
*
*
Setelah sarapan selesai, keduanya kemudian masuk ke dalam cincin ruang. Aura sejuk langsung menghembus ke arah keduanya, membuat keduanya merasa segar.
Xabiru melihat semua tanaman yang ditanam, ketika melihatnya sudah berbuah dengan segar, Xabiru langsung melihat Asta. "Apa sudah waktunya panen, ya?" Tanya Xabiru.
"Sepertinya masih harus menunggu satu hari? Aku rasa." Balas Asta.
Kemudian Xabiru mengangguk dengan senyum menawannya. Setelahnya ia beralih pada ayam-ayam yang sudah bertelur lagi.
Kedua mata Xabiru melebar, dengan semangat ia mendekati ayam-ayam yang sedang mematuk di tanah. Di sampingnya ada dua gunungan telur.
"Asta! Cepat simpan telurnya ke gudang." Ucap Xabiru seraya menunjuk telur-telur putih di samping Ayam. Dengan wajah polos ia menatap Asta dan telur bergantian.
Asta tertawa kecil, kemudian menurut dan langsung menggerakkan tangannya, seketika telur-telurpun terbang dan masuk ke gudang, tersimpan dengan aman disana.
"Ah Asta, apa menurutmu Ayamnya bertambah banyak?" Tanya Xabiru bingung.
"Memang, telurnya jika tidak dimasukkan ke gudang, maka akan menetas sendiri. Pengaruh ruangan sangat bagus untuk pertumbuhan telur dan ayam-ayam. Jika toserba buka, selain menjual telur, nanti kita bisa memotong ayam yang sudah dewasa dan menjual daging mentahnya." Jelas Asta membuat mata Xabiru makin berbinar.
"Astaga, harta Karun! Kita benaran akan buka toserba sendiri, mari kita tambahkan hal lainnya. Menurutmu apa lagi yang perlu kita tambahkan di dalam sini?" Tanya Xabiru semangat. Kini ia sudah kembali ke samping Asta dan menatapnya.
"Oh ya, aku sudah memikirkan hal ini. Untuk tanaman obat, apa kita jadi menanamnya? Lalu, jika kau menjualnya pada perusahaan farmasi di kota, bagaimana jika kau ketahuan orang-orang keluarga Alexander?" Tanya Asta. Ia sudah memikirkan hal ini beberapa hari ke belakang.
Di kampung, desa, dan kabupaten, Xabiru dan Asta tidak dikenali, karena memang keduanya jarang sekali keluar dan tidak diliput oleh media. Jikapun ada hanya sekadar kabar tanpa kabar. Tapi berbeda dengan orang-orang di kota.
__ADS_1
Banyak kolega Alexander, juga banyak kolega Xabiru, ada pula musuhnya. Setiap saat, di kota, Xabiru selalu dikelilingi bahaya. Jadi, Asta berpikir, lebih baik tidak menjual obat herbal. Apalagi, perusahaan Farmasi di kota memang salah satu rekan kerjasama Alexander.
Xabiru menatap raut khawatir Asta. Kemudian ia tersenyum. Tangannya terangkat dan memegang pipi Asta. "Kita tidak bisa terus menghindar." Ucap Xabiru.
"Aku, bukan, maksudku bukan menghindar, hanya saja belum waktunya, kan? Kita masih belum punya kekuatan sendiri." Keluh Asta dengan raut cemberut.
"Apa kau lupa? Obat herbal ini, ditanam semakin lama akan semakin bagus? Jadi, meskipun kita menanamnya di ruangan, mau 1 bulan bahkan 1 tahun, obat herbal tidak akan menjadi busuk, tapi malah semakin bagus dan khasiatnya akan bertambah. Jadi, ayo tanam dulu saja nanti. Sisanya, mari bangun kekuatan sama-sama lebih dulu. Bagaimana jika seperti ini?" Tanya Xabiru seraya tersenyum.
Asta melebarkan matanya, kemudian tertawa canggung. "Kau benar, aku melupakan hal ini. Baiklah, nanti kita beli benih obat herbal. Sisanya, mau berapa lama, pasti akan terjual akhirnya. Anggap saja menyimpan harta!" Seru Asta seraya menganggukkan kepalanya.
