Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Kesibukan Xabiru dan Permintaan Asta


__ADS_3

*


*


"Aku salah, jangan diami aku, sayang?" Bujuk Asta tak henti-hentinya, sudah tiga jam sejak ia didiami Xabiru yang marah karena Asta tidak mendengarkannya, tentang jangan ikut turun tangan.


Ternyata, Clode yang memberitahu Xabiru perihal Asta yang datang ke ibukota. Kafe tempat pertemuan ketiganya diketahui Clode ketika Clode hendak membeli coffee untuk menemani dirinya yang akan memantau di area lain di perusahaan.


Clode sendiri enggan menyapa nona mudanya, karena tahu, jika nona mudanya sedang membantu tuan mudanya mendapatkan suara. Tapi akhirnya ia sendiri tidak tahan membocorkan rahasia pada tuan mudanya karena merasa bersalah telah menyembunyikan hal yang mungkin menurut tuan mudanya besar.


Apalagi nona mudanya sedang mengandung.


Bukan hanya Asta, tapi akhirnya Clode juga dihukum oleh Xabiru karena ketika ia melihat nona mudanya, bukan hanya tidak menghentikan dan menemani untuk melindunginya, tapi malah membiarkannya. Juga, Asta pulang sendiri dan menyetir sendiri. Betapa berbahayanya bagi ibu hamil kan?!


"Jangan ganggu aku." Ucap Xabiru dingin.


Tidak suka. Xabiru tidak suka dibantah dan tidak suka dibohongi. Apalagi, Asta sebenarnya belum pulih total, terlebih ia sedang mengandung dan kandungannya tidak terlalu kuat.


Oke. Asta kembali dengan selamat, tapi jika ada saja sedikit kecelakaan, maka Xabiru bukan hanya marah, tapi mungkin akan kembali menyalahkan dirinya sendiri.


Sebetulnya, Xabiru hanya takut dan khawatir. Apalagi setelah kejadian berdarah kemarin, anaknya bahkan hampir tidak tertolong. Bagaimana jika kejadian kemarin terulang?


Fatal sekali. Xabiru tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Dengar, Asta, ketahui batasanmu. Kau tahu sifatku bagaimana. Tapi kau malah dengan sengaja melanggarnya?! Senangkah membuatku marah begini?" Tanya Xabiru datar.


Asta menggigit bibirnya menahan tangis. Kedua matanya berkaca-kaca. Kemudian menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak, aku salah. Jangan marah, um? Aku, aku hanya ingin membantu. Lagipula ini juga masalahku." Ucap Asta dengan suara gemetar.


"Kau tidak mendengar ucapanku tempo hari? Bukankah aku bilang biarkan aku yang menanganinya kali ini? Masalahku, masalahmu begitupun sebaliknya. Kau sedang tidak sehat, makanya aku melarangmu. Kalau kau sehat, aku juga akan dengan sukarela mengajak dan membiarkanmu ikut andil. Oke, kau kembali dengan aman kali ini, kau juga berhasil membujuk mereka, tapi bagaimana jika hal-hal tidak diinginkan terjadi padamu?! Siapa yang menderita akhirnya?! Aku, Asta! Aku tidak bisa jika harus melihatmu terluka lagi! Cukup kemarin aku lalai membiarkanmu terluka. Aku tidak ingin semuanya terjadi lagi!" Jelas Xabiru emosional.

__ADS_1


Asta sudah menangis di tempat tidurnya. Tangannya menggenggam kedua tangan Xabiru. Ia mengerti ketakutan Xabiru, ia juga merasakannya dulu. Kali ini, memang salahnya, dan ia mengakuinya.


"Aku hiks minta maaf..." Isak Asta.


Xabiru memejamkan kedua matanya, menekan amarah yang masih meluap-luap minta dikeluarkan dari hati dan pikirannya.


Baik, ia mengalah.


Xabiru memeluk Asta dengan mata terpejam. "Diam, biarkan aku memelukmu untuk meredakan amarahku. Jangan menangis lagi, tenangkan aku." Bisik Xabiru akhirnya.


*


Besoknya, berita pergantian direktur perusahaan Unind pun keluar. Dan surat pengeluaran orang-orang yang berlaku curang juga turun bersamaan. Jajaran direksi dan Staff mengalami perombakan secara besar-besaran.


Satu Minggu setelah perbaikan, muncul kembali berita perusahaan Unind dan Xabasta. Keduanya Merger, membuat heboh seluruh direksi dan staff perusahaan Unind.


