
*
*
"Kalian sudah kembali? Bagaimana? Apa yang kalian temukan?" Tanya Xabiru pada K2 dan K3 yang sebelumnya mengurus orang-orang berpakaian hitam yang menyerangnya di jalan.
Sebelumnya Xabiru menyuruh dua keamanan tersebut untuk mengurus mereka, alhasil, kini keduanya telah pulang dan sudah pasti ada informasi yang di dapat.
"Bos, mereka memang dari Geng Macan Kumbang.", Ucap K2. "Kami langsung mengusut tuntas, dengan datang langsung ke markas macan kumbang kemarin berdasarkan perkataan orang yang menyerang kita. Bosnya memang menerima uang dari seseorang, tapi orang yang memberi uang memakai topeng, alhasil ia tidak tahu.", Jelas K2 pada Xabiru. Ia kemudian menyodorkan satu berkas pada Xabiru, dan Xabiru langsung membukanya.
Di dalam terisi jelas info-info dari restoran Shaolin, nama pemilik, mitra, sampai nama pelayan, semuanya lengkap, ada dalam berkas yang baru saja di terimanya.
Seraya melihat isi dokumen, Xabiru tetap bisa fokus pada perkataan dua anak buahnya.
"Tapi tenang, saja, Bos. Kami telah mendapat identitasnya. Kami cari berdasarkan cctv di setiap jalan yang mengarah ke orang bertopeng ini. Dia hanya orang kecil yang tidak seberapa. Dia berniat menghancurkan mu hanya karena ditolak untuk bekerja sama. Cukup nekat. Tapi, ia benar-benar tidak layak berurusan denganmu. Itu dari Restoran Shaolin, pemiliknya. " Lanjut K3 meneruskan ucapan K2.
"Restoran Shaolin? Ah, aku ingat, itu restoran bintang 4 yang ada di ibukota, bukan? Restoran dengan tema makanan yang berasal dari jupun." Ucap Xabiru seraya menganggukkan kepalanya, ia ingat betul, karena beberapa kali ia juga sempat pergi ke sana di masa lalu.
"Benar, bos." Jawab K2 dan K3 bersamaan.
"Cih! Berani sekali mereka mencari masalah di saat aku menolak mereka baik-baik kemarin? Memang merasa paling besar, ya?"Ucap Xabiru dingin. K2 dan K3 menjadi gugup saat ini, melihat aura dari Xabiru. "Beri pelajaran pada mereka. Secepatnya." Lanjut Xabiru memberi perintah yang membuat kedua keamanan mengangguk mengiyakan. Dan segera beranjak, tapi Xabiru menghentikan pergerakan keduanya.
"Sebentar, bagaimana dengan K1? Sudah ada kabar tentang pembelian gedung?" Tanya Xabiru.
"Sudah, bos. K1 sedang membereskan transaksi, siang ini gedung sudah bisa di renovasi dan ditambahi setiap ruangan dengan seperangkat latihan keras." Ucap K2.
Xabiru sebelumnya menyuruh K1 membeli gedung, dan K2 ditugaskan mentransfer uang pada K1 karena dirinya sendiri harus bersiap untuk piknik sebelumnya. K2 juga disuruh untuk menyampaikan pada K1 jika transaksi pembelian bisa dilakukan olehnya sendirian. Alhasil, kini transaksi sebentar lagi akan selesai, dan seperangkat alat pelatihan sudah bisa dipesan mulai dari sekarang.
__ADS_1
"Baiklah, untuk jelasnya nanti K1 saja yang jelaskan padaku. Suruh dia menghadap padaku jika telah selesai dengan transaksinya nanti. Aku punya beberapa saran tentang seperangkat alat pelatihan." Ucap Xabiru menjelaskan.
"Baik, bos, akan kami sampaikan segera." Balas K2 dan K3 yang mengangguk menunduk.
"Begitu saja, kalian lakukan tugas kalian. Ingat, jangan sampai menyisakan masalah. Kalian sudah beberapa kali melakukannya bukan? Aku percaya pada kalian, jadi jangan sia-siakan kepercayaan ku. Mengerti?!" Ucap Xabiru tegas, dengan tatapan tajamnya.
"Siap, mengerti, bos!" Balas K2 dan K3 bersamaan. Kemudian keduanya meninggalkan ruang kerja di lantai 3 yang memang dikhususkan oleh Xabiru untuk mengatur semua pekerjaannya.
Sepeninggal kedua keamanan, Xabiru langsung menatap tajam foto pemilik restoran juga kemitraan yang ada di dalamnya. Shaolin Nam adalah nama pemilik restoran tema jupun tersebut. Seolah Xabiru dendam padanya, tatapan mata benci juga jatuh pada foto beberapa mitra yang bekerja sama.
