
*
*
Setelah selesai mengisi stok, keduanya beristirahat dan bersantai di kamar yang aslinya berada di dalam cincin ruang. Panen masih belum waktunya, tapi ayam-ayam yang ada di dalam perlu di urus satu hari sekali setiap kalinya.
Telur-telur akan sangat cepat sekali menetas jika satu hari terlewat, dan pembatas ayam akan cepat sekali penuh di baliknya. Yang membuat Asta mau tidak mau menyembelih ayam-ayam yang masih bertelur.
Alhasil, untuk mengantisipasi hal tersebut, Asta hanya bisa memindahkan telur-telur lebih dulu setiap harinya. Karena tidak mungkin baginya menyembelih ayam besar-besaran setiap harinya, maka stok akan sangat banyak nantinya.
Cukup dua hari sekali, sesuai dengan tanaman lainnya. Jadi meski stok banyak, tapi masih sebanyak stok bahan lainnya, tidak melebihi. Apalagi, kini stok-stok di gudang ini kini bisa dikeluarkan Asta setiap hari, jadi gudang juga bisa lebih kosong isinya.
Ditambah, stok yang dikirimi ke antana's juga dalam dua Minggu ini, ia sudah 3 kali meminta pengiriman. Jadi, baik gudang dalam maupun luar cincin ruang tidak akan memenuhi tempat dengan sia-sia.
Setelah selesai memindahkan telur-telur, Xabiru dengan cepat mengisi bak mandi khusus yang dibawanya ke dalam cincin ruang. Mengisinya dan tentu saja berendam di sana. Sabun cair tidak lupa juga ia tambahkan.
Ada dua bak mandi, jadi masing-masings seharusnya bisa berendam, tapi Asta tidak pernah melakukan hal tersebut. Selalu berdalih belum ingin mandi, padahal aslinya Xabiru tahu, ia hanya malu. Tapi Xabiru juga tidak menuntut Asta agar mengikuti keinginannya, membuat Asta lega dalam beberapa kesempatan.
Tapi kesempatan kali ini, Xabiru sepertinya tidak mau melepaskan Asta. Ia bahkan menarik Asta dan membuatnya terjatuh ke dalam bak mandi yang sudah diisi dirinya.
Xabiru tersenyum sampai matanya menyipit, sedangkan Asta sendiri terkejut bukan main. Berubah gugup, adalah satu-satunya hal yang terlihat pada dirinya saat ini. Dan Xabiru memanfaatkan keterkejutan Asta kali ini.
"Pengalaman pertama di alam terbuka seperti ini, akan terasa bagus juga, bukan?" Bisik Xabiru. Kemudian membungkam Asta yang hendak membalas, dengan bibirnya sendiri.
__ADS_1
Candu Xabiru, kembali terpenuhi. Tapi kali ini, keduanya benar-benar melakukannya di dalam. Asta yang memang dasarnya cepat lambat akan menyerahkan diri pada Xabiru, tidak ada pilihan lain selain pasrah.
Terlebih, salah satu dari dua kasur yang dibelinya juga sudah masuk ke dalam cincin ruang. Jadi, akan sangat nyaman bagi keduanya melakukan hal ini meski di alam terbuka, yang aslinya adalah cincin ruang.
Besoknya, keduanya telah ada di kamar. Asta masih bergumul dalam selimut dengan bahu yang terekspose ketika Xabiru bangun dan menatap wajah damainya yang masih tertidur kini.
Sangat cantik melihatnya begini. Apalagi mengingat keduanya yang begitu intim semalam. Membuat raut Xabiru berubah, senyumnya bahkan lebar sampai telinga, membuat matanya ikut menyipit. Tertawa-tawa kecil, ia kemudian mengecup kening Asta lembut.
Tidak menganggu Asta lagi yang sangat kelelahan karena digempur olehnya habis-habisan, Xabiru beranjak pelan, meninggalkan Asta dan membersihkan diri.
Hari ini adalah hari yang sibuk. Xabiru harus bersiap lebih awal. Juga, karena Asta kelelahan, jadi biarkan dirinya yang bertanggung jawab memasak sarapan kini untuk Nira yang akan pergi pukul 6.15.
Untuk air ajaib, tidak perlu merepotkan Asta. Air galon yang disiapkan di rumah, isinya adalah air ajaib yang disiapkan oleh Asta sebelumnya. Jadi, tinggal mengambil air panas dari galon, untuk menyeduh susu bagi Nira.
