
*
*
"Sepertinya harus di undur, melihat kekuatan Alexander kemarin, kekuatan kita sepertinya masih belum cukup. Juga, kita masih kekurangan orang. Jika dibandingkan dengan Alexander, sangat jauh sekali." Balas Xabiru dengan sedikit tertekan.
"Tuan muda, kau yakin diundur? Meski kekurangan orang, tetapi permasalahan dengan Alexander tidak mungkin di undur lagi. Mereka mulai curiga padamu. Terlebih, jika kita terus-menerus berada dalam posisi bertahan dan waspada, juga tidak akan baik pada kita semua kan? Semakin lama di undur, semakin berbahaya. Apalagi mereka mulai mencari tahu tentang toko kecilmu." Ucap Clode dengan kening yang mengerut.
Sejujurnya tidak setuju dengan penundaan lebih lama. Karena menurutnya, semakin ditunda semakin akan banyak masalah pada semua orang disini. Apalagi Alexander bukan keluarga kecil. Sangat berpengaruh di ibukota. Masalah tentang Xabiru saja, yang Asta sebarkan di sosial media, langsung di take down dalam beberapa menit.
Apapun masalahnya, Alexander selalu dapat mengatasi semuanya karena kekuasaannya yang besar. Jadi, Clode rasa, untuk dirinya yang sudah mengalami banyak hal dengan Alexander, baik kebusukan dan kelicikan, Alexander adalah nomor satu. Tidak akan bisa ditunda lebih lama, dalam waktu dekat pasti ketahuan.
Apalagi awal mulanya dari Xabasta's Store. Meskipun toko kecil, tapi sangat misterius, Alexander pasti akan terus mengorek informasi terkait toko. Tidak akan berhenti sebelum benar-benar mendapatkan apa yang di dinginkan.
Xabiru tahu hal tersebut, tahu semua fakta tersebut, tapi mengingat kejadian kemarin yang hampir memakan korban nyawa, keinginannya menyerang dalam satu bulan lagi ini menjadi padam. Xabiru sadar satu hal, kekuatannya masih kalah jauh dengan Alexander yangsudah berdiri beratus-ratus tahun lamanya. Pondasinya sangat kokoh.
Lalu ia memikirkan perkataan Clode, ia juga benar. Hal ini membuat Xabiru bingung sendiri. Maju kena mundur kena. Posisi bertahan kali ini memang aman, tapi lama kelamaan tentu akan terhimpit, terdesak juga.
"Bagaimana menurutmu, kakek?" Tanya Xabiru pada pria baya yang duduk santai, sedang menyeruput teh hangat.
__ADS_1
Sedari awal ia mendengarkan dengan baik, tak bermaksud mengeluarkan suara, tapi jika sudah ditanya begini, mau tidak mau ia juga harus berpendapat, karena bagaimanapun dirinya merupakan tetua dan yang paling banyak pengalamannya dengan Alexander.
"Menurut kakek, lanjutkan dua-duanya saja. Seraya membangun restoran, kita juga bisa melakukan penyusupan ke ibukota. Biarkan restoran berdiri sebagai kamuflase jika kelak kau dicurigai." Jelas Kakeknya dengan pembawaan bijak.
"Ah aku tahu! Jadi, ketika kita ke ibukota untuk balas dendam, pada hari puncak balas dendam, buka juga restoran baru, jadi waktu keduanya bersamaan. Agar bisa memecah belah fokus Alexander. Sebelum itu, kita buat mereka curiga dulu selama beberapa hari sebelum pembukaan Xabasta's Restoran, jika kau dan Xabasta's ada hubungan. Dengan begitu, Alexander tidak akan mengira jika kita yang menyerangnya nanti." Jelas Asta dengan semangat.
Kakek Xabiru bahkan menganggukkan kepalanya memuji Asta. Jempolnya juga mengacung pada Asta, membuat Asta melebarkan senyumnya. Tapi respon Xabiru di luar nalar, ia memekik menyuruh semua orang menutup kedua matanya agar tidak melihat senyum Asta.
Betapa posesifnya?
