Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Permohonan Asta


__ADS_3

*


*


"Asta, kau harus makan tepat waktu, minum obat, dan kurangi menangis. Agar besok keadaanmu tidak menurun lagi. Jangan sampai seperti dua hari yang lalu. Kau terlalu banyak menangis, kau menekan dirimu sendiri. Jadi demammu kembali naik. Kali ini, kuatkan dirimu. Apa tidak bosan tidur di rumah sakit terus menerus?" Tanya Hana, istri Soni. Ia ditugaskan menjaga Asta selama hari-hari di rumah sakit.


Hana juga selalu membawa anaknya jika memang tidak ada yang mengasuhnya. Dan sudah seminggu sejak ia diperintahkan menjaga Asta di rumah sakit.


Juga, sudah satu Minggu sejak pengakuan Asta pada semua orang terdekatnya. Dan seminggu ini pula, Asta belum bertemu lagi dengan Xabiru dan Nira.


Hanya Hana, dan kakeknya Xabiru. Sesekali para penjaga juga mengantarkan makanan atas perintah kakek Xabiru yang tidak bisa datang.


Xabiru, entah apa yang dilakukannya. Ketika Asta hendak mengatakan sesuatu lagi sejak keduanya di tinggal oleh kakek Xabiru di bangsal 1 Minggu yang lalu, Xabiru mendapat panggilan dari ponselnya. Dan tanpa pamit, ia langsung pergi meninggalkan Asta.


Panggilan itu, entah asli atau palsu, tapi Asta benar-benar ditinggalkan sendirian di kamar rawatnya waktu itu. Hati Asta menjadi tidak karuan. Cemas dan takut selama satu Minggu ini selalu menghantuinya. Itu sebabnya, demamnya kadang naik dan kadang turun. Ditambah terus menangis, membuat dirinya kurang istirahat juga karena selalu terjaga di setiap malamnya.


Xabiru adalah ketakutan terbesarnya. Perasaannya sudah sangat jatuh, entah sejak kapan, tapi Asta yakin itu membesar setiap hari sejak keduanya bersama di hari dirinya berpindah tubuh.


"Eung, aku mengerti." Lirih Asta seraya tersenyum setelah mengangguk samar. "Maaf merepotkan mu, kak Hana." Lanjutnya dengan raut bersalah. "Ah, aku rasa aku bisa menjaga diri sendiri, kak Hana pulang saja. Kali ini tidak membawa anak, pasti kakak merindukannya bukan?" Ucapnya lagi.


Hana mendengus, kemudian menggelengkan kepalanya. "Kau mengusirku terus, pelayananku terlalu buruk, hmm? Baiklah, baiklah, aku akan memperbaikinya di masa depan. Ah tidak! Besok juga kita pulang, bukan? Santai saja, besok sudah tidak akan aku layani lagi. Jadi jika besok benaran bisa kembali, kau akan terbebas dariku, mengerti? Sekarang istirahatlah dulu." Ucap Hana, kemudian tersenyum, seraya membenarkan selimut yang dipakai Asta.


"eum, terimakasih kak Hana." Balas Asta pada akhirnya, karena ia tidak bisa melawan banyak Hana yang seminggu ini membantu mengurus dirinya sendirian. Jangan sampai ia membuat Hana tidak nyaman dengan sikapnya.


"Baik, patuhlah. Sekarang makan lalu minum obat. Lalu tidur." Ucap Hana seraya duduk di kursi samping tempat tidur rawat Asta. Hana berniat kembali menyuapi Asta makan. Tapi kini, Asta menolak dan lebih memilih makan sendiri.

__ADS_1


Hana pun mengangguk setuju, dan membantu menaikkan tempat tidur, agar Asta bisi bersandar duduk, agar lebih nyaman baginya.


Menatap makanan, Asta mulai mengambil sendok, ia menyendok nasi, tapi enggan mengangkat sendok untuk menyuapkannya ke mulutnya. Ia masih merasa sangat tidak nyaman. Jangankan untuk makan, untuk sekadar minum air saja ia enggan. Tidak ada mood untuk melakukan apa-apa, kecuali menangis dan menekan perasaan cemas serta takutnya.


"Kak Hana, bisakah aku tidak makan saja?" Tanya Asta.


