Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
4 jenis pilihan saja


__ADS_3

*


*


Besoknya, karena sore harinya Xabiru tidak menyiram tanaman di halaman belakang rumahnya, jadi pukul 5 pagi ia cepat-cepat bangun dan langsung menyibukkan diri dengan tanaman tersebut. Tak lupa juga memberi makan dan minum kudanya.


Tanaman tetap segar meski tidak disiram sore kemarin, dan Xabiru menghela nafas lega begitu melihatnya. Ia pulang kemarin, tapi tidak ingat pada tanamannya tersebut.


Juga, untungnya air di belakang sudah dicampuri air danau ajaib, jadi tanaman tidak gampang layu dan tetap segar. Pagi ini, Xabiru sengaja menyiram tanaman dengan air ajaib, langsung tanpa campuran apapun.


Karena setelah ia pikir -pikir, mungkin saja waktu tumbuhnya akan menjadi pesat lagi, jadi iapun tidak perlu menunggu 4 hari lagi untuk memanen. Besok mungkin saja sudah bisa jika ia menyiram dengan air ajaib pagi dan sorenya. Mengingat, keduanya akan ke kabupaten dan tinggal di sana, jadi tanaman di belakang harus dipanen lebih dulu.


Untuk kandang, ia bisa membongkarnya dan memasukkan semua papan ke dalam cincin ruang, jadi tidak terlalu khawatir akan barang-barang tersebut.


Pukul 6, ketika Xabiru masih menyiram tanaman terakhir, Soni datang dengan seorang tetangga yang biasanya meminjamkan sepeda pada Xabiru.


Xabiru yang berada di belakang rumah, tidak terlalu mendengar panggilan dari luar. Tapi Asta lah yang bangun, dan ia segera menyusul Xabiru yang ada di belakang, masih berjaga ditakutkan orang lain heboh ketika melihat dirinya bisa berjalan dalam waktu kurang dari dua bulan sejak datang ke kampung tersebut.


Setelah diberitahu, Asta mengambil alih tugas Xabiru dan melanjutkan menyiram tanaman. Sedangkan Xabiru sudah ada di depan, dan menyapa dua orang yang tersenyum ramah. Begitu Xabiru datang, orang yang mengantar pun pergi meninggalkan Soni dan Xabiru.


"Rumahmu jauh sekali, dasar!" Ucap Soni seraya menepuk bahu Xabiru. Sedikit kesal, meski dirinya masih bersemangat. Apalagi ia jalan kaki ke rumah Xabiru, bagaimana bisa tidak kesal?


"Haha, aku lupa memberitahumu untuk memakai sepeda setidaknya, maaf oke?" Ucap Xabiru seraya tertawa. "Eh tapi, aku kan sudah bilang rumahku dikampung paling ujung." Lanjutnya. Jadi dirinya tidak salah, betul?


"Ya, ya, aku yang salah tidak mendengar baik-baik." Balas Soni.

__ADS_1


Xabiru tertawa, kemudian keduanya masuk ke dalam rumah dan duduk di atas dipan ruang tengah. Tidak ada kursi, jadi hanya bisa duduk disana.


Asta datang, kemudian menyapa Soni alakadarnya.


"Sudah selesai?" Tanya Xabiru pada Asta. Membuat Asta menganggukkan kepalanya. Setelahnya, ia masuk ke area dapur. Untuk memanaskan makanan yang kemarin dibeli olehnya.


Sedangkan Xabiru pergi mengajak Soni ke halaman belakang rumahnya, memperlihatkan tanaman segar dan sehat miliknya pada Soni.


Soni takjub, tentu saja. Tanaman yang ada di sana memang sangat segar dan besar, seperti sudah siap dipetik. Soni bahkan mendekati area tanam Strawberry dan langsung memetiknya. Seketika, begitu ia makan satu, langsung saja perasaannya meleleh.


"Gila, Strawberry apa ini? Memang boleh semanis dan sesegar ini?" Pekik Soni senang.


Xabiru tertawa dibuatnya. "Aku membeli benihnya di dekat pasar. Kau tahu sendiri aku suka membeli benih disana, haha." Ucap Xabiru seraya mengibaskan tangannya.


"Kalau begitu, ayo, ayo, aku harus berjualan hari ini. Jangan sia-siakan waktu berharga!" Ucap Soni penuh semangat.