Membuat Asta mendelikkan matanya pada Xabiru, dan memukul bahunya pelan. "Jangan berlebihan." Tegur Asta setelahnya. Tapi tak lama, sebab semuanya kembali berdiskusi dengan tenang.
Sampai esoknya, selain kegiatan biasa dijalankan dengan baik, ada sebagian tim yang dibentuk Xabiru untuk memilihkan tempat yang nantinya akan dipakai untuk restoran. Tempat tidak banyak syarat, yang penting strategis juga nyaman kondisi dan situasinya. Tapi tempat pemilihan lokasinya, Xabiru meminta agar tempatnya di sekitar perbatasan Kabupaten dan Ibukota agar mempermudah rencana nantinya.
Meninggalkan tim yang ditugaskan, Xabiru kini turun tangan sendiri melatih anak buah di markas bersama Clode dan K1. Juga sekalian melatih strategi dan kelayakan, serta kesetiaan dari para anak buahnya. Selain itu, kekompakan juga merupakan hal yang sangat penting, jadi tidak luput dari latihan tersebut.
Xabiru melatih anak buah sampai lupa waktu. Makan siang dan makan malam Asta kirimkan ke tempat latihan, sedangkan dirinya tidak menampakkan wajahnya di depan Xabiru agar ia tidak menjadi pengganggu. Karena jika dirinya ada di hadapannya, maka Xabiru pasti akan menghentikan pelatihannya.
Meski begitu, Asta juga tidak tinggal diam. Ia juga melatih dirinya sendiri di markas, sesekali juga masuk ke cincin ruang, berlatih di dalam karena lebih efektif dan lebih bisa membuatnya konsentrasi, apalagi ketika ia melatih pernafasan, tubuhnya menjadi ringan dan terasa segar.
__ADS_1
Selain berlatih, Asta juga tidak lupa memanen tanaman, buah, juga mengurus hewan-hewan peliharaannya di cincin ruang. Sedangkan yang ada di belakang rumah di urus oleh Soni dan Hana bergantian dengan menjaga toko.
Sudah dua hari sejak Asta dan Xabiru berlatih masing-masing. Asta yang pada hari ketiga selesai latihan lebih cepat, mengirimkan makan siang dan pergi lagi ke rumah, lebih tepatnya melihat kondisi toko yang sudah lama tidak ia perhatikan.
Tapi sesampainya di toko, Asta malah melihat perdebatan Soni dengan Teren. Lebih tepatnya, Teren memohon pada Soni.
Asta tak ambil pusing, ia sudah tahu permasalahannya, jadi tidak berniat menyapanya sama sekali, dan hendak langsung masuk ke dalam. Tentu dengan masker. Barang ini menjadi kewajiban dirinya dan keluarganya setiap kali keluar rumah dan markas. Jadi, selalu ada cadangan di mobil, di tas, dan di saku baju atau jaket yang dipakai hari tersebut.
Teren menghentikan Asta. Ia sudah tahu itu Asta, makanya ia menghentikannya. Perawakan Asta mudah dikenali, apalagi Teren sudah sering berhubungan dengannya.
"Nona, Nona, beri kami kesempatan nona. Aku tidak tahu lagi harus apa, pimpinan mendesak ku selama beberapa hari ini untuk kembali membuat kita berkerja sama. Restoran kami membuat pelanggan kecewa setelah mengganti bahan pokok. Nona, aku mohon... aku tidak mau dipecat, nona. Aku membutuhkan pekerjaan ini." Ucap Teren dengan nada cemas, juga terlihat menyedihkan, ia bahkan tidak lagi memerhatikan penampilannya yang terlihat lusuh.
Asta tebak, ia memang ditekan sana sini. Membuat Asta semakin geram saja. Padahal pimpinannya yang salah, kenapa malah melibatkan bawahan yang tidak tahu apa-apa? Gila, ya, tidak introspeksi diri sekali sampai menekan bawahan sendiri yang sama sekali tidak bersalah. Pikir Asta kesal.
Asta menghela nafas, "Keputusan ada di tangan suamiku. Kau bicaralah nanti dengannya, silahkan pulang dulu. Akan aku kabari jika ia ada waktu luang." Ucap Asta akhirnya, memberi jawaban yang berupa sedikit harapan.
*
*
__ADS_1