
*
*
Setelah makan siang bersama Asta, Xabiru akhirnya pergi dengan membawa jinjingan, pergi berkunjung ke tetangga sebelah. Tetangga yang sering meminjaminya sepeda, meski tidak behar-benar tetangga karena jarak rumah setiap orang lumayan jauh, tapi keluarganya adalah satu-satunya orang yang menerima Xabiru dan Asta dengan baik dulunya.
Xabiru mengetuk pintu beberapa kali, sampai akhirnya seorang lelaki paruh baya keluar dari rumah, terlihat seperti bangun tidur.
"Pak Narto, kau tidak pergi ke ladang? Kebetulan aku ada urusan." Ucap Xabiru seraya tersenyum ramah.
"Aku kira siapa, ternyata kau. Ayo masuk, bicara di dalam saja." Ucap Pak Narto seraya membuka lebar pintunya.
"Tidak, tidak, aku hanya sebentar. Hanya mau memberikan ini. Tadi aku berburu ke gunung, kebetulan mendapat babi hutan, aku sisihkan untukmu, terimalah." Ucap Xabiru seraya menyodorkan kresek berisi potongan daging babi pada Pak Narto.
Pak Narto menatap Xabiru dengan terkejut, "Tidak perlu repot-repot. Bukankah istrimu butuh nutrisi untuk kesehatannya? Kalian masak dan makanlah sendiri. Aduh, aku tidak enak juga menerimanya." Ucap Pak Narto mengibaskan tangannya.
"Pak Narto, babinya lumayan besar, jadi kami juga sudah menyisihkan bagian kami. Kau tenang saja, dan terima ini. Selain babi aku masih ada menangkap kelinci, hehe." Ucap Xabiru lagi.
"Oh? Kau hebat juga! Baiklah kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi. Terimakasih, ya." Ucap Pak Narto seraya tersenyum.
"Tidak, aku yang terimakasih, karena pak Narto sudah menerima dan sering membantu kami di masa lalu. Hidup kami jadi tidak terlalu buruk disini." Balas Xabiru.
"Sudah seharusnya, bukankah kita termasuk tetangga juga?" Tanya Pak Narto balik.
Xabiru menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, "Yasudah, begitu saja. Aku pergi dulu." Pamit Xabiru. "Ah aku lupa, di rumah masih ada jeroan dan kepala babi. Jika pak Narto berkenan, kau bisa mengambilnya di rumahku, oke?" Lanjut Xabiru, kemudian melambaikan tangannya, benar-benar pergi.
__ADS_1
Pak Narto mendengus, dan mengusap hidungnya yang seketika memerah. Siang ini dirinya, istri serta anaknya tidak ada yang bisa dimakan. Jadi semuanya pun tidur untuk menutupi rasa lapar. Tapi lihat, Xabiru mengiriminya banyak daging babi. Keluarganya bisa membuat sup enak siang ini.
Pak Narto menjadi emosional setelahnya. Dulu ia membantu Xabiru karena ia pikir sudah seharusnya membantu sesama, apalagi Xabiru hanya punya ibu dan istri yang lumpuh. Menjadikan pikiran Narto terus menerus berkata harus membantunya.
Alhasil, lihat kini buah dari membantu Xabiru. Xabiru membantunya di saat ia benar-benar membutuhkan bantuan. Meski tanpa ia bilang sekalipun.
"Terimakasih.." Gumamnya Lirih. Kemudian masuk ke dalam rumah dan membangunkan istrinya. Untuk segera memasak sup untuk makan siang ini.
Istrinya heran, dan Pak Narto langsung menjelaskan semuanya. Membuat Istrinya menangis bahagia. Lalu setelah pak Narto menceritakan jika Xabiru masih ada jeroan dan kepala babi, Istrinya segera menyuruh Pak Narto pergi mengambilnya.
Ia mahir dalam membersihkan jeroan karena dulunya ia tinggal di kota, dan beberapa kali membuat hot pot dengan jeroan dan kepala babi. Kali ini, ia juga akan memasak hal yang sama, agar drinya, suami, dan anaknya bisa makan dengan kenyang.
Xabiru sangat membantu keluarganya.