Nama Xabiru kembali melambung, tapi bukan dengan Alexander, namanya melambung bersamaan dengan Xabasta yang sudah mulai naik daun.


"Sayang? Nanti lagi bisa tidak? Temani aku makan dulu." Bujuk Asta dengan raut sebal. Sudah satu Minggu lebih Xabiru sibuk sendiri. Bahkan Asta dan calon bayinya sering diabaikan. Tidurpun kini sering sendirian. Xabiru lebih memilih begadang menyelesaikan pekerjaannya yang semakin menumpuk semenjak dua perusahaan Merger.


"Sebentar lagi, ya, sayang. Tunggu sebentar." Ucap Xabiru yang tidak mengalihkan pandangannya sama sekali pada Asta.


Asta berdecak sebal. "Yasudah, aku makan dengan Clode dengan K1 saja." Desis Asta, ia meraih paper bag berisi bekal makannya dan berdiri, berniat meninggalkan Xabiru yang tidak meliriknya sama sekali.


"TIDAK BOLEH! SAYANG!" Pekik Xabiru yang dengan cepat berdiri dan berlari menghampiri Asta yang sudah setengah jalan menuju pintu keluar.


"Ck, minggir! Aku lapar, aku tidak mau menunggu orang sibuk!" Desis Asta.


"Tidak sibuk! Ayo, ayo, kita makan sekarang ya? Jangan marah oke? Ayo aku kita makan, aku tidak sibuk sama sekali." Ucap Xabiru dengan senyum lebar hingga matanya menyipit.

__ADS_1


"Tapi aku tetap mau makan dengan Clode dan K1!" Ucap Asta mencebikkan bibirnya. "Sepertinya keinginan calon bayi kita?" Lanjut Asta dengan ragu.


"Hah?!" Pekik Xabiru terkejut. "Tidak mau, tidak boleh! Tolonglah, sayang? Kali ini saja, um?" Bujuk Xabiru dengan wajah memelas.


Bukan satu dua kali Asta ngidam ingin ditemani makan oleh dua pengawal setianya. Juga berkali-kali Asta bukan hanya sekedar ingin ditemani. Asta bahkan ingin jalan-jalan berdua dengan K1, selain itu Asta juga ingin perutnya di elus oleh Clode.


Dan yang lainnya, yang sialnya selalu berhubungan dengan Clode dan K1! Betapa menyebalkannya calon bayi yang bahkan belum lahir tersebut di mata Xabiru.


Ia tidak rela Asta nya dengan yang lain. Tapi ia juga tidak berdaya dengan permintaan Asta. Alhasil, selain menurut, ia hanya bisa mengeluh dan menyibukkan diri agar dirinya tidak selalu emosi dibuat calon anaknya.


Xabiru sibuk, dan Asta juga tak kalah sibuk mengidam.


Mata Asta mulai berkaca-kaca. "Tapikan, bukan aku yang ingin." Ucapnya dengan nada suara yang mulai bergetar.


Xabiru mengacak rambutnya frustasi. Beginilah, jika permintaannya ditolak maka Asta akan menangis. Xabiru paling tidak bisa melihat Asta menangis. Ketika Asta berbuat salah, Xabiru marah, dan Asta menangis karena dimarahi, Xabiru langsung mengalah dan berakhir memeluk Asta untuk menenangkan dirinya sendiri. Untuk menekan emosinya.


Apalagi ini? Permintaan kecil, hanya sekedar makan.


"Baiklah, sekarang duduk di sofa, aku akan memanggil Clode dan K1 kemari. Begini baik, kan?" Tanya Xabiru dengan nada lembut setelah mengacak rambut sebelumnya.


Asta mengangguk dan dengan patuh berjalan menghampiri sofa. Ia kemudian membuka paper bag dan menyusun kotak makan yang dibawanya. Sedangkan Xabiru mendengus diam-diam, mengeluh dalam hati perihal permintaan aneh-aneh Asta. Ia kemudian meraih telfon kantor, dan menghubungi tempat pelatihan dimana Clode dan K1 kini bertugas.


Setelah dihubungi, tak lama keduanya datang. Wajah keduanya tanpa ekspresi, tapi aslinya keduanya mengeluh juga. Karena meskipun Xabiru memanggilnya, Xabiru sendiri tetap memelototi dan menatap tajam keduanya dari awal hingga akhir setiap kali Asta minta ditemani keduanya.


Sampai keduanya merasa, tatapan Xabiru dapat membunuhnya kapan saja keduanya bergerak.


*


*

__ADS_1


__ADS_2