
*
*
Xabiru memilih pulang ke kabupaten, dan menjadikan masalah dengan antana's sebagai utang yang akan ditagihnya nanti. Karena, keamanan keduanya sedang dipertaruhkan, tinggal lebih lama di ibukota sangat mengancam keamanan keduanya.
Alhasil, kini keduanya sudah berada dalam mobil sewaan. Keduanya berniat ke rumah sakit, dan akan dijemput dengan helikopter di atas atap rumah sakit nantinya.
Tapi sebelum sampai, mobil yang ditumpangi keempat orang ini, sudah diikuti oleh beberapa orang. Satu mobil, dan dua sepeda motor. Membuat Xabiru menggeram marah.
Xabiru memerintahkan K1 agar mencari tempat sepi untuk membereskan orang-orang berniat jahat yang mengikuti mobil yang di sewanya.
K1, K2 ada di depan Xabiru dan Asta ada di kursi jajaran kedua tepat di belakang kursi pengemudi. Keempatnya dengan tenang menikmati perjalanan mobil yang mengebut.
Hanya Xabiru, yang tidak bisa tenang, ia terlihat menggerakkan kedua gigi dengan mata tajam. Menggeram marah, tidak bisa menahan emosinya yang menggebu.
Antana's ini, diancam Alexander, lalu dia dengan sengaja mengundangnya masuk ibukota. Meski ia punya niat baik dengan memberitahukannya kebenarannya, tapi dengan menyuruh Xabiru masuk ke ibukota, sama saja mendorong Xabiru ke jurang kematian bukan?
Xabiru tidak akan melupakan utang ini. Perjanjian kerja sama bahkan tidak dipedulikan lagi. Ia akan menarik Xabasta's sebagai pemasok tetap restoran tersebut nanti sebagai bentuk pembalasan kecil darinya.
"Kau takut, sayang?" Tanya Xabiru pada Asta yang ada dalam rangkulannya.
Asta yang menenangkan Xabiru dengan menggenggam tangannya, menatap manik gelap Xabiru dan kemudian tersenyum lembut. Asta menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak takut sama sekali. Kau ada disini, juga ini sudah waktunya aku melatih hasil latihan ku selama beberapa bulan ini." Jawab Asta, yang berhasil menenangkan Xabiru.
Xabiru menatap lembut Asta. Kemudian mengecup keningnya. "Maaf, karena aku tidak bisa memberikanmu kehidupan yang tenang." Ucap Xabiru dalam.
"Tidak, terimakasih, karena kau sudah datang dalam hidupku yang membosankan." Balas Asta, diluar perkiraan Xabiru. Membuat Xabiru mengangguk dan tersenyum hangat.
"Sudah, ayo bersiap. Pakai baju Anti peluru lebih dulu." Ucap Asta yang berpura-pura membuka koper bajunya, padahal aslinya ia mengambil baju Anti peluru dari cincin ruangnya.
__ADS_1
Mengeluarkan empat dan memberikan masing-masing pada Xabiru, K1 dan K2, juga untuk dipakai oleh dirinya sendiri.
"Senjata apa yang kalian inginkan?" Tanya Asta kemudian, setelah memakai baju Anti peluru di tubuhnya, ia bahkan dibantu Xabiru memakaikan bajunya saat itu.
"Nona? Bawa senjata? Nona apakah kau lulus pemeriksaan di bandara?" Tanya K2 bingung.
"Aman, aku ada membawa pistol juga pisau. Yang mana yang kalian inginkan?" Tanya Asta dengan senyum kecil, membuat Xabiru membentak K1 dan K2 agar tidak melihat Asta.
Asta tergelak melihat sifat posesif yang datang di saat seperti ini. Padahal biasanya, Xabiru juga tidak sepossesif ini padanya jika di kabupaten.
"Kau terlihat keren, sayang. Jangan sampai mereka menyukaimu." Bisik Xabiru dengan nada merajuk.
"Baiklah, jangan seperti ini. Lihat di belakang, mereka semakin dekat." Ucap Asta seraya mengusap kepala Xabiru pelan. Membuat Xabiru menghela nafas dan menganggukkan kepalanya. Dalam sekejap kembali ke mode serius.
Rautnya seketika berubah datar dan beraura. Tatapan tajamnya juga terlihat sangat dingin, jika Asta tidak tahu sifat manjanya, Asta sudah gemetar ketakutan saat ini. Tapi, setelah pengalamannya sebelumnya, Asta tidak takut lagi dengan mode serius Xabiru.
