Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Mencari pekerja keamanan


__ADS_3

*


*


Asta menghela nafas, sudah dua jam, tapi dirinya masih menunggui Nira yang ada di ruang psikolog. Xabiru yang menelponnya dua jam lalu memang membuatnya panik, tapi hilang lagi kepanikannya karena Xabiru telah menyelesaikan masalahnya.


Katanya, ada orang yang mengamuk, mengatai toko karena tidak mau memberikan pasokan bahan pada restorannya yang bisa dibilang bintang lima. Sama halnya restoran Antana's, tapi masih dibawahnya satu kali. Meski sama-sama restoran bintang lima, kepopulerannya kalah jauh karena ya, harganya lebih meroket dari antana's.


Kalau dibandingkan dengan restoran milik Alexander, dan keluarga Asta sebelumnya, keduanya masih setara restoran antana's. Masih bisa dibilang saingan dalam level yang sama. Hanya saja, restoran Alexander dan keluarga Asta sebelumnya dikhususkan para pengusaha saja. Sedangkan Antana's semua orang diperbolehkan, untuk review makanan oleh para vlogger juga dipersilahkan.


Dan karena inilah, antana's lebih populer dibanding dua restoran lainnya yang berada di level yang sama. Karena dua restoran lainnya membuat restoran dengan tujuan untuk tempat makan sekaligus kerjasama. Berbeda dengan antana's yang pure tempat makan, dan bebas dikunjungi siapapun.


Baru yang dikabupaten lah sekarang yang memiliki lebih banyak pelanggan dan keuntungan dari pasokan bahan Xabasta's store. 3 hari ke depan, tunggu dan lihat dua tempat lainnya juga akan mengalami hal yang sama. Dan hal ini mungkin akan menjadi masalah bagi Xabasta's store sendiri.


Kejadian pagi ini salah satunya. Ada orang yang emosi sampai melampiaskan kemarahan pada toko setelah ditolak dimintai menjadi pemasok. Meski masih bisa ditangani, ke depannya mungkin akan lebih banyak lagi. Dan Xabiru harus mempersiapkan banyak hal ke depannya untuk mengatasi hal ini. Begitupula Asta. Harus bersiap menyembunyikan rahasia besar keduanya.


"Huh, untunglah hanya lambungnya saja yang bermasalah." Gumam Asta seraya menghela nafas lega. "Tapi tidak tahu dengan mentalnya, apakah akan sama baiknya?" Gumamnya berlanjut.


Asta yang tadi meninggalkan ruang tunggu di dokter psikologi, untuk mengambil hasil tes pemeriksaan, kini berjalan kembali ke arah tempatnya berdiam diri tadi.


Buk!


"A-ah maaf, maaf, aku tidak sengaja." Ucap Asta seraya menundukkan kepalanya berkali. Karena ia membaca diagnosis di kertas jadi ia tidak memerhatikan jalan sampai ia menubruk orang.


"Hm." Gumam orang yang ditabrak Asta, kemudian melanjutkan perjalanannya meninggalkan Asta yang mematung mendengarnya. Ia mendongak dan sempat melihat sedikit wajah orang yang ditabraknya barusan, sebelum ia memalingkan wajah untuk melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Asta berpikir keras, ia ingin mengejar orang barusan untuk memastikan penglihatannya tidak salah, tapi tidak. Ia tidak boleh ceroboh. Lagipula bisa jadi ia juga salah lihat.


Asta menggelengkan kepalanya kemudian. "Tidak mungkin juga dia ada disini." Gumamnya.


Sesampainya di depan ruangan, Asta langsung dipersilahkan masuk oleh dokter Anne selaku dokter yang memberi terapi psikis pada Nira. Untuk berdiskusi tentang hasil pemeriksaannya pada Nira.


"Benar, Nira terlihat tenang dan sangat sehat. Tapi sebagai wali, harus menjaganya dari menemui hal-hal yang bisa membuatnya tertekan. Karena jika itu terjadi, akan ada guncangan di dirinya. Nira akan kehilangan kendali." Jelas dokter Anne. "Lalu tadi aku sempat memberinya hipno terapy, hal yang memicu Nira adalah sesuatu yang berkaitan dengan kesakitan di Alexander, aku pikir itu marga bukan? Nira menyebutnya tadi, dan aku memancingnya, benar saja dia kehilangan kendali. Selain itu, jangan membuat dia melihat darah." Lanjut dojter Anne.


