Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
Mengunjungi Ibu


__ADS_3

*


*


Besoknya, Xabiru bangun pagi-pagi sekali dan menanam tanaman alakadarnya, sebagai bentuk dari penghindaran kecurigaan. Memaksudkan orang yang mengintai agar mengira jika dirinya kesulitan dan hanya bisa makan makanan dari tanaman yang ditanamnya saja.


Setelah menanam dan menyiram, ia pun keluar dari rumah setelah berpamitan pada Asta. Ia belum belanja apa-apa kemarin, jadi tidak ada bahan makanan di rumah. Berniat ke pasar dan membeli beberapa makanan untuk dimasaknya hari ini.


Di perjalanan, karena ia jalan kaki, ada beberapa warga yang melihatnya. Terutama orang yang biasa membantu Xabiru. Menyapanya dengan ramah.


"Kau sudah kembali? Bagaimana pengobatan istrimu? Apakah berjalan lancar?" Tanya tetangga yang sering meminjami Xabiru sepeda.


Xabiru membalas tersenyum, "Tidak ada harapan, karena terlalu lama diobati. Aku rasa, tidak apa-apa juga, karena ia bisa diam saja di rumah. Jadi pekerjaan juga aku saja yang membantu." Ucap Xabiru. "Lagipula, ada istri sebaik dia juga sudah cukup, kamu juga sudah berusaha, tapi jika takdir mengatakan tidak aku juga tidak bisa apa-apa." Balas Xabiru, melanjutkan ucapannya.


"Oh sayang sekali, ya." Balas tetangga tidak banyak bicara juga, karena tahu jika dirinya sudah menunda Xabiru.


"Tidak apa, aku akan selalu menjadi suaminya meski ia tidak bisa berjalan." Balas Xabiru. "Ah maaf, aku tidak bisa berlama-lama, aku harus membeli sesuatu untuk dimakan lagi ini,.karena semalam datang tengah malam, jadi tidak sempat membeli stok untuk sarapan pagi ini." Ucap Xabiru, berpamitan.


"Oh baik, bai,k silahkan lanjutkan perjalananmu, Hati-hati."


Kemudian Xabiru kembali melanjutkan perjalanan, meski ada yang baik seperti orang yang menyapanya, tetap saja masih ada banyak orang yang tidak menyukainya.


Bukan apa, tapi karena ketampanan Xabiru menimbulkan gejolak iri pada laki-laki yang ada di desa, beberapa wanita bahkan yang sudah menikah merasa tertarik dengan Xabiru. Membuat mereka kalah saing.


Tapi tidak bertindak keterlaluan dengan mengejeknya terang-terangan dan memukulnya. Hanya dengan tatapan sinis, juga tidak ingin berinteraksi dengan Xabiru saja. Sisanya adalah orang-orang yang kesal, dan membicarakan Xabiru dari belakang.

__ADS_1


Xabiru sendiri tidak ambil pusing. Lagipula ia tidak berbuat apa-apa, ia hanya diam dan menjadi dirinya sendiri. apalagi di luar ia terlihat sangat irit bicara, dan juga malas berinteraksi dengan orang yang rautnya saja tidak bersahabat. Tidak perlu membuat dirinya lelah sendiri dengan meladeni orang-orang seperti itu. Cukup abaikan, dan dirimu akan senantiasa sehat fisik dan mental.


Karena memikirkan ucapan orang lain, sangat tidak baik bagi pikiran dan jiwa. Sangat mempengaruhi pola hidup dan pola pikir. Lagipula ia hidup untuk diri sendiri, ia juga tidak merugikan orang lain. Jadi untuk apa takut dengan ucapan orang lain? Hiduplah untuk dirimu sendiri, selagi tidak berbuat salah dan tidak merugikan orang lain.


Orang-orang ini juga tidak banyak membantu dalam kehidupan. Abaikan saja. Jika diladeni, maka rugilah kita. Karena tidak akan ada habisnya jika kita mendengarkan ucapan orang lain. Yang membenci kita, akan selalu memandang kita sebelah mata. Apapun yang dilakukan, akan terlihat salah Dimata mereka semua.


Kembali pada Xabiru, yang telah selesai berbelanja, dan kembali ke rumah, ia memasak dan sarapan bersama Asta seperti pagi biasa ketika keduanya belum ke kabupaten.


