
*
*
"Tuan Muda, Sintia sudah sadar. Dan ia meminta bertemu dengan tuan muda. Ia akan menyerahkan saham miliknya pada tuan muda. Tapi ia juga minta uang sebagai gantinya." Ucap Clode mengabari.
"Intinya dia menjual sahamnya padaku, kan? Kalau begitu beli saja. Kau yang urus, aku masih sibuk.", Balas Xabiru. Bukan hanya sibuk, tapi ia aslinya enggan menemui orang yang sudah mencelakai Asta.
Meski Asta menyuruhnya untuk tidak mengganggu Sintia karena Sintia sudah mendapat karmanya sendiri, tapi jika ia berhadapan dengannya langsung, siapa yang tahu jika dirinya apakah bisa menahan hasrat membunuh Sintia atau tidak.
Jadi, biarlah Clode atau K1 saja yang mengurus.
"Tapi, tuan muda---"
"Aku bilang, kau saja yang urus." Ucap Xabiri lagi, menatap Clode dengan raut datar dan tatapan tajam.
"B-baik tuan muda." Ucap Clode, akhirnya pergi meninggalkan Xabiru yang masih tetap mengurusi dokumen setelah dua Minggu menjadi direktur baru.
"Ah, Clode, tunggu!" Panggil Xabiru menghentikan Clode yang hendak memutar knop pintu.
"Ya, tuan muda?" Tanya Clode.
"Suruh K1 menghubungi Jordan. Jadwalkan pertemuanku dengannya malam ini." Ucap Xabiru.
Setelahnya, Clode kembali melanjutkan langkahnya dan menyampaikan titahnya pada K1. Dan melakukan tugas yang diperintahkan Xabiru padanya.
Membeli saham Sintia.
*
Malamnya, Xabiru dan Jordan bertemu.
Setelah sekian lama, setelah sekian permusuhan, akhirnya keduanya kembali bersitatap muka secara langsung.
"Kau akhirnya ingat padaku?" Tanya Jordan sinis.
"Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu? Bukankah kau yang langsung menghilang ketika aku sedang kesulitan dulu?" Tanya Xabiru balik, tak kalah sinis.
__ADS_1
"Siapa yang meninggalkanmu?! Bajingan! Kau bahkan tidak tahu jika aku mencarimu kemana-mana waktu itu?!" Pekik Jordan.
"Cih! tidak usah berpura-pura! Aku tahu kau bersenang-senang ketika aku pergi." Balas Xabiru.
Jordan menghela nafas. "Baiklah, aku tidak tahu apa yang terjadi waktu itu. Bukankah kau juga tahu aku sedang ada dinas ke luar negeri kala itu? Aku bahkan tahu kau pergi seminggu setelah Ayahmu menggantikanmu!" Desis Jordan kesal.
Xabiru menghela nafas kasar.
Memang begitu kenyataannya. Jordan tidak bersalah, dan ia langsung mengklaim jika Jordan musuhnya. Kekanak-kanakan memang, tapi ia benci, ia kesal, ia marah, karna Jordan tidak ada disaat dirinya membutuhkannya.
Orang-orang yang harusnya ada disaat dirinya kesulitan, malah tidak ada. Dan Xabiru membenci kenyataan kala itu, ia sangat tidak berdaya sampai dirinya sendiri kalah ke titik terdalam.
Ketidakberdayaannya waktu itulah yang membuatnya membenci orang-orang. Terlebih Jordan.
"Kau tanyakan pada pamanku. Aku tidak pernah berhenti mencarimu. Sampai detik dimana kau muncul dua Minggu lalu, di berita utama perusahaan Unind dan Xabasta." Jelas Jordan. "Aku salah, maafkan aku karena tidak ada disaat kau butuh aku." Lanjut Jordan menyesal.
Jordan juga benci ketidak berdayaan dirinya yang tidak dapat menemukan Xabiru. Jordan benci karena dirinya tidak pernah mendapatkan informasi apapun dari Ayah Xabiru. Jordan benci kenyataan karena dirinya tidak ada di saat Xabiru jatuh.
"Aku juga bingung. Seolah sudah direncanakan. Kau mengalami kesulitan bertepatan dengan aku pergi dinas. Tidakkah menurutmu semuanya sudah direncanakan?" Tanya Jordan mengeluh.
"Memang. Ayahku yang merencanakannya." Ucap Xabiru pelan. Ia tahu ketika Ayahnya menjelaskan akar permasalahan sebelum keluarga Alexander jatuh. Tapi ia tidak langsung menghubungi Jordan karena ia masih belum selesai membalas semua orang yang terlibat baik dengan dirinya ataupun dengan Asta.
