Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

*


*


Xabiru berpikir begitu, lain lagi dengan pikiran Asta. Jika tidak sekarang, kapan lagi kesempatan untuk jujur padanya. Tapi, keraguan dan ketakutannya jelas terlihat, lebih besar dari pada keberaniannya yang ingin mengungkapkan kejujuran.


Tapi pada akhirnya, Asta menangis.


Saking bingung dan takutnya dirinya, gejolak tidak nyaman yang dirasakannya malah mendorongnya untuk menangis.


Xabiru yang melihat hal tersebut buru-buru mengangkat tangannya dan menangkap pipi sebelah kanan Asta. Bertanya dengan lembut apa yang terjadi, dan menenangkannya.


Tapi bukannya tenang, Asta malah semakin terisak. Dan secara tidak sadar ia bergumam maaf berkali-kali pada Xabiru. Membuat Xabiru semakin kebingungan.


Lalu karena Asta tidak kunjung berhenti dan malah semakin histeris, akhirnya Xabiru memencet tombol di samping tempat tidur Asta. Memanggil perawat agar datang untuk melihat keadaan Asta.


Perawat datang, setelah memeriksa tidak ada yang salah pada Asta, tapi melihat Asta menangis terisak keras, ia tidak punya pilihan selain menawarkan penyuntikan obat penenang untuk Asta pada Xabiru.


Xabiru enggan, tapi akhirnya ia menyetujuinya karena kasihan melihat Asta. Juga, pemberitahuan kondisi Asta yang jika terus menerus menangis, akan berpengaruh pada demamnya.


"Apa yang terjadi pada istriku?" Tanya Xabiru pada perawat setelah Asta tenang, kembali terlelap.


"Melihat keadaanya, dan kehisterisannya barusan, pasien seharusnya memiliki semacam tekanan. Diperkirakan, selain perawatan medis, pasien juga butuh konseling. Karena terlihat sangat terguncang." Ucap perawat tersebut.


Xabiru terdiam. Pikirannya seketika rumit. Bingung jelas tercetak di wajahnya.


Melihat Xabiru terdiam dengan raut bingung, perawat yang telah selesai memeriksa dan menjelaskan kondisi tubuh Asta yang demamnya sudah banyak turun, hanya bisa undur diri dan pamit pergi dari ruang rawat tersebut.


Keesokan paginya, Asta akhirnya kembali terbangun. Ia lebih tenang saat ini. Juga mengatur emosi tidak nyamannya yang semakin tinggi.

__ADS_1


Selain tekanan dan rasa bersalah juga rasa takut, mimpi buruk adalah hal yang sangat mempengaruhi dirinya. Mimpi buruk memperparah kondisinya, dan tubuh Asta tidak bisa menerimanya lagi, sampai akhirnya ia jatuh sakit, dan demam tinggi.


Mimpi perihal pemilik asli yang dulu, juga ibu kandung Xabiru. Keduanya menyalahkan Asta yang merebut tubuh, juga orang di sekitarnya, menyalahkan Asta satu persatu termasuk Xabiru.


Selain disalahkan, dalam mimpinya, pada akhirnya, semuanya meninggalkannya sendirian. Bahkan keluarga lama yang kini hidup senang pun datang, menyalahkan karena ia juga merebut keluarga orang di masa lalu.


Semua mimpi buruk adalah ketakutan Asta dan kejadian yang terjadi di masa lalu. Keduanya menyatu, menambah ketakutan dan rasa bersalah pada diri sendiri. Dan Asta pun lambat laun terguncang. Dirinya tidak kuat menahan serangan takut dan rasa bersalah tersebut.


Apalagi, menghadapi sikap dan perilaku baik orang-orang pada dirinya, yang seharusnya diterima oleh pemilik tubuh terdahulu. Membuatnya semakin merasa bersalah. Dan semakin takut menghadapi semuanya jika semuanya tahu. Sesungguhnya, Asta takut ditinggalkan lagi.


"Kau bangun? Bagaimana perasaanmu? Ada yang tidak nyaman?", Tanya Xabiru seraya tersenyum, ia mengambil gelas di nakas dan memberikannya pada Asta.


Asta menerima minum yang disodorkan Xabiru, diam-diam rasa bersalah kembali bertambah melihat kantung mata Xabiru yang menghitam.


Tapi kali ini, Asta menekannya sekuat yang ia bisa. Jadi emosi di permukaan sangat tenang, kini. "Xabiru, tolong panggil Nira dan kakek." Bisik Asta pelan.


*


"Kau membuat kami takut setengah mati. Syukurlah, kau akhirnya bangun." Timpal kakek Xabiru dengan senang.


Asta hanya tersenyum menanggapi ucapan keduanya. Ia diam, menatap tiga orang yang ada di depannya satu persatu.


"Ada apa? Kau baik-baik saja? Ada yang tidak nyaman?" Tanya Xabiru karena Asta hanya diam dan melihati ketiganya dengan tatapan bersalah.


