Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Maafkan aku, jangan tinggalkan aku


__ADS_3

*


*


"XABIRU!" Teriak Asta yang langsung bangun dari tidurnya. Ia bahkan langsung terduduk dengan tubuh gemetar dan keringat dingin yang mengucur dari dahi.


Hana, kakek Xabiru, dan Nira yang sedang duduk di atas lantai dengan menghamparkan karolpet bulu, juga ikut terkejut dengan teriakan Asta. Ketiganya dengan cepat berdiri dan melihat kondisi Asta yang terlihat mengkhawatirkan.


Ia menunduk memegangi jantungnya yang berdebar karena takut. Untuk sekadar melihat ke samping saja ia tidak lakukan karena masih shock di tempat.


"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Hana cemas.


Asta mendongak dan menatap Hana, kemudian menggelengkan kepalanya. Tapi sedetik kemudian, kedua matanya melihat atensi lain yang ada tepat di belakang Hana, Nira, dan Kakek Xabiru. Bahkan Nira yang selama ini ia khawatirkan juga tidak bisa mengalihkan atensi dari orang di balik ketiganya.


"Xabiru..." Gumam Asta lirih, dan air matanya kembali jatuh. Ia kemudian menyingkap selimut yang dipakainya, lalu turun dari tempat tidur.


Tapi karena kesulitan dengan infusan yang masih menempel di tangannya, Asta akhirnya membawa tiang infus dengannya. Bahkan Hana dan yang lain hanya dapat menghela nafas, dan membantu Asta tanpa banyak bicara.


Biarkan Asta, karena sudah beberapa kali ia ditolak agar tidak menyusul Xabiru sejak kemarin. Jadi, begitu pagi tiba yang lain enggan melarangnya lagi. Lagipula Asta sudah cukup istirahat. Dan yang lain juga bangun lebih awal sebelumnya.


Nira bahkan menginap di rumah sakit setelah melihat tanggal merah di kalender yang artinya sekolah sedang libur.


"Xabiru...Xabiru... aku akhirnya dapat melihatmu, dan memegang tanganmu lagi..." Lirih Asta dengan raut sendu menatap Xabiru yang terpejam dengan kedua tangan menggenggam tangan Xabiru. Ia juga sudah duduk di kursi di sebelah tempat tidur Xabiru. Hana lah yang memindahkan kursi ke sana agar Asta tidak perlu berdiri. "Ugh, aku mengkhawatirkanmu. Seminggu menghilang, dan datang dalam keadaan berdarah-darah. Apa maksudmu? Kau mau membuatku mati ketakutan, bukan?" Keluhnya dengan Isak tangis.


Hana menatap Asta dengan sedih, matanya berkaca-kaca. Ia adalah saksi betapa tersiksanya Asta selama satu Minggu ini. Sampai hari ini, akhirnya ia dipertemukan kembali dengan Xabiru. Ia ikut bersyukur.

__ADS_1


Nira sendiri, perasaan bersalah tentu menyeruak. Karena selain Xabiru, Nira juga menghilang selama satu Minggu ini. Bukannya menemani kakaknya yang sakit, tapi ia lebih memilih ego nya karena masih belum dapat menerima situasinya.


Hanya kakek Xabiru yang tersenyum kecil. Melihat cucu dan cucu menantunya kembali bersama, perasaan bahagia ini, jelas ia sangat senang. Meski Asta bukan Asta sesungguhnya, tapi yang ia kenal memang Asta saat ini, jadi ia tidak terlalu banyak berpikir seperti Xabiru dan Nira.


Asta menidurkan kepalanya menyamping, menatap kedua tangannya yang menggenggam tangan Xabiru dengan tatapan yang masih sendu dan sedih. "Jelas-jelas kakek bilang hanya 2 sampai 3 hari. Tapi kenapa di hari keempat kau tidak datang?" Tanya Asta meski terisak, tapi terdengar nada kesal darinya. "Kau mengingkarinya, bukan hanya tidak datang tepat waktu, tapi kau juga datang dalam keadaan terluka parah. Aku, aku, hiks... aku takut sekali. Hiks, maafkan aku, jangan tinggalkan aku..." Lanjut Asta dengan tubuh dan nada suara gemetar.


Terisak sampai tidak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi. Tangan Xabiru yang digenggamnya kini berada tepat di dahinya. Menumpu kepalanya dengan frustasi.


