
*
*
Beberapa hari berikutnya, Asta tidak bisa tenang sama sekali. Fokusnya terus terbagi, membuatnya berkali-kali melakukan kesalahan dalam pekerjaan dan kegiatan yang dilakukannya.
Setiap kali ditanyai, Asta selalu menggeleng dan tersenyum kecil. Mengatakan diri sendiri baik-baik saja, hanya sedikit kurang tidur.
Tapi nyatanya, Asta selalu memikirkan perkataan Xabiru tempo hari. Kata 'jangan pergi' sebetulnya cukup mengganggu Asta. Kata tersebutlah yang berhari-hari ini memecah fokus Asta.
Takut adalah perasaan yang dirasakannya setelah Xabiru mengucapkan kata tersebut. Kenapa dirinya mendadak takut? Kembali ke pemilik asli dan dirinya. Ia disadarkan oleh kata jangan pergi perihal jati dirinya.
Akankah Xabiru tetap bersama dirinya jika kelak dirinya mengungkapkan jati diri yang asli? Sesungguhnya, Asta tidak akan bisa menerimanya jika ia berada di posisi Xabiru. Dan hal inilah yang membuat Asta terus terganggu.
Bimbang. Apakah lebih baik jujur lebih awal, atau tunda lagi saja? Lebih awal Xabiru tahu, bukankah lebih bagus? Tapi tunggu, respon Xabiru yang menjadi masalah utama. Asta takut respon Xabiru sesuai dugaannya meski ada harapan di hatinya.
Tapi jika terus ditunda dan bahkan tidak akan mengungkapkan jati diri yang asli, akankah menjamin dirinya tidak akan pernah ketahuan? Lalu, lambat laun Asta masih harus berurusan dengan keluarganya yang lama. Jika Xabiru mengetahuinya, apa yang harus Asta jelaskan saat waktunya tiba?
Yang lebih parah adalah Asta takut Xabiru curiga, mencari tahu, dan membuangnya tanpa sepengetahuan Asta sendiri. Apa yang bisa Asta lakukan saat itu jika ia benar-benar dibuang? Asta takut, takut sekali.
"Bagaimana keadaannya?"
"Tidak terlalu bagus."
"Kenapa?"
"Demamnya tidak kunjung turun."
"Aku bahkan sudah memberikan air obat padanya, kenapa masih belum turun juga panasnya?"
__ADS_1
"Aku sangat khawatir."
"Kakak ipar, bisakah kita membawanya ke rumah sakit saja? Mungkin air obat tidak cocok dengan kakak, kan?"
"Tidak, ini lebih ampuh dari obat apapun."
"Lalu kenapa seperti ini?"
"Ya, apa yang membuatnya jatuh sakit? Kenapa?"
"Kami sangat mengkhawatirkan keadaannya. Setelah pulang dari ibukota, ia terlihat tidak nyaman dan bahkan pingsan lalu demam tinggi."
"Ya, berkali-kali tidak fokus juga. Seperti sedang memikirkan sesuatu, tapi aku menghiraukannya karna ia juga bilang dirinya baik."
"Tidakkah menurutmu dia mengalami trauma? Atau semacam gejala depresi?"
"Tidak, tidak mungkin. Dia baik-baik saja malam ketika kami kembali. Dia bahkan menenangkanku dengan tenang. Aku yakin bukan karna hal ini."
Terlebih Xabiru. Karena selama ini, Asta selalu kuat, tidak pernah mengeluh sakit dan tidak nyaman. Ia tidak memperhatikan detail kecil ini selama beberapa hari tersebut, karena ia juga sibuk mencari info paman pertamanya.
Lalu ia dikabari, kekhawatiran pun membludak, begitu sampai ia melihat Asta terbaring dengan wajah pucat dan demam tinggi.
"Tidak bisa ditunda lagi, ayo bawa ke rumah sakit. Demamnya sudah hampir 40 derajat. Jangan tunggu apapun, jangan ambil resiko dengan nyawa istrimu. Cepat siapkan mobil sekarang." Ucap kakek Xabiru dengan nada kesal yang teredam.
Ia sudah cukup sabar karena Xabiru menahan-nahan keinginan dirinya dan Nira yang ingin membawanya ke rumah sakit. Sudah dua jam sejak Asta pingsan dan demam, awalnya hanya sekitar 38.5 derajat. Tapi setelah beberapa saat, bukannya demamnya turun, demamnya malah naik.