"Untuk melindungiku dari laman pertamaku." Balas Xabiru parau.
Jika mengingat momen salah paham besar yang terjadi antara dirinya dan ayahnya, ia seelalu merasa sedih dan menyesal. Apalagi, ibunya sampai kehilangan nyawa saking tertekan dan kesulitan hidup di kampung dekat pegunungan.
Xabiru kemudian menceritakan keseluruhan ceritanya pada Jordan. Jordan senantiasa mendengarkan dan ikut bersimpati.
Sampai dua jam berlalu, waktu menunjukkan pukul 11 malam. Xabiru melirik ponselnyayang mati, lalu menepuk jidatnya seraya memekik.
"Kau gila?! Aku terkejut!" Pekik Jordan seraya memukul bahu Xabiru.
"Sialan! Aku lupa waktu! Sudah pukul 11, matilah aku tidak akan dibiarkan masuk rumah!" Keluh Xabiru seraya menyalakan ponsel. Dan terlihatlah puluhan pesan dan panggilan tidak terjawab dari Asta. "Bro! Tampung aku." Ucap Xabiru mengangkat kepala dan menatap Jordan dengan muka memelas.
Jordan bergidik ngeri dan menunjukkan ekspresi jijik. "Tidak terimakasih." Tolak Jordan langsung.
*
__ADS_1
Xabiru menghembuskan nafasnya dengan berat. Asta benar-benar tidak membiarkannya memasuki rumah. Jangankan kamar, pintu masuk rumah saja dikunci. Xabiri mengetuk, dan menekan bel juga tidak ada satu orangpun yang membukakan pintu padahal di dalam rumah bukan hanya Asta yang tinggal.
Akhirnya, karena tidak kunjung dibuka, Xabiru berbalik dan hendak pergi, ia berniat tidur di markas saja.
"Oh mau pergi lagi?! Tidak usah pulang sekalian!"
Asta tiba-tiba membuka pintu, lalu menutup pintu dengan keras setelah mengatakan pengusiran mutlak dengan nada marah.
Xabiru meneguk salivanya kasar, dan berbalik mengejar Asta. Ia kembali mengetuk-ngetuk pintu berharap dibukakan. "Tidak berani, sayang. Ayo buka pintunya, aku salah, aku hanya akan tidur denganmu, oke? Sayang, jangan marah lagi, aku tahu salah." Mohon Xabiru.
Kemudian tangannya beralih ke knop pintu dan terbuka. Membuatnya tertegun beberapa saat sebelum akhirnya mengutuk. "Sialan! Sudah tidak dikunci." Desisnya.
Kemudian berlari memasuki kamar utama. Asta sudah berbaring menyamping memunggungi Xabiru yang baru saja masuk.
Pertama-tama, Xabiru membersihkan diri. Lalu ikut berbaring menyamping dan memeluk Asta dari belakang. "Aku salah, maaf sayang, aku tidak akan melakukannya lagi di masa depan. I love you." Bisik Xabiru sebelum akhirnya ikut terlelap.
*
"Tuan muda, sisa saham berhasil didapatkan." Ucap Clode seraya menyerahkan berkas kepemilikannya.
"Lalu bagaimana dengan orangnya?" Tanya Xabiru.
"Sintia membawa anaknya keluar dari rumah sakit dan pergi dengan Ayahnya ke kampung halamannya. Mereka berencana hidup dengan tenang di kampung. Enggan berurusan lagi dengan hiruk pikuk di ibukota." Jelas Clode.
"Baguslah, aku akan menyampaikannya pada Asta nanti. Kau boleh pergi." Titah Xabiru.
Sepeninggal Clode, Asta datang dan Xabiru langsung memangku Asta. Keduanya berpelukan dengan nyaman. Xabiru bercerita dan Asta mendengarkan.
"Terimakasih, sayang." Ucap Asta pada akhirnya. Setelah ia mendengar seluruh cerita dari Xabiru.
Setelah kesulitan, akhirnya semuanya selesai. Tidak ada lagi dendam dan benci. Semua telah terselesaikan dengan baik. Orang-orang jahat juga telah dihukum dengan benar. Asta dan Xabiru sendiri tidak benar-benar membalas dendam, tapi menghukum para penjahat.
"Semuanya sudah berakhir. Mari hidup dengan baik ke depannya." Ucap Xabiru pelan. "Masihkah ingin tinggal di kampung?" Lanjutnya bertanya.
"Aku berubah pikiran. Kita punya tanggung jawab besar disini. Mari jalani yang ada dengan baik." Balas Asta seraya tersenyum.
"Um! Terimakasih kembali Asta. Aku sayang padamu." Ucap Xabiru kemudian keduanya berciuman dengan lembut.
__ADS_1
*
*