
*
*
Asta menyipitkan sebelah matanya sedikit, untuk melihat ke arah kamar mandi, dimana Xabiru sudah lama masuk ke dalamnya. Asta menunggu, ia tidak bisa terlelap sama sekali karena Xabiru belum datang dan tidur bersama.
Sekali lagi, Asta tidak bisa tidur nyenyak jika dirinya tidak tidur dengan Xabiru. Apalagi sejak dirinya masuk rumah sakit dan mengungkap identitas dirinya sendiri.
Seolah tubuhnya tergantung pada keberadaan Xabiru. Alam bawah sadarnya dengan kuat menolak untuk tidur jika Xabiru belum ada di sisinya.
"Ck, lama sekali. Seperti mandi perawan saja!" Gerutu Asta seraya berdecak dengan sebal. Kemudian ia membalikkan tubuhnya, memunggungi pintu kamar mandi, ia jadi memeluk guling untuk meredam kekesalannya.
Ia mencoba memejamkan matanya seraya menunggu kedatangannya. Tapi Xabiru tidak kunjung datang setelah dirinya menambah jangka waktu tunggu Xabiru yang sedang mandi.
Akhirnya, Asta memaksakan diri bangun. Ia jadi khawatir terjadi apa-apa pada Xabiru karena waktu yang dipakainya untuk mandi kali ini sangat lama. Padahal biasanya hanya sekitar 7 atau menit. Tapi sejak ia masuk dan lebih sabar menunggu, sudah sekitar 30 menit ia di dalam kamar mandi.
Dengan kening mengerut, Asta berjalan dan mengetuk pintu kamar mandi tiga kali. Karena tidak ada jawaban, ia akhirnya mencoba membuka pintu. Dan terbuka, pintu tidak dikunci.
"Astaga, aku menunggunya dengan sia-sia. Lihat dia, enak-enakan tidur di bathup." Gumam Asta memicing kesal.
Ia kemudian masuk, dan berjalan mendekati Xabiru untuk membangunkannya. Ia berendam dan tertidur, untung saja Asta datang. Jika tidak, ah mungkin ia akan sakit jika dibiarkan tidur di sana sepanjang malam.
Asta sampai di samping Xabiru yang hanya terlihat kepalanya saja, juga lutut sedikit. Kedua tangannya ada di sisi kiri dan kanan bathup.
Asta kemudian mengulurkan tangan hendak menepuk pipi Xabiru pelan, agar Xabiru bangun. Tapi dengan cepat Asta tercebur ke dalam bathup.
"XABIRU!" Teriak Asta marah, menatap tajam laki-laki yang kini menatapnya dengan senyum tak bersalah. Tatapan matanya terlihat jenaka, dan puas telah membuat Asta ikut masuk ke dalamnya.
"Disini!" Balas Xabiru lantang seraya tertawa.
"Kau menyebalkan!" Pekik Asta, seraya memukul air hingga terciprat kemana-mana. Bahkan wajah Xabiru dan dirinya sendiri juga tak terlewat.
__ADS_1
"Kau jahil, aku balas. Siapa suruh pura-pura tidur?" Tanya Xabiru dengan mata memicing. Ia mengedikkan bahunya ke depan bertanya pada Asta.
Ia tahu Asta pura-pura tidur. Juga sengaja tidak membongkarnya sekaligus hanya karena ia punya ide yang lebih baik. Dan inilah hasilnya. Asta masuk dan membuka ke pura-puraannya sendiri.
Mudah, dan selesai dengan cepat.
"Ck!" Decak Asta, kemudian bangkit dan keluar dari bathup. Xabiru juga tidak menahannya dan langsung ikut keluar. Airnya sudah dingin, ia juga tidak mau masuk angin, apalagi sebelumnya ia minum kopi dan hei, ini tengah malam.
"Aku kira tidak pakai celana." Gumam Asta yang tadinya mau memarahi Xabiru lagi.
"Apa? Kau mau melihatku tidak pakai celana?" Tanya Xabiru pura-pura salah dengan, padahal aslinya ia tersenyum jahil.
"Bersihkan telingamu, Tuli!" Ucap Asta dengan wajah mengejek. Ia mengambil handuk yang ada di balik pintu. Lalu memakaikannya ke tubuhnya. Meski masih ada baju basah, tapi untuk sementara sebelum dirinya menggantinya dengan yang kering.
