Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Fakta Baru yang diketahui Asta


__ADS_3

*


*


2 hari berlalu lagi. Asta sudah lebih mahir dalam melakukan pekerjaannya. Dan Sintia lebih percaya padanya, juga sering memuji dirinya karena masakannya yang sangat enak.


Ah tapi selain Sintia, hanya ada ibu dan ayahnya yang sesekali pulang dalam beberapa hari sejak dirinya masuk ke rumah. Eddin si brengsek, belum kelihatan batang hidungnya sejak Asta masuk.


Jadi, sebetulnya, ia merasa sedikit kecewa karena besok ia akan mulai melakukan rencana yang menurutnya konyol, tapi cukup simpel dikerjakan. Hanya menakut-nakuti semua orang, sampai membuat semua orang ketakutan dan tidak tenang.


Jika Eddin tidak ada, maka Asta hanya bisa melewatkan dirinya dan menakut-nakuti Sintia juga ibunya saja.


Bayi di kandungan Sintia? Oke, dia tidak bersalah. Selama beberapa hari ini Asta beri tambahan air ajaib pada makanan, jadi bayi yang ada dalam kandungannya akan sehat meski Asta membuat ibunya gila sekalipun.


Asta sudah mempersiapkan dan memperkirakan segalanya dengan baik. Jadi, meski besok ia mulai, bayi dalam perut Sintia akan tetap aman oleh kejutan yang akan diberikan dirinya pada ibunya.


"Aku pulang."


Suara familiar yang membuat semua orang yang sedang lahap dengan makan siang, langsung menoleh ke sumber suara.


Asta berdecak senang dalam hati melihat laki-laki yang berjalan dengan santai, dengan keadaan sedikit tidak rapi. Yap, Eddin. Dialah yang berbicara dan berjalan ke arah meja makan. Lebih tepatnya menuju Sintia.


"Sayang, bagaimana kabarmu? Maaf aku baru bisa pulang. Juga, bagaimana keadaan anak kita di dalam?" Tanya Eddin yang langsung memeluk Sintia yang sedang makan, kemudian berlutut untuk mengelus perut Sintia yang buncit.


Sintia menghela nafas, ia yang tadinya sudah menyiapkan Omelan karena marah, sebab Eddin ingkar janji dua kali akhirnya menguap begitu saja karena perlakuan lembutnya. "Aku baik-baik saja, juga anak kita sangat sehat. Check up kemarin, bahkan dokter memuji kesehatan kaki berdua." Balas Sintia seraya tersenyum kecil.


Ia ingin marah, tapi malah tidak bisa. Akhirnya hanya ada senyum kecil yang keluar dengan beberapa kata yang bernada sedikit datar.

__ADS_1


"Sayang? Maafkan aku tidak bisa menemanimu check up lagi. Aku benaran sibuk, kerjaan di kantor ada beberapa masalah. Dinas yang aku ambil kali ini, berkaitan dengan masalah ini. Tolong maafkan aku, ya? Apa boleh, sayang?" Tanya Eddin dengan nada yang sangat lembut.


Asta yang ada di belakang keduanya diam-diam mengernyit jijik. Mendengar nada suara tersebut, dalam hati ibaratnya mengumpat dan muntah berkali-kali karena mual mendengar omong kosongnya.


Meski begitu, Asta tetap menunduk dan tidak berani bergerak karena selama beberapa hari ini, selain dirinya melayani Sintia, ia juga selalu menemaninya makan ketika orangtua nya tidak ada.


Kini, hanya ada Sintia dan dirinya yang berdiri di belakang Sintia di ruang makan. Ibunya entah kenapa tidak ikut makan meski Asta tahu ia ada dalam kamar. Sedangkan ayahnya, belum pulang sejak semalam.


Jadi, begitulah kondisi dan situasinya saat ini.


"Lupakan, aku memaafkanmu. Lagipula, kau mengurusi kantor juga untukku. Jika perusahaan bangkrut, maka aku tidak akan bisa punya uang untuk melahirkan nantinya. Kau sudah bekerja keras, sekarang ayo makan dan aku akan menemanimu istirahat setelahnya." Ucap Sintia seraya mengusap kepala Eddin dengan senyum hangat. Ia sudah menghilangkan amarahnya kini.


