
*
*
"Ah apa yang terjadi?!" Tanya Asta bingung ketika melihat Dean dan Nira datang dengan panik. Menghampiri dirinya yang sedang membantu memeriksa dokumen dengan Xabiru.
"Anu, kak, euh--" Ucap Dean tidak jelas.
Asta mengernyitkan dahinya. Dengan bingung yang bertambah ia kembali bertanya. "Apa yang terjadi? Bilang saja, jangan takut." ucapnya.
Dean menatap Nira meminta tolong, tapi Nira membuang muka dan berpura-pura tidak melihat kode dari Dean.
Asta menghela nafas, "Ada apa sebenarnya? Bilang saja, aku tidak akan memakan kalian berdua oke? Kesalahan apa yang kalian buat sampai membuat kalian takut berbicara?" Tanya Asta lagi.
"Cepat katakan, dan jangan membuat aku menunggu kalian. Kakak Asta kalian masih harus membantuku." Ucap Xabiru datar, tanpa melihat kedua remaja yang langsung tersentak dan meluruskan badannya refleks.
Kemudian Nira maju dengan cepat, ia memegang tangan Asta dan menatapnya dengan sungguh-sungguh. "Kak! Aku tidak bersalah! Itu Dean, Dean melakukan kesalahan! Dia mengirimkan file yang kau minta ke email yang salah!" Pekik Nira cepat.
Jelas ia khawatir dan takut karena sudah salah mengirim file yang dinamai Waverly. Mulai dari biodata, silsilah, sampai ke semua kejahatannya. Lengkap dalam satu file yang salah terkirim.
"Um? Lalu? Tinggal kirim lagi saja ke emailku." Balas Asta bingung. Hanya kesalahan mengirim, apa harus sepanik ini? File masih ada di dalam laptop, dan bukan massalah besar bukan?
"Itu masalahnya! Kak!" Pekik Nira dengan raut panik tapi bersemangat.
Asta mengedikkan bahunya bertanya, menatap Nira dan Dean yang menghela nafas bersalah secara bergantian.
"Anu, email itu, adalah alamat email milik pimpinan polisi yang kakak ipar kirim sebelumnya." Balas Dean seraya meringis.
__ADS_1
"APA!" Teriak Asta terkejut.
Bahaya. Jika sampai di pimpinan polisi maka rencana balas dendam tidak akan terlaksana. Astaga, gagal sudah rencana yang sudah hampir beres di susun.
Lagipula, meski akhirnya akan diserahkan pada polisi, tapi Asta hendak bermain-main lebih dulu dengan keluarga Waverly.
Itulah alasannya mengapa dirinya dan Xabiru tidak langsung melaporkan semua bukti kejahatan keluarga Waverly.
"Dasar! Kalau begini rencana kami sia-sia." Dengus Xabiru menatap Dean dan Nira tajam, secara bergantian, membuat dua remaja tersebut menunduk tak berani menatap Xabiru dan Asta.
Asta memijit tengkuk hidungnya, kemudian menghela nafas. "Bagaimana situasinya sekarang?" Tanya Asta pada dua remaja di depannya yang masih menundukkan kepala.
Dean dengan pelan mengangkat kepala dan menjelaskan situasinya. "Pimpinan polisi membalas dengan kata-kata terimakasih. Juga, ia berkata akan mengusut tuntas masalah yang ada di keluarga Waverly. Selain itu, ugh ada media yang ikut meliput, topik populer hari ini bahkan adalah keluarga Waverly." Ucapnya pelan.
"Astaga!" Desis Xabiru. Yang masih mencoba bersabar dengan kelakuan Dean dan Nira. Bahkan media? Jika sudah turun tangan, maka Xabiru dan Asta memang tidak punya kesempatan lagi untuk masuk dan membalas dendam sendiri.
"Anu, kak, kalau yang ini salahku. Aku tidak sengaja menekan tombol kirim ketika sedang bercanda dengan Dean. Dean sendiri salah memasukkan alamat email. Jadi, begitulah." Ucap Nira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Khawatir juga. Karena bercandaan keduanya sebetulnya bukan bercandaan yang membuat orang heboh tertawa, tapi, kejadian yang membuat wajah keduanya saling mendekat. Meski akhirnya tidak terjadi, tapi begitulah. Masalah yang muncul ke permukaan atas kejahilan dua orang ini.
"Ya sudah, kalian pulanglah dulu. Aku dan Xabiru akan mengurus sisanya." Ucap Asta mengangguk pasrah.
