Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Kondisi Menurun Lagi


__ADS_3

*


*


"Hiks, kak Hana..." Ucap Asta tertahan.


"Tenang, kakek dalam perjalanan kemari." Ucap Hana menenangkan Asta yang sudah terguncang.


Sudah jelas orang yang ada di IGD adalah Xabiru. Baru saja, ia di bawa ke ruang operasi karena kondisi tubuhnya yang penuh luka, dan tembakan. Peluru masih bersarang, dan ia tidak sadarkan diri.


Asta juga tidak bisa gegabah mengeluarkan air ajaibnya karena banyak orang dan dokter yang menangani disini. Hanya bisa berharap ia baik-baik saja, cukup kuat menjalani operasi, sehingga dirinya bisa memberinya minum air ajaib agar kondisinya lebih baik.


"Asta, jangan menangis lagi. Kondisimu, ingat kondisimu hmm? Jangan sampai drop lagi, kau lihat Xabiru. Jika kondisimu menurun, nanti siapa yang akan menjaga Xabiru? Bertahanlah, kau kuat Asta..." Bujuk Hana, dengan perasaan sedih. Tidak nyaman sama sekali, ketika ia bahkan tidak bisa menenangkan Asta yang terus menangis.


Ia juga menjadi tertekan melihat situasi dan kondisi tidak menyenangkan yang menimpa keluarga Xabiru. Keluarga penyelamat keluarganya sendiri. Selain menyalahkan diri karena tidak mampu bahkan untuk menenangkan Asta saja, Hana juga ikut sedih melihat kondisi baik Xabiru maupun Asta yang tidak berdaya.


"Asta! Dimana Xabiru? Bagaimana kondisinya?" Tanya Kakek, yang baru saja datang dengan langkah besar. Wajahnya juga terlihat sangat cemas dan gugup ketika bertanya.


"Xabiru di dalam, masih di operasi. Clode juga ada di ruang operasi yang satu, sedangkan K1 dan yang lainnya masih di IGD, masih ditangani. Mereka terluka, tapi tidak separah Xabiru dan Clode." Jelas Hana, yang langsung mengambil alih jawaban, karena ia tahu, Asta pasti tidak akan menjawab jika melihat situasinya.


Kakek mengangguk dan berterimakasih pada Hana. Lalu tatapannya beralih pada Asta yang duduk bersandar di kursi roda, menangis terisak menatap pintu ruang operasi.


"Asta..." Panggil kakek pelan, seraya menghampiri Asta yang tidak melihat padanya. Ia menghela nafas melihat kondisi cucu menantunya tersebut, sakit sebelumnya bahkan belum sembuh dan terus kambuh, tapi lihat hari ini? Tekanannya pasti bertambah besar.

__ADS_1


Kakek mendekatinya dan langsung mengusap bahunya pelan. "Kau kuat, Asta. Jangan menangis lagi, perhatikan kondisimu sendiri." Bujuk kakek Xabiru.


"Kakek..." Gumam Asta lirih. "Xabiru, hiks, kakek.... Xabiru, Xab---"


Bruk!


"Ah, Asta!"


"Hana, cepat panggil perawat! Tidak bagus, kondisinya mungkin memburuk lagi. Demamnya tinggi lagi." Titah kakek Xabiru dengan panik. Untung saja ia tepat waktu menahan Asta, sehingga Asta jatuh pada dirinya dan bukan jatuh ke lantai.


Kakek Xabiru kemudian membuat Asta duduk bersandar di kursi roda, dengan kepala yang di tahan agar Asta dapat nyaman, seraya menunggu Hana memanggil perawat dan brankar untuk Asta.


Tak lama kemudian, Hana datang bersama perawat yang mendorong brankar menuju keduanya. Kakek Xabiru yang melihatnya, dengan cepat berdiri dan langsung meraih Asta, menggendongnya ke atas brankar sendiri.


"Hana, ambil kursi rodanya, ayo tinggalkan Xabiru dulu. Mungkin ia masih lama, kita masih sempat untuk kemari setelah memastikan kondisi Asta." Ucap kakek Xabiru setelah Asta berhasil terbaring di atas brankar.


Kemudian ia berjalan dengan langkah besar mengikuti Brankar yang di dorong, menuju ruangan Asta sebelumnya. Hana juga mengikuti dengan mendorong kursi roda bekas Asta.


"Ah, hal-hal baik... cepatlah datang. Aku bahkan tidak tahan melihat mereka silih berganti masuk rumah sakit." Gumam Hana dengan raut sendu. Menatap pintu ruang operasi, dan menatap Asta yang di bawa, secara bergantian. Kemudian ia bergerak cepat, mengikuti kakek dan Asta yang sudah sedikit jauh darinya.