Meski begitu, Xabiru langsung menghela nafas setelahnya, karena Asta langsung datang ke halaman belakang. "Kak Soni, bagianmu ada di ruangan lain. Kau boleh melihat-lihat dulu, buah dan sayur apa yang kau mau untuk dibawa berjualan hari ini." Ucap Asta, kemudian menatap Xabiru dengan senyum penuh arti.


Asta telah melakukan pekerjaan yang telah dilupakan olehnya. Untunglah, ia ingat. Jadi Xabiru tidak akan merasa tidak enak pada Soni karena stok yang dibicarakannya tidak ada.


Kemudian ketiganya pergi ke salah satu ruangan yang harus dilewati dengan masuk ke dapur. Ya, Asta tadi ke dapur selain memanaskan makanan, juga untuk mengisi ruangan kosong dengan stok buah dan sayur. Anggap saja sebagai gudang cadangan kecil. Meski kecil, isi di dalamnya banyak. Ada puluhan kotak kayu yang sudah terisi buah dan sayur.


Soni langsung melebarkan mata, dengan berbinar-binar, ia bersemangat memilih beberapa jenis buah. Ada Pir, Mangga, Strawberry, dan Tomat.


Hanya itu saja, karena Soni masih cukup sadar ketika memilih beberapa jenis tersebut. Uang yang dibawanya mungkin saja tidak akan cukup. Jadi cukup 4 jenis dulu saja.

__ADS_1


"Masing-masing 200ribu saja dulu. Uang yang aku bawa terbatas." Ucap Soni seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa maksudmu, kak? Pilih saja, untuk harga, pikirkan nanti setelah kau berjualan. Kau bisa membayar kami setelah kau mendapat uang. Tenang saja, aku percaya padamu." Ucap Xabiru. Mempersilahkan. Tapi Soni merasa tidak enak. Jadi, tetap dengan 4 pilihan jenis buah yang barusan dipilihnya.


"Kak soni, kami tidak keberatan. Ambil dulusaja, masalah bayaran tidak usah khawatir. Kau bisa membayar setelah sekua terjual." Timpal Asta.


"Tidak, tidak, ini dulu saja, sebagai percobaan juga. Jika memang 4 jenis ini terjual habis dalam waktu cepat, maka aku akan kembali lagi kesini hari ini juga, bagaimana? Oke, kan?" Ucap Soni seraya menaikkan alisnya.


Akhirnya, Asta dan Xabiru mengangguk mengiyakan. Kemudian mulai menghitung buah dan tomat yang dipilih Xabiru. Harga aslinya tentu saja dikurangi, karena Soni langsung membelinya di rumah, juga sebagai penjual lagi.


Untuk Pir, dan Mangga, masing-masing satu buahnya dihargai dengan harga 5ribu, sedangkan Strawberry, dihargai per setengah kg 15ribu. Serta tomat dihargai per setengah kg 20ribu. Jadi Soni mendapatkan 4 kotak kayu dengan masing-masing Satu kotak kayu berisi 40 pir, 40 mangga, dan masing-masing 10kg Strawberry serta Tomat.


Setelah membayar, Xabiru kemudian membantu mengangkat kotak-kotak tersebut. Karena Soni tidak membawa kendaraan, alhasil Soni dipinjami kereta kuda milik Xabiru.


Setelah membawa keempat kotak ke dalam kereta, Soni kemudian pergi setelah berpamitan dan berterimakasih berulang kali. Soni melambaikan tangannya dengan semangat pada Asta dan Xabiru. Berharap dengan semangat, ia dapat menjual keempat macam buah yang dibawanya hari ini dengan cepat.


"Ayo masuk, kita sarapan, aku sudah memanaskan makanan semalam." Ajak Asta pada Xabiru. Membuat Xabiru menganggukkan kepalanya, kemudian merangkul Asta dan berjalan bersama ke dalam rumah.


"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar di dalam ruang? Apa sudah waktunya panen lagi?" Tanya Xabiru tiba-tiba.


"Belum dilihat, nanti setelah makan, ayo kita lihat. Sekalian melihat hewan-hewan di dalam danau." Balas Asta membuat Xabiru mengangguk. Ia jadi semangat, setelah mendengar kata hewan.


Kira-kira, sudah sebesar apa mereka semua? Pikir Xabiru.


*

__ADS_1


*


__ADS_2