"Kak, maafkan kami." Seru Nira dan Dean bersamaan. "Kami salah, beri kami hukuman saja, kak." Lanjut Nira.
"Tidak apa-apa, sudahlah, kakak maafkan. Kalian pulanglah, lagipula ini ketidaksengajaan." Balas Asta seraya mengibaskan tangannya, dan mengkode keduanya agar cepat pergi sebelum singa yang ada di diri Xabiru terbangun.
Keduanya yang paham akan kode dari Asta langsung menganggukkan kepalanya cepat. Sekali lagi meminta maaf, kemudian berterimakasih, dan barulah keduanya berlari keluar kantor Xabiru.
__ADS_1
"Kau menahanku!" Rajuk Xabiru, menahan rasa kesal karena ia tidak jadi mengeluarkan amarah pada Nira dan Dean.
"Sudahlah, mereka juga tidak sengaja." Balas Asta seraya tersenyum. Asta kemudian menggandeng tangan Xabiru dan membawanya duduk di atas sofa. "Tidak apa-apa tidak membalas dendam, lagipula akhirnya sama saja mereka tetap dijebloskan ke penjara, kan?" Ucap Asta membujuk.
"Tapi bagaimana dengan rencananya? Kita bahkan sudah merampungkan persiapan sebanyak 95 persen. Tinggal sedikit lagi, dalam beberapa hari kita bisa melaksanakan rencananya." Ucap Xabiru. Keduanya sudah mati-matian sibuk dan mempersiapkan segalanya demi hari dimana semua kesakitan terbalaskan.
Tapi lihat apa yang terjadi? Semuanya sia-sia, bahkan sebelum Xabiru dan Asta menyelesaikan pekerjaan. Xabiru kesal tentu saja. Jadi untuk apa keduanya menyibukkan diri sampai keduanya tidak ada waktu untuk berduaan jika akhirnya begini?
Asta menghela nafas, tangannya terangkat mengusap kepala Xabiru, membuat rautnya sedikit lebih bagus. "Masih ada keluarga Baskoro, mari gunakan rencana ini untuk mereka. Bukankah sama saja? Tapi mungkin, ada beberapa yang harus diubah karena keadaan perusahaannya tidak sama. Untuk di kediaman, mari lakukan seperti yang sudah disiapkan saja. Bagaimana menurutmu?" Tanya Asta.
Xabiru tertegun sebentar sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya tak berdaya. Meski masih bisa digunakan, tapi tetap saja masih banyak yang harus diubah. Meski tidak sepenuhnya sia-sia, tapi tetap saja akhirnya dirinya harus bekerja dua kali.
"Aku lelah, tidak mau mengubah rencana lagi. Berikan pada Cloud saja." Ucap Xabiru mencebikkan bibirnya.
"Baiklah, jangan marah lagi. Bukankah sama saja ya? Meski kita berhasil membalaskan dendam pada keluarga Waverly, nantinya keluarga Baskoro juga akan menunggu pembalasan. Lalu sekarang keluarga Waverly sudah lebih dulu tumbang, dan kita langsung beralih pada keluarga Baskoro. Meski memang bekerja dua kali, tapi hanya masalah waktu sebelum kita juga bekerja mempersiapkan rencana untuk mereka bukan? Selain itu, kita hemat tenaga dan waktu karena pembalasan tersisa yang terakhir, bukan?" Jelas Asta seraya tersenyum.
"Baiklah, aku tidak marah lagi. Aku mengerti, hanya masalah waktu sebelum bekerja dua kali saja. Semua sama saja, menurutimu, aku menurutimu." Balas Xabiru. Ia menghela nafas, dan memeluk Asta. Menumpukan dagunya di atas kepala Asta.
"Ayo istirahat dulu, kau butuh tidur cukup. Beberapa hari ini kau lebih banyak bekerja dan begadang. Nah, karena sekarang keluarga Waverly sudah tumbang, kau juga harus istirahat agar tidak ikut tumbang." Bujuk Asta seraya menepuk lengan Xabiru dua kali.
"Hmmm." Gumam Xabiru. "Nanti saja, aku masih harus menghubungi pimpinan polisi untuk menanyakan situasinya." Lanjut Xabiru.
"Aku akan menyuruh Clode, biar dia yang melakukannya. Patuh, ayo ke kamar." Ucap Asta yang membuat Xabiru akhirnya menurut.
*
*
__ADS_1