
*
*
Hana menggelengkan kepalanya kuat, ia langsung menangis ketika Xabiru bertanya. "Suamiku, aku, a-aku huhuhu." Ucap Hana tidak jelas.
Xabiru menghela nafas. Kemudian datang Asta dan langsung memberikan p3k pada Xabiru agar ia saja yang mengobati Soni sementara dirinya akan menenangkan Hana.
Asta memeluk Hana, agar ia menjadi lebih cepat tenang. 5 menit kemudian, Hana tenang, dan mau menceritakan keseluruhan cerita pada keduanya dengan menahan tangis.
Soni mendapat luka dari orang-orang yang ada di pasar. Dagangan mereka tidak laku, sedangkan dagangan Soni yang bahkan lebih mahal malah laku keras. Membuat beberapa orang mengeluh dan membuat pengaduan awalnya.
Pada teguran pertama, Soni berhasil membujuk orang yang menegurnya. Tapi yang lain sangat tidak puas. Alhasil mereka semua bersatu dan mendemo lapak Soni. Soni bersabar, tapi ia malah dilempari dan dipukuli.
Setelah dipukuli itu, Soni tentu saja pulang ke rumah, tapi diperjalanan, ia dihadang lagi. Kembali dipukuli dan bahkan keretanya ditabrak, makanya kereta kuda menjadi rusak di bagian belakang. Semua sisa sayur dan buah yang belum dijual hancur karena disimpan di dalam kereta.
Xabiru tidak melihat kerusakan ini, jadi ia baru tahu faktanya. Hana tahu semua ini, dari orang yang membantu mengantar Soni. Bahkan orang ini menyarankan Hana pergi secepatnya dari desa sana.
Alhasil, Hana hanya terpikirkan kabupaten ini saja. Ia membereskan semua barang yang ada di rumah, secukupnya yang sekiranya dapat dipakai. Kemudian meski kereta rusak, ia tetap memakainya karena bingung mau memakai apa sedangkan Soni keadaannya begini.
Berdasarkan lokasi yang sebelumnya Xabiru kirim ke ponsel Soni, Hana akhirnya bisa sampai ke rumah keduanya di kabupaten ini. Ia tidak punya tempat tujuan selain rumah Asta dan Xabiru.
"Itulah yang terjadi, huhuhu." Ucap Hana kembali terisak. Ia duduk di lantai, bersimpuh dengan kedua tangan memegangi Soni yang tak kunjung sadar.
__ADS_1
"Kak Hana, tidak apa-apa, sekarang kalian sudah disini, sudah aman." Ucap Asta menenangkan Hana lagi. Anaknya ikut menangis, kasihan.
"Benar, jangan khawatir, sebentar lagi sadar." Ucap Xabiru, karena tadi ia sudah memberi Soni air ajaib, jadi luka dalam dan luar juga akan segera sembuh. Hanya saja, Asta yang membawakannya air ajaib, air ajaib yang diberikan adalah yang diambil dari sumur belakang rumah. Karena kedua takut jika langsung memakai air ajaib yang ada di dalam cincin ruangnya, nantinya Soni malah langsung sembuh, memar dan lainnya akan seketika hilang.
Tidak perlu menimbulkan kecurigaan. Jadi, cukup dengan air yang sudah dicampur. Khasiatnya sama, meski tidak sekuat air aslinya. Jadi, akan lebih lama, paling satu hari satu malam. Berbeda dengan khasiat asli yang jika diminumkan akan langsung sembuh seketika, seperti luka di dahi dan tangan Asta waktu itu.
Asta dan Xabiru meninggalkan Hana, keduanya membereskan kamar kosong lainnya di lantai dua tersebut. Agar Soni dan Hana bisa menginap disini beberapa hari. Biar nanti keduanya carikan tempat tinggal yang dekat dengan rumahnya. Agar mereka lebih nyaman. Tapi untuk sementara saja, keduanya akan tinggal dulu.
Asta juga menyuruh satu keamanan untuk membeli barang. Satu set tempat tidur yang berukuran besar agar cukup untuk Soni, Hana, dan anaknya. Untuk lainnya, Hana memakai barang yang sudah ada dulu, karena sifat menginap juga sementara, jadi Asta tidak mau nanti barang-barang ini tidak terpakai. Sayang uangnya.
Setelah selesai membersihkan kamar, keamanan bertubuh kekar datang dan mengangkut set tempat tidur ke kamar tersebut. Dan menaruhnya di ujung ruangan. Kemudian, keamanan juga kembali mengangkat Soni dan menidurkannya ke tempat tidur.
