
*
*
Xabiru menyuapi Asta buah apel yang telah dikupasnya. Asta masih terbaring di tempat tidur dan Xabiru senantiasa menjaganya di sisinya. Tidak sekalipun ia meninggalkannya kecuali untuk buang air dan membersihkan diri. Itupun ia lakukan ketika Asta tertidur setelah meminum obat.
Sudah dua hari sejak Asta sadar kembali. Dan benar, Asta tidak merasa sesakit sebelumnya. Apalagi, setelah berpajar dari pengalaman, Xabiru dengan sigap memberi Asta air ajaib agar Asta tidak kesakitan lagi seperti sebelumnya.
Sampai membuat dokter merasa takjub, karena pemulihan Asta sangat cepat. 2 kali lipat dari orang lain yang biasanya akan merasa sakit kepala sekitar 3 hari berturut-turut.
Tok! Tok!
"Masuk!" Ucap Xabiru tanpa melihat ke belakang. Ia terus menatap Asta dengan senyum kecil, wajahnya terlihat bahagia karena Asta akan segera sehat.
Clode dan K1 kemudian masuk dan membungkuk sedikit menyapa Asta dan Xabiru yang akhirnya menatap keduanya meskipun sekilas, karena ia kembali menyuapi Asta.
Asta merasa malu, sampai akhirnya ia mengambil piring buah dari tangan Xabiru dan mengusirnya, agar ia bisa fokus berdiskusi dengan Clode juga K1. Xabiru menolak, tapi pelototan Asta berhasil membuatnya mengalah.
"Ada apa?" Tanya Xabiru dengan wajah bad mood, kini tubuhnya sudah menghadap Clode dan K1.
"Xabiru! Pergilah, diskusi dengan benar." Omel Asta. Pasalnya Xabiru mengalah, tapi ia tetap berada di samping tempat tidur Asta, lagi, tangannya juga tidak mau melepaskan tangan Asta yang menganggur karena piring buah disimpan di atas nakas oleh Asta. Sedangkan dirinya memegang garpu yang ada buah di tusuknya.
"Tidak mau, apa salahnya sih mengobrol disini?! Aku tidak mau meninggalkanmu. Jangan mengusirku lagi, atau aku saja yang usir mereka berdua dari sini!" Ucap Xabiru dengan pendirian teguh. Wajahnya semakin tidak enak dipandang. Auranya mendadak gelap, dan nada suaranya sedikit datar.
Untungnya, Xabiru masih membelakangi Asta, dan hanya Clode serta K1 yang melihat aura yang membuat keduanya menelan ludah karena takut tersebut.
Asta sendiri menghela nafas. "Xabiru..." Panggil Asta.
__ADS_1
"Nona muda, tidak apa-apa. Nona juga bukan orang lain, justru nona juga harus mendengar apa yang akan kami sampaikan. Karena ini, terkait dengan keluarga Baskoro." Ucap K1 seraya mengangguk dan tersenyum kecil.
Xabiru menatap K1 dengan sinis. "Tidak perlu tersenyum! Aku ada di depanmu, dan kau berani menggodanya?!" Desis Xabiru.
K1 langsung menegakkan badannya. Ia langsung menatap Xabiru dan menggelengkan kepalanya. "Aku salah, tuan muda. Maaf atas kelancanganku." Balas K1 gemetar.
"Baiklah, hanya senyum saja. Senyummu lebih tampan dari siapapun. Sudah, jangan membuang waktu lagi. Biarkan mereka menyampaikan masalahnya." Ucap Asta seraya menggerakkan jempol tangannya, mengusap tangan Xabiru yang menggenggam tangannya.
"Hmph! Mulailah." Akhirnya Xabiru melepaskan K1, membuatnya menghela nafas lega.
Clode hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi, tapi aslinya ia gatal sekali ingin menepuk pundak K1 dan tertawa mengejeknya. Keduanya sudah lebih dekat, dan Clode juga sudah mulai berani terhadap orang-orang di sekitarnya.
"Yang akan aku laporkan adalah perihal rapat umum pemegang saham. Setelah kita ajukan dua hari yang lalu, semua pemegang saham, hari ini, akhirnya menyetujui semua tanpa terkecuali. Bahkan Eddin selaku pemegang saham no 3 juga setuju. RUPS akan diadakan dalam 3 hari." Jelas Clode. "Kemudian masalah Sintia, Eddin beberapa kali mau mencelakai Sintia yang masih tidak sadarkan diri. Bahkan mau menculik anaknya sendiri yang masih ada di inkubator karena lahir lebih awal. Tapi karena penjagaan ketat dari kita, semuanya masih ada dalam pengawasan. Semuanya baik-baik saja." Lanjutnya.
