
*
*
"Kau datang..." Ucap Xabiru seraya tersenyum menatap Asta yang baru saja memasuki kantor tempatnya bekerja, memeriksa dan menandatangani setiap dokumen yang masuk, yang sudah disaring Clode.
"Um. Sudah waktunya makan siang, sudahi kerjaanmu, mari makan bersama lebih dulu." Ucap Asta seraya menganggukkan kepalanya, ia tak menghampiri Xabiru, tapi menghampiri sofa yang di depannya terdapat meja.
Menata semua makanan yang di bawanya di atas meja, tanpa tahu jika Xabiru sudah berjalan ke sampingnya.
Kali ini, Asta memilih makan bersama di kantornya karena Asta mengingat ucapan Xabiru. Ada berkas yang hendak diperlihatkan Xabiru padanya. Alhasil, dari pada bolak-balik ke kantor dan tempat makan siang biasanya, Asta lebih memilih kantor sekalian. Agar setelah makan, keduanya bisa langsung berdiskusi.
"Jangan jahil, cepatlah datang dan makan." Delik Asta ketika ia memergoki Xabiru hendak merangkul pundaknya, bersiap bersandar juga pada bahunya.
"Pelit." Dengus Xabiru.
Asta memutar kedua bola matanya malas, tidak peduli lebih lanjut, ia memberikan satu piring yang sudah diisi nasi dan lauk pauk yangdi bawanya. Piring lainnya adalah untuk dirinya sendiri, dengan porsi setengah lebih kecil dari milik Xabiru.
Keduanya kemudian makan tanpa banyak bicara, lebih hening dari biasanya. Xabiru tidak membuka mulut untuk memulai obrolan, Asta sendiri enggan memulai. Agar keduanya lebih cepat menyelesaikan makan siang.
Beberapa menit kemudian, setelah selesai makan, Xabiru minum dan berhasil melancarkan niat bersandar pada bahu Asta. Membuat Asta menghela nafas.
"Kau tidak sedang baik-baik saja, ada apa? apa yang salah?" Tanya Asta lembut, tangannya terulur mengelus rambut Xabiru.
"Tidak ada, hanya sedikit lelah." Balas Xabiru dengan mata terpejam.
"Kau berbohong. Jelas-jelas semalam istirahat cukup, tidak ada alasan lain, huh?" Tanya Asta dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Ah baiklah, tadi perwakilan dari perusahaan Unind kemari. Meminta bekerja sama, selain itu, proposal juga sudah masuk." Ucap Xabiru, seraya menegakkan tubuhnya, tidak lagi bersandar pada bahu Asta.
"Ugh, lalu bagaimana?" Tanya Asta.
"Aku tidak tahu. Kami hanya menerima proposal nya lebih dulu, dan mengatakan akan mempertimbangkannya." Balas Xabiru seraya menghela nafas.
"Lalu apa yang membuatmu terlihat banyak pikiran?" Tanya Asta bingung.
"Karena selain Unind, Waverly juga datang. Dua musuh kita mengajukan proposal selang satu hari." Xabiru menatap Asta lembut. "Dan berkas yang aku bicarakan pagi ini adalah milik keluarga Waverly, tapi yang tidak aku sangka, Unind juga ternyata ikut datang. Yang satu berniat investasi, yang satu berniat kerja sama." Lanjutnya.
"Apa yang membuatmu pusing? Terima saja, jadi kita bisa mengawasi keduanya dari dekat. Dengan berhubungan sebagai mitra, kita lebih mudah mengawasi gerak gerik mereka, nantinya kita juga lebih mudah bergerak." Balas Asta dengan tatapan serius.
Xabiru tersenyum kecil, tangannya terulur mengusap kepala Asta yang serius dan bersemangat. "Sayang, tidak semudah itu. Justru karena kita mitra, kita akan menjadi lebih sulit untuk bergerak. Mereka sedikitnya akan tahu bisnis-bisnis kita. Apalagi yang berniat investasi, kau tahu sendiri jika nantinya mereka yang berinvestasi sedikitnya akan ikut campur tentang masalah perusahaan." Ucap Xabiru.
Asta merutuki dirinya kemudian. Ah, dirinya terlihat bodoh di depan Xabiru. Keputusan terburu-buru barusan, seperti dirinya tidak pernah berbisnis saja. Mungkin karena sudah lama tidak berkecimpung di sana, jadi pikirannya menumpul. Pikirnya.
"Masih mempertimbangkan. Kita tidak boleh terburu-buru, harus dilakukan dengan hati-hati." Ucap Xabiru.
