Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Membeli Furniture


__ADS_3

*


*


Pukul setengah sembilan malam, keduanya sampai di kabupaten. Dan langsung membongkar isi box, menurun-nurunkannya dan memasukkannya ke dalam rumah yang baru dibeli secara kredit tersebut.


Keduanya tidak sempat makan malam, jadi hanya mengganjal perut dengan beberapa buah, lalu tidur dan istirahat di dalam cincin ruang. Sebab di rumah masih belum ada tempat tidur dan alat lainnya.


Kemudian besoknya, pagi-pagi sekali, keduanya bangun dan langsung pergi ke pasar di kabupaten. Pasar yang lebih ramai dan lebih lengkap. Bahkan toko alat rumah tangga dan furniture lainnya sudah ada yang buka pagi-pagi sekali.


Xabiru membawa Asta membeli tempat tidur, dua king size dan sofa, juga dua lemari, serta meja. Tidak lupa kompor gas untuk memasak beserta satu set alat masaknya, termasuk beberapa barang yang membutuhkan listrik. Seperti magic com dan blender.


Hanya itu saja yang dibeli keduanya, yang paling dibutuhkan dulu untuk sehari-hari. Sebab sisanya, uangnya masih harus dibelikan tempat untuk menata buah juga sayur yang akan diperjualkan.


Setelah membayar mobil untuk mengangkut barang tersebut, Asta kemudian pergi sendiri dan berbelanja bahan dasar untuk memasak pagi ini. Sedangkan Xabiru, pergi lebih dulu dengan mobil pengangkut barang, pulang ke rumah baru.


Asta hanya membeli beberapa bumbu dan tempatnya, serta beberapa mangkuk, piring, juga sendok. Hal lainnya, Asta membeli mie dan tepung-tepungan. Sisanya Asta rasa tidak perlu, karena Asta dan Xabiru masih punya banyak makanan di dalam cincin ruang yang siap diolah.

__ADS_1


Asta pulang, dan Xabiru telah lebih awal datang. Bahkan, satu ruangan di lantai dua, yakni kamar utama sudah di tata dalamnya. Kasur dan lemari saja. Sedangkan sofa di simpan di ruang tengah di lantai dua. Meja dan dua kursi kayu di simpan di dekat dapur sebagai meja makan. Lalu kompor dan alat masak tentu saja disimpan di dapur.


Asta senang, meski masih kosong, tapi ini sangat baik, lebih baik berkali lipat dari keadaannya di kampung sana. Apalagi lantai dengan alas keramik putih ini. Ah, Asta sangat, sangat, menyukainya.


Setelah melihat-lihat dan merasa puas, Asta kemudian memasuki dapur dan mulai menata semua bumbu ke dalam wadahnya, serta menyimpan mie dan tepung ke dalam lemari yang memang sudah ada di dapur. Lemari tempel di dinding. Jadilah, ia sekalian mengeluarkan beras dan telur dalam dua toples, tomat dan 3 bawang, serta buah lainnya. Ke dalam lemari tersebut.


Total lemari di dinding ada lima, memanjang ke samping. Sampai ke arah sebelum wastafel. Asta paling suka ini, di atas wastafel juga sudah ada rak yang menempel. Jadi piring dan alat makan lainnya ia simpan disana. Sedangkan alat masak, ada beberapa paku di dinding, jadi ia dengan cepat menatanya, menganggantungnya di atas paku tersebut.


"Xabiru, bantu aku memasak." Pinta Asta. Bukannya ia.malas, tapi ini sudah terlalu siang untuk keduanya sarapan. Jadi, agar lebih cepat selesai, mau tidak mau Xabiru harus membantu. Apalagi, keduanya kemarin tidak makan malam juga. Alhasil, hari ini harus sarapan.


Xabiru dengan senang hati langsung membantu merebus telur, Asta bilang akan membuat telur balado. Hmm, hidangan yang sudah lama tidak keduanya cicipi. Hari ini, bisa keduanya cicipi. Xabiru tidak sabar, tapi ia tetap membantu hal lainnya setelah merebuskan telur.


