
*
*
Asta menggigit jarinya dengan cemas. Senjata utamanya tidak bertahan lama. Alexander masih bisa menghandle semua keributan yang dibuatnya dalam sekejap.
Para tetua mengeluarkan anak buahnya dengan cepat begitu sistem keamanan Alexander di retas dan dibuat down. Usahanya dalam tiga hari juga dengan cepat dibetulkan.
"Dean, beritahu Feri, kita tidak bisa menunda waktu Alexander lagi. Ingatkan mereka jika bantuan Alexander sudah dalam perjalanan. Mereka harus dengan cepat keluar dari pulau itu." Ucap Asta cemas.
"Tenang, kak, aku sudah mengirim sinyal yang kita sepakati sebelumnya. Bantuan Alexander juga hanya akan datang dalam dua hari." Ucap Dean santai.
Ia yakin kakak-kakak seniornya dapat keluar dengan mudah. Apalagi Tuan Mudanya, ia begitu hebat dan ahli, sudah pasti akan aman. Dua hari, lebih dari cukup untuk mereka semua meninggalkan pulau.
Apalagi penyusupan diketahui dengan lambat. Banyak anak buah alexander berjatuhan dengan cepat. 200 orang penjaga yang ada di pulau kediaman megah tersebut, sudah pasti berkurang banyak.
Meski bantuan dari sini hanya sekitar 50 orang dengan kuota yang ditambah oleh Asta, tapi K1, K2, dan K3 sangat mumpuni dalam membantai penjaga yang levelnya ada di bawah ketiganya. Ditambah Xabiru, penyelamatan akan berjalan dengan lancar.
Keributan yang dibuat Dean dan Asta juga berhasil mengalihkan perhatian Alexander, Alexander memfokuskan diri pada membenahi keributan, sehingga waktu tertunda untuk mengirim bala bantuan ke pulau tersebut.
"Semoga mereka kembali dengan selamat." Ucap Asta masih dengan perasaan cemasnya. Tapi ia juga tidak berhenti menyuruh Darren membuat keributandi seluruh sistem Alexander, agar semakin sedikit orang yang dikirim sebagai bala bantuan.
Disisi lain, Xabiru dan ketiga orang lainnya telah ada di lantai 3.
__ADS_1
"Xabiru, lepaskan mekanisme pulau. Suruh anak buahmu menunggu di hutan dengan helikopternya. Jangan lewat dermaga, kita harus memutar untuk mengelabui mereka." Ucap Kakeknya, ia tahu betul mekanisme dan jebakan yang ada di pulau ini.
"Mekanisme apa, kakek?" Tanya Xabiru bingung.
"Telfon rumah itu, itu adalah mekanismenya. Bantu pecahkan kodenya. Clode, bantu Xabiru. Aku dan Felix akan keluar membantu anak buahmu melawan." Ucap kakeknya kemudian pergi meninggalkan ruangan di lantai tiga.
"Tidak, kakek! Kau tidak akan bisa! Sudah bertahun-tahun sejak kau dikurung, kau pasti tidak punya tenaga melawan mereka!" Pekik Xabiru marah. Ia kemudian mengeluarkan dua botol air ajaib yang diberikan Asta padanya dan masing-masong memberikannya pada Kakek dan Felix. "Minum ini dulu, untuk memulihkan tenaga dan kebugaranmu. Tunggu disini, sementara aku memecahkkan mekanisme jebakannya." Lanjut Xabiru, dengan raut dingin.
Sedang dalam keadaan tidak dapat dibantah, Xabiru menghampiri Clode yang sedang memutar angka di telfon rumah jadul, untuk mencari kode yang benar. Sementar kakek dan Felix meminum air ajaib yang langsung membuat keduanya seketika takjub karena air yang diminumnya, selain meredakan dahaga, juga mengembalikan kebugarannya.
"Terpecahkan!" Pekik Clode berbinar dengan seringai tajam. Setelahnya, telfon pelan-pelan hancur sendiri, dan jebakan yang ada di pulau, semuanya telah nonaktif.
"Ayo pergi, Aku akan memimpin jalan, kakek dan kakek Felix ikuti aku, dan Clode berjaga di belakang." Ucap Xabiru, kemudian ia menekan tombol kecil earpiece nya. "Semuanya, berkumpul di hutan belakang rumah ini. Termasuk helikopter!" Perintahnya yang langsung dimengerti.
