Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru

Istri Ajaib Tuan Muda Xabiru
It's Show Time


__ADS_3

*


*


Setelah obrolan panjang dengan Xabiru malam hari, untuk mematangkan rencana baru keduanya dengan Clode sebagai pengamat rencana, akhirnya, besoknya Asta pun mulai menjalankan rencananya.


Kebetulan, Eddin tidak lagi pergi dinas dan akan pergi serta pulang bekerja setiap hari dari rumah. Pergi pukul 8 pagi dan pulang pukul 5 sore.


Asta mengangguk dengan senang, karena dia akan lebih mudah menjalankan rencananya.


Satu hari dua hari pertama, Asta terus membuat ketidaksengajaan tentang penemuan-penemuan yang ada dalam saku baik kemeja, jas, ataupun celana yang dipakai Eddin. Dan menunjukkannya pada Sintia, yang sialnya dengan mudah membuat Sintia curiga.


Apalagi, Sifat Eddin sering berubah-ubah. Kadang lembut dan hangat, kadang juga lebih dingin dan berkata kasar.


Meski awalnya Sintia tidak menaruh curiga apapun karena berpikiran positif tentang, mungkin Eddin bersikap beda karena lelah dengan pekerjaan, jadi ia memakluminya.


Tapi setelah penemuan-penemuan yang diberikan Asta padanya, bahkan ketidaksengajaan mengendus dan terkejut ketika melihat bekas lipstik di kemeja Eddin. Yang sebetulnya, Asta sengaja berpura-pura ingin menyembunyikan bukti agar tidak membuat Sintia berpikiran buruk demi kesehatan, tapi aslinya sengaja membuat Sintia tahu akan kenyataan.


Karena setiap saat Sintia memasuki area kekuasaan yang beberapa hari ditempatinya tersebut, Asta akan dengan cepat berpura-pura sedang menyembunyikan sesuatu, membuat kecurigaan Sintia semakin besar.


"Kau menyembunyikan apalagi kali ini?" Tanya Sintia. Sudah pukul 10 malam, dan ia sudah tidur pada pukul 8 malam tadi. Tapi karena tenggorokannya kering, Sintia turun untuk mengambil air, karena ia lupa menyimpan air di kamarnya.


Sintia bertanya pada Asta, karena Sintia dihalangi Asta untuk tidak memasuki dapur dengan melewati kamar ibunya sendiri.


"Eung, tidak a-ada nyonya muda. Kenapa kau turun malam-malam begini? Ada yang bisa aku bantu? Oh atau kau mau air? Aku ambilkan saja, oke? Nona kembali ke atas, aku akan mengantarkannya padamu dalam beberap menit." Ucap Asta dengan wajah yang dibuat gugup dan panik.


Sintia memicingkan matanya semakin curiga. "Ada apa kali ini? Kenapa kau bersikap aneh belakangan? Juga, bukti-bukti sebelumnya, ah jangan bilang kau selingkuhan suamiku?!" Tanya Sintia penuh penekanan.


Asta membelalakkan kedua matanya dan langsung menggeleng dengan cepat, membantah tuduhan tidak berdasar tersebut. "Tidak nyonya muda, bukan aku. Aku bersumpah." Balas Asta.

__ADS_1


"Lalu kenapa dengan sikapmu? Selalu menghalangi dan menyembunyikan sesuatu dariku? Kau terlihat sangat mencurigakan disini." Ucap Sintia kesal.


"Aku, a-aku hanya ingin melindungimu. Aku mengkhawatirkan kesehatanmu dan bayi dalam kandunganmu. Tapi jika kau tidak percaya padaku, maka aku tidak bisa apa-apa. Ke depannya, aku juga tidak akan terlalu mengurusi urusanmu kalau begitu. Nyonya muda, maaf atas kelancanganku beberapa hari ini." Ucap Asta penuh sesal.


"Kalau begitu minggir, aku mau ambil air." Ucap Sintia jengah.


Akhirnya Asta menyingkir, dan membiarkan Sintia berjalan lagi. Setelah Sintia pergi, Asta menyunggingkan seringaian. Ia kemudian mengikuti Sintia pelan.


Gotcha!


Sintia sudah berhenti di depan pintu kamar ibunya. Asta lalu dengan cepat menghampiri Sintia dan kembali menghadang.


Asta menggelengkan kepalanya dengan raut sedih dan cemas, tapi Sintia memelototinya. Meski melotot, tapi Asta masih bisa dengan jelas melihat raut gugup dan takut di wajahnya.


