
*
*
"Bukankah kau bilang 2 hari? Ini sudah dua hari, tapi kenapa kau belum juga kembali?!" Pekik Sintia pada ponsel yang kini dipegang oleh tangan kanannya, ditempelkan ke telinga. "Tambah waktu? Kau selalu saja begitu. Akhir-akhir ini, bahkan kau tidak menanyakan kabarku sama sekali!" Lanjutnya memekik kesal.
"Jika tidak peduli padaku, setidaknya pedulilah pada anak yang ada di perutku! Kau sudah janji akan menemaniku ke dokter dari bulan lalu! Sebenarnya apa sih yang membuatmu tertunda?! Kalau tidak mau, seharusnya jangan berjanji dari awal!"
Teriak Sintia pada ponselnya, kemudian melemparkan ponsel tersebut ke atas kasurnya dengan emosi.
Sudah dua bulan sejak Eddin mengingkari janji menemani dirinya cek kandungan, tapi setiap kali jadwal cek up sudah dekat, ia selalu tidak ada di rumah dan selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Sintia kesal, marah, tapi ia hanya bisa melampiaskannya begitu saja. Dia tidak bisa semena-mena seperti dulu, kini ada nyawa lain di perutnya, dan Sintia tidak mau suatu hal buruk terjadi pada anak yang masih ada dalam kandungan ketika ia bertindak sesukanya seperti dulu.
Tapi Eddin ini keterlaluan, dua bulan ini selalu sibuk dan mengabaikannya. Bahkan mengabaikan keinginan anaknya sendiri. Juga, jarang pulang dan lebih sering menginap di kantor. Alasannya karena banyak pekerjaan.
Sintia berdecih, "Rahayu! Kemarilah." Pekik Sintia akhirnya, memanggil asisten rumah tangganya.
"Aku disini, ada yang perlu aku bantu, nyonya muda?" Tanya Rahayu dengan raut ramah.
"Sudah dua hari sejak kau masuk kerja, bukan? Aku lumayan suka dengan kerajinanmu. Jadi, mulai besok, pekerjaan memasak makananku dan membersihkan kamarku, aku serahkan padamu. Dan juga, tolong siapkan dan bersihkan setiap hari kamar kosong yang nantinya akan menjadi tempat anakku." Jelas Sintia pada Rahayu.
__ADS_1
Rahayu mengangguk dengan cepat setelah berterimakasih, kemudian ia berbalik dan berjalan pergi dengan raut yang sudah berubah 180 derajat. Hanya ada rasa jijik dan dendam di rautnya.
Setelah jauh, "Ck, aku tidak akan melakukan ini jika saja aku tidak ingin balas dendam. Ahh... Xabiru juga, membuat rencana seperti ini?! Membuatku menjadi babu! Awas saja, kau!" Desis Rahayu, alias Asta.
Ya, ia telah berhasil memasuki kediaman keluarga baskoro. Dua hari setelah penyelesaian kasus keluarga Waverly, dan memastikan semuanya mendapat hukuman, juga memastikan hak dari Asta dan Nira di dapatkan, Asta dan Xabiru, juga anak buah lainnya langsung meng-eksekusi rencana yang telah dibuat sebelumnya, untuk keluarga Waverly. Rencana di alihkan ke keluarga Baskoro dengan beberapa revisi di bagian rencana perebutan perusahaan.
Asta tidak dikenali sebagai nona dari keluarga Waverly oleh Sintia yang sudah sangat hafal karena kehidupannya sebelumnya, sebab Asta mendandani wajahnya, seolah dirinya adalah orang lain. Dan cara ini berhasil mengelabui semua persyaratan ketat keluarga Baskoro ketika mencari pengganti asisten rumah tangga yang sebelumnya telah mengundurkan diri.
Tentu saja itu perbuatan Xabiru. Jika tidak, siapa yang akan mengundurkan diri dari pekerjaan ketika dirinya sendiri sangat membutuhkannya?
Asisten rumah tangga sebelumnya telah disogok Xabiru dan diiming-imingi pekerjaan bagus di tempat lain, yakni di restaurant, di perbatasan kabupaten dan ibukota. Dengan menawarkan gaji dan pekerjaan yang lebih baik, tentunya Asisten rumah tangga ini tidak berpikir dua kali dan langsung menerimanya.
