
*
*
Eddin berjalan meninggalkan kamar utama Sintia dengan dirinya. Tangannya terulur mengambil ponsel di saku, dan mendial nomor asisten sekaligus sekertaris kepercayaannya.
"Seno, buatkan proposal kerja sama dengan perusahaan Xabasta's." Ucap Eddin dengan raut serius.
Eddin telah mengambil alih kedudukan direktur perusahaan Unind yang selama ini dibangun dari nol oleh Asta.
Sintia adalah direktur tetap utama pada awalnya, tapi begitu pernikahan dilaksanakan, Eddin lah yang mengambil alih perusahaan atas saran dan bujukan Eddin dan juga ibunya.
"Bos, akhirnya kau mempertimbangkan kerja sama dengan mereka!" Balas Seno, dari sebrang telfon.
Eddin mengangguk kecil dengan refleks. "Ya, perusahaan mereka semakin besar dan naik. Semua orang bahkan membicarakannya. Mulai dari toko kecil, restaurant, sampai perusahaan jasa pengawal. Semuanya dimulai dari nol, dan akhir-akhir ini nama merek dagang mereka bahkan menarik perhatian keluarga besar lainnya." Ucap Eddin. "Aku dengar, selain keluarga besar Waverly yang hendak berinvestasi, keluarga besar no 2 dan no 3 di negara juga sudah mulai mengirim proposalnya masing-masing. Keluarga Baskoro kita sudah menjadi keluarga besar no 4, jangan sampai posisi kita diambil lagi oleh keluarga Waverly yang sukses dengan investasinya. Jangan sampai kita ketinggalan prospek bagus untuk masa depan ini." Jelas Eddin panjang lebar.
Meski sebelumnya ia mengatakan tidak akan, tapi ia tetap melakukan kemauannya sendiri. Di depan, Sintia ia berlaku baik dan lembut, tapi di belakang ia melakukan dan memutuskan segala sesuatunya sendiri.
Sintia bahkan tidak tahu, jika suami baiknya ternyata diam-diam hanya bersandiwara, dan pelan-pelan mulai berlaku seenaknya sendiri semenjak ia menjadi direktur utama.
"Begitu saja, kau siapkan saja semuanya dengan baik. Jangan sampai ada kesalahan." Ucap Eddin sebelum akhirnya memutuskan sambungan telfon.
"Ekhem!"
Deheman ringan membuat perhatian Eddin teralih. Begitu terlihat, ada ibu Sintia yang kini menampilkan senyum lembut dengan ekspresi genit di balik pintu kamarnya.
"Uhuk! Uhuk!" Eddin terbatuk kecil melihat penampilan seksi ibu mertuanya. Ia melihat ke sekeliling rumahnya, kemudian dengan cepat berjalan menghampiri, dan masuk ke kamar.
Pintu di kunci, keduanya langsung saling menatap penuh. Saling menggoda dengan tatapan. Eddin langsung mendekat dan menciumnya dengan terburu-buru.
__ADS_1
Satu hal yang tidak diketahui Sintia lagi, selain berlaku seenaknya, Eddin juga sudah lama berselingkuh dengan ibunya sendiri. Sudah sejak lama, sejak keduanya membujuknya menjadikan Eddin sebagai direktur utama perusahaan Unind.
*
"Tuan muda, ada dokumen baru. Aku tidak bisa memutuskan yang ini. Anda mau memeriksanya lebih dulu?" Tanya Clode seraya menunjukkan satu buah dokumen di tangannya.
"Apa itu?" Tanya Xabiru yang sudah kelelahan. Sudah pukul 9 malam, dan ia masih punya 20 an dokumen yang belum diperiksa.
"Proposal kerja sama dari keluarga Waverly. Mereka bukan hanya ingin bekerja sama, tapi juga berinvestasi. Aku tidak bisa memutuskannya, karena aku tahu nona muda dari keluarga besar ini." Ucap Clode.
Xabiru memijat pangkal hidungnya, "Kemarikan, simpan di tempat yang berbeda. Aku mau menyelesaikan sisa dokumen ini dulu. Aku akan memeriksanya besok, dan memutuskannya bersama dengan Asta. Bagaimanapun, Waverly masih keluarga besarnya." Ucap Xabiru.
Clode kemudian mengangguk, dan menyimpan dokumen di sisi berbeda dengan tumpukan dokumen yang tersisa. Setelahnya, ia pun kembali meninggalkan Xabiru sendirian.
