Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Xabiru Tertegun


__ADS_3

*


*


Karena ketenaran keluarga Baskoro dari hari ke hari naik, kabar pernikahan Sintia dan Edin pun tersebar luas bahkan di kalangan para pengguna sosial media. Selain itu, pernikahan keduanya yang akan dilakukan dengan tema outdoor menarik banyak perhatian publik karena dekorasinya yang cantik. Juga sempat menjadi trending topik di sosial media.


Asta bahkan tidak ketinggalan tentang berita yang sedang panas tersebut. Meski sedang panas, Asta tidak ikut memanas, malah menyeringai dengan tatapan jijik menatap foto dengan senyum lebar yang ditunjukkan Siska dan Edin di foto preweddingnya.


Asta tidak menyangka, setelah membunuh orang dengan kejam keduanya malah bisa se senang ini. Bahkan wajahnya tidak terlihat bersalah sama sekali. Hanya kebahagiaan yang lebar yang terlihat.


Setelah 2 menit melihat postingan tersebut, Asta menjadi muak, apalagi membaca komentar-komentar dari orang yang mendukung dan menyelamati keduanya dengan sangat baik.


"Sayang?" Panggil Xabiru dari luar kamar. Asta baru saja pulang dan istirahat setelah berlatih di markas. Ia pulang lebih dulu daripada Xabiru karena Xabiru masih harus mengurus beberapa pelatihan untuk anak buahnya.


Kini, Xabiru juga sudah pulang, lebih tepatnya menyusul Asta pulang, karena sejak pagi Asta terlihat tidak baik-baik saja. Wajahnya selalu ditekuk, tapi Xabiru sendiri tidak ada kesempatan untuk bertanya.


Xabiru memasuki kamar, membuka pintu dengan pelan karena takut Asta sudah tidur. Tapi begitu masuk, ia melihat Asta masih duduk dengan ponsel di tangan, Asta juga sudah menatap Xabiru dan tersenyum kecil.


"Belum tidur? Menungguku?" Tanya Xabiru menggoda Asta.


Tapi siapa sangka Asta malah menganggukkan kepalanya begitu Xabiru bertanya. Membuat senyum Xabiru melebar. "Tumben sekali? Ada apa?" Tanya Xabiru, mendekati Asta dan duduk di sampingnya. Menatapnya intens.


"Tidak apa-apa, hanya ingin tidur bersama saja. Kau sibuk mengurus markas akhir-akhir ini kan?" Tanya Asta.


"Hmm? Tapikan setiap malam aku tetap menyusulmu tidur bersama?" Tanya Xabiru balik. "Ah! Atau kau rindu pada yang lain? Hmm?" Tanya Xabiru mengeringkan kedua matanya, semakin menggoda Asta.


Asta melebarkan kedua matanya. "Apa-apaan? Bukan itu maksudku?! Kau menyebalkan! Mandi sana, aku tidur duluan saja." Rajuk Asta dengan kedua pipi yang memerah, menahan malu dan debaran jantungnya.

__ADS_1


"Hahahl, aku bercanda. Kau tidak rindu, tapi aku rindu." Bisik Xabiru kemudian. "Aku pergi bersih-bersih lebih dulu, kau jangan tidur, tapi siapkan dirimu, haha." Lanjutnya kemudian berlalu menuju kamar mandi meninggalkan Asta yang wajahnya semakin memerah.


Asta masuk ke dalam selimut, membungkus dirinya, lebih tepatnya menyembunyikan wajahnya yang memanas. "Laki-laki ini, terlalu bahaya, kan?" Bisiknya.


10 menit kemudian, Xabiru telah selesai membersihkan diri, tapi begitu masuk dan melihat Asta, Xabiru memkik dalam hati, menatap istrinya yang malah tertidur, sudah masuk mimpi, dengan lelap.


Xabiru menghela nafas kecewa, ia ingin tapi tidak mau membuat Asta bangun lagi. Ia sudah kelelahan beberapa hari ini karena ikut latihan keras. Meski ada air ajaib, tapi tubuhnya tetap harus diistirahatkan.


Tapi sudah lama sejak ia melakukannya. Jadi, Xabiru mulai mengganggu Asta pelan-pelan. Memeluk Asta dari belakang, dan tangannya tidak mau diam. Membuat Asta akhirnya membuka mata dan akhirnyaharus melayani suaminya yang sedang on tersebut.


Sampai keesokan paginya, keduanya bangun lebih siang karena kegiatannya semalam. Begitu bangun keduanya juga tidak langsung bangun, tapi saling bermalas-malasan dengan saling memeluk.


