Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Asta melarikan diri


__ADS_3

*


*


Asta menggigit bibirnya cemas. Berjalan bolak-balik di depan pintu yang tertutup. Tidak lagi menggedor pintu minta dikeluarkan. Ia harus mulai membuat rencana. Tapi pikirannya tidak mau tenang.


Kemudian, ia menarik nafas, dan mengeluarkannya. Berjalan ke belakang dan duduk di sofa lusuh. Memejamkan mata, memeluk dirinya sendiri, menenangkan dirinya agar otaknya bisa berpikir dengan rasional.


Setelah beberapa menit menenangkan dirinya sendiri, kemudian ia berhasil. Mendapat ide melarikan diri dengan mudah. Mengambil vas di meja, dengan senyum kecil, ia mengangguk dan menatap vas penuh harapan.


Mengangkat tinggi-tinggi vas tersebut. Dan PRANK! Asta menjatuhkannya, melemparnya agak jauh dari dirinya sendiri agar tidak mengenai dirinya. Setelah memekik keras untuk memancing orang yang ada di luar, Asta berlari ke sisi pintu, dan masuk ke dalam cincin ruang.


Orang yang menjaganya di luar, mendengar keributan yang dibuat Asta. Dengan cepat berteriak menanyakan ada apa, tapi karena tidak ada jawaban, ia membuka pintu dengan panik. Melihat ke dalam dan ada pecahan vas di dalam.


Tapi orang di dalamnya tidak ada, nona mudanya menghilang. Orang yang menjaga Asta masuk dengan panik tanpa menutup pintu. Mendekati vas dan memanggil Asta yang tak kunjung terlihat.


Di sisi lain, Asta keluar dari cincin ruang dan BRAK! Ia menutup pintu dengan keras. "Maafkan aku, aku akan segera kembali! Sampai jumpa!" Teriak Asta dari luar pintu.


Orang yang menjaga Asta berbalik dengan ekspresi tercengang. Ia ditipu! Lalu nona mudanya melarikan diri, dan sekarang dirinyalah yang terkunci di dalam ruangan. Betapa sialnya dirinya.


Ia kemudian berlari ke pintu, menggedor-gedor pintu meminta dikeluarkan. Dan yang paling utama adalah berteriak meminta Asta agar tidak pergi ke kediaman Alexander.


Tapi Asta sudah berjalan keluar dari tempat tersebut. Meski mendengar teriakan dan gedoran dari pintu, ia mengabaikan semuanya dan langsung berlari ke kediaman Alexander.


Tapi Asta mengambil jalur yang berbeda, tidak masuk dari arah depan, masuknya dari arah belakang. Karena Asta tahu, K2 memimpin masuk dari arah depan, sedangkan Clode dari arah samping. Dan Asta, agar dirinya tidak bertemu keduanya dan menghentikan dirinya untuk bertindak, mau tidak mau harus pergi ke pintu belakang.


Lagipula, jika semua penjaga pergi ke depan dan ke samping, di belakang akan sangat sepi, kan? Dirinya akan lebih mudah masuk nantinya. Pikir Asta.


Sebelum pergi ke pintu belakang, Asta mengeluarkan teropong dan melihat situasi di gerbang depan. K2 masih memimpin, membuat Asta menghela nafas lega. Tapi Clode tidak terlihat, membuat dirinya berdebar. Ia sangat khawatir pada Xabiru. Entah apa yang akan terjadi, tapi perasaannya selalu tidak bagus.

__ADS_1


Alhasil, setelah cukup melihat Asta kembali berlari ke belakang kediaman Alexander. Cukup terawat, hanya saja ada gerbang tinggi yang membuat Asta tertahan. Asta berdecak kesal, mau tidak mau ia harus memanjat naik.


Setelah berada di atas, Asta menghilang di udara, mengeluarkan kasur kecil dan melemparnya ke bawah. Barulah ia mendarat di atasnya dengan nyaman.


Tidak ada waktu, ia bangun dan memasukkan kembali barangnya, kemudian melihat pintu kecil tepat di depannya. Masuk lewat pintu tersebut, dan berjalan mengendap-endap di dalam.


Matanya menatap seluruh lorong, melihat situasi dengan baik. Ketika memastikan tidak ada orang di lorong, iapun maju. Setelah beberapa langkah, ia mendengar derap kaki.