Sintia mendorong Asta menyingkir dari hadapan pintu kamar ibunya. Banyak suara aneh di dengar Sintia, dan itulah yang membuat Sintia gugup. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana, ia ingin melihat kejelasan dari semuanya, meski aslinya ia takut.


Ia memberanikan diri, kini tangannya sudah menyentuh gagang pintu. Asta menimpakkan tangannya di atas tangan Sintia, membuat Sintia menoleh padanya. "Nyonya muda, kau yakin ingin melihatnya?" Tanya Asta berbisik, wajahnya dibuat sedih, dan khawatir pada keadaan Sintia.


Kemudian ia memutar kenop pintu dan terlihatlah dua orang yang sedang melakukan hal di luar batas. Ibunya berada di bawah badan Eddin, dan keduanya bertelanjang. Lalu ekspresi keduanya.


Sintia marah. Benar-benar dibuat marah.


"KALIAN!" Teriak Sintia dengan dada naik turun, nafasnya berguruh karena menahan emosi. "Bajingan! Brengsek! Benar-benar keji! Kalian! Kalian!" Teriak Sintia tertahan, wajahnya memerah karena emosi.


Dua orang yang sedang asyik berhubungan, begitu mendengar teriakan Sintia, langsung beringsut dan menutupi badan masing-masing. Menatap ke arah dimana Sintia berdiri, dengan wajah shock dan gugup.


"S-sintia?" "Sayang?"


Kedua orang di atas kasur memanggil secara bersamaan.

__ADS_1


"Jangan panggil aku! Kalian dua manusia kotor! Brengsek! Hiks, kalian bukan manusia! Kalian binatang!" Teriak Sintia marah, air mata sudah mengalir di kedua matanya.


Asta berdiri di samping, tidak berani bergerak. Tapi keberadaan dirinya tidak ditunjukkan pada dua orang yang ada di dalam kamar.


Barulah ketika Sintia pergi dan berlari ke lantai atas dengan tangisan besar, Asta mengikuti Sintia sampai di depan pintu kamarnya.


mengetuk beberapa kali dan memanggil Sintia dengan cemas sebagai basa basi. Tapi karena Sintia tidak kunjung membuka pintu, Asta lega dan langsung pergi meninggalkan kamar Sintia. Kembali ke kamarnya sendiri dengan senyum penuh kemenangan.


Masalah internal sudah muncul dan naik. Video sur dan video kemarahan Sintia juga sudah ia dapatkan. Untuk bukti dan penyebaran langsung ke media. Selain media, masih ada mantan ayah angkat yang masih harus mengetahui kebenaran.


Jadi, malam itu juga, ia langsung mengirimkan video pada nomor mantan ayah angkatnya. Juga memanas-manasi keadaan dengan memperlihatkan betapa hancur putrinya yang dihianati ibu dan suaminya.


Asta berlaku begitu karena ia tahu, mantan ayahnya itu paling menyukai dan menyayangi Sintia. Jadi, dengan melihat perselingkuhan dan kehancuran putrinya, tua Bangka di sana pasti akan cepat sampai ke kediaman dan langsung menindak lanjut masalahnya.


Asta tersenyum setelah mengirimkan video. Ia mematahkan kartu yang dipakainya. Kemudian ia berbaring dengan tenang. Menatap langit-langit dan kemudian tidur, mengistirahatkan dirinya sendiri setelah beberapa hari lelah dengan pekerjaan dan aktingnya.


Besoknya, begitu bangun, keadaan masih sepi. Tapi tidak lama kemudian, Asta mendengar suara deru mobil yang datang dari luar kediaman.


BRAK!


Pintu rumah dibanting dengan keras. Asta menyunggingkan senyum. Ia tahu itu adalah mantan ayah angkatnya yang langsung kembali begitu dikabari.


Juga, ia melihat Sintia yang menuruni tangga dengan cepat setelah mendengar suara deru mobil diikuti gebrakan pintu.


Asta menghampiri Sintia dan menanyakan keadaannya. Sintia yang berpenampilan buruk, dengan rambut berantakan, kedua mata bengkak, dan menghitam, hanya melirik Asta sekilas dan berlari menghampiri Ayahnya, bahkan tidak peduli pada kandungannya.


Membuat Asta meringis karena kasihan pada anak tidak bersalah tersebut. Tapi akhirnya, ia menghela nafas, itu semua karma atas perbuatan di masa lalu.


"It's show time~" Gumam Asta tersenyum kecil. Sebelum akhirnya mengikuti Sintia untuk melihat pertengkaran.

__ADS_1


*


*


__ADS_2