
*
*
Besoknya, setelah Xabiru sarapan dan menyiram tanaman, ia pamit pada Asta untuk naik ke gunung. Ia sengaja melakukan hal ini agar orang yang mengawasinya melihat Xabiru hidup dengan kesulitan karena setiap hari harus naik gunung untuk sekadar mencari kayu. Tapi selain mau mencari kayu, ia juga sekalian mau berburu, tapi hanya memasang jebakan saja di beberapa tempat yang sekiranya terlihat ada beberapa jejak kelinci.
Jebakan yang dibuat, ditetesi air ajaib oleh Xabiru, air ajaib murni yang tidak dicampur dengan air biasa. Total ada sekitar 4 jebakan yang Xabiru simpan di beberapa tempat yang dilewatinya di gunung. Dan satu jebakan saja yang ia tetesi, agar tiga jebakan lainnya tetap kosong, dan tidak membuat curiga.
Dengan membawa keranjang di punggung, akhirnya Xabiru yang telah menaruh jebakan, langsung pergi ke daerah yang ditumbuhi banyak pohon, menebang pohon dan memotong pohon menjadi potongan kecil agar bisa menjadi kayu bakar.
Sebelum sampai, ia juga sempat memetik beberapa buah liar yang siap makan. Rasberry yang sedikit asam, ia masukkan ke dalam keranjang, juga ada beberapa jamur dan selada, ia masukkan ke dalam keranjangnya.
Baru setelah ia selesai memetik, langsung memilih pohon dan menebangnya. Memotongnya menjadi potongan sedang. Butuh usaha, tenaga dan waktu yang lama menebang pohon baru.
Jadi setelah dua jam menebang dan selesai, ia duduk di atas rerumputan, lalu minum, istirahat sebentar dengan pikiran yang berkelana. Berpikir jika pekerjaan ini sangat sulit. Beruntung dirinya masih punya Asta dengan cincin ajaibnya. Jika tidak, dirinya mungkin memang harus tinggal dan naik gunung setiap hari bukan? Belum lagi ia masih harus bekerja di ladang, pulang juga harus menyiapkan makan untuk dirinya dan Asta.
Tidak, Xabiru mungkin tidak akan kuat melakukan hal itu jika terlalu lama. Meski kuat, ia juga punya batas lelahnya sendiri. Tapi begitu mengingat air dan istri ajaibnya, seketika Xabiru merasa jika hidup yang seperti ini juga tidak apa-apa, selama ada hal tersebut ia tidak akan mati kelelahan seperti ibunya.
Xabiru yang berpikir, terlihat sangat menyedihkan di mata orang yang mengawasinya. Ia bahkan sedikit simpatik pada Xabiru, karena tuan muda yang dulu hidup mewah dan berkecukupan harus jatuh sampai ke tahap seperti ini. Tidak lupa, ia memfoto apa yang Xabiru kerjakan, untuk laporan pada tuannya.
__ADS_1
Setelah 10 menit istirahat, Xabiru kemudian beranjak dan kembali melihat jebakan yang dipasangnya. Sudah dua jam, seharusnya jebakannya sudah terisi. Tapi sebelum ia melihat jebakan yang ditetesi air ajaib, ia melihat lebih dulu 3 jebakan lain yang memang benar dugaannya, itu kosong semua.
Xabiru berpura-pura menghela nafas berat. "Untung saja aku memetik beberapa jamur dan selada, jika tidak aku dan Asta mungkin tidak akan makan, hari ini." Ucap Xabiru dengan raut sedih. Membuat orang yang mengawasinya lagi, lagi, bersimpatik padanya.
Bahkan untuk makan saja sulit, tapi tuannya masih saja ingin mencari masalah dengan Xabiru, dan menyuruhnya mengawasinya, apa tidak keterlaluan? Ia benar-benar tidak mengerti pikiran orang kaya.
Xabiru akhirnya sampai di tempat jebakan, dan segera ia bersorak senang, jebakannya terlihat penuh terisi oleh hewan. Ada kelinci, ayam hutan, dan babi hutan.
