Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Membaik, menunggu Waktu


__ADS_3

*


*


"Kak Hana..." Panggil Asta lirih. Ia menatap Hana yang tertidur di sampingnya, dengan kepala bertumpu di tempat tidur yang di tidurinya.


"A-ah? Ah kau sudah sadar! Ada yang tidak nyaman? Bagaimana perasaanmu? Aku panggilkan dokter, oke?" Ucap Hana seraya beranjak dari duduknya, meski sedikit linglung karena baru saja bangun tidur.


Asta memegang tangan Hana pelan, kemudian ia menggeleng dan memberitahu Hana jika ia baik-baik saja dan tidak perlu dokter. "Aku baik, tidak usah memanggil dokter. Tapi, bagaimana keadaan Xabiru?" Tanya Asta, langsung beralih pada topik yang sangat menganggu pikirannya sejak ia bangun.


Asta juga sudah lebih tenang dan lebih bisa menguasai emosinya. Sebelumnya ia terkejut dan tidak kuat menahan keterkejutan ketika melihat kondisi Xabiru, jadi emosinya sangat tidak stabil. Tapi setelah bangun, meski ia cemas dan takut, ia berangsur-angsur menjadi tenang.


"Sudah selesai operasi, kondisinya baik-baik saja kini. Tapi masih harus di awasi, jadi ia masih ada di ruang intensif. Dalam 8 jam, jika tidak ada tanda-tanda bahaya pada diagnosanya, Xabiru akan dipindahkan kemari atas permintaan kakek." Jelas Hana seraya tersenyum. "Kau bisa tenang, sudah 4 jam berlalu sejak ia keluar dari ruang operasi harus di awasi. Sejauh ini, kondisinya baik." Lanjut Hana, seraya memperlihatkan pesan yang dikirim kakek Xabiru dari ponselnya pada Asta.


Asta menghela nafas lega, "Syukurlah..." Ucapnya pelan. "Tapi, Kak Hana, apa aku bisa melihatnya? Aku ingin memastikannya sendiri." Tanya Asta kemudian.


Hana tertegun sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, kondisimu tidak memungkinkan. Mari tunggu saja disini, oke? Sekarang kau harus memulihkan diri. Jangan sampai kondisimu menurun lagi." Ucap Hana.


Kemudian Asta hanya bisa mengangguk pasrah. Menuruti Hana. Meski ingin melawan, tapi Hana punya seribu cara untuk tetap menahan Asta ditempat tidurnya.


"Aku perlu ke kamar mandi, tunggu aku dengan patuh." Ingat Hana pada Asta.


Sepeninggal Hana, Asta tersenyum kecil. Bukankah barusan Hana bilang kondisinya tidak begitu baik? Mari minum air ajaib agar kondisi tubuh lebih baik, dan ia pun bisa segera pergi melihat Xabiru.


Sebetulnya, sebelumnya Asta memang seringkali meminum air ini. Tapi ia sendiri tidak kuasa menahan rasa takut, gugup, dan cemas berlebih setiap malamnya. Jadi, ketika hal-hal tersebut datang, Asta hanya bisa menangis semalaman, dan paginya kondisinya memburuk lagi.

__ADS_1


Lalu Asta juga tidak diam, ia kembali meminum air ajaib dan membaik pada siang hari. Siklusnya begitu terus sampai hari ini pun tiba. Ia tidak meminum air sebelumnya karena merasa kondisinya baik dan yakin bisa pulang keesokan harinya, karena dirinya juga sudah sangat bisa menguasai emosinya.


Tapi Xabiru datang, terluka, dan berdarah, Asta yang merasa baik, kembali terguncang. Akhirnya tidak bisa menahan diri, terisak selama satu jam dan akhirnya lelah, lalu pingsan.


"Aduh, kau ini, kenapa tidak menungguku jika mau minum? Aduh, aduh, bagaimana jika gelasnya jatuh mengenai mu?" Ucap Hana setelah keluar dari kamar mandi Yang ada di ruangan tersebut. Kemudian dengan cepat mendekati Asta dan membantunya menyimpan gelas di nakas di samping tempat tidurnya.


"Terlalu lama, lagipula aku juga masih bisa. Aku sudah baik-baik saja, Kak Hana. Ayo panggil dokter untuk memastikan kondisiku, jika aku baik, aku bisa mengunjungi Xabiru, bukan?" Tanya Asta seraya tersenyum kecil.