Ketiga orang yang masih anteng melihatnya, dengan cepat berbalik dan mengangkat kepala masing-masing, menengadah, untuk menghentikan air mata yang hendak jatuh.


Di sisi lain, Xabiru sudah sadar. Ia juga mendengar kalimat kedua yang di ucapkan Asta. Hatinya sakit mendengar Asta menangis dan meminta maaf begini. Tangannya yang terbebas, ia angkat, lalu ia taruh di atas kepala Asta, dan mengusapnya dengan lembut.


Asta tidak sadar, jika Xabiru yang mengusapnya. Ia enggan bangun, karena ia mengira paling-paling Hana atau kakek Xabiru yang sedang menenangkan dirinya agar tidak menangis terus.


Tersenyum, Xabiru menatap Asta dengan tatapan lembutnya. "Jangan menangis lagi..." Lirihnya.


Mendengar perkataan lirihnya, bukan hanya tidak berhenti, tapi Asta semakin menangis dengan keras. Membuat tiga orang yang berbalik menunggungi, kembali membalikkan tubuhnya, menatap Asta karena terkejut mendengar suara tangis yang membesar.


Asta terlihat setengah memeluk Xabiru, dan tangan Xabiru juga tidak menganggur, membalas memeluknya menenangkan Asta. Agar ia berhenti menangis. Meski badannya terasa sakit, tapi ia tetap membiarkan Asta memeluknya. Lagipula ia juga punya salah, pikirnya, jadi ia bisa menahan sakitnya sebentar.


Xabiru menatap tiga orang yang menatapnya dengan khawatir setelah melihat dirinya menahan sakit, tapi Xabiru kemudian tersenyum kecil dan mengangguk, agar membiarkan Asta tetap dalam posisinya. Sampai 5 menit berlalu, akhirnya Asta berangsur-angsur tenang. Dan melepaskan setengah pelukan tersebut, kembali duduk dengan kepala menunduk, enggan memperlihatkan wajah jelek sehabis menangis.


Melihat itu, kemudian ketiganya pun melihat Xabiru bangun. Lalu mendekat dan mengerubungi Xabiru. "Kau sadar? Apa ada yang tidak nyaman?" Tanya Kakeknya. Meski sudah jelas jika ia tahu cucunya kesakitan.


"Tidak ada yang tidak nyaman, aku baik." Balas Xabiru, karena Asta sudah kembali ke posisinya, jadi rasa sakit tertekan barusan juga perlahan menghilang, meski ngilu tetap ada.

__ADS_1


Luka sehabis operasi mana yang tidak sakit dan ngilu? Semua orang pasti begitu, apalagi setelah obat penghilang rasa sakit sudah hilang. Jadi, wajar saja. Lagipula Xabiru juga sudah terbiasa beberapa waktu ini, selalu mendapat luka. Maksudnya, sudah terbiasa menahannya.


"Berbaring saja." Ucap Asta refleks ketika melihat Xabiru hendak duduk dan bersandar.


"Patuhlah, kau mendapat belasan jahitan dari 3 lukamu. Apa tidak merasa sakit?" Tegur kakeknya.


"Tidak nyaman, bantu naikkan sandaran tempat tidurnya, tolong?" Pinta Xabiru, menatap Asta dengan tatapan memelas.


Asta menggertakkan giginya, kemudian memalingkan wajah, tidak mau menatap Xabiru. Lebih tepatnya tidak ingin membiarkan dirinya kalah oleh permintaan Xabiru.


"Lihat Asta, ia bahkan tidak ingin menatapmu. Jadi menyerahlah." Dengus kakeknya, seraya mengibaskan tangannya, membuat Xabiru menghela nafas, dan menyerah.


"Asta, kembali berbaring. Dokter dan Suster dalam perjalanan. Kau juga masih harus diperiksa begitu mereka datang." Ucap Hana, menengahi, ketika melihat jam di tangannya.


Asta menatap Hana dengan memelas, kemudian menggelengkan kepalanya. Membuat Hana menghela nafas. "Tidak, aku tidak akan kalah. Jadi menyerahlah, dan patuhi aku." Ucap Hana menatap tajam Asta.


Xabiru tersenyum, ternyata Asta juga sama saja kan?


"Aih kalian ini, suami dan istri sama saja. Cepatlah, lihat-lihat dokter sudah di pintu." Ucap Kakek Xabiru.


Akhirnya Asta menyerah, dan kembali ke tempat tidurnya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2