
*
*
Besoknya, Xabiru langsung menghubungi orang-orang di rumahnya. Terutama orang yang mengurus toko, yakni Soni dan Hana. Xabiru langsung memerintahkan untuk memutuskan semua kontak dengan restoran antana's dan menghentikan pasokan bahan pada restoran tersebut.
Tidak ada keanehan setelah Xabiru menurunkan perintah tersebut. Sampai dua hari berikutnya, ketika Teren datang dengan beberapa truk box dan mendapat penolakan, Teren langsung emosi karena ditolak mentah-mentah, selain itu Soni juga berlaku tidak sopan dengan menyinisinya.
Teren yang emosi dengan pekerja Xabiru, akhirnya langsung menghubungi Xabiru. Xabiru yang ada di markas dan mendapat telfon dari Teren, tidak mengangkatnya. Dan malah menghubungi Soni.
Setelah telfon tersambung, Xabiru menyuruh Soni untuk berhadapan dengan Teren dan menyalakan loud speaker di hadapan Teren. Setelahnya, Xabiru pun berkata sinis pada Teren lewat sambungan telfon tersebut.
"Hubungan kerja sama kita telah berakhir. Cukup sampai disini, dan pergi saja." Ucap Xabiru tegas. Di seberang telfon, ia juga menatap tajam ponsel di genggamannya. Emosinya belum mereda mengingat pemilik antana's berlaku begitu padanya, mencelakai dirinya yang sedang bersembunyi.
Teren yang mendengar itu, langsung melayangkan protesan. Menanyakan penyebab pemutusan kerja sama. Juga mengatakan masalah kompensasi, maksudnya, royalti dari pemutusan kontrak yang telah disetujui.
Xabiru kemudian teringat tentang royalti, berbalik menagihnya pada Teren. "Kebetulan kau membicarakan royalti, maka segera kirim royalti pemutusan kontrak pada rekeningku." Ucap Xabiru. "Ah, kau mau tahu alasan kontrak putus? Silahkan tanyakan pada pimpinanmu apa yang telah dia lakukan." Lanjut Xabiru, setelahnya ia langsung mematikan telfon tersebut sepihak.
Teren yang mendengar perkataan terakhir Xabiru, langsung tertegun. Jika sudah membawa pimpinan, maka Teren hanya bisa mundur dan menerima nasib lebih dulu. Tapi restoran tidak bisa menunggu, stok bahan telah benar-benar habis.
Alhasil, Teren hanya bisa membuat anak buahnya untuk memasuki toko dan membeli 10kg per-orang untuk masing-masing hidangan. Dan Soni hanya bisa melayani mereka tanpa penolakan. Karena tidak ada aturan yang dilanggar ketika di toko, alhasil keadilan harus dijunjung.
__ADS_1
Lagipula, bahan-bahan tersebut hanya akan cukup untuk setengah hari saja. Apalagi orang yang dibawa teren hanya sekitar 6 orang termasuk dirinya. Dan setelah pembelian 6 orang, barang di toko juga sudah banyak yang tidak tersisa, membuat Soni langsung menutup toko tersebut.
Meninggalkan Teren yang beberapa kali masih membujuk Soni perihal sekali saja memberinya kesempatan untuk memasok bahan disana. Untuk terakhir kalinya, tapi, Soni tetap menolak, dan Teren tidak punya pilihan selain menyerah. Teten pun pulang dengan tangan kosong.
Meski begitu, pikirannya tidak kosong. Penuh dengan pertanyaan apa yang sudah dilakukan pimpinannya sampai Xabiru berlaku sinis padanya. Dan kontrak putus, bukan Xabiru yang membayar tapi antana's lah yang harus membayar .
Kesalahan apa yang dilakukan pimpinannya? Masalahnya besar sekali sampai pemutusan kontrak terjadi. Juga, bukankah keduanya bertemu di ibukota beberapa hari lalu. Teren kira akan mempererat hubungan kerja sama, tapi tidak di sangka malah putus kontrak kerja sama.
Teren hanya bisa menghembuskan nafasnya saat ini, pikirannya mumet sekali. Tapi ia hanya bisa bersabar dan menunggu, ia akan langsung bertanya pada pimpinannya tentang pemutusan kontrak.
"Hah, pasokan bahan berkualitas menghilang. Bos, apa yang kau lakukan sebetulnya? Tidakkah kau tahu jika pasokan bahan pindah ke restoran lain, maka anatana's akan menurun? Bisa-bisa turun bintang." Gumam Teren seraya mengemudikan mobilnya kembali ke restoran cabang di kabupaten tersebut.
