
*
*
Asta menghela nafas, menatap Xabiru yang masih saja merajuk padanya sejak terakhir kali ia menepuk pundak Dean. Sudah berkali-kali dirinya membujuk tapi tidak mempan. Bingung sendiri apa lagi yang harus dilakukannya agar Xabiru tidak lagi merajuk.
Asta dengan pikirannya dan Xabiru dengan pikirannya yang lain.
Sebetulnya, Asta hanya tak memahami Xabiru saja. Bukan sekadar tangan di pundak Dean, tapi Xabiru merasa tidak dibutuhkan. Padahal, disini dirinyalah yang suami, dan bukan Dean. Tapi lihatlah, Asta sendiri malah meminta bantuan pada orang lain ketimbang suaminya sendiri.
Terlebih, sebetulnya Asta juga belum menceritakan spesifikasi dirinya sendiri secara menyeluruh. Jadi, meski Xabiru ingin membantu, juga ia tidak tahu apa-apa disini.
Xabiru telentang, menatap langit-langit kamar rawat inapnya. Di samping, Asta menatap Xabiru yang akhirnya merubah posisi dengan tatapan penuh harap. Tapi Xabiru tak kunjung menatapnya, alhasil Asta kembali menghela nafas dan membuang muka dengan perasaan kesal.
Jadi siapa yang harus disalahkan? Asta yang tidak mau menjelaskan dirinya dan lebih memilih meminta bantuan orang lain, atau Xabiru yang sama-sama tidak mau menjelaskan keinginan hatinya dan merasa iri pada orang yang dimintai tolong Asta?
Yang jelas keduanya.
Gengsi dua orang, sama-sama tinggi. Ketidak pekaan kedua orang juga sangat tinggi. Lalu disatukan, habis sudah keduanya akan sering salah memahami ke depannya. Ah tidak, jika keduanya sama-sama berubah, maka semuanya akan baik-baik saja kelak.
"Uhuk! Kak Asta, aku sudah selesai. Aku juga sudah kirimkan file nya ke email mu." Ucap Dean memecah keheningan di antara tiga orang yang ada di dalam ruang rawat tersebut. "Juga, bukankah tadi kau bilang mau menitipkan makanan untuk paman Clode? Sekalian saja aku antarkan." Lanjut Dean. Agar ia bisa secepatnya keluar dari posisi dan suasana yang sangat tidak nyaman tersebut.
Errgh, bagaimanapun, yang menjadi tersangka kesalahan adalah Dean. Di mata Xabiru, Dean lah yang salah meski Dean dan Asta sendiri tidak merasa begitu. Tapi, akhirnya, Dean memang merutuki dirinya sendiri, menyalahkan diri yang seharusnya ia membawa Nira saja saat berkunjung.
Akan diingat, ke depannya, jika Asta meminta bertemu membahas permasalahan, maka ia akan mengajak Nira sebagai penengah agar Xabiru tidak bersikap dingin dan membuatnya takut lagi.
__ADS_1
"Ya, ya, bawa ini sekalian. Berikan padanya, dan suruh dia makan. Setelah makan ingat minum air ini, cukup untuk 2 hari, minum sesuai dengan jadwal minum obat." Ucap Asta segera mengambil bingkisan di atas nakas dan langsung memberikannya pada Dean.
Dean mengambilnya dan menganggukkan kepalanya. "Baik, akan aku sampaikan. Kalau begitu aku pergi sekarang saja. Sampai jumpa kak, kakak ipar." Ucap Dean, yang langsung kabur keluar ruangan bahkan sebelum Xabiru melihat dan menjawabnya.
Xabiru berdecak, "bocah tidak sopan!" Dengusnya kemudian.
Asta tertawa kecil, "Sepertinya dia tidak sopan karena takut padamu. Tidakkah kau sadar auramu sangat suram saat ini, hm?" Tanya Asta lembut.
Ia kembali duduk dan menopang dagu dengan kedua tangan yang ditumpukan di atas tempat tidur Xabiru. Xabiru sendiri kembali telentang menatap langit-langit kamar dan enggan menatap Asta.
"Hei, tidakkah kau pikir kenapa aku merajuk kali ini?" Tanya Xabiru memecah keheningan, setelah beberapa saat keduanya terdiam dan hanya saling menghela nafas.
"Kau cemburu pada Dean, kan?" Tanya Asta, wajahnya sedikit membaik karena Xabiru mengalah dan lebih dulu membuka percakapan dengannya. Ia bahkan menusuk pipi Xabiru pelan dengan senyum kecil.
