
*
*
"Ah sudahlah, aku tidak akan memperpanjang masalah. Tapi kalau dia masih mencari masalah denganku kelak, aku juga tidak akan diam saja. Sabar juga ada batasnya!" Ucap Soni menggebu-gebu, kilatan kesal terlihat dari matanya. "Karena di desa tidak aman, bolehkah menampung kakakmu yang baik dan tidak sombong ini, hmm?" Tanya Soni kemudian, berlanjut dan menatap Xabiru yang terbatuk.
Xabiru menggeleng cepat. "Tidak, tidak, kau terlihat menyebalkan. Jangan bersikap begitu lagi kelak." Ucap Xabiru yang mendadak ingin muntah.
"Aish, istriku melihat sikap manisku suka, kok dirimu tidak suka? Memang berbeda kah?" Goda Soni seraya terbahak.
"Jelas berbeda! Aku ini laki-laki, normal!" Desis Xabiru kesal. "Ayo ke belakang, bantu aku panen dulu, baru aku akan memberimu kesempatan nanti." Ucap Xabiru seraya menarik turunkan alisnya.
Tidak ada yang gratis di dunia ini, oke? Bekerja dulu, kemudian Xabiru akan memberi Soni hadiah setelahnya.
"Panen?" Tanya Soni mengerutkan dahinya bingung. "Bukankah baru berapa hari sejak toko dibuka? Kenapa bisa secepat ini?" Tanya Soni bingung, jelas ini tidak sesuai aturan.
"Memangnya kenapa semua yang aku tanam bisa seenak ini? Jauh berbeda dengan yang lainnya? Ya itu, karena air dan pupuknya ajaib! Resep rahasia." Ucap Xabiru diakhiri bisikan. "Makanya, panennya juga memang lebih cepat dari biasanya." Lanjut Xabiru.
"Benaran? Kasih aku air dan pupuknya!" Pekik Soni menatap Xabiru, seolah Xabiru adalah mangsa.
"Sudah kubilang ini rahasia. Jika aku memberikannya padamu, nanti aku tidak bisa mencari uang! Apa kau bodoh, huh?" Tanya Xabiru.
"Ya, ya, hanya padaku saja." Bujuk Soni.
"Tidak, tidak, ayo cepatlah bangun, aku harus panen dan menanami lagi tanahnya setelahnya. Aku banyak pekerjaan." Ucap Xabiru beranjak, meninggalkan Soni sendirian di ruang makan.
Asta sendiri sudah sejak awal menghilang dari keduanya mengobrol. Selain masak, dirinya juga masih harus mencuci baju oke. Di rumahnya tidak ada asisten rumah tangga, jadi ia mengerjakannya sendiri.
Tapi setelah selesai, ia juga biasanya langsung pergi ke halaman belakang dan membantu Xabiru menyiram tanaman. Kali ini, ia datang dengan beberapa kotak kayu tambahan. Tentu, ia tahu, hari ini adalah hari panen di halaman belakang.
Untuk toko, semua telah diserahkan pada para pegawai. Jadi keduanya santai saja. Hanya jika ada masalah sajalah keduanya akan ke depan menghadapinya.
__ADS_1
"Nona bos. Ada banyak orang di depan yang meminta bertemu. Mereka memaksa ingin bertemu pemilik toko, katanya ingin membicarakan kerja sama."
Baru saja dibicarakan, masalah malah langsung datang. Asta menghela nafas, kemudian ia memanggil Xabiru yang sedang memetik tomat di ujung sana.
Xabiru yang terpanggil langsung menghampiri Asta, menanyakan keadaannya. Setelah tahu, Xabiru kemudian mengikuti keamanan yang menyusul ke halaman belakang, diikuti Asta. Meninggalkan Soni, istri dan anaknya yang masih memanen.
Sampai di depan, keadaan jelas sangat bising dan ribut. Asta dan Xabiru sama-sama sangat tidak suka dengan keadaan ini. Selain menganggu ketenangan keduanya, itu juga sangat menganggu ketenangan orang-orang yang sedang berbelanja.
Sebagian orang bahkan pergi, tidak lagi melanjutkan belanja seperti biasanya karena terlanjur takut dengan orang-orang yang membuat ribut ini.
"TENANG SEMUANYA! Pemilik sudah datang, harap tenang!" Teriak keamanan yang datang bersama Asta dan Xabiru.
