
*
*
"Oh sial!" Pekik Xabiru mengumpat kesal, Helikopter masih belum mendarat, sedangkan mobil dan motor mulai berdatangan, membuat Xabiru menarik Asta ke belakang tubuhnya dengan cepat.
K1 dan K2 juga dengan sigap maju ke depan, menghalangi Xabiru dan Asta. Keduanya bekerja sebagai tameng dengan refleks. Padahal Xabiru tidak memintanya.
"Minggir, lindungi diri kalian sendiri!" Ucap Xabiru menggerakkan giginya, kedua matanya menatap tajam K1 dan K2, dari belakang, otomatis hanya punggung keduanya saja yang yang terlihat.
"Tidak, tuan, sudah tugas kamu sebagai keamanan. Kami harus melindungi keamanan kalian berdua sebelum diri kaki sendiri." Jelas K1 yang sangat jelas dengan tugasnya.
"Mereka begitu banyak, cepat mundur!" Teriak Xabiru kemudian mengajak Asta berlari ke balakang, ke arah hutan dimana pohon-pohon rimbun ada.
Selagi menunggu helikopter mendarat, keempatnya dua lainnya mengikuti Xabiru agar setidaknya ada pohon yang bisa dijadikan tameng sebagai perlindungan diri dari tembakan lawan.
Seperti dugaan Xabiru, musuh yang datang kedua kalinya, mengirim lebih banyak orang, dengan pistol di beberapa tangan yang terlihat seperti ketua kelompok lawan. Ada sekitar 7 orang, dengan 7 kelompok yang masing-masing berisi 5 orang termasuk ketuanya. Sebanyak 35 orang yang datang menyerang.
Melihat situasi dan kondisi dinbawah, helikopter yang dikemudikan anak buah Xabiru lainnya, langsung mendesis karena ia lambat mendaratkan helikopternya.
Tapi melihat dua tuan dan dua temannya berlari ke arah hutan, yang mengemudikan helikopter menyeringai lebar. Kebetulan ia membawa bom rakitan Clode. Jangkauan ledakan tidak terlalu besar tapi mematikan.
"TUAN, DIAM DI TEMPAT DAN BERLINDUNG DENGAN BAIK!" Teriaknya pada Xabiru sekuat tenaga, yang merespon teriakan pertama kali adalah K1, karena Xabiru sibuk mencari pohon besar untuk Asta.
K1 langsung menyampaikan teriakan dari atas pada Xabiru membuat Xabiru mengajak ketiganya dengan cepat berlindung di belakang pohon, yang di sebelahnya terdapat batu besar. Keempatnya berlindung di balik batu tersebut.
Setelah di rasa keempatnya aman, kemudian orang yang mengemudikan helikopter pun, melihat ke arah musuh yang harus saja turun dari kendaraannya masing-masing. Semua musuh masih bersantai dan bercengkrama meski mendengar teriakannya. Hanya terlihat beberapa yang mulai waspada padanya.
Merasa momen tersebut bagus, orang di helikopter langsung menarik tuas, dan melemparkan bom rakitan dengan ukuran kecil ke bawah, ke arah para musuh yang mengikuti Xabiru.
__ADS_1
"Diam! Fokus pada tujua---apa yang dilemparkan orang di ata---BOM! CEPAT LARI!" Teriak lawan, salah satu ketua kelompok yang paling dihormati di antara 7 kelompok lainnya.
Ia yang pertama kali merespon jatuhnya bom tersebut, jadi dengan kecepatan yang bisa ia kerahkan, ia berlari dan berteriak sekuat tenaga. Membuat anak buah lainnya membelalakkan kedua mata, terkejut dengan panik, ikut berlari.
"TIDAK! AKU TIDAK MAU MATI!"
"SIAL! LARI, CEPAT!"
"JANGAN HALANGI JALANKU!"
"MINGGIR KAU SIALAN!"
"TOLONG AKU! AKU JUGA TIDAK INGIN MATI!"
Teriakan lawan terdengar memekikkan telinga keempat orang yang sedang bersembunyi, Asta apalagi, pengalaman pertamanya sudah sekejam ini, jadi Xabiru dengan tenang melindungi kedua telinga Asta dengan kedua tangannya.
Banyak orang yang terlambat berlari, karena bom langsung mengarah ke bawah, meluncur dengan cepat, akibat gaya gravitasi yang kuat. Apalagi, bom rakitan tersebut mempunyai badan luar yang kuat, jadi sedikit berat, alhasil ketika di lempar ke bawah, jangka luncurnya menjadi cepat.
