
*
*
Xabiru yang sudah terlihat persis seperti Erik, mengemudi ke kediaman Alexander dengan tenang. Misinya memang mudah, tapi berbahaya. Ia memang sering melakukan penyamaran dulu ketika di Alexander, ia adalah raja menyamar. Tapi keluarga besar Alexander adalah dewanya, ia diajari awalnya oleh keluarga tersebut, makanya, meski ia tenang sebetulnya sedikit gugup menjalankan misi yang sudah biasa ia lakukan ini.
Tapi jika pimpinan tua ke 4 keluarganya tidak ada di kediaman besar, maka rencana akan berjalan dengan sangat lancar. Xabiri sangat yakin dengan penyamarannya. Asal tidak ada yang berkhianat, maka Xabiru pasti dapat menyelesaikan misi dengan baik.
Terlebih, perawakannya sangat mirip. Lalu Xabiru juga bisa mengubah suara dengan lancar. Ia adalah peniru suara alami. Siapapun orangnya, bisa ia tiru setelah pengamatan beberapa waktu.
Sampai akhirnya ia sampai di depan gerbang kediaman, setelah menunggu untuk di cek, akhirnya gerbang kediaman dibuka. Xabiru mengemudikan mobilnya masuk, dan melihat sekitar. Sudah lama sejak dirinya tidak berkunjung, dan tempat ini tidak banyak berubah.
Perasaan tidak nyaman menyeruak di hatinya. Kesal, sedih, dan Marah adalah emosi yang paling mendominasi, kedua matanya memerah, tapi ia tetap tenang mengemudikan mobil agar terpakir di tempat para bawahan.
Xabiru keluar dari mobil, ia langsung di sambut oleh teman Erik yang menyuruhnya langsung memasuki kediaman karena Alexander, yakni Ayahnya Xabiru sudah menunggu untuk menerima laporan.
Xabiru menjinjing paper bag yang berisi makanan dari restaurant yang telah di bawa Asta. Ia mengangguk pada teman Erik dan langsung berjalan ke ruangan dimana Ayahnya menunggu. Beruntung, orang yang berbicara pada Xabiru memimpin jalan, jadi Xabiru tidak perlu membuat kecurigaan karena ia tidak tahu tempatnya.
Sampai akhirnya ia sampai, Ayahnya duduk di kursi kebesaran dengan senyum kecil tapi ekspresi datar. Kelicikan tercetak jelas di wajahnya. Dendamnya menyeruak begitu saja ke permukaan. Tapi Xabiru tetap mengontrol dirinya agar tetap tenang.
Xabiru membungkukkan badannya menyapa Ayahnya. "Tuan." Sapanya. Kemudian tangannya menyimpan paper bag yang dibawanya di meja di depan Ayahnya.
"Kau cukup perhatian, seperti biasanya." Ucap Ayahnya dengan anggukan puas. Kemudian meraih paper bag dan membongkar isinya. "Laporkan situasinya." Lanjutnya memerintah.
"Semua tamu VIP dan VVIP yang datang memang benar orang-orang besar. Tapi identitas pemilik tetap belum terbongkar, sebab mereka semua menutup rapat tubuh dan wajahnya. Untuk masalah kerja sama, mereka mengatakan, mereka akan mengabari lusa karena pemilik cukup sibuk untuk membicarakannya hari ini." Jelas Xabiru dengan baik. "Lalu, mereka bilang mereka akan datang langsung ke perayaan tuan lusa, dan akan membicarakan kerja sama setelah perayaan selesai." Lanjut Xabiru.
Ayah Xabiru terlihat mengangguk dengan wajah datar. Ia sedang memakan makanan yang dibawa Xabiru saat ini, menikmatinya karena memang enak, rasanya beda dari yang lain.
"Baik, kau urus sisanya lusa." Ucap Ayahnya. "Cari tahu orang dibalik Xabasta's ini. Aku tidak percaya tidak ada orang besar dibaliknya. Jika tidak, kenapa orang-orang besar dari berbagai kota mau datang?" Analisanya.
"Mengerti, Tuan." Jawab Xabiru.
"Tapi kesampingkan hal itu, cari tahu setelah perayaan saja. Kau pergilah urus sisa persiapan. Jangan sampai ada yang terlewat, jangan sampai ada yang tidak baik terjadi lusa." Ucap Ayahnya dengan nada tenang, tapi penuh peringatan.
Setelah menerima perintah, Xabiru kemudian keluar dengan tatapan intimidasi dari Ayahnya. Ia keluar dan langsung mencari orang yang bertanggung jawab ketika Erik pergi ke perbatasan.
__ADS_1
Karena tidak tahu orangnya dimana, alhasil Xabiru hnya berjalan ke aula kediaman besar, karena tebakannya, aula tersebut lah yang akan dipakai untuk acara lusa. Mengingat sifatnya, Ayahnya tidak pernah mengadakan acara di luar jika perihal dirinya.
Tapi baru beberapa langkah Xabiru meemasuki aula, lampu di aula langsung padam. Membuat Xabiru waspada, perasaannya menjadi cemas tapi di permukaan ia tetap tenang dan diam. Mengawasi sekelilingnya, menajamkan pendengarannya.
