
*
*
Pemantauan selama 1 bulan juga dilakukan dan tidak lengah sekalipun. Karena setiap orang ditugaskan dengan baik oleh Xabiru.
Selain tim yang ada di restoran, ada 4 tim lainnya yang akan ikut dalam rencana. Tim di restoran di pimpin oleh Soni, yang di dalamnya ada Teren, Asta, juga K1 dan anak buah lainnya.
Tim pengawasan dibiarkan diambil alih oleh kakek Xabiru, di dalamnya ada Dean dan juga Nira yang akhir-akhir ini diketahui ternyata ia juga belajar pemrograman.
Lalu ada tim yang menyusup ke ibukota, tentu diketuai oleh Xabiru, di dalamnya ada Clode dan K2 serta K3, juga beberapa anak buah lainnya. Ada dua tim yang datang ke ibukota. Yakni tim utama dan tim rencana kedua.
Lalu tim terakhir, adalah tim dengan rencana ketiga. Semua akan bergabung masuk ke ibukota nantinya. Kecuali tim yang ada di restoran yang bertugas menjaga beberapa tamu besar yang akan di undang nantinya.
Setiap tim berjumlah sekitar 15 orang. Di setiap tim juga dibagi lagi ke beberapa tugas. Apalagi di tim utama, selain sniper dan penyerang, ada beberapa yang ditugaskan sebagai penyamar, pengalih perhatian, dan yang memancing kerusuhan.
Lalu, tim bantuan. Adalah tim terkahir yang disiapkan. Ada sekitar 30 orang. 10 orang dengan helikopter, 5 orang dengan mobil, dan sisanya di kapal. Karena kapal adalah yang paling luas dan besar muatannya.
"Semuanya sudah siap? Perlengkapan mu tidak ada yang tertinggal, kan?" Tanya Asta seraya tersenyum lembut, menatap Xabiru yang menatap Asta, enggan pergi.
"Belum lengkap, kau tidak ikut. Lagipula kenapa sih malah memilih tim berbeda denganku?" Tanya Xabiru, karena awalnya Asta memang disatukan dengan dirinya, tapi Asta dengan inisiatif keluar dan masuk ke tim yang dipimpin Soni juga K1.
Asta tersnyum lagi, kedua tangannya menangkup pipi Xabiru, "Jika kita satu tim, kau tidak akan pernah fokus. Kau hanya akan mengkhawatirkan ku, apalagi di ibukota situasinya akan lebih berbahaya. Aku takut tidak bisa melindungi diriku sendiri." Ucap Asta, dengan jari mengusapi pipi Xabiru.
__ADS_1
"Tapi, sayang... kau jauh dariku, aku juga pasti mengkhawatirkan mu. Aku juga bisa melindungimu nanti." Balas Xabiru dengan sendu.
"Tidak, Xabiru. Dengarkan aku, di perbatasan lebih aman. Juga, jangan khawatirkan aku karena aku punya cincin di jariku. Jika ada bahaya, aku hanya akan menghilang dan masuk ke dalam cincin mengerti?! Kau harus fokus disana, matamu harus tertuju pada tujuan yang sudah sejak lama kita rencanakan. Pastikan rencananya sukses, jangan khawatirkan aku, aku berjanji akan baik-baik saja." Ucap Asta lagi, "Justru kau, kau harus menjaga dirimu sendiri, berjanjilah untuk kembali dan berkumpul lagi denganku, hmm?" Lanjut Asta.
Xabiru menghela nafas, menatap Asta dengan tatapan sendu, perasaannya tidak nyaman meninggalkan Asta sendirian, meski ia dikelilingi orang-orangnya. "Baik, kau juga bersiaplah. Kita berangkat bersama besok ke markas." Ucap Xabiru, kemudian mengecup bibir Asta.
Asta menganggukkan kepalanya. "Tekadkan niat dan hatimu. Kau sendiri yang melatihku, kau tahu kemampuanku selama beberapa bulan ini. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja di perbatasan." Ucapnya, lagi. Kemudian Asta membalas mengecup bibir Xabiru.
Keduanya saling bertatapan. "Setelah semuanya, aku ingin ada bayi disini." Ucap Xabiru tersenyum lembut. Membuat Asta menganggukkan kepalanya. Keduanya kemudian berpelukan dengan nyaman, menyalurkan kecemasan yang ada di hatinya masing-masing.
