru saja menghubungiku, jika dia dalam situasi buruk. Terjadi pengepungan, dan tuan muda terjebak. Aku akan menyelamatkannya sekarang. Kau hanya harus diam di tempat aman, jaga dirimu." Ucap Clode, dengan suara datar tapi terdengar kecemasan yang jelas disana.
Asta gemetar lagi. Pengepungan? Keluarga Alexander, sebegitu banyaknya pengawal dan orang jahat disana. Kedua tangannya mengepal, menjadi emosional dalam sesaat. "Clode! Diam ditempat, aku akan menyusul! Aku yang akan turun tangan menyelamatkan Xabiru!" Pekik Asta.
Ia dengan cepat melepas earpiece yang dipakainya agar tidak membuat dirinya mendengar perintah Clode perihal keamanan dirinya sendiri.
Begitu keluar rumah, ia dengan cepat menaiki mobil yang ditinggalkan khusus untuknya. Dan langsung mengendarainya ke tempat dimana Clode berada. Asta tahu, karena sebelumnya Clode mengatakan posisinya, juga tahu posisi sebetulnya dari rekaman yang dihancurkannya.
Sampai akhirnya Asta sampai, ia melihat Clode sedang mengkomande beberapa orang di depannya untuk melancarkan rencana, menyusup dan menyelamatkan Xabiru tentunya.
"Nona muda! Aku sudah bilang, kau hanya harus menjaga dirimu sendiri tetap aman." Geram Clode menatap tajam Asta. Membuat Asta takut, tapi di permukaan ia tidak akan memperlihatkannya. Dengan gentar menatap balik Clode dan bersikeras masuk dalam rencana penyelamatan.
"Nona, tolonglah, jangan membebaniku." Ucap Clode lagi.
"Tidak akan! Aku yakin pada diriku sendiri. Dan dalam situasi ini, akulah yang hanya bisa menyelamatkan Xabiru dari pengepungan!" Pekik Asta percaya diri. Ia menatap balik Clode dengan tatapan tajam.
Tidak suka di remehkan, Asta tahu kemampuannya sendiri. Ia tidak akan sekeras kepala ini membantu jika tahu dirinya lemah. Tapi setelah beberapa kali pelatihan intens, juga kartu as di tangannya, ia adalah orang yang bisa menyelamatkan Xabiru dengan persentase paling besar.
__ADS_1
Clode tertgun sejenak. Kemudian menghela nafas kasar. "Baik! Kau boleh ikut, tapi tunggu disini untuk pengawasan." Ucap Clode.
"Bagaimana bisa begitu! Aku akan turun ke lapangan! Pengawasan apanya?! Disini bahkan tidak ada alat yang mumpuni untuk pengawasan!" Pekik Asta emosi.
"Nona, kau tahu ini berbahaya. Jika kau dalam masalah, aku tidak akan bisa menjelaskannya pada Tuan muda. Mengertilah nona, pahami posisiku. Aku kesulitan." Balas Clode frustasi.
"Aku berjanji kau tidak akan disalahkan. Aku akan menjaga diri sendiri. Kau hanya harus mengalihkan perhatian mereka, dan aku akan masuk menjemput Xabiru. Aku punya kartu as pada diriku!" Pekik Asta keras kepala.
"Nona! Jangan melewati batas. Kartu As apanya?! Cepat, ikat nona muda dan kurung di ruangan sana!" Pekik Clode kesal. Wanita hanya bisa membuat keributan, kekesalan tercetak jelas di wajahnya. Ia hanya bisa melakukan hal ini, mengurung Asta agar ia tidak kabur dan mengikutinya masuk ke dalam.
"CLODE! KAU KELEWATAN! AKU ATAU KAU YANG MAJIKAN?!" Teriak Asta marah. Menatap Clode dengan nyalang.
"Majikanku adalah Tuan muda Xabiru! Kau hanya orang asing yang tiba-tiba datang! Diam dan patuhi, aku hanya mencoba menyelamatkanmu! Jangan berbuat ulah lebih jauh!" Desis Clode sinis, kemudian Asta dibawa masuk ke dalam ruangan oleh dua orang yang sudah membekuk pergerakannya.
Clode mendengus lelah, setelah mengunci Asta dari luar, dan meninggalkan satu penjaga untuknya, Clode dan tim yang lain, langsung pergi meninggalkan ruko kecil yang telah dikosongkan tersebut.
Orang yang menyamar di sekitar perusahaan tetap menjalankan rencananya karena diperkirakan disana masih belum ada kebocoran. Para petinggi di perusahaan sedang tidak di tempat, alhasil orang yang bertugas tetap di dalam. Sedangkan sisanya mengikuti Clode. Bahkan tim bantuan yang sebelumnya di atur, sudah datang dan di atur lebih awal.
Di sisi lain, Asta yang dikurung, menggedor pintu sekuat tenaga. Tidak ada jendela disana, hanya ruang kosong dengan satu pintu dan satu tempat tidur. Asta kesulitan melarikan diri dari sana.
"Sialan! Apa yang harus aku lakukan sekarang." Ucap Asta cemas, air matanya bahkan menetes tak henti. "Clode, kau bajingan! Aku akan melaporkanmu pada Xabiru nanti!" Desis Asta kemudian menendang pintu dengan keras.
__ADS_1
*
*