BUK!
SRET!
Xabiru bergerak cepat menghindari pukulan balok kayu atas pendengarannya yang tajam. Ia tidak banyak bicara, tapi tebakannya dengan ragu mengarah ke apakah dirinya sudah diketahui secepat ini?
BANG!
Xabiru menahan pukulan besi dengan tangannya. Dalam kegelapan, penglihatan tidak berfungsi, hanya ada telinga untuk mendengar. Kekuatan Xabiru menjadi terbatas dalam menghadapi serangan-serangan yang datang.
Tapi mendengar banyaknya langkah kaki yang menghampirinya, ia mundur lebih dalam, masuk ke dalam aula dengan cepat. Langsung mengarah ke arah yang dirasanya tidak ada orang.
Seraya mundur, ia mengeluarkan kacamata kecil yang bisa membuatnya melihat di kegelapan. Untungnya, Clode memaksanya menyimpan kacamata tersebut dengan dirinya, jadi kali ini ia bisa berguna untuknya.
Xabiru kemudian berhenti dan berbalik dengan tenang, membuat keadaan sunyi. Menahan nafas, ada puluhan orang yang masuk dan hendak menyerang dirinya, membuat ia menggerakkan giginya karena akan sulit untuk keluar dari aula yang sangat tertutup tersebut.
Di sisi lain, Asta yang ditinggalkan tidak berapa lama langsung tertidur di ruangan tersebut. Tanpa tahu jika ada orang yang diam-diam hendak masuk ke dalam ruangannya. Ia adalah salah satu dari penjaga yang ditugaskan menjaga Asta.
Tapi orang tersebut berhasil di cegah oleh salah satu penjaga lainnya yang sempat tumbang tak sadarkan diri karena dipukul tengkuk belakangnya.
Mendengar keributan di luar, Asta dengan cepat bangun dan menjadi waspada. Ia melihat rekaman di layar, terlihat dua penjaga yang disuruh menjaganya sedang berkelahi di luar ruangan yang sedang di tempati Asta.
"Kau bajingan!"
BUGH!
"Penghianat!"
BUGH! BUGH! BUGH!
"Cih! Begitu saja kekuatanmu? Betapa lemahnya? Tuan mudamu sangat tidak kompeten melatihmu!"
__ADS_1
DUAGH!
Orang yang mengatai penghianat ditendang ketika lengah, membuatnya langsung terjatuh ke lantai. Tapi ia belum kalah, jadi ia langsung mengeluarkan pisau dan hendak menyerang lagi.
Sebelum menyerang, ia berteriak memperingatkan Asta. "NONA, KAU DI DALAM?! BERSIAPLAH! ADA SEORANG PENGHIANAT DISINI! KAU HARUS MENJAGA DIRIMU TETAP AMAN JIKA AKU KALAH!" Teriaknya kemudian menerjang orang di depannya dengan pisau di acungkan.
"Argh!"
Pisau berhasil menusuk, tapi tidak tepat sasaran. Hanya menusuk paha dan bukan perut. Orang di depannya masih bisa bergerak dengan wajah muram. "MATI SAJA KAU!" Teriaknya kemudian menendang wajah orang yang menusuknya, dengan cepat mengeluarkan pistol.
DOR! DOR! DOR!
"HAHAHA! MATI KAU, MATI!" Teriaknya, seraya terus menembaki.
"SELANJUTNYA ADALAH KAU ******! BERSIKAPLAH BAIK, MAKA AKU AKAN MEMPERLAKUKANMU DENGAN BAIK! KELUAR DENGAN PATUH!" Teriak kemudian, menatap pada pintu yang tertutup.
Karena tidak ada balasan, ia menggedor pintu dengan kencang. "Kau ingin bersembunyi?! Baik, baik, bersembunyilah selama yang kau mau! Hahaha!" Ucapnya dengan tawa yang terdengar seram.
Di dalam, Asta berusaha menenangkan dirinya. Ia sudah berjanji pada Xabiru akan menjaga dirinya sendiri, mengingat janjinya, ia langsung merasa tenang. Pikirannya kemudian dipenuhi rencana.
BRAK!
Pikirannya sudah lebih jernih, dan hal yang pertama dilakukan Asta adalah menghancurkan semua layar yang merekam kegiatan pengawasan orang-orang Xabiru.
"Apa yang sedang kau lakukan?! Buka pintunya dengan patuh!" Pekik orang di luar setelah mendengar suara berisik dari dalam. Dengan nada mengancam yang jelas.
Asta tidak peduli dan terus menghancurkan semuanya. Selain itu, ia mengambil semua dokumen dan barang milik Xabiru dan Clode, melemparnya ke cincin ruang.
"Baik, jika kau tidak mau patuh, jangan salahkan aku bertindak kasar!" Pekiknya lagi dan terdengarlah suara dobrakan pintu.
Asta berhasil mengahmcurkan semuanya, dan ia langsung menghilang masuk ke dalam cincin ruang, bertepatan dengan pintu yang telah berhasil di dobrak.
*
*
__ADS_1