
*
*
"Tuan muda?! Nona?!" Pekik Clode dengan wajah terkejut, sebab setelah Asta memberitahu Xabiru sebelumnya perihal pimpinan lawan yang bangun dan hendak melukai Xabiru, Asta secepat kilat datang pada Xabiru, dan keduanya menghilang.
Juga bertepatan dengan dirinya yang langsung menembak mati pimpinan lawan. Sekarang lawan sudah mati, tapi tuan dan nona mudanya malah menghilang tepat di depan matanya.
Keterkejutan jelas tercetak di wajahnya, padahal sebelumnya hanya wajah tanpa ekspresi dan sinislah yang biasa diperlihatkannya. Desisan sakit terkadang terdengar, tapi Clode mengabaikannya dan lebih fokus pada kehilangan dua orang tersebut.
Di sisi lain, Xabiru dan Asta di dalam cincin ruang. Xabiru mendapat kejut dari pekikan Asta, tapi akhirnya ia masuk ke dalam dan merasa tenang. Hanya saja, begitu masuk ia langsung ambruk, telentang di atas rerumputan menatap langit biru tanpa awan. Wajah palsu juga telah dilepaskan olehnya.
Asta dengan khawatir mendekatinya, menanyakan keadaannya, tapi Xabiru bukannya menjawab, malah tersenyum kecil dan menarik Asta ke pelukannya. Mengecup pucuk kepala dan dahinya.
Bukannya tidak suka, tapi Asta khawatir dengan luka-lukanya, jadi dengan cepat melepaskan diri dan memelototi Xabiru. Ia kemudian berlari mengambil seember air dari danau.
Setelah menyimpan ember air di samping, Asta kemudian menarik Xabiru dengan susah payah, menyuruhnya duduk. Xabiru terlihat lemah di mata Asta, padahal hanya akal-akalan Xabiru saja. Tapi, Asta juga tidak terlalu memperhatikannya. Alhasil, ia menarik kaki Xabiru dan mengeluarkan peluru yang bersarang di kaki Xabiru.
Asta yang mengeluarkan, dan Asta juga yang meringis, ia bahkan menangis ketika mengeluarkan peluru dari kaki Xabiru. Setelah mengeluarkannya, Asta kemudian mencuci kakinya agar darahnya berhenti. Kemudian membalut lukanya.
Selesai dengan kaki, Asta kemudian mengangkat kepala dan menatap Xabiru yang malah tersenyum geli menatap Asta yang berurai air mata. Asta kesal, kemudian memukul bahunya keras. Tapi Xabiru memekik kesakitan, membuat Asta dengan cepat mengeceknya.
Untuk memeriksa luka, Asta menyuruh Xabiru membuka atasannya. Dan terlihatlah bahu dan lengan kanan yang robek, juga perut bagian kiri, Asta tidak kuasa menahan tangisnya lagi. Ia menyuruh Xabiru langsung menceburkan dirinya saja ke danau.
__ADS_1
"Bukankah aku sudah membekali air dan obat? Kenapa masih banyak yang terluka?" Tanya Asta dengan wajah memelas, menahan tangis.
"Aku meminumnya, tapi lukaku terlalu banyak. Setelah luka pertama hilang, luka baru muncul lagi, sampai aku kehabisan air dan obatnya. Kau tahu? Aku dikepung oleh puluhan orang di aula yang gelap. Keluar selamat seperti ini, adalah keberuntungan." Jelas Xabiru seraya tersenyum, menatap Asta dengan lembut. Xabiru mengambang di air, di area berenang yang sengaja dipisahkan dengan area pembiakan ikan.
Asta sendiri duduk di jembatan kayu kecil, menatap Xabiru dengan tatapan penuh harap. "Seharusnya biarkan aku ikut misi denganmu! Lihat apa yang terjadi sekarang?!" Ucap Asta.
"Tidak apa-apa, tidak ada yang serius. Bukankah aku baik-baik saja, hmm?" Ucap Xabiru mendekati Asta kemudian menariknya, membuat Asta tercebur ke dalam air.
Xabiru tertawa karena Asta terkejut, terlihat engap karena ditarik dalam satu tarikan ke air. "Lihat, kan? Aku bahkan bisa menarikmunke bawah. Aku sekuat baja, jangan khawatir." Lanjut Xabiru.
