Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Ending


__ADS_3

*


*


7 Tahun kemudian


"Selamat menempuh hidup baru, Nira dan Dean! Semoga awet sampai kakek nenek." Ucap MC acara setelah janji suci diucapkan keduanya dan keduanya telah menjadi pasangan yang sesungguhnya.


Tepuk tangan meriah juga langsung mengiringi begitu MC acara ikut mengucapkan selamat. Haru dan bahagia berdampingan.


"Sayang, jangan menangis, jangan sampai make up mu rusak. Kau ingat? Syahila takut pada wajahmu ketika make up mu rusak." Bisik Xabiru pada Asta, ia bahkan tertawa mengejek membuat Asta yang hendak menangis, berubah menjadi kesal. Tangannya tidak tinggal diam dan mencubit perut Xabiru.


"Kau menyebalkan." Dengus Asta. "Ngomong-ngomong, dimana Syahila? Kau biarkan dia main sendiri?" Tanya Asta. "Jangan sampai putriku kenapa-napa, oke?! Jika sampai lecet sedikit saja, kau yang menerima hukuman! Tidur diluar, ya sayang." Bisik Asta di akhir.


"Ugh! Jordan mengambilnya dariku, tadi. Bukan aku yang membiarkannya pergi sendiri. Salahkan Jordan dong, sayang, kan dia yang mengambil anak kita secara sukarela." Keluh Xabiru, ngeri sendiri dengan ancaman Asta yang sampai saat ini selalu ampuh untuk Xabiru.


"Kau yang memberikannya pada Jordan, jadi kau yang akhirnya tetap bersalah." Balas Asta mengedikkan bahunya, tak mau peduli.


"Baik, aku cari sekarang!" Ucap Xabiru panik sendiri.


Sedangkan di sisi lain, Syahila, anak perempuan berusia 9 tahun yang menjadi kesayangan Asta dan Xabiru sejak dirinya lahir, kini sedang duduk santai di atas pangkuan Jordan di taman gedung pernikahan tersebut.


Selain duduk, Syahila juga memegang ponsel, menonton kartun lewat ponsel Jordan. Keduanya sesekali tertawa bersama. Tanpa tahu jika keduanya sedang dicari oleh seseorang yang sudah frustasi karena tidak kunjung menemukan keduanya.


"Sayang, bagaimana jika Xabiru mencari Syahila? Sudah lama sejak kau mengambilnya darinya." Ucap seorang wanita yang bersandar di punggung Jordan.


Keduanya duduk saling membelakangi dan saling bersandar satu sama lain. Ditambah Syahila yang duduk dipangkuan Jordan.


Sebagai penengah agar keduanya tidak melebihi batas wajar berhubungan. Apalagi keduanya masih belum menikah. Jadi, Syahila adalah orang yang selalu di bawa Jordan agar dirinya tidak khilaf.


"Lalu kenapa? Biarlah, aku masih ingin bersamamu juga." Ucap Jordan.


*


"Cila sayang, lain kali kalau diajak Paman Jordan jangan mau, oke? Tunggu waktu, main dengan Daddy saja, agar Mommy tidak memarahi Daddy. Boleh, sayang?" Tanya Xabiru, membujuk Syahila dengan lembut.

__ADS_1


Syahila menggelengkan kepalanya, "Tidak mau. Daddy selalu sibuk. Cila kesepian. Hanya Paman Jordan saja yang selalu mengajak Cila main dan jalan-jalan."Balas Syahila.


"Daddy, tidak, sayang. Daddy janji, Minggu ini kita piknik satu keluarga. Bagaimana? Kita ajak kakek dan kakek buyut juga, um? Mau tidak?" Tanya Xabiru, merayu.


"Dengan kakek dan kakek buyut?! Mau! Cila mau! Ayo piknik bersama!" Pekik Syahila dengan nada semangat. Kedua tangannya bahkan mengepal kuat.


"Baiklah, ayo sarapan dulu. Jangan sampai kalian telat. Cila masuk sekolah pukul 7.30, Daddy juga harus masuk kantor pukul 08.00. Sekarang sudah pukul 6.45. Jadi, jangan mengobrol lagi, dan cepat habiskan sarapannya." Ucap Asta seraya berkacak pinggang.


Xabiru harus mengantarkan Syahila lebih dulu sebelum pergi ke kantor. Jadi, jika keduanya masih terus mengobrol, maka keduanya akan terlambat. Terlebih Syahila.


"Oke, Mommy!" Pekik Xabiru dan Syahila bersamaan. Membuat Asta tidak jadi marah, dan berubah tertawa. Gemas pada dua manusia terkasihnya tersebut.


