
*
*
"K2, bisakah kau masuk ke ballroom untuk mengabariku ketika pemberkatan dimulai?" Tanya Asta pada K2 yang ada di depan pintu. Membuat K2 menatap Asta dengan bingung.
"Undangan elektroniknya sudah aku kirim, kau masuk saja seperti tamu biasa. Aku disini dengan K1, aman." Lanjut Asta lagi, bahkan sebelum K2 melakukan jawaban setuju dan tidaknya.
Tapi, Asta adalah tuannya kan? Ada hak apa K2 menolaknya? Alhasil, K2 kini masuk ke dalam Ballroom dengan undangan elektronik yang telah Asta kirimkan. K2 tidak banyak dikenali jadi ia juga tidak mendapat banyak perhatian dari orang. Keberadaannya benar-benar tidak terlihat di dalam.
Di sisi lain, Asta yang sudah mendapat kabar jika K2 sudah masuk, mengangguk dengan puas. "K1, menurutmu kapan penjaga sound akan kembali kemari?" Tanya Asta.
"Seharusnya sebelum acara mulai sudah stand by, nona. Tapi aku tidak tahu kemana perginya sampai belum masuk saat ini." Balas K1, ia tetap di depan pintu dengan tersembunyi. Sama hal nya dengan Asta, ia bisa bersembunyi jika ada seseorang yang masuk.
Sebelum sampai ke tempat Asta, maka K1 akan langsung melumpuhkannya. Membuatnya tak sadarkan diri, bahkan mengikat dan menutup mulutnya dengan kain, mungkin? Itu yanga ada di pikiran Asta tentang tindakan pasti K1 nantinya.
"Ada yang mau masuk, nona, kau bersembunyi dulu. Aku akan melumpuhkannya begitu ia masuk dan membelakangi ku." Ucap K1, baru saja dipikirkan,yang mengatur sound sudah masuk dengan satu temannya.
K1 kemudian bergerak cepat setelah melihat Asta nyaman. Kedua orang masuk dengan mengobrol, dan begitu K1 berada di belakang keduanya, ia langsung memukul leher kedua orang tersebut, membuat keduanya langsung pingsan tak sadarkan diri.
Asta yang melihatnya, langsung berlari setelah mendapatkan tali dari rak barang bekas yang ada di ujung ruang sound tersebut. Sekalian, ia membawa kain bekas yang seperti lap di sana karena terlihat kucel.
"Bagus, ayo ikat dan bungkam dulu." Ucap Asta seraya menyodorkan tali dan kain pada K1 yang baru selesai menyeret dua orang yang pingsan ke samping sampai keduanya bersandar di dinding.
Setelah selesai, ia mengacungkan jempol pada K1 sebentar sebelum akhirnya K1 pergi dan mengunci pintu dari dalam. Sedangkan Asta membuka ponselnya ketika mendapat notifikasi dari K2, membuat Asta mengernyit karena secepat ini K2 sudah mengirimnya pesan.
Tapi begitu dibuka, Asta langsung tersenyum lebar. "Ksempatan bagus, jadi aku bisa mengacaukannya lebih awal." Gumam Asta.
K2 mengabarinya, setelah ia mendengar rentetan acara yang telah dibacakan oleh MC. Dan sebelum pemberkatan, akan ada satu acara yang akan menampilkan kebersamaan dan kedekatan mempelai pengantin wanita dan pria sebelum akhirnya bisa sampai ke jenjang pernikahan. Seperti rekaman kenangan yang akan diputar sebelum pengucapan janji suci.
__ADS_1
Dan Asta akan memanfaatkan hal ini dengan menampilkan video dari beberapa bulan lalu, ketika Sintia dan Edin menusuknya dan mengatainya dengan kejam. Penghianatan dan keserakahan yang begitu kejam, para tamu pasti akan merekam dan menyebarkannya tanpa diminta. Apalagi, tamu yang datang kebanyakan adalah kalangan kelas atas, juga jangan lupa dengan satu wartawan yang diundang keluarga Baskoro.
Pernikahan akan semakin meriah bukan?
"Lama sekali, apa sih yang mereka lakukan di sana?", Tanya Asta menggerutu, sedikit bosa dengan keadaannya yang menunggu kabar dari K2.
"K1, kau sudah menikah belum? Ada anak? Atau kau punya pacar? Tunangan?" Tanya Asta tiba-tiba, untuk mengusir rasa bosan, ia bahkan bertanya hal random pada K1 yang langsung terbatuk kecil mendengar pertanyaan Asta.
"Tidak ada wanita, ada anak." Jawab K1 tanpa memandang Asta. Meski terlihat tidak sopan, tapi keduanya sedang berdua saat ini. Lebih tidak sopan jika saling mengakrabkan diri di saat seperti ini. Jangan sampai dirinya terkena imbas dari tuannya yang pencemburu. Seperti waktu pertama kali datang. K1 adalah orang yang paling dibatasi waktu itu hanya karena Asta yang memilih dan menyukainya.