"Clode, tolong buatkan aku kopi. Aku mengantuk, tapi aku ingin menyelesaikan semuanya hari ini. Karena aku yakin, besok pasti akan ada dokumen baru, bukan?" Ucap Xabiru mengeluh.
Clode menyunggingkan ujung bibirnya kecil, kemudian mengangguk dan pergi tanpa suara.
*
"Ah akhirnya selesai juga! Sial, pinggangku, sakit sekali!" Keluh Xabiru yang begitu berdiri dari duduknya, ia langsung membungkukkan badannya karena rasa sakit dari pinggangnya.
Terlalu lama duduk, akhirnya pinggang dan punggungnya sakit juga pegal.
Xabiru perlahan kembali berdiri, menatap kosong gelas yang tadi berisi kopi tapi kini sudah tandas. Kemudian beralih pada jam dinding. "Sial pukul 12, dokumen menyebalkan, bahkan menyita waktuku dengan Asta di malam hari. Ah, aku tidak bisa pulang dan menemui Asta jika begini." Keluhnya lagi.
Bukan tidak bisa, hanya saja, Asta yang menetapkan aturan. Jika sudah jam 12 dan dirinya masih di markas, maka Asta tidak memperbolehkan Xabiru pulang, dan menyuruhnya untuk tidur di kamarnya yang ada di markas saja.
Selain berbahaya, tengah malam bisa membuat Xabiru mengantuk. Asta tidak mau hal-hal seperti kecelakaan mobil terjadi pada Xabiru. Jadi, Xabiru pun hanya bisa menurutinya sambil mengeluh dalam hati.
__ADS_1
Xabiru menguap, kemudian ia berjalan meninggalkan kantor dengan langkah gontai. Jelas terlihat ia kelelahan dan jenuh. Lorong kantor sudah gelap, tapi Xabiru tidak peduli dan terus berjalan menuju kamarnya.
Sedikit jauh, karena ada di ruang bawah tanah tempat dimana para pengawal di latih. Tapi meski begitu, ada lift rahasia di ujung lorong, jadi Xabiru tidak memakan waktu banyak untuk sampai.
Hanya sekitar dua puluh menit, dan Xabiru akhirnya sampai. Ia membuka pintu, kamarnya gelap dengan cahaya remang dari lampu tidur di atas nakas.
Tapi dengan cahaya tersebut, Xabiru langsung melebarkan kedua matanya. Senyum lebar juga ia tampilkan begitu melihat sesosok wanita yang tertidur damai di atas kasurnya.
"Sayang...." Ucapnya tertahan, dengan perasaan gembira. Ia kemudian menutup pintu pelan, dan berjalan pelan seperti pencuri, hanya untuk tidak membangunkan Asta yang terlelap.
"Tidak disangka, kau datang untuk menemaniku tidur." Bisiknya dengan senyum dan raut terharu. Tentu saja, siang tadi ia sudah membuatnya marah dan kesal sampai dirinya dipukul dan diumpati.
Tapi lihatlah, malam harinya malah istrinya ini sudah tidur di atas kasurnya. Jika bukan untuk menemaninya, maka untuk apa lagi?
Xabiru lagi-lagi tersenyum tertahan, menatap wajah damai Asta dengan posisi berlutut di samping tempat tidur. Tidak langsung naik dan tidur bersama, karena Xabiru masih harus membersihkan diri. Ia akan merasa sangat tidak nyaman jika belum membersihkan dirinya.
Akhirnya, setelah melihat wajah Asta sampai puas, ia berdiri, mengecup dahi Asta dan langsung berlalu ke kamar mandi.
Asta membuka mata, ia tahu Xabiru sudah datang dan sengaja pura-pura tertidur hanya agar Xabiru tidak meminta jatahnya lagi.
Ia datang, murni hanya untuk menemaninya tidur. Karena setelah seharian bekerja, ia sendiri butuh energi, dan dari Xabiru lah ia dapatkan. Meski seringkali kesal dengan sifat dan perilakunya yang semakin menyebalkan, tapi Asta tidak bisa membohongi dirinya sendiri, jika di malam hari, ia butuh Xabiru untuk tertidur nyenyak.
Begitupula Xabiru, ia juga butuh energi dari Asta. Keduanya saling membutuhkan, dan saling melengkapi satu sama lain.
*
*
Hallo gaiss! Akhirnya aku nepatin janji ya!
__ADS_1
Selamat membaca, semoga suka ❤️😚