Keduanya bekerja sama memasak. Sampai 1 jam berlalu dan masakan sudah selesai. Pertama-tama, Asta menyendok nasi, menuangkannya ke wadah lain agar cepat menurunkan suhu panasnya. Kemudian, ia menuangkan telur balado yang baru saja matang ke atas mangkuk. Sedangkan hidangan lainnya seperti tumis dan sup, sudah ada di mangkuk sejak awal. Xabiru juga sudah mengangkat dan memindahkannya ke atas meja makan baru.


Setelah semua diangkat, Asta menuangkan air yang masih dalam botol besar ke atas gelas. Lupa tidak membeli tempat air dan galon. Alhasil hanya bisa membeli air dari botol. Selain air putih, Asta juga membuat jus mangga untuk keduanya. Jadi ada 4 gelas di atas meja.


Asta dan Xabiru tersenyum lebar. Kemudian Asta membantu Xabiru menuangkan nasi ke atas piringnya, tak lupa lauknya. Telur balado adalah pilihan pertamanya. Sisanya, akan Xabiru ambil jika ingin memakannya.

__ADS_1


Keduanya makan dengan khidmat.


Setelah selesai makan, Xabiru dan Asta langsung menuju ke halaman belakang, melihat situasi tanah. Hari ini, bisa langsung ditanami, karena peralatan berkebun dan benih Xabiru bawa dari rumah lama. Alhasil pada pukul 10 pagi, keduanya sama-sama bekerja sama menggemburkan tanah. Tak lupa, keduanya menyiramkan tanah dengan air ajaib sebelumnya. Jadi tanah lebih mudah digemburkan.


Setelah selesai menggemburkan tanah, Asta langsung menambahkan air ajaib ke dalam sumur yang ada di pojok halaman. Sedangkan Xabiru mengambil benih-benih untuk ditanam.


Kemudian menanam satu persatu benih, sesuai dengan letak yang telah ditandai. Telah dinamai setiap letaknya dengan kayu yang ditempeli kertas yang sudah dilaminating, agar ketika terkena air, namanya tidak luntur dan rusak. Xabiru yang menyiapkannya, Asta malah tidak tahu menahu tentang hal ini.


Dengan begini, maka setiap petak mudah dikenali. Asta senang, dan suka kerjaan Xabiru. Tidak melewatkan satu hal pun. Bahkan hal terkecil seperti, membuat kolam ikan dan kandang untuk hewan-hewan, ia sudah membicarakannya, dan memisahkan petak tanah untuk itu. Halaman belakang lebih luas dari pada halaman depan. Rumah tiga lantai terlihat lebih kecil dari halaman, tapi sebetulnya mahal karena halaman belakangnya yang luas. Seluas satu lapangan sedang. Jadi untuk bagian kolam ikan, akan dibuat di halaman depan, di kedua sisi halaman, agar menjadi pemandangan tersendiri bagi para pengunjung di toserbanya kelak.


Selesai menanam benih, dan pohon kecil, Asta daan Xabiru kemudian duduk di teras halaman belakang. Keduanya kelelahan, jadi istirahat sebentar sebelum kembali melanjutkan menyiram tanaman yang baru saja ditanam.


Asta membuat keduanya meminum air ajaib, jadi dalam sekejap, stamina keduanya kembali. Membuat keduanya meneruskan pekerjaannya. Sekarang boleh lelah, tapi nanti keduanya bisa menuai dari kelelahannya ini. Ibarat kata, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Perbuatan yang walaupun terasa berat, namun dapat menghasilkan hasil yang baik di kemudian hari, kenapa tidak, kan?


Keduanya sudah pernah sangat kesulitan, jadi hanya bekerja dan kelelahan menanam, bukan apa-apa bagi keduanya, terlebih bagi Xabiru yang sebelumnya sudah biasa pergi ke ladang yang panas di tengah kampung dulu.


*

__ADS_1


*


__ADS_2