Asta menghela nafas yang sempat tertahan begitu mendengar penjelasan dokter Anne barusan. Sampai begininya? Darah menjadi salah satu pemicu.


"Untuk Darah, dokter tahu apa awal mula rasa traumanya?" Tanya Asta.


Dokter menggeleng, "Aku tidak tahu, tapi itu jelas menunjukkan hal yang berhubungan dengan Ayah dan Alexander." Ucapnya.


"Kak Asta!" Serunya riang.


Asta melambaikan tangannya, kemudian Nira menghampirinya dan bertanya. "Bagaimana hasilnya?" Tanya Nira tersenyum.


"Tidak ada yang parah, hanya lambung saja. Karena dulu kau memakan makanan yang tidak layak dimakan. Jadi, mulai sekarang, ingat untuk tidak terlambat makan. Baik pagi, siang, dan malam, mengerti?!" Ucap Asta.


Nira mengangguk. "Mengerti, aku akan patuh!" Seru Nira tersenyum.


"Baiklah, ayo kita tebus obatmu dulu. Habis itu, kita sudah bisa pulang. Eh aku lupa, kita masih harus mendaftarkan mu sekolah. Sekalian sajadeh, oke tidak?" Tanya Asta tersenyum.


"Oke saja, turuti apa kata kakak saja." Balas Nira seraya tertawa.

__ADS_1


Kemudian keduanya pergi setelah berpamitan. Menebus obat dan mendaftarkan Nira ke sekolah menengah atas di kelas 10. Setelahnya ia pulang, dan melihat toko sudah sepi. Bahkan para pekerja sudah pulang lebih dulu karena sudah siang juga. Dagangan juga sudah laris manis, stok toko ludes lagi terjual.


Hanya menyisakan Xabiru yang sedang menguras Aquarium pada pukul 3 sore ini. Xabiru juga sudah hampir selesai. Sepertinya itu adalah aquarium terakhir karena yang lainnya sudah diganti dengan air yang jernih. Tentunya diisi air dari halaman belakang, yang sudah ditambah air ajaib.


"Nira sayang, istirahat saja ke atas oke? Kakak harus mengobrol dengan kakak iparmu." Ucap Asta, dan Nira langsung mengiyakan, karena dirinya juga merasa lelah telah berjalan di luar seharian ini.


Sepeninggal Nira, Asta pun mengajak Xabiru berbicara empat mata. Dengan wajah serius Asta mengatakan, "Yang datang membuat onar hari ini berapa orang?", Tanya Asta.


"Tidak banyak, hanya 3 orang. Tapi dia mengancam akan membawa lebih banyak orang nanti jika mereka datang lagi kemari.", Balas Xabiru.


"Bagaimana dengan menambah pekerja sebagai keamanan disini? Cari yang hebat, 3 sudah cukup jika mereka hebat." Ucap Asta mengusulkan ide.


"Aku juga sudah meminta bantuan Teren. Besok ia akan membawakan oramgnya pada kita. Lalu, ini, daftar dan biodata orangnya sudah ada padaku." Ucap Xabiru seraya memperlihatkan dokumen dari ponselnya.


"Ini, ini, dan ini." Ucap Asta seraya menunjuk 3 orang.


"Hmm? Kau yakin? Dia kurus begini mana mungkin akan sekuat dua yang lainnya?" Tanya Xabiru.


Tapi akhirnya Xabiru mengalah, karena Asta begitu yakin dengan pemuda kurus yang ada di dalam daftar, sedangkan dua lainnya terlihat kekar Dena berotot. Tidak apa-apa, jika tidak puas nanti bisa ditukar dengan yang lain.


"Oh ya, ada satu hal lagi, selain keamanan toko dan kesehatan Nira. Tadi di rumah sakit, aku melihat seseorang. Tidak begitu jelas tapi aku merasa sangat familiar. Dari samping dan belakang, perawakannya seperti Jordan." Ucap Asta membuat Xabiru menatap Asta seketika.


*


*

__ADS_1


__ADS_2