Malamnya, Asta dan Xabiru masuk ke kamar setelah mengisi ulang bahan di gudang. Karena isi ulang aquarium dan meja di lantai satu, sekarang sudah dilakukan pekerja, jadi Asta hanya mengisi gudang setiap harinya setelah pekerja pergi, atau pagi sebelum pekerja datang.
Tapi, Asta juga membatasi kegiatan Xabiru. Ketika Xabiru mulai melewati batasan. Dia belum siap oke, ini adalah Asta yang baru, bukan Asta yang lama. Jadi dirinya memang belum pernah melakukan itu sebelumnya meski punya tunangan dulu.
Lagipula, diingatan pemilik sebelumnya, Xabiru ini tidak tega melihat Asta yang lumpuh. Jadi ia selalu menahan diri. Hanya melakukan foreplay saja setiap kalinya. Jadi, Asta pikir-pikir, sekarang dirinya masih tersegel kan.
Meski tidak akan bisa menahan Xabiru lebih lama, Asta sedikit lega, karena dirinya masih bisa melakukan persiapan sendiri. Maksudnya, mempersiapkan kesiapan dirinya sendiri.
Setelah pukul 9, keduanya selesai memanen dan menanami benih baru. Keduanya pun keluar cincin ruang dan tidur dengan berpelukan. Menantikan pagi yang akan datang.
Besoknya, Soni terlihat lebih segar. Ia yang memang sudah bangun kemarin malam, tidak enak jika mau menyapa pasangan muda yang telah membantunya. Alhasil ia menunggu pagi datang dan akan menyapa juga berterimakasih.
__ADS_1
Terburu-buru, ia menghampiri Xabiru yang sedang ada di dapur, membantu Asta memasak sarapan. Nira telah pergi ke sekolah sejak awal, jadi di dapur hanya ada dua orang saja.
Soni berkali-kali berterimakasih, ia bahkan menangis ketika mengucapkan maaf. Xabiru merasa tidak nyaman melihatnya. Alhasil ia dengan cepat menghampiri Soni dan menepuk pundaknya. Mengatakan jika semuanya sudah patut dilakukan, apalagi dulu ia juga sering membantu Xabiru.
Setelahnya, semuanya pun sarapan. Meja makan lebih ramai kali ini. Apalagi ada anak kecil di meja, lebih hangat. Meski Xabiru sedikit tidak nyaman, karena keramaian ini. Tapi, karena ada Asta, ia masih bisa menerimanya.
"Kak Soni, coba ceritakan, bagaimana bisa kau menjadi sasaran orang-orang di pasar? Bukankah sebelumnya ada perjanjian?" Tanya Xabiru.
"Itu gara-gara si bajingan Doni. Kau tahu? Penjual buah yang badannya besar. Iri dengki pada daganganku, dan menghasut orang di pasar. Alhasil mereka yang awalnya santai, jadi emosi dan mengeroyokku." Ucap Soni.
"Tidak ada habisnya, dia ini. Bukankah dulu pernah diperingati petugas pasar?" Tanya Xabiru. Doni ini memang orang yang mudah iri dan dengki melihat kebahagiaan orang lain. Soni pernah cerita jika waktu pertama dia berjualan Doni datang mengacau tapi langsung ditangani petugas pasar.
Waktu Xabiru berjualan, Doni tidak ada di pasar karena sedang pulang kampung. Kebetulan ia kembali lagi pada hari dimana Soni berjualan. Melihat lapak Soni yang sangat penuh sedangkan lapaknya kosong, membuat Doni kesal dan marah. Tanpa banyak bicara ia mengacau di lapak Soni dengan melempar ular hidup. Membuat pelanggan Soni berhamburan.
Ular tidak berbisa, tapi tetap saja itu hidup kan. Soni marah, jadi ia melapor, alhasil Doni ditegur keras oleh petugas pasar. Doni yang dasarnya bebal, 3 hari kemudian malah kembali mengacau dengan menghasut orang di pasar. Petugas pasar telat datang, jadi Soni babak belur begitu.
Doni tidak akan berhenti begitu saja, jadilah orang yang mengantarkan Soni juga mengucapkan agar mereka pergi saja dari desa. Karena Doni sangat licik, ia juga akan melakukan segala cara untuk membuat lawannya tidak bisa kembali ke pasar.
"Nama kalian mirip, tapi kelakuan kalian sama sekali tidak mirip." Ucap Xabiru membuat Soni tergelak.
"Tentu saja beda, bukankah orang tua kami juga berbeda!" Balas Soni kemudian.
*
__ADS_1
*