
*
*
Karena semua telah habis, pendapatan bertambah 50 juta dari yang kemarin. Hasil dari beras dan telur yang sama-sama terjual habis, tidak seperti hari pertama, dua barang ini tersisa.
Keuntungan awal 901 juta, menjadi 951 jutaan. Xabiru dan Asta puas dengan hasil ini. Jika setiap hari semua barang di toko habis, maka keuntungan akan sama banyaknya dengan hari ini, yakni 951 juta. Jumlah ini tidak dihitung dengan pesanan ikan Channa yang satu hari 4 ekor.
Maksudnya, di toko nantinya setiap hari akan ada, tapi yang dipesan hari ini akan berbeda. Jadi keuntungannya dipisahkan, karena memang ada beberapa juga yang belum membayar lunas, baru uang mukanya saja.
Pukul 2, setelah semua diisi ulang kembali dan makan siang, Xabiru dan Asta meninggalkan Nira di rumah. Keduanya harus mengirimkan stok sore ini untuk restoran pusat dan cabang kedua. Jadi, keduanya harus pergi ke pasar untuk membeli lebih banyak kotak kayu, karung, dan wadah khusus telur.
Kotak kayu akan diisi dengan stok yang nantinya akan diangkut. Kotak ini disimpan di gudang dan ketika waktunya nanti diambil, orang yang membawa tidak curiga karena memang di gudang banyak stok di kotak kayu, karung, dan tempat khusus telur.
Kotak kayu tidak akan dibawa nantinya, tapi akan dialihkan ke dalam kotak pendingin khusus agar semua bahan tetap awet selama diperjalanan sebelum sampai ke restoran pusat dan cabang kedua.
Selain kotak kayu, Asta dan Xabiru juga membelikan satu set peralatan kamar untuk Nira. Kasur, kemari, meja belajar, baju termasuk seragam karena nantinya Asta akan mendaftarkan Nira sekolah disini, lalu ada karpet bulu dan ponsel. Termasuk beberapa peralatan yang dibutuhkan Xabiru dan Asta di rumah seperti televisi, kulkas dua pintu, mesin cuci, dan lainnya, yang sebelumnya belum dibeli untuk memenuhi kekosongan dan kebutuhan rumahnya.
Semua pembelian menghabiskan uang sebesar 500 juta. Yang mahal dibeli adalah alat elektronik. Apalagi yang tiga yang telah disebutkan sebelumnya. Karena Asta juga sekalian membeli yang kualitasnya bagus.
Kemudian, setelah membeli banyak dan diantarkan dengan pick up. Asta langsung mengisi semua tempat dengan bahan-bahan. Di lantai satu masih ada satu ruangan luamyan besar. Dan itulah yang dijadikan keduanya sebagai gudang penyimpanan.
Pukul 4, mobil pengangkut barang datang. Ada 4 mobil yang datang. Dan masing-masing 2 mobil adalah yang bertugas mengangkut ke pusat dan ke cabang dua.
__ADS_1
Karena ada pekerja yang bertugas memindahkannya, Asta dan Xabiru hanya diam di tempat. Kebetulan Teren yang datang mendistribusikannya. Jadi ketiganya mengobrol ringan. Termasuk mengobrol kan masalah pekerja yang dibutuhkan Asta dan Xabiru.
Teren kemudian merekomendasikan beberapa orang yang menurutnya bagus dan cakap. Alhasil, Asta dan Xabiru segsra setuju untuk mengambilnya. Dan keesokan harinya kelima pekerja yang direkrut sudah bisa datang dan bekerja.
Tapi karena besok ia hanya akan turun sebentar untuk melayani, jadilah Xabiru langsung membeli 6 cctv dan langsung memasangnya setelah Teren dan empat mobil pergi dari rumah/toko nya.
Pemasangan diletakkan empat di dalam dan dua di luar. Dua di dalam toko, satu di halaman, satu disamping, yakni parkiran, satu di lantai dua. Berjaga-jaga jika saja ada dari salah satu pekerja yang tidak jujur. Dan yang terakhir di letakkan di gudang.
Keamanan adalah yang paling penting. Jadi tidak ada salahnya berjaga-jaga sedari awal. Apalagi, keduanya tidak mengenal baik kelima pekerja, jadi sebagai pengawasan juga apakah memang benar baik seperti yang Teren katakan.
