Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Tidak dalam lingkup prediksi


__ADS_3

*


*


Xabiru bahkan tidak sadar jika Asta masih ada di dalam. Ia hanya peduli pada gerutuan dan ketidak puasannya. Membuat Asta dengan cepat mendekat, dan kemudian menangkup pipi Xabiru yang penuh air karena baru saja minum.


Xabiru menatap Asta dengan terkejut, kedua matanya melebar dan kemudian menelan air dengan susah payah. Dipikirannya dipenuhi dengan rasa takut, karena ia bergerutu perihal sayang yang jelas-jelas Asta sayang padanya.


Tapi Xabiru hanya asal bicara saja karena ia dikuasai dengan rasa kesal barusan. Tapi malah sial, Asta ternyata mendengarnya, kan?


Xabiru memejamkan matanya, menanti hukuman yang akan diterimanya. Tapi hukuman yang biasa Asta lakukan tidak datang, yang datang justru kelembutan di bibirnya.


Akhirnya, Xabiru kembali membuka mata dan keduanya berciuman dengan intens, membuat suasana seketika memanas.


Asta melepaskan ciumannya, dan hendak berdiri lagi, tapi Xabiru tersenyum kecil, menahan Asta dan seketika membawanya ke dalam ruang.


"KAU!" Pekik Asta marah, dengan wajah yang masih memerah.


"Kau tidak bisa kabur, sayang. Sudah memancingku, maka kau harus menyelesaikannya sampai akhir." Bisik Xabiru tepat di telinga Asta.


*


Asta keluar dari ruangan tempat dimana keduanya masuk dengan umpatan-umpatan yang keluar dari bibirnya.


"Xabiru sialan!"


"Bajingan mesum!"


"Awas saja kau!"


"Menyebalkan! Argh!"

__ADS_1


BRAK!


Clode yang hendak memasuki ruangan terhenti seketika, setelah melihat Asta keluar dengan wajah suram dan banyak umpatan.


Asta menatap sinis Clode, dan mengabaikannya, membuat Clode terbatuk kecil. Setelah Asta menjauh, barulah ia memasuki ruangan dimana Xabiru sedang tertawa-tawa dengan wajah yang terlihat menyebalkan.


Kedua tangannya memegang mangkuk, dan sumpit. Ia sedang melanjutkan makan siangnya yang tertunda tadi.


Clode mengernyit, Xabiru tertawa seperti orang gila, dan Asta mengumpat dengan wajah suram.


"Tuan muda." Sapa Clode pada akhirnya, tak mau ambil pusing masalah keduanya meski ia masih bingung dengan situasinya.


"Oh kau sudah datang, duduklah, makan siang bersama." Ucap Xabiru dengan wajah senang, dan sangat amat ramah.


Clode kembali terbatuk, lebih ke terkejut dengan sifat tuan mudanya. Tapi pada akhirnya ia mengangguk dan duduk dengan baik. Tidak bertanya apapun.


"Tuan muda,semua dokumen sudah dikirim ke kantormu. Tinggal diperiksa dan ditanda tangani." Ucap Clode, yang hampir lupa dengan tujuan kedatanganya pada Xabiru. "Untuk pelatihan, serahkan padaku saja, dokumen kali ini lebih banyak 2 kali lipat dari kemarin." Lanjut Clode.


Kini, giliran Xabiru yang terbatuk. "Kenapa malah bertambah banyak?" Tanya Xabiru heran.


Senyum cerah dan senang sebelumnya mendadak hilang. Digantikan dengan raut malas dan kesal. "Aku harus lembur lagi, malam ini?!" Pekiknya kesal. "Kau tidak menyaring orang kan?" Tanya Xabiru seolah menuduh.


Clode dengan tenang menggelengkan kepalanya. "Tidak benar, tuan muda. Aku dan K2 bahkan menolak lebih dari 50 orang pagi ini. Tapi permintaan memang sangat besar jadi, tuan muda, terima saja nasibmu." Ucapnya tanpa ekspresi. Padahal Xabiru tahu betul Clode sedang mengejek nasibnya yang harus berhadapan dengan banyak kertas siang ini, sampai malam.


"Kau mulai menyebalkan, tahu tidak?! Kenapa tidak tolak 100 0rangan saja, sih? Lagipula perusahaan jasa kita kan hanya kedok saja!" Gerutunya kesal. Mengeluh, mengeluh, dan mengeluh, sampai makanan juga tidak lagi membuatnya bernafsu.