Setelah beberapa saat, saat melepaskan pelukannya. "Sudah, ayo keluar. Aku masih harus membagikan air ajaib pada semua orang. Juga beberapa pil yang bisa menyelamatkan nyawa. Nanti kau yang bagikan pil, aku bagikan air." Ucapnya, kemudian mengeluarkan banyak botol kecil dari ruang hampa yang ada di dalam kotak. Satu kotak besar air ajaib dan satu kotak besar pil, keduanya ada di dalam botol kecil yang mudah dibawa kemana-mana dan tidak memakan banyak tempat.
Xabiru mengambil satu kotak, lalu berjalan beriringan dengan Asta keluar kamar. Semua pimpinan tim ada di rumah, lebih tepatnya di lantai satu, karena toko ditutup selama 3 hari sebelumnya.
Melihat Xabiru dan Asta keluar, semua orang berdiri dan membungkuk menyapa keduanya. Kecuali Kakek Xabiru, dan Nira. Sisanya membungkuk menyapa.
"Siap, sudah!" Pekik semua orang bersamaan.
Xabiru menatap satu persatu orang-orangnya dengan tatapan haru. Setiap orang, tentunya ada keluarga atau orang yang dicintai. Dan pikirannya berkelana, haruskah dirinya tidak balas dendam? Tapi jika tidak bergerak, maka dirinyalah yang akan hancur, karena keluarga Alexander tidak pernah berniat melepaskannya meskipun Xabiru tidak berbuat apa-apa.
Xabiru menghela nafas, lagipula semuanya sudah menandatangani perjanjian. Dan mereka bersedia bekerja dengan nyawanya. Xabiru juga tidak memaksakan setiap orang yang kini sudah siap terjun mengikutinya bertarung.
Balas dendam yang di rencanakan adalah merebut Alexander dan kembali menguasainya. Xabiru merebut hanya untuk memperbaiki tatanan keluarga besar tersebut dan menghilangkan para bajingan yang menyalah gunakan kekuasaan dari keluarga.
__ADS_1
"Bagus! Sekarang berbaris untuk menerima pil dan air penyembuh untuk setiap tim!" Titah Xabiru membuat semuanya dengan cepat berbaris dengan patuh.
Pembagian dilakukan dengan lancar, setiap orang masing-masing menerima satu botol pil dan satu botol penyembuh. Tapi karena yang datang setiap ketua tim, maka jumlah botol dibagian sesuai jumlah orang di timnya.
"Besok, berkumpul pukul 4 pagi. Kita berangkat ke markas, lalu pergi dari sana. Siapkan helikopter untuk pasukan yang masuk ke ibukota. Sedangkan untuk ke perbatasan, gunakan Van. Pukul setengah lima sudah berangkat dari markas." Ucap Xabiru.
"Mengerti, tuan!" Pekik semua orang kembali secara bersamaan.
"Baik, begitu saja. Persiapkan diri kalian, dan istirahat lebih awal untuk menghadapi ketidak tenangan dalam beberapa hari ke depan." Ucap Xabiru, membubarkan kumpulan.
Disediakan kamar di rumah, lebih dari cukup untuk beberapa orang yang menjadi ketua tim. Jadi sebelah bubar, tersisa Asta, Xabiru, kakek Xabiru dan Nira.
keempatnya berjalan ke lantai dua dan berkumpul di ruang tengah. Saling menatap dan menghela nafas kemudian, terlebih kakek Xabiru.
"Berhati-hatilah besok, kau tahu sendiri sifat keluarga kita. Mereka sangat waspada, meski saat ini kita masih belum diketahui, tapi dalam waktu singkat, Alexander mampu mengeluarkan pasukan dalam jumlah besar jika kalian diketahui." Ucap kakek Xabiru.
"Jangan khawatir, kakek. Aku akan berhati-hati. Hanya jaga dirimu, dan Nira. Asta punya perlindungan diri sendiri, meski aku cemas aku yakin Asta akan baik-baik saja. Dan apapun yang terjadi, nanti, tetaplah diam di ruang bawah tanah restoran." Ucap Xabiru menatap kakeknya dan Nira dengan serius.
"Benar, jangan buka pintu besi apapun yang terjadi. Aku ada perlindungan diri sendiri. Aku bisa menyelamatkan diri sendiri." Ucap Asta menatap keduanya.
Meski sama-sama sudah dilatih, tapi keduanya berbeda dengan Asta. Nira banyak menghabiskan waktu di sekolah, dan kakeknya tidak dilatih oleh Xabiru seperti Asta. Jadi, rasa khawatirnya lebih besar pada dua orang tersebut.
Meski begitu, ada ruang bawah tanah yang dibangun untuk tim pengawas. Mereka akan di tempatkan di bawah dengan pintu besi yang sulit ditembus. Jadi, itu adalah tempat aman untuk keduanya.
__ADS_1
*
*