Asta menganggukkan kepalanya. "Benar, jangan sampai jatuh ke rencana sendiri." Timpal Asta.
Kemudian keduanya kembali berdiskusi, berkas dari dua musuh baik Waverly maupun Unind (Keluarga Baskoro) sama-sama sedang di bentangkan di meja, agar lebih mudah membandingkan isi dari proposal yang dibuat keduanya.
Poin yang menarik dan berbeda dari satu sama lainnya ditulis ulang oleh Asta untuk pertimbangan lebih dalam nantinya. Apalagi ketika proposal memasuki halaman keuntungan kedua belah pihak.
Keduanya membaca dengan teliti, tidak terlewat satu poin pun. Bahkan ada kalanya Asta sedikit tidak paham, Xabiru langsung menjelaskan inti ke tidak pahaman tersebut, membuat keduanya menyelesaikan membandingkan dan membaca proposal dalam kurun waktu 2 jam.
"Ada berapa poin penting, dan berapa poin yang berbeda dari keseluruhan proposal?" Tanya Xabiru seraya menutup kedua proposal yang telah selesai di periksa.
__ADS_1
Asta menunduk, kemudian menghitung. "Poin penting sekitar 15, Waverly 7 dan Unind 8. Untuk perbedaan masing-masing ada 7 poin." Balas Asta, kemudian menyodorkan kertas di tangannya pada Xabiru, agar Xabiru bisa membacanya sendiri.
Xabiru menganggukkan kepalanya.
"Setelah membaca setiap poin bersama, aku rasa lebih baik menolak keduanya." Ucap Asta tiba-tiba, membuat Xabiru langsung mengalihkan pandangannya pada Asta.
"Kenapa begitu?" Tanya Xabiru mengernyitkan dahinya. Tapi lebih ke ingin mendengar pendapat dari Asta.
Dulu, ia pernah dikalahkan oleh Asta, jadi usul dan pendapatnya tidak akan mengecewakan. Apalagi setelah bersama-sama memahami kedua proposal. Mungkin iya, Asta sedikit kehilangan pikirannya beberapa saat lalu, tapi setelah dipahami, Xabiru sendiri yakin Asta mampu.
"Pertama, Unind punya kebiasaan mencari tahu latar belakang setiap orang yang akan bermitra dengannya. Aku rasa setiap perusahaan memang mencari tahu juga, tapi kuncinya adalah Seno. Seno licik, ia seringkali menghalalkan segala cara untuk merebut. Aku punya firasat, kelangsungan kerja sama kali ini adalah untuk merebut Xabasta sendiri." Jelas Asta seraya menatap Xabiru dengan tatapan serius. "Lalu Waverly, ingin punya posisi sebagai investor, sangat tidak mungkin. Meski kita butuh, Waverly juga sama liciknya dengan Unind. Jadi, demi keamanan lebih baik menolak keduanya dan memperketat pertahanan serta penjagaan setiap orang, dan bisnis kita, agar tidak dapat ditembus dan dimanfaatkan oleh dua keluarga ini." Lanjutnya panjang lebar.
Xabiru tidak berurusan dengan dua perusahaan ini sebelumnya, kecuali ketika memperebutkan tender dengan Asta tempo hari. Jadi, Xabiru sendiri kurang tahu kebiasaan dan latar belakang sifat dan perilaku dua perusahaan.
Clode juga masih dalam tahap mengawasi pagi ini. Karena sebelumnya ia hanya mengawasi satu keluarga, yakni Baskoro.
"Aku rasa lebih baik begitu, bisa dipertimbangkan, tapi mari tunggu Clode. Kita diskusikan lagi saja besok agar lebih yakin. Informasi dua keluarga masih dalam pencarian. Aku ingin yang lebih rinci agar pemutusan keputusan tidak melenceng nantinya." Jelas Xabiru akhirnya.
Asta setuju, karena ia sendiri samar-samar mengingat informasi tersebut setelah sekian lama.
"Kalau begitu, aku kembali ke toko dulu. Kau lanjut periksa berkasnya. Malam aku kemari lagi." Ucap Asta, bangun dan mengecup bibir Xabiru sekilas.
Xabiru tersenyum tertahan. Perilaku inisiatif orang di depannya, tidak seperti biasanya. "Hati-hati. Biarkan K3 mengawalmu." Balas Xabiru.
Asta mengangguk dan berlari keluar dengan cepat, tidak memberi kesempatan pada Xabiru untuk mencuri kesempatan sedikitpun.
*
__ADS_1
*