
*
*
Setelah puas bermain, semua orang bergegas mandi dan ganti baju di kamar mandi yang telah disiapkan di tempat wisata tersebut.
Tapi karena Xabiru mengatakan dari sini bisa melihat matahari terbenam, alhasil Asta membujuknya agar ia bisa melihatnya.
Jadilah semuanya masih menunggu kesempatan tersebut. Seraya memasak makanan untuk yang ketiga kalinya. Bahan yang dibawa memang habis, tapi ada satu warung disana, jadi Xabiru membeli bahan dari warung tersebut, meski harganya lebih mahal.
"Oh ya, kak, aku kirim dua foto padamu ya." Ucap Nira.
"Bukankah sudah semua?" Tanya Asta.
"Masih ada dua, yang baru. Lihat saja nanti, sebentar aku kirim dulu." Balas Nira terlihat misterius, tapi wajahnya bersemu merah dengan senyum malu-malu ketika ia mengirimkan foto pada Asta.
Setelah menerima foto, Asta kemudian membuka dan melihatnya. Matanya melebar, menatap Nira dengan tatapan tidak percaya. "Aish, kenapa memfoto adegan ini?" Tanya Asta, lebih ke malu karena Nira memfoto dirinya dan Xabiru.
Itu pada saat Asta dan Xabiru berenang berdua. Keduanya anteng sekali, mengobrol dan bercanda berduaan. Nida yang melihatnya tidak tahan untuk memotret. Tapi siapa sangka, jika keduanya malah berciuman di atas air.
Nira pun meski malu, ia tetap memotret momen tersebut, karena selain romantis, itu suasana yang terlihat bagus. Pemandangan dua orang yang saling mengasihi dengan lantar belakang air terjun.
Menakjubkan di mata Nira.
Satu foto lainnya adalah ketika Xabiru merangkul Asta, duduk di atas batu besar, di bawah air terjun, membuat keduanya dijatuhi air tersebut. Tawa Asta dan senyum serta pandangan lembut Xabiru membuat Nira semakin ingin memotret. Alhasil, dua foto ia peroleh dengan hasil yang cantik meski tidak di edit apapun.
"Dasar!" Omel Asta yang membuat Nira tertawa kecil. Kemudian ia pergi, bergabung dengan Hana dan anaknya. Meninggalkan Asta, karena Nira melihat Xabiru yang sedang berjalan menghampiri Asta.
Xabiru duduk di samping Asta, ia baru saja dari membeli selimut tipis. Membeli 5 dan ia mengambil satu selimut untuk dipakai berdua dengan Asta. Sedangkan sisanya dibagikan pada yang lain oleh K2 dan K3.
"Sedang melihat apa?" Tanya Xabiru, seraya ikut menatap ponsel Asta. MembuatAsta tidak sempat menutup ponselnya dari pandangan Xabiru.
"Hmm? Bagus juga! Kirim padaku." Ucap Xabiru tersenyum penuh arti. Membuat Asta semakin tersipu. Ia bahkan memegangi kedua pipinya yang memanas.
Seraya menunggu, Xabiru membuat Asta duduk di hadapannya. Sedangkan dirinya duduk di belakang Asta. Baru kemudian ia memakaikan selimutnya di punggungnya. Asta dipeluk Xabiru dari belakang dengan selimut membentang.
__ADS_1
"Xabiru, jangan begini. Masih ada orang lain disini. Kau tidak malu?" Tanya Asta dengan suara pelan, karena orang lain belum sadar akan posisinya. Jangan sampai Mereka sadar, itu memalukan dilihat begini oleh orang lain menurut Asta.
"Tidak apa, jangan lihat mereka, jadi tidak akan malu." Ucap Xabiru seraya menumpukan dagunya di atas kepala Asta.
Siapa suruh Asta ini lebih pendek dan kecil, jadi meski posisinya begitu, Asta terlihat dihalangi oleh satu dinding. Terlihat lucu sebetulnya, seperti ayah dan anak, hanya saja, ini terlihat lebih romantis.
"Kalau saja tidak ada orang lain." Lirih Xabiru.
Membuat Asta berdehem, tahu maksud dari perkataannya. Tapi tidak banyak bicara, hanya diam dan tidak menanggapinya.
"Ubah posisi saja, kita berdampingan oke? Jika begini, aku tidak bebas bergerak." Ucap Asta membujuk. Karena Xabiru tidak mau berpindah. Posisinya sudah nyaman. Tapi Asta menjadi kaku. Karena jika saja ia bergerak sedikit, Xabiru pasti akan menggeram.
Meski akhirnya Xabiru tidak melakukan apa-apa, tapi Asta yang merasa tidak nyaman. Kasihan pada Xabiru, yang sudah pasti tersiksa.
"Sudahlah, sayang... Lihat sana. Sudah muncul." Ucap Xabiru seraya mengecup bibir Asta, dan menunjuk arah dimana pegunungan terlihat dengan matahari terbenam.
Sangat cantik.
"Mau coba hal yang seru?" Tanya Xabiru seraya tersenyum penuh arti, tapi Asta tidak melihatnya.
"Begini." Bisik Xabiru, kemudian kembali mencium bibir Asta. Asta yang awalnya terkejut, kian terhanyut mengikuti permainan Xabiru.
