
*
*
"Jordan, itu, ya?" Gumam Xabiru seraya tersenyum sinis. Setelah tadi menatap Asta begitu ia mendengar perkataannya.
Asta menganggukkan kepalanya, "T-tapi sepertinya aku juga tidak yakin. Untuk apa kan dia ada disini? Bukankah dia harusnya ada di Belanda?" Ucap Asta. Diingatan pemilik sebelumnya disebutkan, Jordan ini adalah sahabat Xabiru, tapi ia memusuhi Xabiru begitu Xabiru menikahi Asta.
Sedangkan Xabiru sendiri menganggap, ia sama seperti orang lainnya yang meninggalkan Xabiru ketika dirinya sedang jatuh. Artinya, ia sama dengan orang lain yang hanya mau memanfaatkannya saja.
Kenapa Asta bisa tahu? Karena Jordan sendiri yang datang kala itu, menentang saat-saat sakral ketika pernikahan akan dilangsungkan. Berniat mengacaukan, tapi Xabiru teguh, dan melanjutkan pernikahannya.
"Sudahlah, mungkin salah lihat. Jangan terlalu dipikirkan." Ucap Asta lagi seraya mengusap bahu Xabiru.
Xabiru menatap Asta lembut. "Jangan tinggalkan aku, apapun yang terjadi." Lirih Xabiru kemudian memeluk Asta erat.
"Tidak akan. Aku janji." Jawab Asta mantap. Tidak pernah ia berpikir meninggalkan Xabiru sedikitpun meskipun dirinya bukan Asta yang sebenarnya. Tapi, justru Asta lah yang takut Xabiru meninggalkannya jika suatu saat ia tahu jika yang ada di dalam tubuh Asta bukan Asta nya yang dulu.
Asta juga ingin membuat Xabiru berjanji, tapi ia tidak berdaya. Apapun keputusan Xabiru kelak, ia akan menerimanya. Lagipula, tidak apa-apa ditinggalkan lagi nantinya. Mungkin memang takdirnya menyedihkan juga dikehidupannya yang kedua ini?
Nantikan saja, dan nikmati keadaan yang sekarang. pikir Asta.
Besoknya, setelah Asta mengantarkan Nira ke sekolah, Asta kembali ke toko dan melihat Xabiru sedang berbicara dengan 3 orang yang ditunjuk Asta kemarin.
Asta sampai berbinar melihat 3 orang ini. Astaga, lebih berotot dari yang ia lihat kemarin. Aduh, aduh, coba lihat yang paling kurus, meski kurus, ia tampan dan hmm, lumayan ia terlihat lincah.
Asta menghampiri Xabiru, tapi matanya menatap 3 orang di depan Xabiru sesampainya di samping Xabiru. Membuat Xabiru yang menyapanya, menatap Asta kesal. Xabiru memegang kedua sisi wajah Asta, dan memutar kesamping, membuat Asta jadi menatap Xabiru.
__ADS_1
"Jangan tatap mereka seperti itu, sayang." Rajuk Xabiru kesal.
"Kenapa tidak boleh?" Tanya Asta dengan raut bingung, menggoda Xabiru. "Mereka tampan, dan berotot." Bisik Asta melanjutkan perkataannya. Hanya Xabiru yang dapat mendengarnya.
"Sayang!" Seru Xabiru makin kesal. "Kau diam." Ucap Xabiru, kemudian kembali menatap ke arah tiga orang di depannya dengan tatapan intimidasi. "Pergi jalankan tugas, jangan muncul di hadapan istriku jika aku tidak ada di dekatnya. Mengerti?!" Ucapnya tegas.
"Siap, mengerti!" Jawab ketiganya serempak. Meskipun bingung dengan perubahan sifat bosnya, tapi ketiganya tetap melaksanakan perintah, karena memang ketiganya hanyalah bawahan.
"Jika matamu terus menatap mereka, lihat saja, akan kukuliti mereka agar kau enggan menatap mereka lagi karena merek sudah berubah menyeramkan nantinya." Ucap Xabiru mengancam Asta, rautnya masam, tapi tidak ada tatapan tajam dan sinis. Hanya murung, merajuk.
"Seram sekali?!" Seru Asta terkejut.
"Kau lupa aku siapa, dulu, hmm?" Tanya Xabiru.
Oh, oh, manusia berhati dingin dan kejam satu ini, menunjukkan sifatnya yang dulu. Membuat Asta bergidik. Ucapannya dulu tidak pernah main-main, tapi sekarang apa akan tetap begitu?