Lalu ketika dia mengundurkan diri, dia juga merekomendasikan Asta sebagai asisten rumah tangga yang baru. Sebagai percobaan, Asta disuruh memasak makanan oleh Sintia untuk memuaskan seleranya, sebagai ujian apakah Asta sendiri mampu mengemban tugas di rumahnya atau tidak.
Asta diam-diam berdecak ketika ia terpilih, Sintia bukankah terlalu mempercayai orang baru? Tapi, yasudahlah, lagipula ini bagus untuk rencananya. Mereka selangkah lebih dekat sekarang.
Apalagi, Asta juga memang sudah dua hari menginap. Jadi asisten rumah tangga yang harus selalu ada di manapun dan kapanpun di butuhkan di rumah tersebut.
Sedangkan Xabiru? Ah, tidak ada. Xabiru tidak masuk ke rumah keluarga Baskoro sama sekali. Hanya Ada yang masuk, beserta satu anak buahnya yang terlihat lemah.
Asta masuk sebagai asisten rumah tangga, dan anak buahnya masuk sebagai supir. Asta bagian mendekati Sintia, dan anak buahnya bagian mendekati Eddin.
__ADS_1
Untuk orang tua Sintia, jika ibunya berada di rumah, maka bagian Asta mengawasi. Sedangkan jika Ayahnya yang suka ikut keluar juga, maka bagian anak buah Xabiru yang mengawasi. Keduanya berbagi tugas dengan baik.
Lalu dimana Xabiru? Ia rela melepas Asta dan membiarkannya jauh dari dirinya, apa tidak khawatir? Jawabannya adalah tentu saja ia sendiri khawatir pada keadaan Asta yang jauh darinya. Juga takut akan identitas Asta yang rawan ketahuan.
Tapi, ia harus menerimanya. Tidak ada orang lagi selain Asta yang pas, yang bisa masuk ke dalam keluarga Baskoro. Selain Asta tahu bahanya keluarga tersebut, Sifat dan perilaku mereka juga Asta tahu. Asta sudah familiar dengan mereka, dan hanya Asta yang mampu melindungi diri dengan baik jika ada apa-apa.
Jadi Xabiru hanya bisa melepasnya, sedangkan dirinya sendiri bertugas di perusahaan keluarga Baskoro, yakni Unind. Ia menjadi orang yang direkomendasikan oleh kolega kepercayaan Unind, yang tentu saja sudah Xabiru gaet.
Jadi, dengan penyamaran yang sama dengan Asta, sama-sama merubah wajah dengan make up, Xabiru masuk dan menjadi salah satu orang penting yang bisa mengikuti setiap rapat dan tugas penting yang ada di perusahaan Unind. Karena selain ia direkomendasikan oleh kolega kepercayaannya, Xabiru juga sangat mampu memecahkan beberapa masalah lama yang selama ini sulit ditangani oleh Eddin.
Asta dan Xabiru, dalam dua hari sudah dapat kepercayaan dari majikan masing-masing. Meski rencana bisa mulai dilakukan, tetapi keduanya sepakat menunggu 3 hari dalam melangsungkan rencana. Khususnya rencana konyol yang akan Asta lakukan.
Yakni menakut-nakuti satu keluarga Baskoro dengan hantu Asta. Menyiksa setiap orang setiap malam agar setiap orang di keluarga Baskoro tidak tenang. Khususnya untuk Sintia, Eddin, dan kedua orang tuanya. Karena mereka yang dulu berhubungan langsung dengannya sebelum Asta mati dibunuh.
Setelah lama mengganggu, mental dan kesehatan akan menurun kan? Akhirnya akan membuat orang-orang ini stress. Lalu jika ada beberapa yang nekat dan bodoh, ia bisa saja menjadi gila dan melaporkan dirinya sendiri ke pihak yang berwajib.
Dengan begitu, Asta tidak perlu susah payah membuat mereka semua ditangkap, jika sudah menyerahkan diri.
So simple.
Intinya buat mereka semua, perlahan menjadi gila.
__ADS_1
*
*