
*
*
"Tidak ada waktu, cepat buka gemboknya dulu." Ucap Kakek Xabiru seraya menunjuk gembok penjara dengan rantai.
"Kakek aku tidak punya kuncinya, bagaimana dengan menembakkan peluru? Tapi, aku rasa akan mengundang guru bela diri itu karena suara tembakan yang keras, bagaimana menurutmu?" Tanya Xabiru khawatir.
"Tidak, jangan pakai peluru, simpan baik-baik. Kunci setiap penjara ada di dinding setiap lorong, itu di letakkan paling atas, di ujung yang gelap. Berhati-hatilah." Ucap Kakeknya membuat Xabiru menganggukkan kepalanya dengan tekad besar.
Xabiru kembali ke pintu lorong, di setiap penjara ada celah dan gelap, jadi Xabiru dengan mudah bersembunyi jika ada anak buah guru bela dirinya dulu. Xabiru masih sangat mumpuni untuk bersembunyi dengan baik dari anak buah guru bela diri.
Sampai akhirnya Xabiru sampai di lorong, ia melihat kiri dan kanan, kemudian dengan cepat meraih banyak kunci yang ada di lorong 3, semuanya digantung menjadi satu, Xabiru membawanya dan berlari kembali ke lorong ujung.
Setiap lorong berhubungan, ada pintu masuk tapi tidak ada pintu yang menutupinya, jadi, ketika Xabiru sampai di depan penjara kakeknya, Xabiru meminta kakeknya untuk mencari kuncinya sendiri dan dirinya akan ke lorong empat untuk membebaskan Clode.
Clode tidak ada di 3 lorong pertama. Jadi dengan keyakinan ia masuk ke lorong empat dengan berputar melewati ujung lorong tiga. Xabiru tidak sempat mengambil kunci lainnya di lorong empat, jadi begitu Xabiru melihat Clode di satu penjara dengan kepala tertunduk, ia memanggilnya dengan berbisik.
Clode mendengar suara kecil, ia melihat Xabiru yang memang sudah melepaskan penutup wajah ketika ia masuk ke ruang bawah tanah.
"Tuan muda?! Kenapa kau disini?" Tanya Clode dengan suara tertahan. Ia masih terlihat bugar meski terlihat wajahnya banyak memar. Tangan dan kaki juga banyak sekali warna ungu disana. Hanya wajahnya yang terlihat lebih kuyu.
"Tidak ada waktu menjelaskan, aku akan membuka gembok ini, bersiap, disini ada guru beladiri dan anak buahnya." Ucap Xabiru, tapi sebelum menembak Xabiru kembali memakai penutup wajahnya.
Kemudian ia mengeluarkan pistol dan menembak gembok, membuat kegaduhan karena suara tembakan yang cukup keras. Guru bela diri yang ada di lorong 1, mendengar suara tembakan, dengan cepat mencari ke sumber suara. Begitupun dua anak buahnya, mengikutinya di belakangnya. Sedangkan tiga lainnya, kini sudah sampai di lorong 4 dan menodongkan pistol pada Xabiru dan Clode yang sudah keluar dari penjara.
"Tuan muda, beri aku pistol." Ucap Clode, membuat Xabiru memberikan satu pistol cadangannya pada Clode, berikut dengan pelurunya.
Clode menyeringai, ia meregangkan wajahnya, dan menatap tiga orang di depannya dengan tatapan senang. Seperti seorang psikopat yang sedang melakukan kesenangannya. Membuat tiga krang di depan bergidik ngeri tanpa sadar.
__ADS_1
Memanfaatkan hal tersebut, Xabiru dengan cepat menembakkan 3 peluru ke tiga orang di depamnya, membuat tiga orang di depan menghindar tapi tidak sempat menghindar dengan baik.
Ketiganya berteriak, karena masing-masingnya terkena tembakan meski tidak di tempat yang fatal. Tapi cukup membuat ketiga orang tersebut langsung jatuh dengan darah bercucuran.
"Berpencar!" Desis Xabiru membuat Clode dengan gesit meninggalkan lorong empat. Begitupula Xabiru, ia kembali ke lorong tiga untuk mengecek kakeknya. Mengawasi kakeknya, ia bersembunyi di celah-celah lorong yang gelap.
Samar, terdengar teriakan keras dan emosi dari guru bela diri di lorong empat. Memarahi tiga anak buahnya yang tergeletak dengan kaki dan perut yang bercucuran darah.
"Bangun! Aku melatih kalian bukan untuk menjadi pengecut! Luka kecil seperti itu saja, membuat kalian lemah begini?! Dasar tidak berguna! Mati saja kalian!" Teriak guru bela diri murka.
Setelahnya terdengar tembakan dan teriakan tertahan yang belum sempat diteriakkan. Tiga orang yang ada di tanah langsung mati di tempat.
