Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Terdesak


__ADS_3

*


*


"Keluar! Bukankah kalian tadi masih bisa menyombongkan diri?! Hahaha! Sekarang apa?! Takut, heh?" Pekik pimpinan lawan tertawa puas. Mengejek Xabiru dan Clode yang bersembunyi darinya.


Clode dan Xabiru masih tetap bersembunyi di balik dua sofa yang dirangkapkan menutupi keduanya dengan baik.


Lawan, kini ada sekitar 20 orang di aula, termasuk pemimpinnya. Ada sekitar 30 orang yang tadi masuk ke dalam aula dan membantu. Sisa orang yang membantu sudah tergeletak tak sadarkan diri di aula dengan darah mengucur. Mati.


Anak buah yang di bawa Clode juga tergeletak, ada yang mati, juga ada yang terluka parah. Tapi semuanya memang tidak sadarkan diri. Menyisakan Xabiru dan Clode saja di aula.


6 orang, melawan puluhan orang, menyisakan sekitar 20 orang saja di pihak lawan adalah hal menakjubkan. Tapi, tetap saja kalah jumlah orang. Dan kini, karena kalah jumlah, pihak Xabiru pun terdesak. Peluru dan tenaga sudah habis terkuras. Menyisakan kelelahan dan luka yang diabaikan keduanya.


Tidak ada waktu merasakan sakit dari luka, keduanya masih harus waspada dan bertahan sampai bala bantuan tiba. Alhasil, abai adalah satu-satunya jalan yang bisa diambil kini.


Apalagi, K2 di depan. Meski masih terdengar tembakan dan suara orang bertarung, K2 masih belum masuk ke aula, Xabiru dan Clode hanya bisa menyimpulkan mungkin K2 juga sama terdesaknya dengan keduanya.


Keduanya menjadi cemas. Keduanya tidak akan bisa bertahan lama. Peluru yang tersisa benar-benar sudah dipakai semua. Meski memegang senjata, keduanya hanya memgang pistol kosong dan belati. Masing-masing memegang satu.


Melawan 20 orang yang tersisa dengan belati, bukankah cari mati? Sebelum keduanya maju, keduanya mungkin sudah mati tertembak. Karena ke 20 orang lawan masing-masing memegang pistol.


Perbedaan jumlah, perbedaan senjata, habis sudah. Keduanya benar-benar merasa terdesak. Buntu tidak tahu harus melakukan apa. Ruang untuk bersembunyi juga tidak banyak. Dan lawan terus memeluk mengatai dan mengejek keduanya, seolah senang bermain-main dengan keduanya yang masih bersembunyi.


Lawan juga bergerak maju ke tempat persembunyian Xabiru dan Clode. Keduanya hanya bisa diam, memegang belati dengan kuat di tangan masing-masing. Bersiap menikam orang yang datang sekaligus.


Tapi sebelum keduanya melakukan hal tersebut, lampu tiba-tiba kembali mati. Membuat Xabiru dan Clode saling menatap di kegelapan.


"Pakai kacamata night vision cepat. Kita harus bisa menyelinap keluar dari sini." Ucap Xabiru berbisik pada Clode.

__ADS_1


Tapi Clode menggeleng, ia tidak membawa kacamatanya saat ini. Membuat Xabiru berdecak. Terkadang, Clode memang seceroboh ini jika sudah panik perihal Xabiru yang berada dalam bahaya.


Ketika di tangkap dulu, Clode yang kuat juga melakukan kecerobohan hanya karena Xabiru terluka dan tak sadarkan diri di tangan Ayahnya yang merebut Alexander.


"Pegang tanganku." Bisiknya lagi, kemudian keduanya keluar dari tempat persembunyian. Yang paling menguntungkan adalah, orang yang memakai kacamata hanya pimpinannya saja. Jadi, ketika pimpinan lawan mengarah ke arah lain, Xabiru menarik Clode berlari dengan cepat menuju pintu aula.


Sampai keduanya mencapai pintu, pimpinan kemudian menyadari kehadirannya. Membuat pimpinan lawan langsung berteriak dan melepaskan tembakan ke arah Xabiru.


Xabiru dengan sigap keluar aula, dan langsung menutup pintu aula. Membuat pintu sebagai tameng. Keduanya merunduk karena tahu pasti peluru menembus pintu. Setelah beberapa saat, keduanya sadar dan menatap semua kediaman yang gelap gulita, suara kelahi dan tembakan K2 juga mulai hilang. Tak ada waktu melihat K2, keduanya kembali melanjutkan pelarian ke arah belakang, ke tempat di mana Asta masuk tadi.


