
*
*
Setelah obrolan intens Xabiru, Asta dan kakeknya. Kini, ketiganya sudah sampai di depan makam sederhana ibu Xabiru. Yakni menantu kakeknya Xabiru. Nira juga ikut, di belakang ketiganya dengan dua orang penjaga.
Ketiganya menatap makam dengan tatapan sedih, meratap dalam hati, mengungkapkan semua rindu, penyesalan, dan ketidak mampuan.
Kecuali Nira yang menatap sendu ketiga orang di depannya.
Maaf adalah kata yang paling banyak disebut di hati masing-masing, setelah semua yang terjadi. Tapi Asta menambahkan satu kata, yakni Terimakasih.
Selain maaf karena sudah merebut tubuh menantunya yang asli, ia juga berterimakasih lagi, atas cincin yang diberikannya pada pemilik tubuh yang asli yang telah banyak membantunya.
Cincin pemberian ibu Xabiru. Cincin turun temurun dari keluarga Alexander sebetulnya. Tapi jatuh ke tangan ibu Xabiru karena ibunya lebih dulu masuk ke keluarga Alexander daripada istri paman keduanya.
Alhasil, Asta adalah pemilik berikutnya dari cincin tersebut. Ibu Xabiru mungkin tahu mungkin tidak tahu. Asta tidak bisa menebaknya, karena meski ada cincin ini, ibu Xabiru terlihat seperti tidak tahu apa-apa.
Tapi Asta juga tidak percaya jika ibunya tidak tahu. Asta berspekulasi, neneknya tahu semuanya tapi mungkin tidak memberitahu ibunya? Neneknya mungkin ingin memberi berkah tersembunyi padanya, tapi ibunya hanya tahu jika itu adalah cincin turun temurun yang sudah sedikit berkarat dulu?
Ia tahu cincinnya ajaib, tapi mungkin tidak tahu cara membukanya? Seperti Asta yang tidak sengaja menumpahkan darah pada cincinnya, membuat cincin tersebut menghilangkan karat dan membawanya ke tempat lain.
Kemungkinan besar seperti itu, bukan?
Tapi, yasudahlah. Sudah berlalu juga, Asta hanya bisa mengucapkan maaf dan terimakasih sebesar-besarnya pada ibu Xabiru.
"Kakek, orang yang menggali makam sudah tiba." Ucap Xabiru mengingatkan.
"Biarkan mereka datang dan menggalinya. Mari pindahkan secepat mungkin." Ucap kakeknya membuat Xabiru menganggukkan kepalanya.
Jenazahnya di kremasi, abunya dimasukkan ke dalam Gucci. Tapi karena di kampung, akhirnya Xabiru memasukkan Gucci ke dalam kotak bersama beberapa barang lain, dan menguburkannya di gunung. Setelahnya menandainya dengan kayu yang ia ukir sendiri nama ibunya.
__ADS_1
Lalu sekarang, perbuatannya ternyata memudahkan dirinya memindahkan makam ibunya. Ia akan dibawa ke makam keluarga besar Alexander di pemakaman umum di ibukota. Meski umum, tapi ada pemakaman khusus keluarganya di sana. Jadi, tidak akan tercampur dengan orang lain nantinya.
Di waktu yang akan datang, ketika semuanya mau berkunjung, bisa langsung pergi ke area khusus pemakaman keluarga Alexander.
Setelah selesai di gali, Xabiru adalah orang yang mengambil kotak kayu di dalam lubang, lalu ia naik dan memeluknya sepanjang waktu. Sepanjang jalan kembali ke ibukota.
Di ibukota, makam baru telah disiapkan oleh Clode yang saat ini masih di sana. Setelah mengurusi masalah yang diperintahkan Xabiru, Clode juga diperintahkan untuk menyiapkan makan dan batu nisan untuk ibunya, tentu sama dengan nisan keluarga Alexander lainnya.
Ketika sampai pun, helikopter langsung di bawa ke makam, dan mendarat di wilayah luas yang agak jauh dari tempat pemakaman. Setelahnya, naik mobil yang sudah disiapkan, dan masuk dengan mobil tersebut.
Jalan tempat pemakaman khusus luas, mobil bisa masuk sampai ke depan gerbang pemakaman khusus. Alhasil, slbegitu sampai, Clode yang ditugaskan sudah berdiri bersa yang lainnya di gerbang makam. Menyapa tuannya, dan langsung memimpin jalan agar tuannya mengikutinya ke tempat yang sudah disiapkannya.