Tidak peduli lagi lada orang lain yang kini sudah melihatnya dengan wajah memerah. Adapun Soni, hanya menggeleng melihat Xabiru melakukan hal tersebut. Sedangkan Nira, kembali mengabadikan momen tersebut. Tapi karena dirinya lumayan berjarak dari samling, Nira diam-diam berjalan ke belakang keduanya, dan memotretnya, berlatarkan matahari terbenam, dengan gunung-gunung dan air terjun.
Sangat, sangat, cantik. Dua kali lipat lebih cantik dari foto di dalam air yang diambilnya sebelumnya.
Tak lupa, Nira juga mengabadikan fotonya sendiri dengan meminta bantuan Hana, istri Soni. Bergantian, memotret mengabadikan dirinya masing-masing.
Setelah puas melihat, dan matahari berganti bulan. Semuanya memutuskan pulang dalam keadaan gelap. Tapi tidak benar-benar gelap, karena di tempat wisata banyak lampu yang membuat tempatnya menjadi cantik juga.
Sampai kini, Xabiru sedang berhadapan dengan pemilik sekaligus yang mengurusi administrasi. Untuk pulang, di tempat ini harus melakukan pelaporan. Agar tidak ada masalah dengan orang hilang nantinya.
"Pak Tua, aku pulang dulu kalau begitu. Lain kali aku akan kemari lagi, tapi sepertinya hanya akan membawa istriku saja nanti. Membawa orang lain sangat tidak bebas." Keluh Xabiru membuat pemilik tertawa mendengarnya.
"Kau benaran mau pergi saja? Buka tenda saja, aku akan meminjamkannya, gratis. Di jalan gelap, ini tempat terpencil kau tahu sendiri." Ucap Pemilik setelah menghentikan tawanya.
__ADS_1
"Besok adik ipar sepupu masih harus sekolah. Aku juga harus membuka toko. Jadi hanya bisa pulang. Tidak apa, pak tua. Aku ada membawa penjaga keamanan." Ucap Xabiru seraya tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu. Sudah lengkap semua tidak ada yang tertinggal, bukan?" Tanya Pemilik, ia menyerah membujuk Xabiru.
"Sudah, cap saja." Xabiru mengangguk mengiyakan, kemudian pemilik mengecap satu persatu tiket yang dipegang Xabiru.
Setelah selesai, ia pamit dan langsung masuk ke dalam mobil. Yang dimana semua orang telah menunggu di dalam. Kecuali dua penjaga yang membawa motor masing-masing. Tapi sebelum benar-benar masuk, Xabiru mengatakan, "Aktifkan earpiece. Untuk komunikasi, jika ada apa-apa dijalan." Baru setelahnya masuk dan menjalankan mobil di kegelapan malam.
Sepanjang jalan, keluar dari tempat tersebut, jalanan terlihat sangat gelap. Hanya ada cahaya bulan yang samar yang menyinari. Juga cahaya dari lampu sorot mobil dan lampu sorot motor.
Kedua penjaga tidak takut sama sekali, mengingat pengalaman seperti ini sudah sangat sering dilalui. Berbeda dengan Xabiru, ia sebetulnya khawatir, tapi ia tidak punya pilihan. Dan memilih bersikap tenang menjalankan mobilnya. Semua orang kelelahan, dan terlelap, kecuali Asta yang setia menggenggam tangan Xabiru.
Tak lama kemudian, Earpiece yang dipakainya mengeluarkan suara.
"Tuan, ada satu mobil off-road di belakang. Sedari awal kita keluar tempat wisata sudah mengikuti, awalnya aku tidak menghiraukan, karena berpikir itu adalah wisatawan lain yang juga berniat pulang. Tapi aku salah, semakin jauh, mobil ini ternyata mengikuti kita, Tuan." Ucap K2, K3 dan Xabiru tentu saja mendengar informasi yang sama.
Xabiru melihat spion di atas Yang ada di dalam mobil. Selain dua motor keamanannya, benar saja, ada satu mobil yang mengikuti.
"Percepat laju, tetap kawal. 15 menit lagi masuk ke jalan raya. Pertahankan sampai kita masuk ke jalan raya." Ucap Xabiru tegas. Membuat Asta mengernyit.
"Ada apa?" Tanya Asta khawatir.
"Adabyang mengikuti kita. Tenang, sayang, semua dalam kendali." Ucap Xabiru.
"Kau yak---"
"Tuan! Mobil ini berniat menabrak kami dan mobilmu! Tidak bisa mempertahankan formasi pengawalan!" Desak K3.
Xabiru tidak lagi mendengarkan Asta. Ia beralih pada mobil off road yang semakin mendekat dengan kecepatan di atas rata-rata. Membuat mobil tersebut seketika ada di belakang mobil Xabiru.
"Mari berhenti, dan bereskan." Tegas Xabiru, dengan nada dingin dan tatapan tajam. Asta bahkan gemetar melihat perubahan ini.
Ini, adalah Xabiru yang terkenal, yang dibicarakan orang-orang di kalangan bisnis dulu. Xabiru yang berdarah dingin. Akhirnya, keluar, menunjukkan diri.
*
__ADS_1
*