"Tuan!" Sapa semua anak buah Xabiru begitu semuanya sampai di hutan belakang rumah setelah berjuang melawan dan terluka.
"Kenapa menjadi lebih banyak?" Tanya Xabiru bingung. "Tidak ada waktu. Masuk helikopter, sisanya lewat jalan samping, kapal sudah menunggu di sana." Ucap Xabiru memerintah.
Kemudian dengan cepat semua orang berpencar. Sekitar 24 orang menaiki helikopter yang dibeli Xabiru termasuk Xabiru, tiga kemanan dan kedua kakek. Sisanya, berlari dengan cepat menuju hutan samping yang mengarah ke lautan, kapal besar Xabiru sudah sampai di sana sejak kemarin. Menunggu semuanya naik untuk kembali.
Helikopter jenis Charter yang dibeli Xabiru, otomatis, satu helikopter diisi dengan 8 orang penumpang. Termasuk yang mengemudikannya, satu helikopter diisi dengan 9 orang, meski jenis ini muat hingga 11 orang, tapi ada barang-barang di dalamnya. Alhasil yang lainnya hanya bis berlari dan mencapai lautan di arah samping yang tidak satu arah dengan dermaga di awal Xabiru datang.
Yang terluka khususnya, di naikkan langsung ke atas helikopter, sedangkan yang masih bugar, dikerahkan meninggalkan hutan untuk menaiki kapal.
__ADS_1
Setelah di helikopter, dan di bawah anak buahnya telah pergi jauh, Xabiru kemudian melemparkan bom ke bawah, agar hutan tersebut tidak bisa meninggalkan jejak, yang nantinya bisa membuatnya kerepotan.
Xabiru menunggu konfirmasi semua orang aman lebih dulu sebelum benar-benar pergi dari pulau tersebut.
Di sisi lain, guru bela diri terbangun, ia mengeluarkan ponselnya menghubungi satu tetua di Alexander. "Clode telah bebas, tidak tahu siapa yang membebaskannya, tapi berhati-hatilah, uhuk uhuk." Ucapnya, kemudian menghembuskan nafas terakhir.
Membuat orang yang ada di seberang telfon berteriak marah. "BODOH! SEMUANYA BODOH!" Teriaknya emosi. "Dengan mekanisme yang begitu canggih kalian masih bisa kecolongan?! Betapa bodohnya! Sialan!" Teriaknya lagi dengan mata menajam.
"CEPAT! PERIKSA KEBERADAAN XABIRU DI KAMPUNG TERPENCIL ITU!" Teriaknya langsung memerintah tangan kanannya setelah mendengar berita Clode berhasil kabur. "LIHAT APAKAH DIA MASIH ADA DI SANA ATAU TIDAK! LAPORKAN SEMUANYA PADAKU TANPA TERKECUALI!" Lanjutnya berteriak, pada tangan kanan yang berisi di depan mejanya.
Tangan kanannya kemudian dengan cepat melakukan perintah tuannya, dan bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut sebelum terkena imbasnya. Tuannya marah, tidak akan pandang bulu, mau wanita, orang dekat, atau orang kepercayaan, semuanya akan terkena tanpa terkecuali.
Karena jika berhubungan dengan Xabiru, Tuannya bisa melakukan apapun.
Xabiru adalah kecurigaan pertamanya. Meski beberapa bulan ini keluarganya tidak memerhatikan Xabiru, tapi ia memang berkemampuan. Tapi tidak disangka ia bisa bangkit dari keterpurukan dengan cepat. Apalagi setelah kematian ibunya yang tidak berguna di mata keluarga Alexander.
"Tunggu dan lihat saja, kalau kau memang tidak ada di tempat begitu diperiksa. Aku akan memburumu sampai ke ujung dunia!" Teriaknya lagi, dengan murak, wajahnya memerah penuh emosi. Barang-barang yang ada di meja tidak luput dari pelampiasannya, semua didorong ke bawah dan pecah berkeping-keping. Membuat ruangan terlihat sangat berantakan.
Tangan kanannya, uangsudah keluar bahkan bergidik ngeri begitu mendengar suara teriakan tuan dan benda-benda berjatuhan bahkan pecah.
*
*
__ADS_1