Sejak Ayah Xabiru keluar penjara lebih awal karena pengurangan hukuman atas sikap baiknya, kakek Xabiru kembali ke kediaman lama yang sudah dibeli lagi oleh Xabiru. Keduanya tinggal disana. Sedangkan Xabiru dan Asta tetap di kabupaten.


Soni dan Hana sendiri punya rumah di dekat rumah Xabiru, jadi semuanya masih aman dan dalam pengawasan semua orang. Kehidupan tenang dan damai selama 7 tahun dirasakan semuanya, meski tidak benar-benar damai, karena ada saja lawan bisnis yang licik yang sesekali hendak mencelakai keluarga kecilnya.


Tapi karena setiap orang punya keahlian sendiri, terlebih Asta punya kartu as khusus, semuanya baik-baik saja sampai sekarang.


"Hati-hati dijalan." Ucap Asta seraya melambaikan tangannya pada Syahila dan Xabiru yang kini sudah berada di dalam mobil.


*


Tapi yang tidak Xabiru duga adalah, piknik yang rencana awalnya hanya keluarga kecil dan kedua kakek Syahila, kini malah sangat ramai.


Selain keluarga kecilnya dan kedua kakek, Ada Jordan dan Teren, Dean dan Nira, Soni, Hana dan anaknya, Clode, K1, K2, K3, dan beberapa pegawai Asta juga Xabiru.


Xabiru menatap semua orang dengan raut datar. Tapi orang-orang yang ditatap terbatuk dan menyibukkan diri, menghindari tatapan Xabiru yang mengintimidasi.


Sampai akhirnya Asta berkata jika dirinyalah yang mengundang yang lain. Xabiru pun hanya bisa menghela nafas dan memaksakan senyumnya.


Mengeluh dalam hati. Mengumpat dalam hati. Apalagi ketika Syahila yang hendak dijauhkan dari Jordan malah menempel padanya sejak Jordan datang.


Jadi, untuk apa ia mengadakan piknik jika Jordan tetap memonopoli anaknya?! Membuat Xabiru berteriak frustasi dalam hatinya.


"Daddy! Ayo ikut main air." Pekik Syahila seraya melompat-lompat kecil, ia meraih tangan Xabiru dan menuntunnya ke arah yang lain, dimana alat sir otomatis langsung menyala begitu keduanya berada di tengah.

__ADS_1


"Hahaha, Daddy basah kuyup! Daddy basah kuyup!" Pekik Syahila lagi, terbahak menertawakan Xabiru. Padahal dirinya sendiri sama-sama basah kuyup.


"Sayang, kalau basah semua begini, Mommy loh yang marah nanti." Keluh Xabiru menatap Syahila dengan pasrah.


"Tidak, tidak, Mommy hanya akan memarahi Daddy bukan Cila. Jadi, ayo temani Cila main air dulu sebelum Daddy diomeli Mommy!" Pekik Syahila senang.


Akhirnya Xabiru pasrah, berlarian mengejar Syahila di tengah siraman air yang tidak berhenti. Mengabaikan tetapan semua orang yang menatap dirinya dengan senyum geli dan senyum tertahan. Beberapa bahkan tertawa melihat Xabiru yang seperti anak kecil. Berbeda jika sedang dalam mode kerja. Seram bukan main.


"Ah, aku ikut!" Pekik Jordan kemudian berlari memasuki dunia Xabiri dan Syahila. Membuat Syahila melompat seamg, sedangkan Xabiru memelototi Jordan karena mengganggu waktunya dengan Syahila.


Semua orang yang sibuk dengan panggangan dan penataan makanan kembali tertawa. Beberapa juga jadi ikut masuk ke hujan air buatan tersebut. Ikut bersenang-senang dan berlarian mengejar Syahila, sebagai center utama permainan tersebut.


"Bahagianya melihat pemandangan indah ini." Ucap kakek Xabiru diangguki Ayah Xabiru.


"Istriku pasti ikut senang di atas sana.", Gumam Ayah Xabiru menimpali.


"Perasaan ini, kehangatan ini, aku harap akan selalu seperti ini sampai nanti. Terimakasih, Tuhan.... Sudah memberiku kehidupan kedua." Bisik Asta dalam hati. Ia menatap Xabiru dan Syahila dengan tatapan dan binat mata lembut.


"Ayo berbaris! Foto keluarga!" Pekik Teren membuat semuanya langsung merespon dan berbaris meski beberapa basah kuyup.


*


*


End.


Sampai sini ya. ❤️


Makasih buat semua pembaca setiakuuu udah mau baca ceritaku yang kayak remahan renginang ini sampai akhir, sampai tamat. Hehe. 🥰


I loveee youuu!


Sampai jumpa di cerita lain, soon ya! 🥰


btw, maksa bgt gasi endingnya? 😭

__ADS_1


Apapun, pokonya terimakasih banyak love🥰❤️


Dadahhh~


__ADS_2