Dalam setengah jam, semuanya selesai, melakukan upacara yang dulu tidak sempat dilakukan, dan benar-benar selesai.
Semuanya kembali ke kabupaten. Pulang ke rumah untuk mengistirahatkan diri. Tapi sebelum pulang, Xabiru tetap menyuruh Clode bertugas.
"Ingat ini, tugas baru untukmu. Cari keberadaan keluarga paman pertama. Termasuk anak dan istrinya. Dia yang bertanggung jawab atas semua kehancuran keluarga besar. Penjara bawah tanah dan laboratorium, juga dia yang memprakarsai semuanya, bekerja sama dengan para tetua. Menyembunyikan semuanya dari kakek, aku, dan paman kedua. Ayahku juga tahu dalam beberapa tahun ini.", Jelas Xabiru menatap Clode dengan tatapan tajam. Membuat Clode mengangguk, patuh.
Memasuki mobil, meninggalkan Clode dan yang lainnya yang membungkuk mengantar kepergian Xabiru dan yang lainnya.
"Sudah?" Tanya Asta.
Xabiru menganggukkan kepalanya, merasa lelah dan bersandar manja pada Asta. Asta tersenyum kecil, kemudian tangannya merangkul Xabiru, membuatnya bersandar lebih nyaman, dan mengusapi kepalanya.
"Jangan tidur, hanya 7 menit dalam mobil. Di helikopter saja nanti." Bisik Asta pelan.
Xabiru kembali menganggukkan kepalanya, ia mendongak dan menatap Asta yang tersenyum kecil. Mulutnya berkedut dan ia pun ikut tersenyum. Mengangkat kepala kemudian mengecup bibir Asta kilat. Dan kembali bersandar seolah tidak terjadi apa-apa.
Bahkan memejamkan mata merasakan kenyamanan usapan di kepalanya. Asta sendiri hanya mendengus ketika Xabiru melakukan hal tersebut.
Di depan masih ada dua penjaga, kebiasaan Xabiru yang suka mencium di luar ini, hanya bisa di maklumi saja meski malu pada orang-orang di sekitar yang melihat.
__ADS_1
7 menit berlalu, kini semuanya sudah ada dalam satu helikopter.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya kakek setelah semuanya duduk dengan nyaman di helikopter. Ia menatap Xabiru yang bersandar manja, dengan mata terpejam. Tapi rautnya terlihat jelas sangat kelelahan.
"Tidak apa-apa, kakek. Dia hanya lelah dan mengantuk." Balas Asta seraya tersenyum.
Kakeknya kemudian menganggukkan kepalanya. Nira duduk di depan berdampingan dengan kakek, sedangkan Asta dan Xabiru berada di belakang keduanya.
Begitu saja, beberapa waktu kemudian semuanya sampai di markas. Keempatnya tidak langsung pulang dan lebih memilih menetap di markas, mengistirahatkan tubuh dulu di sana.
Termasuk Asta dan Xabiru yang punya kamar khusus sendiri. Keduanya sudah berbaring di kasur, saling memeluk dengan nyaman, bersiap terlelap dengan nyaman.
"Sayang?" Panggil Xabiru. Asta yang sudah terpejam mau tak mau menanggapi panggilannya.
"hmm?" Gumam Asta.
"Jangan pergi." Bisik Xabiru hampir tak terdengar.
Kantuk Asta seketika menguap, hilang ke permukaan setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Xabiru.
Xabiru mengeratkan pelukannya, dan tertidur setelah mengucapkan itu, berbeda dengan Asta yang malah terjaga. Tidak bisa tidur sama sekali.
*
*
Halo, maaf atas keterlambatannya. Paman aku kecelakaan, beberapa hari ini aku juga ada di rs, kemarin kebetulan baru selesai operasi, tapi aku pulang duluan hari ini.
Paman aku masih belum bisa pulang karena tekanan darahnya tinggi sehabis operasi. Mohon doanya semuanya, semoga paman aku bisa cepet pulih.
Maaf cuman bisa up dua bab dulu. Juga makasih, udah baca dan nunggu kelanjutan ceritanya sampe sekarang.
__ADS_1
❤️🌹