
*
*
"Ada apa? Kalian masih ragu?" Tanya Xabiru seraya terkekeh kecil. "Pikirkan baik-baik. Ke depannya, akan jadi apa jika perusahaan menengah seperti Unind banyak melakukan kejahatan? Bahkan berani mencelakai perusahaan Xabasta yang baru saja naik." Jelas Xabiru. "Perusahaan akan terus menyinggung perusahaan lain jika Eddin tetap menjabat sebagai direktur umum utama. Lagipula, bukankah sebelumnya Anastasia yang memenangkan tender besar? Lalu Sintia yang menggaet relasi di kalangan atas? Apa yang dilakukan Eddin? Benar, menghancurkannya!" Lanjut Xabiru kembali tertawa.
Brak!
"Sudah cukup belum?!" Pekik Eddin emosi. Wajahnya memerah karena sejak tadi menahan diri agar dirinya tidak lepas kontrol mendengar ejekan dan cemoohan Xabiru.
"Apanya yang cukup? Aku rasa belum, karna masih banyak hal yang kau lakukan yang membuat Perusahaan merugi." Balas Xabiru.
"Semuanya, ia hanya pendatang baru. Apa yang bisa ia lakukan untuk perusahaan kita? Pembelian saham juga dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, tidakkah menurut kalian ini mencurigakan? Lagipula, aku sudah lama menjabat dan berpengalaman. Lalu dia? Hanya anak bau kencur saja!" Hina Eddin yang tidak tahu menahu siapa itu Xabiru.
Xabiru jarang muncul. Hanya orang-orang tertentu saja yang hafal padanya. Beberapa orang kecil seperti Eddin, yang tidak masuk kualifikasi mana mungkin tahu keagungan Xabiru?
"Lancang! Kau yang anak bau kencur. Tidakkah kau tahu siapa tuan muda yang ada di depanmu?!" Pekik salah satu orang yang ada di kubu Xabiru. Sedangkan yang lain menertawakan kebodohan dan ketidaktahuan Eddin akan luasnya dunia.
"Tuan muda apanya?! Siapa memangnya dia?! Cih!" Decih Eddin.
Xabiru mengangkat tangannya menghentikan orang yang hendak membelanya lagi, Xabiru tidak ingin mengungkapkan identitasnya terlalu dini. Ia masih ingin mengambil alih dengan kemampuannya sendiri.
"Sudahlah, ayo voting suara saja. Voting yang setuju Eddin tetap menjabat. Angkat tangan." Ucap Xabiru.
Eddin mendengus. Kemudian Beberapa orang mulai mengangkat tangannya. Membuat Eddin tersenyum lebar, karena perolehan nilainya lebih besar.
Eddin dengan perolehan 35 persen. Dan Xabiru dengan perolehan 30 persen. Sisanya ada di Sintia. Tapi Sintia tidak ada dan masih belum sadarkan diri.
"Huh! Tidak tahu akan ketinggian duni---"
__ADS_1
Brak!
"Masih ada aku. Jangan lewatkan aku. Aku tidak setuju kau tetap di perusahaan." Ucap seorang laki-laki paruh baya tiba-tiba masuk, membuat keributan.
"Abimana? Beraninya kau menghianatiku?! Apanya yang tidak setuju?! Memangnya kau punya bagian saham sendiri?!" Ucap Eddin meremehkan.
Abimana tertawa kecil. "Ada, aku punya 10 persen saham di tanganku. Lihat dengan jelas, dengan mata kotormu!" Desis Abimana, seraya melempar berkas kepemilikan saham pada Eddin.
Xabiru yang awalnya kalah, dan hendak melakukan rencana kedua, akhirnya mengurungkan niatnya. Tidak disangka, Abimana juga punya bagian sahamnya sendiri. Dan ia membantu dirinya. Membuatnya sedikit bingung karena sebelumnya ia berpihak pada Eddin.
Tapi ia sangat berterimakasih. Dengan begini, Asta bisa maju dan naik ke perusahaan. Perusahaan bisa diambil alih. Saham yang ada di tangan Eddin juga bisa diambil alih atas persetujuan suara terbesar. Selain itu, Eddin telah melakukan beberapa pelanggaran yang cukup membuatnya dihapus dari jejeran pemegang saham.
"Kau! Sejak kapan?! Bukankah S-sintia yang mempunyai jumlah 30 persen Saham terakhir?!" Pekik Eddin marah. Wajahnya yang sumringah kembali memerah karna emosi.
"Kau buta? Bukankah aku sudah menyerahkan berkas kepemilikannya?! Sintia? Ckck kau bahkan mudah ditipu!" Sinis Abimana.