Hana menatap Asta dengan senyum menyesal, harusnya ia memaksa menyuapinya saja bukan tadi? Tapi, sudahlah... Daripada menyesal, ia lebih kasihan pada Asta karena hari-hari berat selama satu Minggu ini. Meski Hana tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia bisa merasakan, ada yang tidak beres antara Asta, Xabiru, dan Nira.


Terlihat jelas, karena kedua lainnya tidak pernah datang setelah Hana datang merawat Asta. Kecuali kakek dan yang lainnya, keduanya benar-benar tidak datang. Maksudnya, tidak masuk menemui Asta. Karena sesungguhnya, Nira masih datang meski selalu diam-diam, hanya melihat Asta dari luar ruangan tanpa sepengetahuan Asta sendiri.


Xabiru sendiri, Hana enggan berpikir buruk. Tapi seminggu ini, tidak ada kabar darinya, juga ia tidak menunjukkan wajahnya untuk sekadar melihat keadaan Asta.


"Aku suapi saja, oke? Kau sudah mengatakan iya untuk menurutiku sebelumnya. Jangan mengingkari kata-katamu, apa kau benaran masih ingin menginap disini?" Tanya Hana seraya menghela nafas.


"Maaf kak Hana." Sesal Asta. "Ayo makan, tapi bisakah kau membawaku jalan-jalan sebentar ke taman setelah makan? Pulang jalan-jalan, aku janji aku akan minum obat." Lanjut Asta.


15 menit kemudian, Hana membawa Asta ke taman rumah sakit untuk menghirup udara segar. Masih dikatakan pagi, jadi perawat juga memperbolehkannya, dengan memakai kursi roda.


"Ternyata ramai." Gumam Asta yang kini duduk di kursi roda, keduanya masih berada di koridor rumah sakit. "Kak Hana, maaf merepotkanmu terus." Lanjut Asta.


"Aih, aku sudah bilang jangan sungkan. Astaga, sudahlah, ayo kita ke taman saja supaya mood mu bisa membaik." Ucap Hana.


Tapi 5 menit kemudian, tepat di depan pintu keluar rumah sakit, Hana menghentikan dorongan kursi rodanya. Kerusuhan terjadi, tidak lebih tepatnya ada beberapa ambulance yang datang secara bersamaan.


Suaranya sangat kencang, dan saling bersahutan. Memekakkan telinga, Asta bahkan merasa sedikit pusing mendengarnya. Hana juga hanya bisa diam di tempat, menyingkir agar tidak menghalangi brankar yang akan di dorong, karena dokter dan perawat berteriak pada orang di koridor agar tidak menghalangi jalan.

__ADS_1


Semuanya pasien gawat darurat.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Hana yang melihat Asta memegang kepala dan telinganya.


Asta menatap keramaian di pintu rumah sakit, lalu menganggukkan kepalanya. "Aku baik, kak Hana. Jangan khawat---XABIRU!" Ucapan Asta berubah menjadi pekikan.


Jantungnya berdebar kencang. Melihat orang yang baru saja di bawa di atas brankar, di dorong dengan cepat melewati dirinya.


"Kak Hana, bukankah itu suamiku? Kak Hana?! Kak Hana, cepat susul mereka, kak Hana." Pekik Asta dengan mata berkaca-kaca.


Baru saja merasa lebih baik, tapi rasa takut kembali menghantam dirinya. Cemas berlebih, bahkan Hana diguncang oleh Asta. Membuat Hana refleks menuruti perintah Asta karena nada cemasnya.


"Tenang, Asta...Mari kita lihat ke sana, dan berdoa, berharap penglihatan kita salah." Bisik Hana, karena ia tidak langsung mengikuti brankarnya. Tapi menunggu semua brankar berlalu agar tidak menghalangi.


Kemudian, barulah Hana mendorong kursi roda yang di duduki Asta kembali ke dalam. Mengikuti brankar yang di bawa ke unit gawat darurat.


Asta tidak bisa menahan rasa takut dan cemas. Air matanya sudah berjatuhan saking takutnya. Gemetar juga tidak bisa ia tahan lagi. Sangat jelas Asta tidak dalam kondisi baik.


"Xabiru... aku mohon, aku mohon..." Lirih Asta terisak.


*


*


Satu dulu ah, biar pada penasaran haha🤣

__ADS_1


Ngomong-ngomong, makasih banyak semuanya atas doa-doa nyaa, paman akuu udah pulang, Alhamdulillah lagi pemulihan 🤗


__ADS_2