"Aku ingin mengunjungi ibu. Bagaimana caranya agar aku bisa membawamu dan tidak menimbulkan kecurigaan pada warga kampung sini?" Tanya Xabiru lirih.


"Aku juga rindu pada ibu. Gendong aku seperti biasa, haha." Ucap Asta.


"Baiklah, hanya bisa melakukan hal ini. Lagipula, aku sangat kuat. Jadi sudah pasti lebih kuat menggendongku di banding dulu yang sedikit kesusahan." Ucap Xabiru seraya tersenyum.


"Apanya yang sedikit kesusahan? Kita dulu jatuh bersama tahu!" Keluh Asta, mengingat kenangan dulu, karena makam ibunya dekat kaki gunung otomati lumayan jauh dari rumahnya meski ia ada di rumah paling ujung pun.


"Ya, ya anggap saja begitu adanya." Balas Asta.


Kemudian siangnya, Ketika Xabiru sedang membersihkan halaman, sekilas ia melihat orang yang sedang mengawasi dirinya. Kemudian senyum seringai kecil muncul di bibirnya diam-diam, tanpa terlihat.


Benar saja, ada yang datang menyelidiki. Selain menyelidikinya ia juga pasti sudah bertanya pada beberapa warga perihal kedatangannya. Xabiru kemudian dengan sengaja memunggunginya, seraya mencabuti rumput Yang ada di halaman rumahnya.


Meski sebetulnya banyak rumput, dan sedikit tinggi, tapi Xabiru yakin ia tidak akan sadar jika ja baru saja pergi dalam waktu lama.


Setelah selesai dalam 10 menit, Xabiru meregangkan tubuhnya, dan langsung masuk ke dalam rumah. Tanpa memedulikan orang yang sedang mengintainya.

__ADS_1


Biarkan saja, lagipula Xabiru yakin dengan kemampuannya tidak akan mengetahui kebenaran yang selama ini dijalankannya. Memangnya apa yang bisa ia lakukan sedangkan disisi Xabiru banyak orang hebat mengelilingi? Bahkan kegiatannya selama beberapa bulan bisa di manipulasi dengan mudah oleh Dean dan K1. Cctv juga bisa dihapus. Tidak masalah.


Pengintai pasti akan mengawasi dirinya selama beberapa hari. Jadi, Xabiru juga harus bertahan dalam beberapa hari ini. Minimal satu bulan harus berada disini agar mereka lebih yakin dengan keadaannya.


Sore harinya, Xabiru menepati janji dengan membawa Asta ke makam ibu Xabiru. Meski hanya ibu mertua, tapi kasih sayang ibu Xabiru, diingat dari perlakuan sebelumnya, ia sangat merasakan kasih sayang tulisnya. Bahkan di saat pemilik tubuh sebelumnya lumpuh, ibu Xabiru adalah satu-satunya orang asing yang memperlakukannya seperti orang lain, bahkan memberikan lebih banyak kasih sayang daripada keluarganya sendiri. Jadi tidak ada salahnya ia kini meminta berziarah ke makam ibu Xabiru.


Asta sudah duduk menyelonjorkan kakinya di karpet yang dibawa keduanya. Karen sedang berpura-pura, Asta juga hanya bisa menatap makam dari jarak yang sedikit lebar dari lada Xabiru yang sangat dekat dengan batu nisannya.


Tidak apa, yang penting ia juga bisa melihat dari dekat dan langsung.


Xabiru terlihat rapuh, pundaknya sedikit luruh, dan matanya berkaca-kaca. Asta merasa perasaannya juga sama abunya dengan Xabiru. Entah karena terbawa perasaan karena melihat Xabiru, entah karena merasakan perasaan, yang terpengaruh oleh pemilik tubuh sebelumnya.


"Xabiru, ayo pulang." Bujuk Asta, karena sudah lama sejak keduanya datang.


"Eum," Balas Xabiru seraya menganggukkan kepalanya. Ia sudah cukup banyak bicara saat ini, mengeluhkan semua kesulitannya juga kebahagiaan yang ia rasakan beberapa bulan ini.


Ia juga meminta maaf karena belum bisa membawa ibunya ke makam di kota, yang lebih baik perawatan dan tempatnya.


Masih belum saatnya.


"Mereka masih mengawasi." Bisik Asta dalam gendongan Xabiru.


"Abaikan saja, fokus padaku." Balas Xabiru ikut berbisik.


*

__ADS_1


*


__ADS_2