"Lalu, tuan muda, maaf. Tapi beberapa orang yang ada di pihak kita beralih ke pihak Eddin. Mereka pindah dengan dalih ancaman. Eddin memegang kartu as dari setiap orang yang pindah tersebut." Jelas K1 yang memegang tugas menggaet para pemegang saham di perusahaan.
"Ck, ambil kembali! Rebut kartu as yang ada di tangan Eddin. Masa begitu saja tidak mampu!" Desis Xabiru kesal.
"Cari cara lain. Dalam dua hari aku mau hasilnya. Jika masih tidak bisa, lapor padaku, maka aku sendiri yang akan turun tangan." Ucap Xabiru. "Clode kondisi Sintia bagaimana? Ada perkembangan? Apakah ada kemungkinan dia akan sadar dalam dua hari? Jika cara lain tidak ada, maka yang terakhir yang bisa membantu kita hanya dia. Saham yang dipegang ditangannya." Lanjut Xabiru menghela nafas panjang.
"Siapa pengacara dan hacker pro yang ada di samping Eddin?" Tanya Asta tiba-tiba.
"Pengacara Tuan Abimana Santoso. Untuk Hacker, aku hanya tahu panggilannya Noe, Nona." Balas K1.
Asta menganggukkan kepalanya kemudian. Xabiru menatap Asta dengan kernyitan di dahinya.
"Kau mengenal mereka?" Tanya Xabiru.
__ADS_1
"Tidak, tapi aku bisa mencoba membujuk mereka." Ucap Asta seraya tersenyum. "Jangan terlalu khawatir, kita pasti memenangkannya. Kita pasti bisa merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku." Lanjut Asta.
"Aku tidak mau membiarkanmu turun tangan lagi. Aku tidak mau membuatmu dalam bahaya lagi. Terlebih, kini kau sudah berbadan dua. Bukan hanya kau, tapi aku mengkhawatirkan kalian." Ucap Xabiru dengan helaan nafas, langsung tidak setuju dengan usul Asta.
"Ah?! Apa yang kau maksud berbadan dua?" Tanya Asta tidak mengerti.
Clode dan K1 saling menatap, sebelum akhirnya pamit lebih dulu sebelum keduanya ikut terlibat dengan masalah Xabiru dan Asta.
"Ah? Aku belum memberitahumu?" Tanya Xabiru sedikit gugup.
"Perihal apa?" Tanya Asta.
"K-kau, kau hamil." Ucap Xabiru dengan raut ragu.
"H-hamil? Bukankah aku melakukan suntik penunda hamil setiap tiga bulan?" Tanya Asta.
"Kau lupa? Waktu itu, aku tidak bisa mengantarmu pergi, lalu kau juga tidak pergi, besoknya masalah datang. Lalu kita semua melupakannya." Ringis Xabiru.
Asta menatap Xabiru dengan tatapan kosong. Tangannya kini sudah bertengger di perutnya yang masih rata. 'Jadi? Aku benar-benar hamil? Tapi, apa aku sudah siap menjadi ibu? Lalu, semuanya belum selesai, dan aku bahkan sudah melanggar janjiku sendiri pada calon bayiku.' Pikir Asta tak berdaya.
"S-sayang? Kau baik-baik saja?" Tanya Xabiru takut-takut karena Asta terlihat enggan menerima kenyataan. "Sayang? Jangan membuatku takut!" Ucap Xabiru kini mulai mengguncang bahu Asta.
"Aku tidak, aku hanya takut, aku sepertinya belum siap?" Ucap Asta dengan ragu. Menatap Xabiru dengan raut cemas.
"Ugh, tidak apa, ada aku. Kita bisa melewatinya bersama-sama. Selain itu, ada kak Hana yang sudah berpengalaman. Jangan takut, oke? Selain kita, masih ada kakek, nira, kak Hana dan yang lainnya. Semuanya akan baik-baik saja. " Bujuk Xabiru dengan lembut.
Asta akhirnya merasa sedikit lega. Hatinya menjadi nyaman setelah mendengar perkataan Xabiru. "Ya, ayo lewati bersama." Balasnya.
__ADS_1
*
*