"Panen besar! Astaga, aku bisa makan dengan tenang selama beberapa hari ini. Asta, tunggu aku pulang, dan aku akan memasakkan daging untukmu." Ucap Xabiru lagi, seraya mengambil Hewan juga jebakan yang dipasangnya.
Ia langsung turun gunung dengan membawa banyak jinjingan. Selain keranjang di belakang, ia Mambawa kayu, juga membawa hewan hasil panen jebakannya.
Melihat Xabiru turun gunung dengan senang, orang yang mengawasi Xabiru malah ikut merasa senang dan sedikit bersemangat. Hal yang seru melihat orang yang sebelumnya putus asa tidak tahu mau makan apa, malah tiba-tiba mendapat banyak hasil buruan. Keberuntungan besar. Itu menakjubkan.
Asta tertawa terbahak melihatnya, apalagi, Xabiru juga menceritakan orang yang mengawasinya, jika ia terus diikuti olehnya dan tidak melakukan apa-apa padanya. Xabiiru juga bercerita jika ia sangat kelelahan.
"Tunggu sampai dia pergi, mari kembali ke kabupaten." Ucap Asta seraya tersenyum lembut, ia mengelus kepala Xabiru dan sekalian mengusap keringat yang ada di dahinya.
"Ya, tentu saja. Tapi jika tidak mau juga tidak apa, asal ada kau, sayang. Aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi." Balas Xabiru tersenyum lebar.
__ADS_1
"Haha, baiklah, pergi bersihkan dirimu dulu. Juga, maaf karena tidak bisa membantu." Ucap Asta.
"Tidak apa, aku masih cukup kuat. Lagipula ada kau, aku senang. Lalu ada air ajaib, aku tinggal meminumnya saja nanti agar tenagaku kembali." Ucap Xabiru,.kemudian mencium pipi Asta, mengambil kesempatan dari Asta yang masih memegang pipinya dengan tatapan lembut.
"Kau! Dasar pencuri!" Gerutu Asta, karena Xabiru sudah pergi begitu Asta sadar jika Xabiru mencuri sebuah ciuman di pipinya.
Xabiru kembali ke depan rumah, dan langsung menyimpan hewan yang dibawanya di bawah dekat kayu bakar. Ada pagar di depan rumahnya jadi hewan tersebut tidak akan dimakan oleh hewan lain. Atau dicuri orang lain.
Xabiru kemudian menimba air, dan menuangkannya ke dalam ember juga panci. Ember itu akan dipakai dirinya untuk membersihkan diri, sedangkan panci air untuk merebus air panas, untuk membersihkan bulu-bulu ayam hutan. Sedangkan Babi dan kelinci, akan disapih kulitnya agar bulunya terlepas. Cara membersihkannya berbeda.
Setelah masuk dapur dan menyimpan panci di atas api, ia ke kamar dan mengambil baju ganti, setelahnya memasuki kamar mandi dan menyimpan baju, disampaikan di atas gubuk kamar mandinya.
Setelahnya, ia mengambil pisau dan mulai membersihkan bulu dan memotong daging kelinci, juga daging babi. Perlahan, sampai ususnya keluar, Xabiru tidak membuangnya dan menyimpannya di dalam baskom. Juga sekalian membersihkannya.
Selesai, Xabiru kemudian mengambil air yang dimasaknya, yang sudah matang. Ia menuangkannya ke dalam baskom lebih besar yang sudah ada ayam hutan mati di dalamnya. Menyiramnya ke atas ayam tersebut.
Seraya menunggu direndam, ia kembali membersihkan usus babi. Tidak Xabiru buang, karena dimasak juga akan enak. Kalaupun tidak ia bisa memberikannya pada tetangganya yang sering meminjamkannya sepeda. Maksudnya menawarinya lebih dulu, jika tidak mau, maka akan ia berikan pada Asta, untuk disimpan di cincin ruang. Bumbu yang ada disini tidak lengkap, jadi Xabiru takutnya tidak benar memasaknya.
Setelah semuanya selesai, Xabiru kemudian menyibukkan diri di dapur, memasak semua hidangan yang akan dimakan siang dan malam ini, dengan menu mewah, daging dan jamur. Baru kemudian ia pergi membersihkan diri setelah selesai masak.
__ADS_1
*
*