Xabiru menghela nafas, ia kemudian merubah posisinya menjadi menyamping, menghadap Asta dengan tatapan kesal.
"Salah!" Dengus Xabiru kesal, kemudian tangannya terangkat, dan berlabuh di pipi Asta. Dengan ibu jari dan telunjuknya, ia mencubit Asta pelan.
"Kenapa?" Tanya Asta makin bingung. "Aku salah, aku tidak memahami dengan baik, bisakah tuan muda mengatakan kesalahan yang aku perbuat sekali ini?" Lanjut Asta kemudian.
"Aku merasa tidak berguna." Gumam Xabiru pelan. Menatap Asta dengan tatapan pasrah.
Asta terdiam. Ia tertegun dan berpikir kemudian tentang maksud dari gumaman pelan Xabiru. Keduanya saling bertatapan dengan Xabiru yang masih mencubit pipinya.
Sekian menit menunggu, Xabiru tidak mendapat jawaban, ia akhirnya menyerah, menghela nafas dan pasrah. "Sudahlah, aku tidak akan memperhitungkannya lagi. Bantu aku ke kamar mandi saja." Ucap Xabiru.
__ADS_1
Asta terlihat ragu, tapi ia kemudian membantu Xabiru bangun dan berjalan ke kamar mandi. Menutup pintu, membiarkan Xabiru sendirian, Asta berjongkok di depan pintu kamar mandi dengan tatapan kosong.
Setelah beberapa saat, Xabiru akhirnya keluar, dan kembali ke tempat tidurnya. Tapi kini, Asta juga ikut naik ke tempat tidur, dan menenggelamkan dirinya sendiri di dekapan Xabiru.
"Hmm?" Gumam Xabiru agak terkejut dengan tingkat Asta yang sangat tiba-tiba. Tapi tangannya tetap terangkat mengusap kepala belakangnya. "Aku tidak akan begitu lagi, jangan khawatir. Lakukan hal yang kau sukai dengan santai, jangan merasa tidak nyaman. Maaf aku hanya tidak bisa menahan diri tadi." Ucap Xabiru, yang merasa jika Asta begitu karena pertanyaan dan sikap dirinya sebelumnya.
Xabiru pikir, mungkin Asta merasa tidak nyaman karena ia mempertanyakan dirinya. Xabiru juga berpikir jika dirinya memang sudah salah, kekanak-kanakan hanya untuk sekedar mengungkap perasaan tidak nyamannya.
Tapi Asta lain lagi, ia merasa sedih jadi tiba-tiba memeluk Xabiru mencari kenyamanan. Ia merasa sedikit bersalah. Xabiru mengeluarkan isi hatinya, padahal biasanya tidak. Itu artinya, ia sudah merasa sangat tidak nyaman, kan?
"Tidak, aku yang minta maaf." Ucap Asta, ia tidak berani mengangkat kepalanya, jadi ia hanya memandang dada Xabiru yang tertutupi baju rumah sakit. Jarinya juga tidak diam, menggambar pola acak di dadanya. "Aku tidak mengatakannya dengan jelas sebelumnya." Lanjutnya bergumam.
Xabiru diam, mendengarkan, dan tidak menyela ucapan Asta.
"Aku dari keluarga Baskoro sebelumnya." Ucap Asta.
Xabiru tertegun. Baskoro? Anastasia yang dulu sempat bersaing memenangkan tender, dan dirinya dikalahkan? Lalu, rumor dan masalah beberapa bulan lalu... "Jangan bilang kau benaran mati di tusuk sahabatmu?!" Tanya Xabiru dengan nada suara dalam. Mencoba menahan gejolak emosi.
"Itulah yang terjadi. Setelah aku memenangkan tender dan mengalahkanmu, mereka langsung menunjukkan wajah asli mereka padaku. Merobek topeng yang selama ini dipakai hanya untuk merebut semua kerja kerasku." Jelas Asta tertawa sumbang. Ia bahkan masih merasa sakit hati atas kejadian itu. Hatinya berdenyut, sakit, ngilu.
Asta mengambil nafas.
"Aku dikatai, dihina, diumpati, dan disiksa. Ditusuk berkali-kali di tempat yang sama dan tempat lainnya. Sampai sekarang, aku bahkan tidak bisa melupakan rasa sakitnya."
*
__ADS_1
*