Eddin tersenyum hingga matanya menyipit kemudian mengangguk dan bergabung dengan Sintia. Duduk di sebelahnya dan mulai makan bersama.


Melihat hal tersebut, Asta diam-diam mundur dan hendak pergi ke dapur agar tidak mengganggu momen tersebut. Lebih tepatnya, agar dirinya tidak mual dan muak melihat adegan yang jelas-jelas terlihat palsu di matanya.


Asta tidak percaya bahkan ketika Eddin bersikap lembut pada Sintia. Menurut pandangannya, itu semua bohong. Tipu muslihat sebelum Sintia mengeluarkan semua manfaat yang dia punya untuk Eddin, siserigala bermata putih ini.


Asta berpikir demikian tanpa tahu jika pikirannya memang benar. Eddin masih butuh Sintia, jadi ia masih berbuat baik, lembut dan hangat padanya. Aslinya, ia berhianay di belakangnya, bahkan bersekongkol dengan ibu mertuanya sendiri.


Jika Asta tahu, dirinya pasti akan bertepuk tangan untuk bajingan Eddin. Aktingnya memang bagus di mata orang-orang yang buta akan wajahnya.


"Rahayu, bawakan aku makananan ke kamarku. Aku ingin makan di kamar saja. Jangan banyak bertanya, dan lakukan saja. Ah, juga tambahan, buat satu kopi untukku." Ucap ibu Sintia yang tiba-tiba datang ke dapur mengejutkan Asta yang sedang melamun dan berpikir.


"Baik, nyonya, segera datang." Balas Asta mengangguk. Ia tidak banyak bicara sesuai request ya, meski dirinya aslinya penasaran perihal kopi. Karena selama ini, ibunya tidak pernah menyukai minuman tersebut.


Asta mengedikkan bahunya dan mulai menyiapkan pesanan mantan ibu angkatnya. Untung saja, Asta menyisakan setiap masakan di dapur. Jadi, Asta bisa langsung menata semua makanan dan langsung mengirimkannya ke kamar nyonya tua keluarga Baskoro.

__ADS_1


"Jika Sintia sudah naik, beritahu aku." Ucap nyonya tua Baskoro begitu Asta hendak pergi setelah mengantarkan makanan pesanannya.


Asta menganggukkan kepalanya. Dan kembali ke dapur.


Setelah beberapa saat, Sintia dan Eddin telah selesai makan. Lalu Asta dengan cepat membereskan meja makan dan memberitahu nyonya tua Baskoro sesuai perintah.


Selesai, tidak ada lagi pekerjaan. Asta hendak pergi ke halaman belakang untuk masuk ke paviliun tempatnya tinggal agar ia bisa beristirahat.


"Kau akhirnya pulang, tapi kau malah menemui Sintia lebih dulu. Tidakkah kau merindukanku, um?"


Langkah kaki Asta terhenti. Kedua matanya melebar dan dengan refleks ia sembunyi dibalik dinding lorong menuju halaman belakang.


Begitu sembunyi, dan melihat kedua orang yang sedang bersama, Asta kembali melebarkan kedua matanya. "Sial, apa yang mereka sedang? Huek--- menjijikkan." Bisiknya pada diri sendiri. Ia bahkan sempat muntah tanpa muntahan ketika Eddin mencium ibu mertuanya sendiri tanpa takut diketahui oleh Sintia.


"Kau, bagaimana jika Sintia melihatnya?!" Pekik ibu Sintia dengan nada tertahan.


"Tidak akan, dia sudah tidur di atas." Bisik Eddin dengan suara sensual.


Asta merinding bukan main. Dua bajingan di depan sana. Bahkan tidak memedulikan Sintia yang sedang mengandung? "Untung saja, aku tidak jadi masuk ke dalam keluarga bajingan dan berantakan ini. Jika benaran masuk, aku akan berada di posisi yang sama dengan Sintia, kan?" Gumamnya kembali berbisik pada dirinya sendiri.


"Ayo ke kamarku. Aku sudah membuatkanmu kopi, dan uhuk!" Ucap Nyonya tua Baskoro seraya mengedipkan mata dengan raut genit.


"Oh tidak, aku sangat mual." Bisik Asta seraya pergi meninggalkan tempat kejadian dengan mulut yang ditutupi tangan. Kali ini, ia benar-benar muntah di kamar mandi belakang.


*


*

__ADS_1


__ADS_2