
*
*
Besoknya, Asta dan Xabiru bangun pagi-pagi sekali, setelah membereskan barang-barang yang masih layak di bawa ke kabupaten, keduanya kemudian memasak untuk sarapan. Karena Xabiru tidak berbelanja bahan mentah untuk memasak kemarin, alhasil hari ini keduanya hanya bisa mengambil bahan dari dalam cincin ruang.
Berupa telur, daging ayam mentah, dan dua jenis sayur saja. Keduanya memasak agak banyak karena memang Soni juga akan datang pagi ini.
4 jenis bahan dasar, tapi menjadi 6 jenis masakan. Ayam selain dibumbui kecap, juga di buat sup. Sedangkan telur di rebus dan di masak dadar. sisanya adalah tumis kangkung dan tumis labu Siam.
Setelah semuanya selesai, keduanya kemudian mengangkat satu persatu piring dan mangkuk ke area tengah. Menatanya di atas dipan.
Soni datang dengan keretanya, 5 menit kemudian. Waktu menunjukkan pukul 6 pagi, dan Soni sudah datang. Memang dia yang paling rajin. Lalu, selain Soni ada istri dan dua anaknya.
Asta tahu mereka semua belum makan, alhasil semuanya sarapan lebih dulu bersama. Meski awalnya Soni menolak, tapi kedua anaknya terlihat sangat kelaparan, karena memang hanya memakan roti yang dibelinya saja tadi sebagai ganjal perut, saking paginya ia pergi kemari. Jadi, dengan perasaan tidak enak, Soni akhirnya menyerah, dan makan bersama Asta juga Xabiru.
Setelah selesai sarapan, 10 menit kemudian, keempat orang dewasa ini kemudian langsung pergi ke halaman belakang untuk mulai memanen tanaman. Ada kotak kayu juga yang sudah disiapkan oleh Asta dan Xabiru. Jumlahnya mencapai puluhan kotak, melihat banyaknya tanaman yang akan dipanen.
Kedua anak Soni tidak pergi main, melainkan melihati keempat orang dewasa memanen, dan mengikuti dengan pintar. Asta tersenyum mihatnya, anak Soni memang cepat tanggap, juga tidak rewel. Sangat menyenangkan.
Kedua anak Soni ikut memanen Strawberry. Sedangkan Asta memanen tomat, Xabiru memanen Apel, Istri Soni memanen Anggur, dan Soni sendiri memanen buah Mangga. Apel dan Mangga mengharuskan keduanya memakai kayu yang ada jaringnya, berbeda dengan tomat dan anggur. Alhasil dua buah dikerjakan oleh dua lelaki.
__ADS_1
Sisanya, keempatnya kemudian berbagi tugas kembali. Dua anak Soni masih memanen Strawberry, seraya sesekali mencuri makan buah tersebut. Asta tahu, tapi tidak melarang, lagipula ada banyak. Perut kecil keduanya tidak akan mampu menampung begitu banyak.
Labu Siam, kangkung, Bayam, tiga jenis bawang, dan Sawi, semuanya dipanen. Selesai pada pukul 3 sore. Meski begitu, tadi Asta dan istri Xabiru sempat berhenti untuk memasak makan siang. Tapi kembali melanjutkan memanen pada pukul 1 setelah semuanya selesai makan.
Lalu setelah pukul 3, semua selesai. Keenam orang pun istirahat dengan lelah. Termasuk dua anak kecil, karena mereka lebih banyak main di halaman belakang.
Ada sekitar 50 kotak kayu, yang terisi oleh hasil panen hari ini. Dan itu membuat semuanya takjub. Sebanyak ini, padahal hanya menanam di halaman belakang.
Melihat hal ini, Keempat orang dewasa akhirnya bekerja sama menggotong 50 kotak kayu ke dalam rumah. Dan menatanya dengan baik.
"Sebanyak ini, bagaimana cara kalian membawa semuanya nanti?" Tanya Soni bingung. Belum ditambah stok yang ada di gudang, masih banyak sekali.
"Tenang, kak Soni. Kami telah menghubungi orang tentang sewa mobil kemarin, ketika aku membeli benih. Jadi, hari ini mobil ini akan datang pada pukul 5 sore. ", Jelas Xabiru seraya tersenyum tenang. Semuanya telah ia persiapkan, jadi santai adalah keadaannya hari ini.