"Beri kami pistol dan pisau. Juga untukmu, siapkan dan tempatkan pisau dengan baik." Ucap Xabiru, membuat Asta mengangguk mengerti. Ia langsung mengambil pistol dan pisau dari cincin ruangnya dan langsung memberikannya pada Xabiru. Xabiru kemudian mendistribusikannya pada K1 dan K2, berikut dengan stok peluru yang di tambahkan lebih banyak pada masing-masingnya.
"K1, kau tahu tempat yang aku maksud kan?" Tanya Xabiru memastikan.
Xabiru mengangguk, "Aku sedang menuju pinggiran ibukota, tepat ke arah hutan yang menjadi perbatasan ibukota dengan kota S." Ucap K1.
"Aku juga sudah memberi kabar pada orang yang akan menjemput kita, agar mereka ke lokasi yang akan kita datangi, dengan begitu, kita bisa langsung pergi begitu selesai membereskan orang-orang yang mengikuti kita." Ucap K2, melanjutkan perkataan K1.
Xabiru mengangguk puas. "Bagus, kalian mengaturnya dengan baik." Puji Xabiru dengan wajah datar.
DOR!
"Merunduk!" Pekik Xabiru, yang sebelumnya melihat ke arah belakang, untuk memastikan jarak para pengikut di belakangnya.
__ADS_1
K2, Xabiru, dan Asta merunduk bersamaan, kecuali K1 karena harus tetap mengemudi dengan baik. Dan untungnya, arah peluru yang datang, menembus pada kaca mobil bagian Xabiru dan K2, lurus sampai kaca depan di depan K2 berlubang kecil.
"Sial!" Desis Xabiru geram.
"Percepat, K1!" Titah Xabiru membuat K1 langsung menaikkan kecepatan mobil yang dikemudikannya, membuat mobil melesat cepat meninggalkan para pengikut jahat di belakang. Tapi orang yang mengikuti juga sama-sama tancap gas.
Semuanya berani melakukannya, karena jalanan sudah mulai lengang dan masuk ke daerah hutan yang sepi. Terlebih siang hari, biasanya di daerah tersebut memang sangat jarang di lewati. Hanya pagi saja sedikit ramai karena orang pinggiran sana masih harus mencari kayu ke hutan.
"Tenang, Xabiru. Kontrol emosimu." Ucap Asta seraya memegang bahu Xabiru.
Xabiru memejamkan matanya, ia menghela nafas dan menganggukkan kepalanya. "Keluarkan pistol, pegang untuk bersiap. K1, hentikan mobilnya sampai ke ke dalaman hutan dalam 3 menit di depan." Ucap Xabiru, kembali memerintah setelah emosinya mereda.
Sampai akhirnya, mobil di hentikan, dan para pengikut dengan dua mobil dan 4 motor juga ikut menghentikan laju kendaraannya dan ikut turun.
Satu motor satu orang, satu mobil terisi 5 orang. Jumlah orang yang mengikuti Xabiru ada sekitar 15 orang, karena ada satu motor yang ditaiki oleh dua orang. Masing-masing dari orang yang memakai motortersebut memakai jaket kulit, berperawakan seperti preman, Sedangkan yang keluar dari mobil, memakai setelan kemeja sama seperti K1 dan K2.
Bedanya, K1 dan K2, juga Asta dan Xabiru, sama-sama memakai baju Anti peluru dan penutup wajah, untuk menyembunyikan identitas, yang memang masih terjaga sampai saat ini. Dan hal inilah yang menjadi salah satu pemicu obsesi Alexander dalam pengejaran Xabiru kali ini.
Karena ternyata, setelah mendengar perkataan pemilik Antana's, selain obsesi pada identitas keduanya, Mereka juga pernah mengirim orang untuk melakukan hal yang sama dengan hari ini. Hanya saja, dulu mereka mengirim lebih sedikit orang, dan berakhir orang yang dikirim tidak kembali satupun, bahkan mayatnya tidak bisa ditemukan di manapun.
Dan hari ini, adalah kesempatan untuk melihat keaslian, sekitar 15 orang dikirim. Xabiru juga memperkirakan bukan hanya 15 orang saja, tapi bisa jadi masih ada orang yang akan menyusul.
"Bereskan dengan cepat, sebelum orang lainnya datang!" Perintah Xabiru. "Juga, kapan helikopter kita datang?" Tanya Xabiru.
"Dalam 8 menit." Balas K2.
"Sudah lebih dari cukup. Serang!" Pekik Xabiru.
*
__ADS_1
*