Hana menatap Asta, ah apanya yang baik? Kau bahkan terlihat sangat lemah hanya untuk tersenyum begitu. Pikir Hana frustasi.


"Kak Hana? Kenapa melamun?" Tanya Asta pelan.


"Ugh, aku panggil dokter dulu kalau begitu." Ucap Hana kemudian keluar ruangan. Bahkan ia lupa jika di ruangannya ada tombol pemberitahuan.


Asta juga tidak menghentikannya, dan ia memejamkan mata setelahnya. Sedikit pusing, tapi masih bisa diterima oleh tubuhnya.


Kemudian tak lama, Hana kembali dengan seorang dokter dan seorang perawat. Keduanya kemudian memastikan kondisi Asta dan hasilnya, Asta memang baik-baik saja.


Sudah pasti, efek air ajaibnya tidak main-main. Dan emosinya juga sangat stabil kini. Apalagi keinginannya sangat kuat, ingin menemui Xabiru. Jadi, ia bertekad untuk sembuh kali ini, dengan menahan emosi bergejolak di hatinya.


"Kak Hana, ayo cepat. Aku ingin melihat Xabiru." Pinta Asta dengan mata berharap.


"Ugh, tunggu saja. Tinggal 2 jam, tidurlah dengan baik." Ucap Hana seraya mengibaskan tangannya menolak.


"Kak Hana, bukankah katamu jika aku baik-baik saja aku bisa melihatnya?" Tanya Asta dengan raut sedih.

__ADS_1


"Dalam 2 jam Xabiru akan dipindahkan kemari, bersabar saja oke? Sekarang, ayo makan dulu. Setelah ini masih harus meminum obat." Ucap Hana, sudah 5 jam lebih berlalu Asta sudah harus makan dan minum obat lagi meski kondisinya sudah dikatakan baik. Ia juga masih seorang pasien yang harus di awasi. Jangan sampai kondisinya menurun lagi.


Asta menghela nafas, "Baik." Jawabnya pasrah, dengan wajah cemberut, menatap Hana yang menyiapkan makan untuk dirinya.


Setelah makan dan minum obat, Asta kembali menidurkan dirinya. Hanya berbaring, tanpa menutup mata. Menatap jam dinding yang terlihat sangat lama sekali berputar ke angka pukul 6. Sampai satu jam tersisa, Asta akhirnya tertidur sendiri saking bosan dan lamanya menunggu. Jarum jam dilihat terus menerus, seperti alat yang membantu tidur. Dan Hana tersenyum geli melihat tingkahnya.


Sampai akhirnya, Xabiru datang, tapi Asta masih terbaring di tempat tidurnya dengan lelap. Xabiru juga dalam keadaan tertidur ketika ia dipindahkan. Karena setelah bangun dua jam yang lalu, ia juga makan dan minum obat. Sama seperti Asta menunggu waktu, bosan dan tertidur lagi.


Kakek dan Hana menatap sepasang suami istri yang sama-sama tertidur lelap dengan wajah damai. Keduanya bersampingan dengan tempat tidur terpisah. Kemudian keduanya menghela nafas lega, karena akhirnya kondisi keduanya membaik.


Tok! Tok!


"Kakek? Kak Hana?" Panggil Nira yang langsung membuka pintu setelah mengetuk pintu dua kali.


"Kau akhirnya datang, kemarilah." Ucap Kakek Xabiru seraya tersenyum. Nira balas tersenyum, kemudian mendekati kakek Xabiru.


"Bagaimana kondisi kakak dan kakak ipar, kek?" Tanya Nira pelan. Menatap dua orang terbaring di depannya.


"Sangat baik. Tidak perlu cemas lagi." Balas kakek Xabiru seraya mngusak kepala Nira. "Kau sendirian? Dimana Dean? Bukankah kakek menyuruh kalian pergi bersama?" Tanya kakek kemudian.


Nira mengedikkan bahunya. "Dia lama sekali bersiap-siap, jadi aku tinggal pergi." Balas Nira kesal. Keduanya pulang sekolah lebih lambat, lalu dikabari kakek agar Nira datang ke rumah sakit.


"Yasudah, biar kak Hana mengabarinya saja, supaya Dean tidak khawatir karena kehilanganmu." Timpal Hana seraya tersenyum geli.


*

__ADS_1


*


__ADS_2