Asta akhirnya menggelengkan kepalanya, "Aku baik." Balasnya. Terdiam cukup lama, lalu Asta akhirnya memberanikan diri. Menghirup nafas dalam-dalam, "Ada hal yang perlu aku sampaikan pada kalian bertiga." Ucapnya kemudian.


"Apa itu?" "Apa itu kakak?"


"Sebelumnya aku minta maaf. Aku baru punya keberanian untuk mengungkapkan semuanya sekarang. Jangan sela ucapanku, tunggu aku selesai bicara, lalu setelah semuanya selesai dijelaskan, aku menyerahkan keputusan akhir yang kalian ambil pada kalian." Ucap Asta pelan.

__ADS_1


Karena tidak nyaman berbicara seraya terbaring, ia pun akhirnya berusaha bangun, dan duduk menyandar dengan bantuan Xabiru yang mempunyai respon bagus, menaikkan sandaran tempat tidurnya.


"Dengar baik-baik." Ucap Asta, ia kembali menarik nafas. "Aku bukan Asta yang kalian kenal." Ungkapnya, yang akhirnya berani mengungkap fakta.


"Hmm? Kakak, apa maksudmu?" Tanya Nira bingung. "Kakak ipar, apakah kau yakin demam kakak sudah turun?" Tanya Nira beralih pada Xabiru.


"Nira... jangan sela ucapanku." Ucap Asta lembut, ia bahkan tersenyum. Membuat Nira yang kebingungan menganggukkan kepala patuh.


"Aku bukan Anastasia Waverly. Aku adalah orang lain. Apa kalian percaya perihal pergantian jiwa? Itulah yang terjadi padaku. Anastasia Waverly sudah lama tiada, maksudku jiwanya. Xabiru, kau ingat hari dimana aku tidak sadarkan diri setelah terbentur di kampung? Aku melukai kepalaku, dan aku bertanya tentang siapa dirimu dan dimana aku?" Tanya Asta kemudian. "Sejak itu, jiwa Anastasia Waverly sudah tergantikan oleh jiwaku. Aku adalah jiwa lain yang entah kenapa bisa masuk ke tubuh Anatasia Waverly dari keluarga Waverly." Lanjutnya dengan raut cemas, jelas rasa takutnya kembali.


Apalagi melihat raut satu persatu orang yang didepannya tidak bisa ia baca sepenuhnya.


"Kakak ipar, demam kakak sepertinya melukai otaknya." Gumam Nira lirih. Ia jelas mendengar penuturan Asta, tapi Asta tahu, Nira enggan mengakui pendengarannya. Dan lebih memilih membohongi dirinya, membohongi perasaannya, menutupinya.


"Tidak, Nira.... Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku bukan kakak sepupumu yang asli." Lirih Asta.


"Ah? A-aku masih harus pergi ke sekolah. Kakak, kakak ipar, kakek. A-aku berangkat dulu." Ucap Nira dengan linglung. Ia pamit, tapi ia tidak menatap setiap orang yang disebutnya. Dan pergi meninggalkan ruang rawat dengan perasaan campur aduk.


Asta menghela nafas, rasa bersalah semakin tinggi setelah melihat respon Nira. Ingin menangis, hanya itu yang ia inginkan setelah melihat Nira pergi tanpa mendengarkan lebih lanjut. Nira menghindarinya.


Tapi masih ada dua orang di depannya yang terdiam. Asta akhirnya memberanikan diri menatap Xabiru dan kakeknya.


Kakek Xabiru berdehem, dan berjalan mendekati Asta. Tangannya terangkat, menyentuh kepala Asta. "Meski kakek terkejut, tapi kakek memang tidak akrab dengan Anastasia Waverly. Jadi, kakek tidak akan pernah menghakimimu. Kakek akan tetap sayang padamu seperti sedia kala. Hanya saja, kalian berdua harus mengobrol lebih dalam." Ucap kakek Xabiru dengan nada suara lembut, senyum dan rautnya juga hangat seperti biasa, membuat perasaan Asta sedikit lega. "Kakek akan menyusul Nira, dan kalian mengobrollah baik-baik." Lanjutnya. Lalu tatapannya beralih pada Xabiru. "Kakek tidak mau ada kekerasan. Jika memang tidak bisa menahan emosi dan tidak sanggup menerima fakta, pergilah sampai kau merasa tenang." Ucapnya.


Kemudian pergi meninggalkan Asta dan Xabiru yang kini berhadapan dalam suasana hening. Asta menunduk, jadi ia tidak tahu raut wajah Xabiru saat ini.


*


*

__ADS_1


nb: nama keluarganya Waverly bukan sih? Aku lupa, haha, maaf yaaa. Kalo keluarga Baskoro inget, tapi keluarga lama Asta yang asli lupa bgttt. Kalo ada yg inget, nanti koreksiin yaa, makasih 😘


__ADS_2