Meski anatana's sebelum memakai bahan dari Xabiru sudah terkenal, juga merupakan bintang lima, setelah pasokan dihentikan, Teren takut akan membuat para pelanggan kecewa dengan rasa menunya. Bagaimanapun, sudah lama sejak pelanggan sangat menyukai masakan dengan bahan dari pasokan Xabiru.
"Sayang, tidak mau memberi mereka kesempatan? Bagaimanapun, Alexander memang kuat sekali di ibukota, meski Antana's menang dalam hal restoran, dalam hal lainnya bukan lawan. Mereka juga pasti terpaksa melakukan hal tersebut, kan?" Tanya Asta, seraya menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang ada di pikirannya.
Xabiru menghela nafas, "Meski mereka terpaksa, bukan berarti mereka bisa seenaknya menyuruh kita ke ibukota untuk menjadi bahan buruan mereka. Kau tahu seberapa takutnya aku saat itu? Aku paling takut kau terluka, sayang."Balas Xabiru menggertakkan giginya, menahan emosi. "Lagipula, sejak awal sudah ada perjanjian, tapi mereka begitu mudah melanggar. Ke depannya juga bukan tidak mungkin mereka melakukan hal yang sama lagi, kan? Jadi, lebih baik memutuskannya sekarang saja." Lanjut Xabiru, ia kemudian berbalik, dan menatap Asta yang ada di belakangnya.
Asta menghela nafas, dan menatap Xabiru dengan perasaan bingung. Xabiru memang benar. Tapi mereka juga terpaksa, karena mungkin dapat ancaman.
Matanya berubah lembut, kedua tangannya juga menggenggam dengan sama lembutnya. "Mari tidak berhubungan dengan orang yang mau mencelakai kita. Jika mereka tidak cukup kuat, maka jangan berhubungan lagi, kita juga tidak bisa melibatkan orang lain dalam hal ini." Xabiru kembali melanjutkan perkataannya, dengan lembut.
__ADS_1
"Kau benar, baiklah, jangan libatkan orang lain. Mar perkuat kekuatan kita saja." Balas Asta akhirnya, ia mengerti. Xabiru memutuskan lebih awal agar mereka tidak terlibat lebih jauh karena membela Xabiru dan Asta.
Meski konteks yang Alexander incar sekarang adalah Xabasta's Store. Tapi jika terus diselidiki mungkin lama kelamaan identitas dirinya dan Xabiru akan terkuak. Bukan tidak mungkin kan Alexander akan langsung menghancurkannya begitu tahu?
"Ya, sayang, kau harus mengerti pelan-pelan. Meski tidak banyak orang, tapi kita harus berdiri sendiri. Ini saja, aku merasa tidak nyaman karena membawamu ke dalam masalahku. Maafkan aku." Ucap Xabiru merasa menyesal.
"Tidak, urusanmu adalah urusanku. Kau lupa ya? Aku adalah masalah yang menyebabkanmu jatuh? Jadi, aku juga bertanggung jawab menemani dan membalas mereka." Balas Asta seraya mengelus pipi Xabiru, menenangkannya. "Ah sudah, aku jadi ada ide. Mari akhiri pembicaraan libat melibatkan orang dulu." Lanjut Asta tersenyum, ia bahkan tak segan mengecup kening Xabiru.
Xabiru tersenyum hangat, Asta menenangkannya, Asta adalah obatnya. Ia menganggukkan kepalanya setuju, kemudian bertanya, "Ide apa yang kau maksud?"Ucap Xabiru.
"Karena kita sudah tidak memasok bahan ke Antana's lagi, bagaimana dengan menjadikan rumah kita restoran juga? Jadi, selain toserba, sekalian saja buat menjadi restoran ala-ala. Untuk rumah, kita bisa tinggal di markas saja. Lagipula, lebih aman tinggal disini, kan?" Usul Asta mengungkapkan ide dan pendapatnya.
"Ide bagus, mari pikirkan dulu bagaimana rencananya, juga kita diskusikan dulu dengan semuanya sekalian. Untuk masalah tempat tinggal, aku juga setuju. Lebih aman di markas. Tapi tetap saja, markas tidak bisa dijadikan tempat tinggal. Mari cari rumah baru saja? Atau tempat baru untuk restorannya?" Tanya Xabiru.
Keduanya kemudian berdiskusi panjang lebar, sampai akhirnya memanggil semua orang penting untuk pembangunan restoran.
"Ah kau yakin membangun restoran? Satu bulan lagi bukankah eksekusi rencana ke ibukota? Apa mau diundur lagi?" Tanya Soni.
"Sepertinya harus di undur, melihat kekuatan Alexander kemarin, kekuatan kita sepertinya masih belum cukup. Juga, kita masih kekurangan orang. Jika dibandingkan dengan Alexander, sangat jauh sekali." Balas Xabiru dengan sedikit tertekan.
*
__ADS_1
*