"Sayang, dua hari lagi aku harus ke ibukota. Ada urusan dengan pemilik antana's restoran. Kau mau ikut?" Tanya Xabiru.


Ibukota? Asta membulatkan kedua matanya, jantungnya juga sempat berdebar tidak nyaman. Kenapa bisa begitu kebetulan?


"Benaran mau ikut?" Tanya Xabiru sedikit ragu. Masalahnya, ini adalah ibukota, sebelumnya Asta sangat enggan kesana karena trauma masa lalunya.


"Ya, aku sudah harus memberanikan diri kan? Cepat atau lambat kita juga akan kesana. Anggap saja latihan, lagipula nanti hanya ke restoran Antana's saja. Jadi aku juga tidak perlu terlalu tegang nantinya." Balas Asta tersenyum. "Hanya saja, aku khawatir tentang keberadaan orang-orang jahat. Akankah mereka menemukan keberadaan kita jika kita memasuki ibukota lebih awal?" Lanjut Asta bertanya.


"Tidak, mari berbaur dengan orang biasa. Pakai masker dan kacamata juga saja. Ah, apa perlu aku meminta Clode memesan topeng wajah yang terbuat dari kulit agar mereka melihat orang lain di matanya?" Tanya Xabiru.


"Apa tidak terlalu berlebihan?" Tanya Asta seraya tersenyum geli.


"Menurutmu bagaimana?" Tanya Xabiru, berbalik bertanya pada Asta.


Asta mendengus kecil, "Aku kan bertanya padamu." Ucap Asta. "Tapi menurutku tidak perlu, cukup masker, kacamata, dan topi saja, bagaimana? Lagipula nanti kita masuk lewat pintu samping restoran kan? Jadi, meskipun ada beberapa orang dari orang jahat, aku rasa tidak akan terlalu memerhatikan kita." Lanjut Asta mengutarakan pendapatnya. "Masker, kacamata, dan topi, juga sudah sering dipakai orang-orang diibukota karena trend dari selatan. Jadi, tidak akan mencolok menurutku." Ucapnya lagi.

__ADS_1


Xabiru menganggukkan kepalanya, "Baiklah begitu saja. Tapi, untuk misi diibukota, apa sebaiknya pakai topeng kulit?" Tanya Xabiru lagi.


Asta mengangguk. "Pakai, agar mereka tidak tahu dan sulit mencari tahu orang yang diam-diam menyerang dan menjatuhkan nantinya. Jadi kita tidak akan terlalu cepat ketahuan juga." Ucap Asta setuju.


Sebenarnya Xabiru bisa saja mengambil keputusan tanpa berdiskusi. Tapi ia sudah memposisikan diri sebagai pasangan Asta, jadi meski tahu hasil akhir dengan menebaknya, ia akan tetap berdiskusi, karena keduanya pasangan. Komunikasi kecil sangat penting di antara pasangan untuk mendekatkan hubungan. Agar tidak terjadi salah paham.


Lain hal nya dengan Asta. Meski ia terbuka, tapi masih ada hal yang ia sembunyikan. Ketakutan dan perasaan tentang belum pada waktu yang tepat membuat Asta menahan diri agar dirinya tidak bicara dan tidak membocorkan rahasianya.


Meski begitu, Asta juga sesekali memancing Xabiru terhadap identitasnya. Agar Xabiru perlahan sadar dan ketika ia mengatakan yang sebenarnya, Xabiru tidak terlalu terkejut karena sudah menaruh kecurigaan pada Asta sendiri. Tapi sepertinya, sejauh ini, Xabiru masih belum sadar dengan ucapan-ucapan kecilnya.


Tidak apa, Asta akan mencoba lebih sering nantinya.


"Sudah sepakat, lalu sekarang kau pergilah mandi. Aku menunggu giliran." Ucap Asta menyuruh Xabiru.


"Mandi di danau ajaib, bagaimana?" Tanya Xabiru dengan tatapan penuh arti.


"Tidak mau." Tolak Asta dengan garis bibir melengkung ke bawah. "Aku lelah." Lanjutnya.


"Tidak akan, kau lupa airnya ajaib? Ayo, ayo, sebelum berangkat ke markas." Bujuk Xabiru semangat, membuat Asta tidak ada pilihan lain. Karena memang benar, airnya bisa mengembalikan tenaga dengan cepat.


Asta tidak bisa mengelak lagi.


"Sayang, aku ingin menunda memiliki anak sampai urusan kita dengan orang-orang itu selesai. Bolehkah aku mulai meminum pil pencegah kehamilan nanti?" Tanya Asta kemudian, membuat Xabiru yang bersemangat, berubah tertegun.


*


*

__ADS_1


__ADS_2