Akhirnya, kondisi menjadi kondusif. Setiap orang yang berteriak dan saling mendorong menjadi diam, menatap dan menyelidik Asta dan Xabiru yang memakai pakaian tertutup tanpa memperlihatkan wajahnya.
"Kami pemilik toko, ada urusan apa kalian ribut-ribut disini?" Tanya Xabiru.
"Satu persatu! Jangan saling rebut dan saling bersautan agar terdengar jelas!" Timpal Asta.
"Kau, mulai dari kau. Apa yang kau inginkan?" Tanya Xabiru seraya menunjuk satu pemuda yang mungkin seumuran dirinya.
"Selanjutnya kau, apa maksud dan tujuanmu datang kemari?" Tanya Xabiru beralih pada pemuda selanjutnya, menunjuk pemuda yang berada tepat di samping pemuda yang pertama kali ditunjuk.
"Tujuanku sama, bos. Menawarkan kerja sama jangka panjang." Balasnya.
Xabiru menghela nafas, kemudian menatap satu persatu orang yang ada di hadapannya. Ia hitung ada sekitar 15 orang disini.
"Tujuan kalian semua, apakah sama?" Tanya Xabiru yang kemudian diangguki oleh semuanya. "Dengar baik-baik, aku tidak akan membuka kerja sama dengan siapapun selain antana's. Kami sudah melakukan kerja sama, dan di dalam kontrak tertulis tidak akan ada kerja sama lagi dengan pihak lain selain Antana's. Sampai disini, apakah kalian paham?" Jelas Xabiru bertanya dengan nada tegas.
"Bos, apa tidak bisa beri kami kesempatan?"
"Ya, benar, kami juga butuh bahan darimu, bos."
__ADS_1
"Benar, bos. Antana's sekarang semakin di depan. Restoran kecilku bahkan sudah tidak mendapat pengunjung sejak kemarin."
"Benar, bos. Aku takut, restoranku akan tutup seminggu ke depan."
"Bantu kami, bos."
"Iya, bos, kita semua saudara, bantu kami."
Xabiru tertawa dalam hati, apa katanya? Saudara? Aih, dirinya bahkan sudah tidak percaya lagi pada saudara sedarah, ini yang bahkan tidak dikenal mengucapkannya dengan begitu ringan? Benar-benar, jenis orang berhati kotor.
"Tidak ada. Jika kalian mau belanja silahkan. Toko kami hanya akan menjual 10kg per pembelian per satu orangnya paling banyak. Tidak bisa lebih, jika ingin beli saja 10kg setiap hari." Jelas Xabiru. "Tidak ada negosiasi lagi, begitu saja. Jika ingin pergi silahkan, ingin belanja juga silahkan." Lanjut Xabiru pada semua orang.
Xabiru kemudian menarik tangan Asta lembut. Dan meninggalkan toko, meninggalkan orang-orang yang ada di depan toko, yang saat ini sedang mengeluh dan berseru kecewa karena tidak mendapat apa yang dirinya inginkan.
Xabiru tidak peduli. Ia orang yang berprinsip. Jadi, tidak ada negosiasi lagi, tidak akan ada bujuk membujuk lagi. Meskipun ia ditawari uang besar, ia tidak akan menerimanya.
Sampai di lantai dua, Asta dan Xabiru melepaskan baju dan masker yang menutupinya. Kemudian keduanya menghela nafas bersamaan.
"Xabiru, dengar, jangan terpengaruh oleh siapapun oke?" Ucap Asta sungguh-sungguh.
Xabiru menganggukkan kepalanya. "Tentu, aku tidak akan." Balasnya seraya tersenyum.
Obrolan keduanya kemudian terpotong oleh nada dering ponsel yang ada di saku Xabiru. Xabiru merogoh saku dan mengambil ponselnya.
"Teren." Ucap Xabiru membuat Asta menganggukkan kepalanya, dan Xabiru mengangkat telfon, langsung menyalakan fitur loudspeaker.
"Halo, nona Teren? Apa ada hal penting yang mendesak?", Tanya Xabiru to the point.
"Ya! sangat penting! Kami butuh stok lagi! Untuk 5 restoran, apa kau bisa mengirimkannya besok?!" Tanya Teren diseberang.
Membuat Asta dan Xabiru saling menatap dengan mata yang melebar.
__ADS_1
*
*