Ganendra dan Baskoro adalah mitra dari Shaolin. Merupakan dua perusahaan yang cukup besar. Meski tidak terlalu memperlihatkan pengaruhnya di dunia bisnis, kedua nama besar ini cukup dikenal banyak orang.
Terlebih Baskoro, pemilik perusahaan Unind, dulu mereka memenangkan tender 5M, dan mengalahkan dirinya. Membuat semua orang semakin memanfaatkan keadaan dan menyalahkan posisinya.
Tidak, ia tidak benci Baskoro dan Unind, mereka bersaing sehat dengannya dulu untuk memenangkan tender. Tapi Xabiru tetap menyalahkan dirinya karena tidak bisa mengambil Tender besar tersebut.
Dulu karena ada masalah dengan Asta, ia menyerahkan perebutan Tender pada sekertaris dan wakil direkturnya. Alhasil, mereka mengalami kekalahan, dan orang Ayahnya memanfaatkan keadaan. Membuat Xabiru langsung jatuh hingga akhirnya dibuang ke kampung terpencil.
Kejadiannya persis dengan selang waktu 1 bulan. Keluarga, sahabat, dan tunangan datang pada Anastasia setelah Anastasia memenangkan Tender karena semuanya sedang berlibur ke negara tetangga saat Anastasia memenangkan tender. Begitu datang, mereka langsung membunuhnya dengan kejam.
Asta tidak tahu saat ini, tapi jika ia tahu, mungkin sekarang dirinya sudah dipenuhi kilat benci dan emosi. Dendam lama pasti akan membuatnya berteriak sengsara.
Xabiru menghela nafas, menutup berkas tersebut kemudian keluar dari ruang kerja. Setelah mengingat beberapa memori menyakitkan yang membuat emosinya muncul, yang dirinya butuhkan saat ini adalah Asta.
Xabiru datang ke dapur, terlihat Asta sedang memasak. Sudah hampir jam makan siang, jadi ia memasak lebih awal. Soni dan Hana berniat mencari rumah di sekitar, jadi sebelum Pergi Asta ingin keduanya makan siang lebih dulu.
Xabiru memeluk Asta dari belakang, membuat Asta sedikit terkejut. "Ada apa denganmu?" Tanya Asta dengan kening mengkerut.
__ADS_1
Xabiru menggelengkan kepalanya, tidak menjawab sama sekali, tapi kepalanya menumpu di kepala Asta dengan pipi, dan memejamkan mata. Mencari ketenangan dari istrinya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Asta bingung.
"Eum.." Ucap Xabiru.
"Xabiru, aku kesulitan memasak jika kau begini. Tunggu di meja, sebentar lagi aku selesai,.mari mengobrol, oke?" Bujuk Asta tapi Xabiru tidak bergeming. Ia diam dengan posisinya.
"Xabiru..." Panggil Asta melembut. Masih tidak bergeming, Asta menghela nafas, kemudian mematikan kompor. "Baiklah, ayo, beritahu padaku kau kenapa, hm?" Tanya Asta kemudian, mengalah.
Xabiru tersenyum kecil, kemudian menjauhkan badannya, tapi tetap memeluk Asta. Bedanya, kini Asta sudah berbalik dan berhadapan dengannya.
"Sayang, apa kau tidak mau membalas dendam pada keluargamu?" Tanya Xabiru.
"Keluargaku? Maksudmu Keluarga Edderson?"Tanya Asta.
Xabiru mengernyit bingung, "Benar, memangnya keluarga mana lagi?", Tanyanya.
Asta mengutuk dirinya dalam hati, ceroboh, jangan sampai Xabiru meragukan dirinya.
"Tidak maksudku, aku takut kau sedang membicarakan Alexander, bukankah keluargamu juga keluargaku sekarang?" Ucap Asta seraya tersenyum, dan Xabiru mengangguk paham.
"Edderson, sayang. Bagaimana dengan balas dendam yang kumaksud? Kau mau membalas mereka?" Tanya Xabiru lagi.
"Aku tidak ingin balas dendam, tapi aku ingin mengambil kembali semua yang menjadi milikku. Milik Ayah juga ibuku yang telah direbut oleh paman-paman dan bibi-bibiku." Ucap Asta.
Asta, yakni pemilik sebelumnya memang tidak ada keinginan balas dendam, tapi sekarang di dalamnya berbeda, meski tidak balas, setidaknya mari mengambil hak yang memang miliknya. Setidaknya, itu mungkin bisa membuat pemilik sebelumnya menjadi lebih tenang.
__ADS_1
*
*