"KAU MENYEBALKAN!" Teriak Asta emosi. "Basah semua, hiks. Aku mau memukulmu, memukulmu!" Pekik Asta kemudian, tapi bukannya memukul Asta malah memeluk Xabiru dengan lembut.
"How cute? Haha." Ucap Xabiru seraya balas memeluk Asta, sesekali mengecup pucuk kepala Asta penuh kasih. "Terimakasih, jika kau tidak datang mungkin yang kau lihat nanti hanya tubuh dingin tanpa nyawa." Gumam Xabiru seraya memejamkan kedua matanya, memeluk Asta erat-erat.
"Clode mengurungmu? Kenapa?" Tanya Xabiru.
"Hmp! Aku dikurung karena aku ingin ikut menyelamatkanmu. Clode bilang, aku harus menjaga diriku sendiri, jadi dia bersikeras melarangku, bahkan mengurungku di ruangan. Untung saja aku pintar, dan melarikan diri tidak lama kemudian." Balas Asta, mengadukan perilaku Clode pada Xabiru.
Tapi Xabiru bukan hanya tidak membela Asta, tapi malah melindungi Clode. Membelanya, membenarkan perilakunya. "Jika aku di posisinya, aku juga akan melakukan hal yang sama. Karena aku tidak tahu kartu as yang kau punya. Kalau aku tahu, aku mungkin membebaskan mu ikut sejak awal, begitulah maksud Clode. Untukku sendiri, aku hanya tidak ingin melibatkan mu dalam bahaya, jadi meski aku tahu kau punya kartu as mu sendiri, aku tetap tidak akan membiarkanmu ikut dalam bahaya." Jelas Xabiru dengan lembut. Memberi pengertian pelan-pelan pada Asta.
"Tapi--"
"Sshhh, tidak ada tapi. Di dunia ini, siapa laki-laki yang ingin menempatkan wanitanya dalam bahaya? Ia pasti akan melindunginya kapanpun dimanapun, begitupula aku. Karena kau, orang yang sangat berarti untukku."Ucap Xabiru lagi seraya mengusap kepala Asta lembut.
__ADS_1
Keduanya masih berpelukan, Asta mendongak menatap tatapan, dan eskpresi lembut Xabiru, membuatnya perlahan luluh.
Keduanya bersitatap, dengan lembut menyiratkan kasih sayang lewat mata. Wajah keduanya maju, kemudian menautkan bibir.
Satu menit, Asta melepaskan tautan bibirnya. Ia kemudian menatap Xabiru dengan nafas terengah pelan. "Ayo naik, aku masih ingin membawamu memeriksakan diri ke dokter." Ucap Asta hampir berbisik.
"Tidak perlu, aku sudah baik-baik saja. Berendam sekali dalam beberapa hari ke depan, aku akan sehat seperti biasa." Ucap Xabiru seraya mengusap kepala Asta. "Ngomong-ngomong, ternyata darahku banyak. Apa tidak akan mencemari air danau?" Tanya Xabiru kemudian, karena ia melihat air danau yang memerah.
"Hmmm? Darahmu sudah diseka dulu sebelumnya jadi tidak mungkin masuk ke dana---ASTAGA! Mayatnya!" Pekik Asta seraya berbalik, kemudian naik ke darat dengan cepat.
"Mayat apa?" Tanya Xabiru bingung, mengikuti Asta naik ke atas.
"Disana! Aku memasukkan orang-orang yang terbunuh kemari untuk keamanan, tidak sangka aku malah lupa mengurus mereka." Ringis Asta seraya menunjuk satu tempat penuh mayat dengan darah mengucur, dan darah tersebut karena satuan dari darah mayat lain, akhirnya mengalir masuk ke dalam danau.
"Kau seperti iblis kecil!" Ucap Xabiru terpana. "Cepat, bereskan dulu, jauhkan dari danau, jangan sampai airnya tercemar." Lanjut Xabiru dengan panik. Membuat Asta menggerakkan jarinya dan seketika Mayar terbang ke sisi lain tanah kosong di cincin ruang tersebut.
"Menurutmu harus diapakan mayatnya? Kremasi? Atau kuburkan saja di hutan?" Tanya Asta meminta pendapat.
Xabiru menjentikkan jarinya. "Buat tempat kremasi disini, jadi kita bisa meng-kremasinya langsung. Abunya mari taburkan ke tempat dimana ia tinggal nantinya." Ucap Xabiru.
*
*
__ADS_1