Xabiru mengangguk, kemudian ia menarik Asta agar duduk di atas rerumputan. Keduanya saling berhadapan.
"Mari bicara, tentang toserba. Karena tanaman di belakang halaman akan kita panen besok, bagaimana dengan setelah panen kita langsung pindah ke kabupaten?" Tanya Xabiru.
"Boleh, tapi, apa kau yakin toserba akan langsung ramai? Kita masih harus mempromosikan toserba sebelum membukanya, kan?" Tanya Asta.
"Apa mereka mau jauh-jauh ke kabupaten hanya untuk membeli di toserba kita? Apalagi harganya di atas rata-rata." Ucap Asta.
"Hei! Tentu saja, mau. Semua yang ada di toserba kita mempunyai sentuhan ajaib. Khasiat dan rasanya lebih-lebih banyak dari yang lainnya." Ucap Xabiru seraya merentangkan kedua tangannya.
Asta tertawa kecil, ia tahu ini, ia hanya ingin menggoda Xabiru saja. Tidak salah kan? Suka saja melihat Xabiru yang kata orang-orang irit bicara, malah suka bicara di depan istrinya yang bahkan dulu lumpuh ini.
Asta dan Xabiru sudah dekat dari kecil. Hanya saja karena kecelakaan dan kesibukan Xabiru keduanya jadi jarang interaksi. Alhasil, Xabiru makin pendiam dan Asta suka mengurung diri di kamarnya.
Tapi lihatlah kini, meski keduanya hidup miskin, dan Asta lumpuh, tapi Xabiru memang benar-benar se sayang itu pada Asta-nya. Betapa beruntungnya Asta dipertemukan dengan Xabiru.
Asta memejamkan kedua matanya sebebntar. Ia jadi sadar ia bukan Asta sesungguhnya. Tapi ia tidak mau memikirkan hal yang belum tentu dulu. Biarlah dirinya menikmati masa-masa ini dulu. Bukan merebut, tapi menjalani hal yang mungkin sudah ditakdirkan?
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" Tanya Xabiru, ia menangkup kedua pipi Asta dan menatapnya lekat-lekat.
Asta mengerjapkan kedua matanya lucu, bibirnya sedikit maju karena tangan Xabiru yang menangkup pipinya. Kemudian Asta menganggukkan kepalanya.
Xabiru gemas bukan main. Kemudian ia menguel-nguel pipi Asta sebentar, dan menciumnya. Asta memejamkan matanya, menerima ciuman dari Xabiru.
"Ayo kita lihat kura-kura!" Seru Xabiru kemudian. Membuat Asta tertawa kecil. Xabiru ini laki-laki dewasa atau bukan?
Disaat sedang hangat, malah tiba-tiba berpikir ke hal lain? Benar-benar, deh, Asta yang dulu pasti banyak maklumnya sama seperti dirinya sekarang.
"Duduk saja, aku akan bawakan kura-kuranya kemari." Ucap Asta, kemudian mengangkat tangannya dan menerbangkan satu kura-kura, mendaratkannya di depan keduanya.
Mata Xabiru melebar, ia dengan semangat mendekati kura-kura yang ukurannya sudah lebih besar dalam waktu berapa hari saja.
"Hebat! Apa hewan lainnya juga sudah sebesar ini? Ah, aku lupa hewan apa saja yang aku beli kemarin?" Tanya Xabiru seraya tertawa.
"Kemari, kemari, ayo sapa Ayahmu." Ucap Xabiru, seraya mengambil kura-kura berukuran sedang. Kemudian berbalik dan menunjukkannya pada Asta.
"Lihat! Sudah sebesar ini. Apa kita juga mau menjualnya, Hmm? Apa mau sekalian membudidayakan kura-kura?" Tanya Xabiru lagi.
Asta belum menjawab satupun pertanyaan Xabiru, tapi Xabiru lagi dan lagi selalu bertanya hal baru. Otaknya ini memang otak bisnis, bukan. Banyak sekali akalnya.
"Ayolah, kita budidayakan ikan saja. Supaya bisa dijual di toserba juga. Jadi banyak ikan segar nanti. Bagaimana?" Tanya Asta seraya tersenyum.
*
*
__ADS_1