"Hmm? Aneh. Bukankah kau tampan, mapan, dan cakap? Ah, apa kau mengusir semua wanita yang mendekatimu?" Tanya Asta bingung. "Lalu anak? Kau ada anak, tapi dimana ia sekarang? Kenapa kau tidak membawanya? Apa dia baik-baik saja ditinggal sendiri?" Tanya Asta lagi, penasaran.
Ting!
"Oh, ini K2! Sudah waktunya, haha. Let's play the game Baskoro!" Ucap Asta dengan raut senang.
K1 menghela nafas lega karena K2 mengirimkan pesan. Secara tidak langsung K2 menyelamatkan dirinya dari banyaknya pertanyaan Asta. Dirinya bingung mau menjawab apa. Juga, itu privasinya, tapi jika tidak menjawab Asta adalah salah satu tuannya juga. Terlebih, ialah yang memilihnya, dan akan sangat tidak enak jika dirinya menolak pertanyaan Asta meski dirinya memiliki hak tidak menjawab.
Disisi lain, di ballroom hotel, video di putar ketika Anastasia bersorak senang setelah memenangkan tender besar, dan langsung memeluk Eddin yang saat itu masih berstatus tunangannya.
Anastasia memeluk tunangannya Eddin, tanpa Anastasia sadari Sintia yang sudah berada di belakangnya, merubah rautnya dan mengode Eddin, berikutnya, Eddin langsung menusuk Siska tepat di ulu hatinya.
"K-kau, kenapa? A-aku--"
Brak!
Anastasia dijatuhkan di lantai, terlentang dengan darah bercucuran dari perutnya.
"Kau pikir aku benaran cinta padamu? Tidak, sayang, aku hanya cinta harta yang akan datang setelah ini." Ucap Eddin seraya tersenyum sinis.
__ADS_1
"AH! APA-APAAN INI?! CEPAT MATIKAN! MATIKAN!" Teriak Eddin di saat Sintia dan yang lainnya masih terpaku dengan video yang diputar.
"DIMANA ORANG YANG MEGATURNYA?! CEPAT PERGI PERIKSA!" Teriak Sintia setelah sadar dan langsung berteriak marah.
"A-ayah, i-ibu..."
"No! No! Asta, mereka Ayah dan Ibu kandungku. Kau hanya anak panti yang kami pungut, tapi malah merajalela. Kau pikir, kedua orang tuaku benaran sayang padamu?" Ucap Sintia menjelaskan semuanya, membuat Anastasia yang masih memiliki sedikit kesabaran, menyimpan dendam.
"K-kau ******!" Umpat Anastasia sebisanya, meski dengan suara yang lemah.
"ARRGH! CEPATLAH BERGERAK PENJAGA TIDAK BERGUNA! MATIKAN LAYARNYA!" Teriak Sintia membabi buta, membuat semua orang menatap wajah seramnya.
Semua orang berbisik dan menatap tidak percaya video tersebut. Ada beberapa yang menonton dengan seru, ada yang mengutuk, ada juga yang merekamnya. Keadaan benar-benar kacau saat ini.
"Lihat dan nantikan, orang pertama yang akan aku buat sengsara adalah kau, S-sintia!" Sinis Anastasia dengan suara parau.
"Masih bisa mengancam, heh? Sepertinya rasa sakit yang diberikan kurang, ya?" Tanya Sintia sinis, membuat dirinya kembali mengambil pisau yang tergeletak di lantai dengan darah. Kemudian ia menusuk perut Anastasia lagi, setelah sebelumnya menggunakan sarung tangan.
"Uhuk! S-sakit, h-hentikan." Ucap Anastasia tersiksa dengan wajah tidak karuan akibat rasa sakit yang dideritanya.
Potongan video telah dipotong sebagian oleh Asta. Karena ada beberapa yang membicarakan kelahiran kembali. Sengaja, tidak penting juga, lagipula itu adalah senjata rahasia, yang akan menghancurkan Sintia perlahan.
Tapi video terus berlanjut sampai saat Sintia menusuk Asta berkali-kali dengan raut senang dan tidak merasa bersalah.
Melihat video yang tidak kunjung dimatikan, Eddin akhirnya bergerak dan memukul layar dengan vas bunga keramik, ia melemparnya sehingga layar langsung berhamburan pecah.
Semua orang yang sudah kacau karena omongan-omongan, akhirnya semakin kacau setelahnya oleh teriakan ketakutan para wanita. Teriakan ngeri dan ditujukan pada Sintia, kemudian teriakan ngeri yang ditunjukkan pada Eddin.
Disisi Lain, Asta tersenyum puas setelah mendapat pesan dari K2. Iapun mengajak K1 dan K2 untuk meninggalkan kekacauan tersebut, dan setelahnya K1 meminta waktu sebelum benar-benar pergi. Karena ia harus dengan cepat menghapus rekaman pengawas. Juga menghilangkan semua jejak, agar keluarga Baskoro tidak dapat menemukan keberadaan mereka.
__ADS_1
*
*