"Sayang, kau tidak tahu aku sangat kekar? Ah benar, kita belum melakukan itu kan? Ah pantas saja kau tidak tahu, ya? Kalau begitu, ayo cepat kita ke atas sekarang." Ucap Xabiru seraya menarik tangan Asta.
"I-itu? Apa maksudmu?!" Tanya Asta gugup.
"Hmm? kenapa wajahmu memerah, sayang? Apa disini panas? Tapi matahari sepertinya belum ada?" Tanya Xabiru menggoda Asta.
"Aaaaaak kau menyebalkan! Pergi sana!" Pekik Asta seraya menarik tangan yang sedari tadi dipegang Xabiru, ia kemudian berlari, meninggalkan Xabiru yang tergelak.
Dasar Asta, beraninya menggoda, digoda balik malah tidak kuat? Main-main dengan dirinya begini, tentu saja akan dibalas.
Xabiri kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, yakni menyirami tanaman. Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Jadi, ia memanfaatkan waktu untuk menyiram. Toko juga masih satu jam lagi waktunya untuk buka. Jadi, santal saja. Lagipula para pekerja dan keamanan sudah datang, jadi masalah toko serahkan saja pada mereka.
__ADS_1
"Oh sepertinya besok sudah bisa panen." Ucap Xabiru dengan senyum mengembang. Begitu melihat semua tanaman dengan berbagai warna tersebut.
Xabiru hanya duduk di samping, ia menyiram dengan alat penyiraman otomatis yang airnya diambil dari sumur tentu saja. Xabiru hanya menekan tombol agar penyiraman bisa bekerja. Tapi jika ia bosan, ia juga akan melepaskan penyiraman di sampingnya dan menyiramnya dengan tangan dari jauh. Di arahkan ke tanaman-tanaman di depannya.
Alat baru, yang dibawakan oleh Teren beberapa hari lalu, itu adalah hadiah selamat dari Teren atas dibukanya Xabasta's Store. Asta yang menerimanya langsung, dan Xabiru memasangnya keesokan harinya.
Sangat praktis. Asta dan Xabiru sangat berterimakasih pada Teren atas hadiahnya. Sangat bermanfaat bagi keduanya yang menanam.
"Xabiru, sarapan sudah siap. Ayo makan dulu, sebelum sibuk dengan toko." Ucap Asta, yang ternyata masuk ke dalam untuk memasak sarapan.
Nira sarapan sereal dan susu dipagi hari. Asta tidak terbiasa masak sangat pagi, jadi hanya bisa memberi Nira makan sereal. Lagipula sama saja, dulu keduanya juga makan makanan seperti itu jika di keluarga sebelumnya.
"Oh ya, mau ajak para pekerja dan keamanan makan juga tidak? Aku rasa cukup jika makan bersama." Ucap Asta lagi membuat Xabiru menggeleng kuat.
"Berdua saja, oke? Ayo, ayo, aku sudah lapar. Mereka bisa mencari makan sendiri." Ucap Xabiru seraya membalikkan Asta dan berjalan di belakangnya seperti anak kecil yang sedang main permainan kereta api.
Sebelum naik ke lantai dua, Xabiru dikejutkan dengan kedatangan satu keamanan yang berlari dengan wajah serius. "Tuan, di depan ada satu keluarga yang mengaku temanmu. Mereka datang dengan keadaan tidak bagus, juga datang dengan kereta kuda." Ucapnya. Melaporkan apa yang terjadi.
Asta dan Xabiru saling menatap, kereta kuda yang dibilangnya, membuat keduanya teringat satu orang. "Kak Soni!" Pekik keduanya bersamaan. Kemudian berlari kecil untuk melihat keadaannya di depan.
"Cepat, cepat, bawa dia masuk!" Seru Xabiru membuat satu pria berotot lainnya dengan cepat menggendong Soni yang sudah tidak bisa berdiri sendiri. Kemudian semuanya masuk, dan Soni di letakkan di atas ofa yang ada di lantai dua.
"Kak Hana, apa yang terjadi dengannya?" Tanya Xabiru bertanya pada istri Soni, menunjuk Soni yang terbaring dengan wajah memar dan bengkak. Sedangkan Asta meninggalkan ruang tengah mengambil kotak p3k yang memang disiapkan untuk keadaan darurat.
*
*
__ADS_1