*


"Bagaimana kondisinya dokter?" Tanya Kakek Xabiru. Menatap Asta yang terbaring, dengan selang infus dan oksigen di wajahnya.

__ADS_1


"Demamnya tinggi lagi, ia juga kelelahan. Tolong perhatikan kondisinya, perhatikan perasaannya, jika seperti ini terus akan berbahaya bagi dirinya. Cemas berlebih, menangis berlebih, dan tekanan berlebih, sangat mempengaruhi kondisinya, perhatikan itu semua." Jelas dokter dengan kening mengerut. Jelas-jelas sudah membaik, tapi seketika kondisinya menurun lagi. "Untuk sementara ini aman. Sekarang biarkan pasien istirahat, dan jangan biarkan pasien banyak berpikir. Cobalah untuk menghiburnya, dan jauhkan pasien dari pikiran-pikiran yang membuatnya tertekan, jangan sampai pasien terguncang lagi, dan lagi." Ucap dokter.


Kakek Xabiru dan Hana mengangguk mengerti. Keduanya kemudian berterimakasih, dan dokter serta perawat yang ada di sampingnya lalu keluar meninggalkan ruang rawat yang ditempati ketiganya.


Kakek Xabiru menghela nafas, begitupun Hana. "Kondisinya sudah sangat baik pagi ini, tapi ia melihat Xabiru yang berdarah-darah dan tak sadarkan diri di pintu masuk rumah sakit pagi ini. Lalu, terjadilah, ia lebih histeris ketika memastikan jika dirinya tidak salah lihat. Kakek, apa yang harus kita lakukan? Aku merasa tidak nyaman, merasa sedih melihat keduanya begini. Terlebih, melihat Astanyang serapuh ini..." Ucap Hana seraya menatap lurus dengan tatapan sendu pada Asta.


Kakek menepuk bahunya pelan. "Kakek juga tidak tahu. Tapi kakek yakin, Asta pasti membaik jika ia bertemu Xabiru. Kondisinya seperti ini, karena ia tertekan Xabiru tidak kunjung menemuinya. Perasaan ini, kakek paham jika Asta hanya takut ditinggalkan." Ucap kakek Xabiru.


Hana mengernyit. "Kakek, apa yang terjadi pada keduanya sebetulnya? Xabiru sebelumnya bahkan tidak bisa lepas dari Asta. Tapi begitu Asta sakit, ia tidak pernah kunjung datang? Begitupun adik sepupunya, ia memang datang, tapi tidak pernah masuk dan berhadapan langsung dengan Asta." Tanyanya bingung.


"Kakek tidak bisa mengungkapnya, Hana, maaf. Tapi yang harus kau tahu, ketiganya memang sedang dalam kondisi tidak baik. Ada satu masalah yang melibatkan Asta, yang membuat Xabiru dan Nira pergi sementara untuk menenangkan dirinya sendiri." Jelas kakek. "Tapi Xabiru bukan serta Merta mengabaikan Asta begitu saja, sesungguhnya ia hanya akan menenangkan diri selama dua hari. Ia bahkan menemuiku sebelum pergi, dan menitipkan Asta padaku." Lanjut kakek Xabiru.


"Lalu, kenapa bahkan sudah seminggu? Dan ia kini akhirnya datang ke rumah sakit, tapi terluka parah?" Tanya Hana tidak mengerti.


Kakek Xabiru menggelengkan kepalanya. "Kakek juga tidak tahu. Mari tunggu kabar dari Xabiru saja nanti, mari tanyakan langsung padanya apa yang terjadi padanya sampai ia terluka parah dan harus di operasi." Ucap kakek Xabiru, membuat Hana mengangguk pasrah.


Sebetulnya kakek Xabiru sudah punya tebakan sendiri, tapi ia enggan mengungkapnya karena ini hanya tebakannya semata.


"Kalau begitu, kakek, biar aku saja yang menjaga Asta. Kakek pergilah menunggu Xabiru dan Clode, mungkin sebentar lagi keduanya keluar dari ruang operasi." Ucap Hana.


"Baiklah, kau jaga Asta baik-baik. Jika ada apa-apa, dan kondisinya kembali memburuk, panggil dokter lalu kabari aku secepatnya." Ucap kakek Xabiru, kemudian pergi meninggalkan ruang rawat tersebut, kembali ke koridor ruang operasi untuk menunggui Xabiru.


*

__ADS_1


*


__ADS_2