Barulah setelah cctv dipasang, Xabiru dan Asta langsung ke halaman belakang. Kali ini, dibantu Nira menyiram tanaman yang sudah mulai tumbuh besar dengan cepat. Dalam 3 hari sudah pasti bisa dipanen. Sedangkan di dalam ruang, hanya butuh 2 hari setelah tanaman di tanam, langsung bisa dipanen. Sebab selain kecepatan waktu, air yang dipakai juga tidak dicampur air biasa.
"Nira, kau sudah baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?" Tanya Asta pada adik sepupunya tersebut. Ketiganya kini sedang makan malam setelah lelah seharian.
"Sudah takdirnya, aku juga tidak mungkin bertemu denganmu jika Kak Soni tidak membawamu. Nanti aku akan berterimakasih baik-baik padanya dengan benar." Ucap Asta lagi.
Nira mengangguk dengan senyum lebar. Sudah lebih baik, sudah kembali sedikit bersemangat. Karena traumanya selama hari-hari kemarin juga tidak mungkin bisa sembuh begitu saja. Apalagi juga berkali-kali mau bunuh diri.
"Besok ikut kakak ke rumah sakit, oke? Kau harus memeriksa tubuhmu." Ucap Asta lagi.
"Aku baik-baik saja, kak. Tidak perlu." Tolak Nira.
"Apa maksudmu dengan baik-baaik saja? Sebulan lamanya kau Luntang Lantung di luar sana. Kakak khawatir, biarkan kakak membuatmu menjalani pemeriksaan kesehatan, baik? Agar kakak lebih tenang." Ucap Asta.
__ADS_1
"Jangan menolak lagi, ikuti saja kemauan kakakmu." Ucap Xabiru tanpa memandang Nira. Sebetulnya, ia canggung, tapi apa boleh buat. Lagipula, Nira masihlah anak kecil.
"Baiklah, kak." Ucap Nira akhirnya, menyetujui permintaan kedua kakaknya. Apalagi Xabiru sudah angkat bicara. Ia sedikit takut pada Xabiru, karena sebelumnya memang pernah bertemu tapi tidak sering, hanya beberapa kali dan Nira adalah saksi bagaimana dinginnya Xabiru pada orang asing.
Tapi ketika melihat sikapnya pada sang kakak, Nira menghela nafas bersyukur. Xabiru ini menjaga Asta dengan baik. Jadi tidak perlu khawatir lagi.
Xabiru dingin dulu, karena lingkungannya yang membuat dirinya begitu. Ketika ke desa, dan terlantar dikampung terpencil, ibunya menyuruh Xabiru menjadi lebih ramah. Apalagi jika sedang berjualan, karena dulu sempat menjual sayur pada orang dengan ibunya sebelum ibunya meninggal.
Alhasil, begitu Xabiru bertemu Soni, ia langsung mengeluarkan keramahannya, meski hal itu membuat Xabiru lelah. Ia memaksakan diri, apalagi ketika melayani pelanggan.
Tapi kini, ia tidak perlu bersusah payah lagi. Sudah sedikit terbiasa dengan keramahan. Sikap dinginnya perlahan menghilang. Apalagi jika dengan Asta, sudah sepenuhnya menghilang.
Tapi jika nanti kembali ke ibukota dan berurusan dengan orang-orang itu lagi, sikap dinginnya mungkin akan kembali. Hanya untuk menghadapi orang-orang tidak tahu malu tersebut saja.
Hingga esoknya, Asta dan Nira sudah sampai di rumah sakit. Tidak lupa keduanya memakai masker untuk menutupi wajah, takut dikenali orang-orang dari ibukota. Hanya berjaga-jaga, siapa yang tahu nanti jika tiba-tiba saja datang orang dari ibukota, bukan?
Nira sudah masuk dan menjalani pemeriksaan kesehatan. Sedangkan dirinya duduk di kursi tunggu di luar ruangan. Sampai 1 jam berlalu, Nira akhirnya selesai. Dan butuh 2 jam untuk menunggu hasilnya keluar.
Awalnya, seraya menunggu, Asta akan membawa Nira ke dokter psikolog di rumah sakit. Tapi Xabiru menelfonnya, menghentikan niatnya sesaat.
"Sayang, ada masalah di toko!" Seru Xabiru.
*
__ADS_1
*