Tapi karena jarak yang jauh, dan Clode yang dibawa tidak memakai kacamata, lalu pimpinan lawan yang sudah mengejar, Xabiru dengan panik dan masuk untuk bersembunyi di salah satu ruangan kosong.


Xabiru meninggalkan Clode di sana sendirian, dan dirinya keluar, kembali berlari untuk mengalihkan perhatian pimpinan lawan yang mengejarnya dengan tembakan yang diluncurkan padanya.


Meleset. Xabiru masih memiliki keberuntungan untuk selamat. Tapi karena Xabiri tahu tembakan tidak akan selalu meleset, ia kemudian bersembunyi di balik pilar. Dan tembakan kembali terdengar, mengenai pilar. Membuat Xabiru menghela nafas.


Xabiru kembali berlari setelah tembakan ke empat. Karena Pimpinan lawan juga semakin mendekat padanya. Melihat lorong yang berbelok, Xabiru langsung mempercepat larinya.


Xabiru dengan cepat berbelok ke lorong sebelah kirinya. Menunggu di sana untuk menyerang. Belati yang dipakainya juga sudah siap sedia ia pegang erat-erat.


"SIALAN, KAU!" Teriak pimpinan lawan emosi. Kemudian ia kembali berjalan dengan satu tangan memegangi kepalanya yang berdarah, dan satu tangan memegangi pistolnya.


Tapi ia kehilangan jejak Xabiru, jadi ia sempat ragu memilih lorong. Sebelah kiri atau sebelah kanan, tapi kemudian ia berbelok ke kanan dengan waspada. Xabiru melihat kesempatan, dan langsung menerjang pimpinan lawan.


Menusuk punggung dan perut sekaligus dua kali berturut-turut. Tapi pimpinan lawan, meskipun kesakitan, langsung berbalik dengan menembakkan pistol ke kaki Xabiru.


Xabiru menjerit kesakitan. Tapi ia kemudian menggerakkan giginya menahan rasa sakit, dan keduanya berhadapan dengan memegang luka masing-masing, tak lupa wajah tidak bersahabat keduanya tampilkan.


"Cuih! Lemah!" Hina Xabiru, sengaja memprovokasi pimpinan lawan, agar dengan cepat menerjangnya.

__ADS_1


Xabiru menghitung peluru dari pistol yang dipegangnya. Paling banyak adalah sekitar 8 peluru. Sebelumnya sudah dipakai 7 kali, dan barusan peluru terakhir sudah ditembakkan pada kaki Xabiru.


Xabiru tidak takut kini, meski keduanya berhadapan dengan lawan yang mengacungkan pistol padanya. Justru ia tersenyum mengejek lawan. Lawan yang emosi, menarik pelatuk, tapi tidak ada peluru yang keluar, membuat Xabiri tersenyum sinis.


Tidak menunggu waktu lagi, Xabiru langsung menerjang pimpinan lawan dan keduanya beradu kekuatan fisik. Xabiru memegang belati dan pimpinan lawan memegang pistol kosong.


Xabiru belum berhasil menusuk lawan lagi, tapi berhasil menggoresnya dengan belati. Xabiru sendiri terkena pukulan pistol kosong tepat di pipi dan bahunya, karena kakinya yang kesakitan, membuatnya tidak segesit sebelumnya.


Sampai akhirnya, Xabiru berhasil menjatuhkan lawan, belati telah mengacung ke atas dan bersiap menusuk dada lawan, seseorang datang menyelamatkan pimpinan lawan.


Xabiru melihat ke belakang, Clode di sandera beberapa orang yang dilihatnya di aula tadi. Membuat Xabiru menghentikan tangannya dan menjauh, mengangkat kedua tangan, belati juga sudah disimpan di lantai, menuruti orang yang kini menodongkan pistol pada Clode.


"Maaf Tuan muda." Ucap Clode menyesal.


DOR!


DOR!


DOR!


Sebelum Xabiru menjawab ucapan Clode, dari belakang terdengar tembakan dan triakan kesakitan. Beberapa orang yang berada di belakang orang yang menyandera Clode tergeletak mati.


"Sekarang, Clode!" Pekik Xabiru, membuat Clode secepat kilat, menyiku perut orang yang menahannya, dan langsung merebut pistol dari tangannya. Kemudian menembak mati orang yang menyanderanya.


Terlihat Asta di belakang, mengacungkan pistol dengan senyum kecil alis dinaikkan. Tapi mata Asta kemudian beralih pada orang yang di samping kanan Xabiru, bangun dan mengambil pisau di lantai dengan cepat.


"XABIRU DI BELAKANGMU!" Teriak Asta dari belakang Clode, dan berlari cepat pada Xabiru.


*

__ADS_1


*


__ADS_2