"Ah sialan! Cepat! Di aula butuh bantuan!"


"Jalan yang benar, sialan! Jangan lelet!"


"Jangan berdebat, cepatlah!"


Ada sekitar 4 orang yang berjalan, membuat Asta yang tidak siap, langsung ketahuan.


"Tidak ada waktu! Tembak mati saja!"


Asta melebarkan kedua matanya, dan langsung menghilang di udara kosong. Membuat keempat orang yang menemukannya terkejut bukan main.


"Sial, apa itu tadi?!"


"Hantu?!"


"Tapi seperti penyusup, lihat tidak pakaiannya barusan?!"


"Tapi menghilang! Itu pasti hantu, kan?!"


"Tidak ada hantu disini, bodoh!"

__ADS_1


"Tapi kau melihatnya barusan!"


Selagi keempatnya berdebat, Asta kembali muncul dengan dua pistol di tangannya, dan langsung menembaki kepala keempat orang yang tidak siap tersebut.


Asta tidak memberi kesempatan pada keempatnya untuk sekadar berbicara menanyakan dirinya. Ia langsung membunuh, dan keempat mayat tersebut, Asta masukkan ke dalam cincin ruang sebagai antisipasi masalah di masa depan.


Ini kediaman Alexander. Dekat alun-alun meski di pinggiran. Jika ditemukan banyak mayat dan pelaku dilacak, tebak siapa yang yang akan ditangkap? Mungkin Xabiru, bukan? Jadi, bawa saja Mayar ke dalam, kemudian bakar nanti untuk menghilangkan jejak. Untuk jejak darah, setelah semua penyelamatan, masih bisa dibersihkan oleh anak buah Xabiru.


Asta kemudian melanjutkan perjalanan. Ia tidak tahu keberadaan Xabiru dimana. Meski sudah pernah masuk kediaman ini satu kali, tapi Asta benar-benar tidak tahu jalan. Ia mau ke depan kediaman tapi ada K2 dan takut bertemu Clode. Alhasil, ia malah naik ke lantai atas dan menyusuri lorong di sana.


Berpapasan dengan beberapa orang, Asta kembali melakukan trik yang sama berulang kali. Sampai ia menemukan beberapa ruang kerja dan kamar pimpinan tua Alexander. Asta tidak segan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Tapi ia tidak membunuh, hanya membuatnya lumpuh dan tak sadarkan diri.


Sampai ia bertemu dengan Ayah mertuanya, Ayah Xabiru. Seolah sudah tahu akan kedatangan Asta, ia yang duduk di kursi kerja, berbalik dan tersenyum menatap Asta.


Asta terkejut, ia berdiri waspada dengan pistol di tangannya. Mengacungkan pistol ke depan wajah Ayah Xabiru.


Di sisi lain, Xabiru sudah sangat terpojok. K2 tidak kunjung masuk ke aula, sedangkan di aula terus bermunculan lawan. Bertambah dari menit ke menit. Bahkan anak buah yang di bawa Clode sudah tidak sadarkan diri di sebelah Clode dan Xabiru. Hanya tersisa dirinya dan Clode, terlebih keduanya sudah terluka.


"Tuan muda, maaf aku membuat rencana ceroboh. Bukannya menyelamatkanmu, aku malah ikut terseret ke dalamnya." Ucap Clode meski wajahnya datar, tapi ia terdengar menyesal.


"Aku yang tidak tahu situasi. Seharusnya kita mengawasi lebih dalam dan tidak terburu-buru." Balas Xabiru setelah menggelengkan kepalanya. "Dimana bala bantuan kita?" Tanya Xabiru kemudian.


Clode menggelengkan kepala. "Yang dari perbatasan masih dalam perjalanan, tuan muda. Sedangkan K2, aku tidak tahu situasinya di depan. K3 masih aku tugaskan mengambil data gelap perusahaan di tempat semula ia ditugaskan." Jelas Clode.


"Mari ulur waktu lebih lama. Bertahanlah sampai bantuan tiba." Ucap Xabiru, keduanya sudah berpindah tempat. Ke belakang sofa yang baru, karena sofa sebelumnya telah rusak. Sofa kali ini lebih besar juga karena merangkap dua sofa. Alhasil, bisa dijadikan tempat persembunyian sementara. Keduanya akan aman sementara.


*


*

__ADS_1


__ADS_2