Dua anak buah lainnya meneguk ludah gugup, gemetar bukan main ketika melihat tuga rekannya mati di depan mata, di tembak oleh majikannya sendiri.
"Untuk apa kalian masih disini?! Menunggu nasib yang sama seperti rekanmu?! Pergi, cari penyusupnya!" Teriak guru bela diri pada dua anak buahnya yang tersisa. Ia marah, marah besar, apalagi ketika melihat penjara yang memenjarakan Clode terbuka, Clode berhasil melarikan diri.
Clode adalah tawanan paling penting. Bahkan belum genap setengah tahun, ia bisa membebaskan dirinya. Jika para tetua Alexander sampai tahu, nyawanya bisa terancam. Dan hal inilah yang membuat kemarahannya menguat keluar.
Begitu satu anak buah mendekat tanpa tahu Clode ada di sudut, Close dengan gesit keluar dan mengejutkan anak buah guru bela diri, membuatnya temundur. Tanpa menunggu reaksi anak buah tersebut, Clode langsung menembak kepalanya, membuatnya mati di tempat sebelum mengeluarkan suara.
Anak buah lainnya, mendengar suara tembakan, dengan cepat menghampiri asal suara, tapi tanpa sadar, Xabiru ada di belakangnya dan menembaknya tepat sasaran. Anak buah lainnya sama-sama mati di tempat.
"Xabiru, bantu kakek bebaskan Tuan Felix! Dia ada di lorong no 2!" Pekik kakeknya yang masih berusaha membuka kunci penjara.
Tapi Xabiru tidak mengindahkan kakeknya, ia dengan cepat mendekati penjara sang kakek dan menembak gembok yang tak kunjung dibuka olehnya.
"Cepat, kakek, bawa jalan!" Ucap Xabiru.
Di sisi lain, guru bela diri yang merasa jika dirinya tidak dalam kondisi yang menguntungkan, dengan cepat meninggalkan penjara bawah tanah, berniat menaiki lift untuk melapor dan meminta bantuan.
__ADS_1
Tapi Clode keluar dari tempat persembunyian, ia menghadang dengan langsung menendang guru bela diri yang berlari ke arah lift.
"Sial!" Desis Guru bela diri dengan mata gelap. Ia mengeluarkan pistolnya lagi, dan menerjang ke arah Clode. Selain keahliannya memainkan pistol, guru bela diri adalah guru ahli no satu di keluarga Alexander.
Meski no satu, Kemampuannya sama dengan Clode. Maka dari itu, ketika Clode bebas dari penjara, ia adalah yang paling murka. Karena ia sangat sulit ditangkap sebelumnya.
"Tua Bangka! Kau masih saja menjadi penjilat? Cih!" Desis Clode memprovokasi. "Ah aku lupa, kau memang anjing yang baik." Lanjutnya seraya menyeringai.
Keduanya bertukar kemampuan. Dengan masing-masing tangan memegang pistol, tapi tangan dan kaki tidak menganggur. Saling menyerang dan menangkis satu sama lain dengan mata tajam dan gelap.
"Kau yang anjing, satu keluargamu anjing!" Pekik Huru bela diri emosi. Ia menggertakkan giginya, dan matanya menjadi lebih gelap.
Dor! Dor!
Guru bela diri menembakkan peluru ke arah Clode yang dengan gesit menghindar. "Hahaha, kemampuanmu menurun banyak, ya?" Tanya Clode meremehkan.
"SIALAN!" Teriak Guru bela diri kemudian membabi buta menembakkan peluru. Tapi Clode dengan mudah menghindar.
2 menit bermain-main, Clode akhirnya bosan, ia menyeringai dengan mata berbinar. "Sudah cukup, tua Bangka!" Desis Clode langsung menerjang guru bela diri dengan cepat.
Ia menerjang dari arah depan sedangkan tangannya, juga tidak berhenti menembakkan peluru. "Cih! Lumayan,.masih bisa menghindari ku." Ucap Clode.
DOR!
"Kau!" Pekik Guru bela diri tertahan dengan tatapan tidak terima. Ia langsung tergelatak tak sadarkan diri di tanah.
Xabiru datang dari arah belakang. Dan langsung menembak guru bela diri tepat di dada. "Jangan bermain lagi, cepat pergi, anak buahku bilang bantuan yang dikirim Alexander dalam perjalanan." Ucap Xabiru. Diikuti kakeknya dan Felix, lelaki paruh baya yang merupakan teman kakek Xabiru.
Clode ingin bertanya, tapi keadaan tidak mendukung, alhasil ia hanya mengatupkan bibir dan menganggukkan kepala menuruti tuan mudanya. Kemudian keempatnya menaiki lift agar lebih cepat keluar.
__ADS_1
*
*