"Tidak bisa, sebelumnya tuan muda sendiri yang bilang, jika perusahaan jasa harus dikenal banyak orang. Cara ini juga merupakan salah satu publisitas, ditambah jika banyak yang berinvestasi, maka perusahaan akan semakin besar dan perekrutan anggota baru juga akan semakin lancar." Jelas Clode.


Xabiru berdecak, mengutuk ucapannya sebelumnya."Baru senang sebentar sudah begini, menyebalkan!" Desisnya makin kesal, melempar Sumpit ke atas meja membuat suara Trang Trang dua kali.


Clode mengedikkan bahu dengan wajah datar. Tidak menanggapi keluhan tuan mudanya lagi, setelah mengabaikan, ia lalu asik dengan makanannya sendiri. Makan siang dengan santai dan hening, seolah Xabiru yang sedang berisik di depannya tersebut kasat mata.

__ADS_1


*


Di tempat lain, tepatnya di ibukota.


"Sayang, bagaimana menurutmu perusahaan jasa pengawal ini? Apa perusahaan ini juga akan melambung tinggi di masa depan?" Tanya Eddin, pada Sintia.


Sintia membaca profil perusahaan Xabasta's Guard. Selain itu, di mejanya masih ada profil dari Xabasta's Store dan Xabasta's Restaurant.


Sintia menatap profilnya dengan Lamat. Tapi ia menggelengkan kepalanya menjawab Eddin, membuat Eddin kebingungan.


"Aku tidak tahu, waktu itu, di kehidupanku sebelumnya, tidak ada nama merek dagang ini." Ucap Sintia, akhirnya, membuat Eddin mengerti kenapa ia menggelengkan kepalanya barusan.


"Kau yakin? Tapi sedari awal dibangun, Xabasta's ini dari hari ke hari, pertumbuhannya semakin besar. Aku jadi mempertimbangkan untuk berinvestasi juga. Tapi, jika kau tidak yakin, apakah sebaiknya jangan saja?" Tanya Eddin.


"Tidak tahu, banyak yang berbeda dari kehidupan sebelumnya. Masalah di pernikahan kita, lalu masalah jatuhnya keluarga Alexander, dan sekarang masalah perusahaan baru ini. Aku benar-benar tidak dapat memprediksinya." Keluh Sintia dengan raut bingung.


"Kau jangan terlalu khawatir, kita sudah cukup kaya dan berkuasa sekarang. Bahkan keluarga Waverly meminta kerja sama dengan keluarga Baskoro kita. Apalagi yang kau bingungkan, hmm? Jika Xabasta's ini tidak ada dalam prediksimu, maka jangan lakukan saja supaya kita lebih tenang, oke?" Ucap Eddin seraya mengusap kepala Sintia yang masih merenung.


Sintia merenung, sebetulnya sedikit khawatir dalam hatinya karena banyak sekali yang berbeda di tahun keduanya lahir kembali. Yang paling membuatny khawatir adalah kejadian yang terjadi di pernikahan keduanya.


Bukan hanya khawatir, tapi ia juga takut. Siapa yang berani mengungkapkan aib besar dirinya? Juga, siapa dalang dibalik pemutaran video tersebut, sampai sekarang bahkan tidak diketahui.


Lalu, rekaman aslinya bahkan sudah dihapus selama berbulan-bulan, dan tiba-tiba kembali ada. Orang hebat macam apa yang sedang mengintainya?


"Sayang? Jangan terlalu dipikirkan, um? Ingat kau sedang mengandung." Ucap Eddin dengan lembut, ia kemudian mengecup kening Sintia. Membuat Sintia merasa sedikit nyaman. Dan akhirnya memeluk Eddin untuk memisahkan kekhawatiran besarnya.


"Kau benaran tidak mau berinvestasi pada perusahaan baru ini?" Tanya Sintia.


"Umm, jika membuatmu tidak nyaman, aku tidak akan. Kau jangan khawatir." Ucap Eddin menenangkan Sintia. Membuat Sintia menganggukkan kepalanya merasa lebih tenang.


"Sudah sekarang bersiap. Bukankah siang ini kita akan mengecek kandungan?" Tanya Eddin membuat Sintia tersenyum dan bergumam, kemudian menganggukkan kepalanya dan mulai bersiap.

__ADS_1


*


*


__ADS_2