Pada Soni ramah bukan main, tapi pada istrinya, kekakuan masih melekat pada dirinya. Sama hal nya pada Nira. Juga pada para pegawai dan keamanan di toko, bahkan sifat dingin dan tegasnya tidak pernah pudar. Apalagi pada K1, Asta sering melirik dan menatapnya seolah dia porselen, jadi Xabiru secara alami akan lebih dingin padanya.
Makanya, setiap kali keamanan yang diizinkan masuk adalah K2 dan K3 saja, meski K1 pimpinannya. Xabiru hanya akan menghampirinya jika memang ia benar-benar membutuhkan bantuan seperti mencari tahu latar belakang orang-oramg yang kemarin ramai-ramai datang ke tokonya.
Tapi Astanya yang nakal, ia sering kali mengikuti Xabiru jika sedang ingin menemui K1, terkadang, Asta sengaja mengobrol dengan para keamanan, tapi matanya lagi-lagi hanya fokus pada K1. Xabiru kesal. Dirinya bahkan lebih tampan dan gagah dari pada K1. Padahal aslinya, Xabiru saja yang tidak tahu jika Asta sedang menggodanya. Ia mengobrol dengan K1 juga karena Asta sering sekali membicarakan Xabiru, mengagung-agungkannya pada K1.
Jika K1 diperbolehkan bicara, mungkin ia akan mengatakan jika dirinya muak mendengar pujian berlebih Asta terhadap suaminya. Xabiru bahkan tidak pernah bersikap ramah padanya selain memerintahkan tugas. Bagaimana mungkin ia mau mengiyakan sikap baik Xabiru yang disebutkan Asta, padahal tidak ada satupun yang terwujud padanya.
"Sarapan sendiri tidak apa kan?" Tanya Xabiru tanpa melihat Nira.
__ADS_1
"Kak Asta, mana?" Tanya Nira.
"Ada di kamar, sedang tidak sehat saja. Tidak perlu khawatir, aku akan membawakan sarapan sekarang untuknya." Ucap Xabiru kemudian. Ia telah siap dengan nampan berisi piring, tinggal menyeduh susu untuk Asta.
"Sakit? Aku akan pergi melihatnya." Ucap Nira tapi buru-buru dihentikan Xabiru.
"Tidak perlu, aku akan mengurusnya. Kau pergilah, jangan sampai terlambat." Ucap Xabiru kemudian pergi dengan nampan, tanpa mendengar jawaban Nira selanjutnya.
Nira menghela nafas, Xabiru memang berbicara agak panjang dari biasanya. Tapi tetap saja terdengar dingin di telinganya. Ia juga masih takut pada Xabiru, jadi ia tidak ada pilihan lain selain menurut.
Nira menghabiskan sarapannya, kali ini ia tidak makan sereal dan makan nasi goreng dengan irisan daging. Lengkap isinya. Telur, daging, sosis, juga bumbunya pas. Ia suka, tapi tetap saja, tidak tenang mengingat Asta yang tidak enak badan. Ia bahkan tidak bisa melihatnya. Jadi Nira memilih mengirim pesan pada Asta, menanyakan kabarnya lewat ponsel, pada akhirnya.
Xabiru cukup perhatian, jadi Nira tidak khawatir lagi, dan meninggalkan rumah, pergi ke sekolah.
Disisi lain, Xabiru telah masuk ke dalam kamar lagi. Asta masih tidur dengan lelap. Xabiru menyimpan nampan di atas nakas di samping tempat tidur, dan mendudukkan diri di ranjang.
Tidak berniat membangunkan Asta, tapi Asta bangun sendiri begitu Xabiru mendudukkan dirinya di atas kasur. Ia sudah bangun, sejak tadi, hanya saja malas bangun, terlalu sakit di bawah, jadi ia hanya ingin diam saja di atas kasur.
Ia juga sudah menunggu Xabiru sejak tadi. Begitu duduk Asta membuka mata dan memasang raut kesal. "Kau binatang buas! Mau membunuhku ya?!" Pekik Asta penuh emosi. Sumpah demi apapun, dia kesakitan begitu bangun. Dan lihat manusia di depannya, setelah diumpati malah tersenyum lebar sampai matanya menyipit. Sial.
*
*
__ADS_1