Disisi lain, pengintai yang mengawasi Xabiru, kali ini tidak langsung pergi dan melihat keributan kecil di rumah keluarga Narto. Hatinya menghangat untuk Xabiru. Tapi bagaimanapun ia bersikap, ia hanya bawahan yang mendapat perintah.
Disisi lain, Xabiru sudah kembali dan segera memuat jeroan dan kepala babi ke dalam kresek dan mengikat kepalanya, agar nanti pak Narto datang, ia bisa langsung membawanya.
Xabiru sangat yakin ia akan datang. Karena memang dulu awal ia datang kemari, pak Narto pernah memberinya sup kepala babi untuk makanan. Jadi, kurang lebihnya ia tahu jika istrinya memang pintar memasak. Dan kepalanya pasti di bawa. Untuk jeroan, ia akan tetap memberikannya pada Pak Narto meski pak Narto tidak mau, tapi Xabiru pikir sepertinya ia mau.
Sampai beberapa menit ia selesai mengemas semuanya, benar saja Pak Narto datang dan mengambil kepala sekaligus jeroan babi. Membuat Xabiru senang, dan mengangguk. Xabiru juga memberikan beberapa jamur dan selada yang dipetiknya tanpa sepengetahuan pak Narto.
Sepeninggal pak Narto, Xabiru masuk dan menemui Asta lagi. Ia lelah, jadi berbaring di samping Asta yang tidur siang, dan terlelap bersama.
Sorenya, ia bangun dan langsung menyirami tanaman di halaman belakang. Lalu mengeringkan daging agar awet dan bisa dimakan nantiny, Meski Xabiru rasa tidak perlu, tapi Xabiru pikir harus juga untuk mengelabui pengawas, menghindari kecurigaannya.
__ADS_1
Setelah mengeringkan daging, Xabiru mulai menata kayu bakar yang di bawanya tadi, menatanya di tempat kayu agar ia mudah nanti mengambilnya untuk memasak. Sebagian juga ia pindahkan ke dapur agar ia bisa langsung memasaknya.
Selesai, Xabiru merasa ia tidak punya pekerjaan lain yang bisa ia lakukan, jadi ia masuk lagi dan mengganggu Asta yang sedang bermain games di ponsel. Tidak ada sinyal di kampung sini. Jadi hanya bisa memakainya bermain games offline. Juga sesekali memoto Xabiru dan keduanya saja.
Asta bosan, tapi bagaimana lagi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Xabiru sendiri sama keadaannya. Kalau saja pengintai yang ada di luar mau berkompromi, pasti keduanya sudah kembali ke kabupaten kini.
Xabiru memeluk Asta dan menenggelamkan kepalanya di leher Asta. Mengendus, membuat Asta kegelian.
"Ih tidak mau, jangan ganggu aku." Ucap Asta seraya menjauhkan kepala Xabiru dari lehernya. Jika diteruskan, habislah dirinya.
"Sayang..." Panggil Xabiru dengan suara serak.
"Tahan dirimu, oke. Tidak nyaman disini." Ucap Asta.
"Kalau begitu, ayo pergi ke dalam. Disana ada kasur besar dan empuk bukan?" Tanya Xabiru tersenyum kecil.
"Kalau orang yang di luar sadar kita tidak ada bagaimana? Nanti kita dapat masalah, Xabiru..." Nasihat Asta seraya mengusap kepala Xabiru
"Uh baiklah, aku bisa menahannya. Tapi apa yang harus aku lakukan? Aku sangat bosan saat ini. Tidak ada yang bisa aku kerjakan." Keluh Xabiru kesal.
"Bawakan air kemari, kau pura-pura saja mau memandikan aku, bagaimana? Sepertinya aku seharian juga belum buang air di luar. Akan membuat curiga tidak?", Tanya Asta.
"Ah aku lupa hal ini, baik, tunggu sebentar. Aku akan membawa air dalam ember dan membawanya ke kamar." Ucap Xabiru, beranjak dan pergi ke luar.
Untung saja Asta mengingatkannya. Jika tidak? Ah kecurigaan pengintai pasti akan memperkuat keinginannya untuk lebih lama mengawasinya. Dan Xabiru tidak ingin hal tersebut terjadi.
__ADS_1
*
*