Xabiru menghela nafas, ia juga tidak ada pilihan lain. Akhirnya mengikuti saran kakeknya. Ia menyuruh K2 memanaskan mobil, sementara dirinya ditinggal sendirian di kamar untuk menggantikan baju Asta.
"Sayang, aku mohon... Jangan sampai terjadi apa-apa padamu, hmm? Bertahanlah." Bisik Xabiru seraya menggantikan pakaian Asta.
__ADS_1
Asta yang sedikit sadar mendengar semua percakapan tersebut. Tapi mata dan kepalanya sangat berat, jadi ia hanya bisa mendengarkan saja, dan tidak menanggapi apapun. Ia memaksakan diri membuka mata, tapi sulit sekali, dan malah membuat dirinya kembali tak sadarkan diri.
Xabiru tidak tahu, karena dari awal sampai akhir Asta memang sedang tidak sadarkan diri ketika di atas kasur. Sampai ia menggendong dan membawanya ke rumah sakit.
Langsung di tangani, dan akhirnya di rawat di salah satu ruangan VIP yang sengaja di pesan Xabiru, agar ia tidak perlu satu ruangan dengan pasien lainnya. Demi kenyamanan dirinya, Asta juga keluarga yang pastinya ingin menjenguk Asta nantinya.
Asta tidak kunjung sadar, sampai malam tiba, yang lain pulang dan Xabiru senantiasa menunggui Asta di samping tempat tidurnya. Genggaman tangan bahkan tidak pernah lepas sejak awal. Xabiru menatap cemas Asta yang terlelap dengan tenang.
Meski begitu, ia juga tidak berhenti meminumkan air ajaib dua jam sekali. Berharap ia cepat bangun dan demamnya mereda.
Perjuangannya tidak sia-sia. Tengah malam, Asta bangun. Dengan suara lemah ia memanggil Xabiru yang tidur terduduk di samping tempat tidur.
Melihatnya tidak kunjung bangun, Asta kemudian menggerakkan tangannya yang ada di genggaman tangan Xabiru. Berhasil, Xabiru akhirnya merasakan pergerakan Asta. Ia bangun dan dengan cepat menatap Asta.
Air mata langsung mentes begitu melihat Asta bangun dan menatap dirinya dengan senyum kecil. Genggaman tangannya juga mengerat. Tapi Asta tidak bisa menahan kekeringan yang dirasakan tenggorokannya. Jadi, ia meminta minum pada Xabiru yang sedang menangis. Membuat Xabiru tertawa konyol pada akhirnya, karena merasa dirinya terlalu cengeng.
"Kau akhirnya bangun, aku sangat mencemaskan mu." Lirih Xabiru menatap Asta, setelah Asta selesai meminum air.
"Maaf." Balas Asta seraya tersenyum. Tangannya yang lain terangkat, mengusap air di sudut mata Xabiru. "Aku, mungkin aku kelelahan. Aku juga sering mimpi buruk akhir-akhir ini." Lanjut Asta.
"Mimpi kejadian di ibukota?" Tanya Xabiru langsung merasa bersalah. "Salahku, seharusnya sejak awal aku memerhatikanmu, dan menemanimu. Maaf, aku tidak peka terhadap apa yang sedang kau rasakan." Ucapnya menyesal.
Asta menggeleng kecil, "Memang aku sedikit trauma dengan kejadian itu. Tapi aku sudah membiasakan diri. Mimpi buruk yang aku maksud, adalah hal lain." Ucap Asta pelan.
"Apa itu?" Tanya Xabiru menatap Asta dalam. Rasa bersalah dan sesal jelas masih terlihat di tatapan matanya. Tapi Asta benar-benar tidak mempermasalahkan hal di ibukota.
Asta terdiam. Ia terlihat ragu, dan bingung. Juga terlihat takut ketika ia akan menjawab. Membuat Xabiru makin kebingungan. "Kau, ada apa? Apa hal lain itu? Sangat membuatmu tidak nyaman?" Tanya Xabiru lembut. "Jika memang demikian, tidak apa, aku masih bisa menunggu sampai saatnya kau siap menceritakannya. Jadi, jangan terburu-buru, aku akan menunggu dengan patuh." Lanjutnya seraya tersenyum.
Meski ia penasaran, ia juga tidak ingin memaksa Asta. Lagipula, sekarang Asta juga sedang sakit. Ia tidak mau memperparah keadaannya. Jadi, cukup tunggu sampai Asta benar-benar siap untuk bercerita. Pemaksaan sangat tidak diperlukan saat ini.
__ADS_1
*
*