Keduanya sudah punya masing-masing 5 persen saham sejak Asta merintis perusahaan dari nol. Abimana sebagai kuasa hukum perusahaan dan Noe sebagai IT perusahaan bersama-sama membangun perusahaan sampai akhirnya sedikit demi sedikit dikenal orang besar.
Itulah kenapa, ketika Asta pergi keduanya merasa ditipu, karena Asta sendiri berjanji akan membesarkan perusahaan bersama. Lalu ketika kesempatan awal melangkah lebih jauh datang, Asta sendiri malah pergi.
Dan Asta sendiri tahu kelemahan keduanya. Sentuh titik lemah, perihal dirinya di masa lalu. Dengan penuh percaya diri, keduanya pasti akan kembali berpihak padanya meski keduanya tidak tahu dirinya masih hidup di tubuh yang berbeda.
Hubungan ketiganya terjalin karena ketidak sengajaan. Ketidak sengajaan yang akhirnya membuat ketiganya berhubungan baikdan saling percaya. Saling menggantungkan harapan perihal perusahaan atas komitmen yang telah terucap.
"Silahkan bereskan barangmu, besok aku tidak ingin melihatmu di perusahaan." Ucap Xabiru.
Ia berdiri, mengambil ponsel yang ada di meja, dan berjalan keluar. Diikuti beberapa orang yang yang ada di pihaknya.
"Ah! Aku lupa satu hal. Bukan hanya Eddin, tapi orang yang ada di pihaknya, yang banyak melakukan pelanggaran kontrak, juga akan di depak dari perusahaan. Tunggu saja suratnya turun. K1, urus sisanya." Ucap Xabiru. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya. Meninggalkan ruang rapat yang berubah suram. Terlebih Eddin dan Seno. Yang lain berubah cemas mengingat pelanggaran masing-masing.
__ADS_1
Di depan ruang rapat, Clode sudah menunggu Xabiru. Begitu Xabiru keluar, ia langsung mendampinginya. Menghalangi orang yang masih ingin berbicara dengan Xabiru.
Xabiru memberi pengertian pada orang-orang tersebut. Ia masih harus pergi ke rumah sakit menemani istri. Alhasil, ia dimengerti dan dilepaskan, diskusi lebih lanjut dijadwalkan di lain hari.
Xabiru duduk di samping kursi kemudi. Wajahnya full senyum, karena ia berhasil memenangkan suara. Dan berhasil menjadi pimpinan baru perusahaan.
"Percepat, aku ingin menemui Asta secepatnya." Ucap Xabiru yang tidak tahu jika Asta sendiri masih dalam perjalanan pulang setelah menemui Abimana dan Noe di ibukota.
Di sisi lain, Asta akhirnya sampai. Ia dengan cepat masuk kembali ke ruang rawat dan mengganti lagi baju kasual yang dipakainya menjadi baju pasien rumah sakit.
10 menit selesai. Xabiru yang menyuruh Clode melajukan mobil dengan gila akhirnya sampai. Ia membuka pintu dengan cepat tapi wajah suram yang ditampilkan.
Ekspresi tenang Asta berubah gugup. Pikirannya berkelana perihal apakah Abimana tetap berada di pihak Eddin dan Xabiru kalah suara?
Apakah usahanya membujuk Abimana dan Noe sia-sia? Pada akhirnya mereka berdua tetap memihak Eddin yang sudah menghianatinya dulu? Asta tidak yakin, tapi melihat ekspresi Xabiru, Asta menjadi sedikit yakin.
"Sayang? Tidak apa-apa jika kalah suara, kita masih bisa mencobanya di masa depan. Lagipula kita juga sudah menjadi pemegang saham, pelan-pelan saja untuk mengambil alih. Kadang, kita tidak akan selalu memenangkan pertempuran." Ucap Asta lembut, ia tersenyum menenangkan Xabiru yang masih berjalan mendekatinya dengan wajah suram.
Xabiru berdiri di depan Asta, menatap tajam Asta.
"A-ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Asta gugup.
"Bagaimana menurutmu? Apakah aku akan tetap kalah suara jika Abimana yang sudah dibujuk akhirnya memihakku?" Bisik Xabiru penuh penekanan.
"Ah! Aku bisa menjelaskan! Oke?! Jangan marah, jangan marah!" Pekik Asta panik. Sial! Ternyata bukan kalah suara, tapi dirinya yang ketahuan keluar rumah sakit dan nekat pergi ke ibukota.
*
*
__ADS_1