"Tidak, ayo angkat saja sekarang. Naikkan semuanya ke kereta kuda. Kau bisa membawanya ke rumahmu. Rumahku terlalu jauh, lalu kami akan pergi pukul 5 sore ini, jadi aku rasa rumahnya lebih baik aku kunci.", Balas Xabiru.
"Baik, begitu lebih baik. Oh ya, ini uang pembelian kemarin. Sisa hutangku adalah sekitar 2juta 500ribu. Kemarin aku tidak sempat kemari, karena pulang larut. Alhasil aku hanya bisa memberikan sisanya hari ini." Ucap Soni seraya tersenyum malu, karena ia sudah berjanji akan memberikan sisa uang pembelian pada keduanya kemarin begitu ia pulang berjualan, tapi malah tidak diberikan. Dan hanya bisa menunggu hari ini.
"Tidak apa-apa, aku percaya padamu. Jadi, aku juga tidak menyalahkan mu." Balas Xabiru seraya menerima uang yang disodorkan Soni.
2 juta 500 ini bukan apa-apa, sebab Soni mendapat hasil sebanyak 5 jutaan kemarin. Istrinya bahkan menangis melihat Soni membawa banyak uang dalam satu hari. Alhasil hari ini istrinya memaksa Soni membawanya untuk membantu panen dan pindahan dua orang yang baik hati membantu keluarganya.
__ADS_1
"Baiklah, ayo bergegas angkat kotak kayu ke dalam kereta lebih dulu. Space di kereta sengaja dibuat besar memanjang, jadi puluhan kotak kayu di gudang muat didalamnya." Ucap Asta mengingatkan waktu pada dua lelaki yang masih berbincang.
"Ah benar. Ayo, mari, mari." Ajak Xabiru kemudian.
"Tunggu, keretamu tidak akan dibawa?" Tanya Soni bingung.
"Tidak, di kabupaten bukankah tidak ada kereta macam ini? Kau pakai saja kak Soni. Dan tolong rawat baik-baik kuda kami ya." Ucap Asta.
Soni bersemangat setelah mendengar penuturan Asta. Alhasil ia mengangguk dan mengiyakan dengan sama semangatnya.
Kemudian keempat orang dewasa, tanpa banyak bicara lagi langsung mengangkat kotak kayu ke dalam kereta kuda. Ada sekitar 30 kotak kayu yang tersisa. Dan dimasukkan semua ke dalamnya.
Semuanya selesai, bertepatan dengan datangnya mobil pick up yang berbentuk box di depan rumah Xabiru. Membuat keempat orang ini lagi-lagi, mengangkat kotak-kotak kayu di dalam rumah ke dalam mobil pick up tersebut. Hanya saja, ada tambahan satu orang, jadi pekerjaan lebih cepat selesai.
Setelahnya, Asta dan Xabiru juga mengangkat barang bawaan untuk ke kabupaten. Baju, dan peralatan lainnya yang masih bagus dipakai. Terlebih baju, karena pakaian keduanya memang masih bagus dan sangat layak pakai. Keduanya dulu mengemasi baju biasa yang dipakai di rumah masing-masing keluarga besar. Alhasil, baju bermerk masih ada di dalamnya.
Semuanya selesai pukul 6. Asta dan Xabiru naik di kursi penumpang di samping kursi pengemudi dengan Xabiru yang ada di tengah. Setelah berpamitan satu sama lain, Asta dan Xabiru pun pergi, sama.halnya dengan Soni, mengendarai kereta kudanya kembali ke rumah. Meninggalkan rumah bobrok Asta dan Xabiru yang kini kosong. Ditinggalkan begitu saja.
Asta dan Xabiru agak emosion, karena keduanya kehilangan ibu disini, selain itu kesulitan yang dihadapi keduanya bukan main juga. Tapi, setelah semuanya membaik, keduanya akan menjemput ibunya. Dan memindahkan kuburannya ke kota, me daerah yang lebih layak daripada di dekat gunung.
Keduanya akhirnya bisa meninggalkan tempat yang sebetulnya tidak layak huni ini. Tapi, bersyukur pula sebab jika tidak ada tempat ini, bukan ibunya saja yang akan tiada, tapi mungkin Asta dan Xabiru juga.
__ADS_1
*
*