"Cepat selesaikan, sudah tengah malam. Jangan sampai kau sakit besok." Lanjut Asta, kemudian keluar meninggalkan Xabiru secepat kilat sebelum Xabiru melakukan hal lain padanya.
Xabiru mendengus, ia kalah cepat dengan kecepatan Asta pergi. "Ck, tenang, masih banyak waktu." Gumamnya pada dirinya sendiri.
*
Tapi Xabiru enggan melepasnya. Membuat Asta berdecak kesal. Tapi ia juga tidak memberontak, karena ia tahu jelas semalam Xabiru sibuk sampai malam. Asta mengalah, dan membiarkan Xabiru tetap terlelap agar ia bisa istirahat lebih lama. Dan setelah bangun, ia bisa lebih segar juga.
"Peluk aku, dingin." Bisik Xabiru disela tidurnya.
Asta mengernyitkan keningnya, "Dingin apanya, selimut sudah menutupimu, tahu." Gerutu Asta.
Xabiru tertawa kecil. "Baiklah, aku hanya minta dipeluk, kau tidak mau?" Tanyanya.
"CK! Banyak maunya." Ucap Asta tapi ia bergerak dan memeluk Xabiru, membuat Xabiru menelusupkan kepalanya di leher Asta.
Nafas hangat dan dengkuran halus terdengar tak lama kemudian. Xabiru tidur lagi, dan Asta diam di tempat memeluk bayi besarnya. Kemudian, Asta juga kembali terlelap karena merasa bosan, menunggu Xabiru tidur.
__ADS_1
Sampai ketukan di pintu kamarnya, tepat pukul 8 pagi. Keduanya kembali bangun. Xabiru mengecup bibir Asta dan tersenyum manis. Sedangkan Asta mengetuk dahinya dengan telunjuk yang dilipat.
"Bangun, kau harus melatih anak buahmu. Aku juga harus membantu di toko." Ucap Asta dengan suara serak khas bangun tidur.
"Tidak mau." Ucap Xabiru, kemudian ia kembali mengecup bibir Asta, tidak hanya sekali tapi berkali-kali karena gemas.
Asta menangkap wajah Xabiru dengan satu tangan, menghentikan gerakan yang membuatnya kesal. "Jika tidak mau bangun, biarkan aku pergi, oke? Toko tidak ada yang bantu, Xabiru." Ucap Asta seraya menghela nafas.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu kembali terdengar.
"Ck, siapa sih? Menggangu saja!" Desis Xabiru kesal.
"Tuan muda, anak-anak sudah menunggu."
Suara Clode. Clode lah yang mengetuk pintu membangunkan Xabiru. Seharusnya pelatihan dimulai pukul 6 pagi. Dan Clode sudah mengarahkan anak buah Xabiru agar berlatih sendirian lebih dulu. Sudah dua jam sejak semuanya berlatih sendiri.
Xabiru harus bangun. Dan Clode juga ada urusannya sendiri, ia punya tugas dari Xabiru jika pagi-pagi. Kecuali siang datang, maka itu adalah giliran dirinya yang melatih.
Xabiru sendiri yang mengatakan jika peraturan tersebut merupakan ketetapan. Tidak bisa diubah apapun yang terjadi, termasuk jika dirinya kesiangan. Dan Clode sangat mematuhi perintah Xabiru, meski Clode memberikan keringanan selama dua jam hari ini.
"Ya, tunggu sebentar aku bersih-bersih dulu." Pekik Xabiru agak kencang, sehingga dapat terdengar oleh Clode yang ada di luar kamar.
"Baik, tuan muda. Jangan berlama-lama, kau sudah diberi keringanan selama dua jam!" Dengan tegas memperingati Xabiru.
Xabiru mendengus kecil. Sedangkan Asta tergelak kecil mendengar nada tegas dan memerintah dari Clode. Memang hanya Clode saja yang berani berbicara begitu pada Xabiru.
Ah, lagipula Clode benar berlaku begitu. Bukan hanya bos saja yang bisa dengan tegas memerintah. Tapi bawahan juga bisa jika bos memang lalai dari tugasnya.
Asta dan Xabiru, keduanya sama-sama mempersilahkan juga. Jika memang Xabiru atau Asta yang sebagai bos ada dalam posisi salah.
__ADS_1
*
*