"AAAAARGH!"
Setelah teriakan ramai terakhir, keadaan menjadi hening. Hanya terdengar suara baling-baling helikopter yang kini mulai mendarat lagi ke tanah.
Xabiru dan Asta, juga K1 dan K2 yang hanya terdampak oleh asap dan cipratan tanah, berhasil terlindungi dengan baik oleh pohon dan batu besar yang dijadikan tameng oleh keempatnya.
Asta dengan jantung berdegup, memegang kedua tangan Xabiru yang masih ada di telinganya. Asta yang kepalanya ada di dada Xabiru, lalu mendongakkan kepalanya dan menatap Xabiru dengan tatapan cemas.
"Tidak apa, sudah selesai. Sudah aman." Ucap Xabiru seraya tersenyum lembut.
"Ada yang selamat tidak?" Tanya Asta lirih.
__ADS_1
"K1, K2, periksa keadaan sekitar." Titah Xabiru setelah mengusap kepala Asta lembut.
K1 dan K2 kemudian keluar dari tempat perlindungan, tapi karena asap dan keadaan yang hancur, K1 dan K2 butuh waktu sekitar 7 menit untuk selesai memeriksa keadaan sekitar. Helikopter bahkan sudah mendarat dengan sempurna di lapangan samping hutan tersebut.
"Tuan! Cepat kemari dan naiklah, masih ada beberapa orang yang tidak terdampak, tapi mereka sedang tidak sadarkan diri sekarang!" Ucap K1 yang berlari ke arah Xabiru dan Asta.
Xabiru menganggukkan kepalanya, dan keduanya mengikuti K1, berjalan dengan sedikit tergesa, terlebih Asta yang terlihat masih cemas, bukan takut lawan, tapi ia sedang takut melihat mayat yang terkena bom tadi. Tidak ingin melihat, pasti menjijikkan keadaannya.
Xabiru tersenyum kecil di kala ketegangan datang menghampiri, ketika melihat gelagat Asta yang mudah sekali terbaca olehnya. Membuat Xabiru menggenggam tangan Asta. "Tidak apa-apa, lihat aku saja nanti, jangan alihkan perhatianmu pada tempat yang terkena ledakan." Ucap Xabiri, berbisik pada Asta di sela-sela keduanya berjalan kaki.
Lalu Asta menganggukkan kepalanya, dan keempatnya sampai di samping helikopter. Kemudian Asta dinaikkan lebih dulu, Xabiru yang kedua naik diikuti K2 dan K1.
"Hati-hati!" Pekik Xabiru pada K1 yang baru menaikkan satu kakinya ke helikopter. Xabiru juga dengan refleks mengeluarkan pistol dan menembak orang yang akan menembak K1.
Tepat sasaran, Xabiru membidik ke tangan musuh, membuat tangannya terluka dan pistol terjatuh, keseimbangan menembakkan peluru pun hilang. Alhasil, peluru menembak ke arah tanah.
Setelah menembak tangan, Xabiru kemudian menembak kepala musuh, membuatnya mati seketika. "Cepat, naik! Apa yang kau lakukan? Jangan sampai yang lainnya bangun lagi." Titah Xabiru, karena K1 masih merundukkan kepadanya dan menghentikan kegiatannya menaiki helikopter.
Setelah ditegur, K1 dengan cepat naik. Helikopter pun pergi meninggalkan hutan, untuk kembali ke kabupaten, dalam waktu singkat.
Sesampainya di markas, Asta langsung mengecek badan Xabiru, tentu di satu ruangan khusus Xabiru dan Asta, karena Xabiru mengharuskan dirinya membuka baju, luka memar di badannya ada di punggung dan perut. Juga ada sayatan di bahu sebelah kirinya.
Asta meringis melihat luka Xabiru, tapi dengan cekatan, ia juga mengambil air ajaib dari cincin ruang, membuat Xabiru meminumnya, dan menyeka luka dengan air tersebut. Alhasil, rasa sakit dari luka tersebut langsung menghilang. Menyisakan satu garis bekas sayatan di bahu, sedangkan yang lainnya terlihat hilang seolah tidak terluka.
Luka sayatan ternyata lumayan dalam, Xabiri hebat menyembunyikan lukanya, Asta tidak sadar sampai keduanya naik helikopter, Asta yang memeluk Xabiru merasakan rembesan darah di bahunya. Alhasil, butuh beberapa waktu sampai Xabiru dapat menghilangkan bekas lukanya. Tidak lama, butuh 2-4 hari saja.
*
*
__ADS_1